FKY Sleman Media Kreatifitas dan Inovasi Budaya

IMG_9755Sleman – Festival Kesenian Yogyakarta Kabupaten Sleman dengan tema “Masa Depan Hari Ini Dulu”  digelar selama 3  hari mulai Kamis hingga Sabtu tanggal  25 – 27 Agustus 2016 Jam – WIB di Parkir Utara Lapangan Denggung Sleman.

‪“Selain dilaksanakan pawai seni, FKY Sleman kali ini juga  menampilkan pentas seni tradisi kerakyatan dan pentas seni unggulan,” kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA di sela-sela pembukaan FKY Sleman.

‪Endah menambahkan bahwa FKY Kabupaten Sleman 2016 dimaksudkan sebagai media pelestarian, pembinaan, pengembangan dan pemanfaatan seni, upaya melestarikan dan mengembangkan seni budaya lokal, peningkatan kualitas karya seni melalui kreativitas dan inovasi seni serta menggali potensi seniman seniwati muda berbakat. Serta, mendorong kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi lokal khususnya musik dan nyanyian tradisional.‬

‪Rangkaian acara selama FKY Kabupaten Sleman tersebut sangat beragam mulai dari pawai seni, pentas seni tradisi kerakyatan maupun pentas seni unggulan. Kamis 25 Agustus 2016 mulai pukul sampai dipentaskan Kesenian Jathilan ‘Turonggo Budoyo Rukun’ dari Kecamatan Kalasan sebagai kesenian pembuka.‬

‪FKY Kabupaten Sleman secara resmi Wakil  Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes di gedung Serbaguna Sleman, Kamis (25/8) sore  dilanjutkan dengan pelaksanaan pawai seni dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman. Ke 17 grup kesenian tersebut adalah dari Kecamatan Turi “Langen Toyo”, Ngemplak “Bima Sakti”,Cangkringan “Rego Gadingan”, Kalasan “ Gondowasitan”, Mlati “Madi Budoyo”, Tempel Wayang Wong “Eka Budaya”.‬

‪Dan, Kecamatan Pakem “Tawang Budaya”, Seyegan “Margo Pusung”, Moyudan “Nalendra”, Kecamatan Sleman Sanggar PS Bayu, Prambanan “Jatalunda”, Gamping “Ulu Cumbu”, Ngaglik “Suryo Langen Budoyo”, Godean “Hyang Rama”, Depok “Kinari Manunggal”, Minggir “Sanggar Pojok” dan Berbah “Suryo Aji Budoyo”.‬

Sri Muslimatun menyampaikan FKY Sleman 2016 ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya, sekaligus untuk menunjukkan keberadaan seni budaya yang berkembang di Sleman kepada masyarakat.

Selain itu, penyelenggaraan FKY Sleman juga dimaksudkan sebagai ajang pementasan dan media kreatifitas dan inovasi yang dilakukan para seniman dan para pelaku seni yang ada di Kabupaten Sleman.

“Mengingat strategisnya kegiatan ini, saya sangat mendukung penyelenggaraan FKY Sleman. Rangkaian kegiatan FKY Sleman ini akan berpengaruh signifikan terhadap pengembangan, pelestarian dan juga upaya peningkatan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya lokal yang ada di Sleman,” kata Sri Muslimatun.

Oleh karena itu, Sri Muslimatun mengharapkan agar para seniman dan pelaku seni untuk terus berkarya menunjukkan kreatifitas dan inovasinya. Dengan terus berkarya, berkreasi dan berinovasi, maka seni budaya yang menjadi jati diri masyarakat Sleman dapat terus eksis di tengah masyarakat.

“Seni budaya harus menjadi sesuatu yang ‘migunani’ bagi masyarakatnya, baik sebagai tontonan yang bersifat mengibur  ataupun tuntunan yang memberi inspirasi dan pencerahan hidup dan kehidupan masyarakatnya,” tutur Sri Muslimatun.




Bupati Prihatin Dengan Ancaman Generasi Muda

Bupati Sleman Berjabat TanganSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyampaikan rasa keprihatinannya dengan situasi terkini yang merupakan ancaman bagi kaum muda seperti makin maraknya konsumsi miras, tingginya prevalensi merokok, penggunaan narkoba, kekerasan/ terorisme, kejahatan seksual, rendahnya rasa hormat kepada orangtua, serta berbagai dampak situasi sosial budaya dan ekonomi yang kurang kondusif lainnya.

“Ancaman ini tentu menjadi tanggung jawab semua komponen bangsa termasuk Gerakan Pramuka,” kata Sri Purnomo dalam Apel Besar Hari Pramuka ke-55 tahun 2016 di lapangan Tirtoadi Mlati Sleman, Kamis (25/8).

Selaku Pembina Kwartir Cabang Gerakan Pramuka,  Sri Purnomo juga meminta dengan peringatan Hari Pramuka ini dapat memotivasi semangat dan mempercepat kemandirian Gerakan Pramuka untuk mencapai keberhasilaan dalam upaya pembentukan karakter kaum muda sebagai calon pemimpin bangsa masa depan yang handal dan lebih baik.

Menurut Sri Purnomo sebagai “rumah besar”  Pramuka diyakini dapat menyatukan bangsa ini ketika banyak pihak yang memiliki berbagai kepentingan lainnya. Tugas dan fungsi Gerakan Pramuka yaitu mendidik kaum muda agar berkepribadian, berjiwa patriotik dan memiliki jiwa bela Negara berdasarkan nilai-nilai universal yang terkandung dalam Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka.

Untuk mencapai visi Gerakan Pramuka membutuhkan kerja keras jajaran pramuka untuk mewujudkannya serta perlu banyak menjalin kerjasama dengan berbagai stakeholders baik dengan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.

Dalam perkembangannya, gerakan pramuka yang memiliki ciri utama pendidikan non formal berperan sebagai komplemen dan suplemen terhadap pendidikan formal untuk melahirkan generasi yang bertanggung jawab pada masa depan.

“Hal ini mengingat pendidikan formal saja tidaklah cukup untuk menghasilkan kaum muda yang handal dan berkarakter,” kata Sri Purnomo.

Sementara persoalan kaum muda yang sering terjadi diantara rumah dan sekolah maka menjadi penting peranan Gerakan Pramuka dalam mengatasi permasalahan kaum muda yang sering terjadi dewasa ini.

Kerjasama sinergis antara lembaga pendidikan formal, non formal dan pendidikan informal dalam keluarga sangatlah penting dan menjadi keharusan demi mewujudkan kaum muda yang lebih baik

Gerakan Pramuka yang kini berusia 55 tahun tentu tidak sama suasana dan kondisinya ketika dilahirkan. Perlu rebranding Pramuka baru yang diminati kaum muda. Pramuka hendaknya dapat mengikuti perkembangan zaman dan tidak terkesan kuno dalam era komunikasi digital dewasa ini.

Pramuka harus dapat menangkap fenomena ini dalam era kebebasan berkomunikasi. Sebagian besar adik-adik kita merupakan generasi cyber yang online setiap saat selalu mengungkapkan kondisi secara realtime ke media sosial.

“Pramuka baru harus keren, gembira, asyik dan menyenangkan. Tantangan bagi para Pembina Pramuka yang harus selalu kreatif dan berinovasi dalam membina peserta didik sehingga bangga menjadi Pramuka. Begitu pula para pelatih harus belajar terus menerus untuk dapat mengembangkan dan menerapkan teknologi pendidikan yang up to date tanpa melupakan prinsip dasar dan metode kepramukaan bagi para Pembina Pramuka,” tambah Sri Purnomo.

Pada Apel Pramuka  juga diserahkan penganugerahan  tanda penghargaan lencana Pancawarsa I sampai VIII oleh Bupati Sleman  kepada 52 pembina, pelatih, instruktur karya pramuka dan lainnya.

Secara simbolis kepada Muji Raharjo. Juga penyematan pramuka Garuda kepada peserta Jamnas oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Arif Haryono SH.




Sleman Belum Hitung Anggaran Perubahan OPD

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman belum memperhitungkan dan menyusun skenario anggaran untuk mendukung perubahan Organisasi Perangkat Daerah  di lingkungan Pemkab Sleman.‬

‪”Perubahan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dipastikan berpengaruh besar pada perubahan anggaran belanja pegawai maupun kegiatan OPD,” kata Plt Seketaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno, Kamis (25/8).‬

‪Menurut Iswoyo, Pemkab Sleman belum melakukan perhitungan besaran anggaran yang akan dikeluarkan terkait perubahan OPD. Sebab hingga kini, proses pembahasannya masih terus berjalan.‬

‪”Ketika `rumah` atau susunan OPD sudah ditetapkan baru kami bisa menghitungnya. Baik belanja pegawainya maupun kegiatan OPD-nya,” kata Iswoyo.‬

‪Iswoyo menambahkan  untuk mengetahui besaran anggaran yang akan digunakan terkait perubahan OPD, pihaknya telah menginstruksikan jajaran di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sleman untuk terus mengikuti pembahasan Raperda yang terus dikebut dalam minggu ini.‬

‪”Sesuai dengan amanat PP 18 Tahun 2016, perubahan OPD harus sudah dilaporkan ke Pemerintah Pusat paling lambat 31 Agustus,” kata Iswoyo.‬

‪Iswoyo mengatakan, dengan perubahan OPD saat ini, dipastikan anggaran belanja pegawai akan meningkat. Ini terkait jumlah jabatan struktural yang makin bertambah.‬

‪”Sebenarnya sebelum ada PP 18 tahun 2016, ini secara makro keberadaan OPD di Sleman sudah cukup ramping bila dikaitkan dengan pendekatan fungsional. Namun dengan keberadaan PP no 18 tahun 2016 mau tidak mau membuat OPD di Sleman menjadi lebih gemuk,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, dalam struktur OPD baru ini, tidak akan ada lagi pejabat eselon III, pejabat yang ada hanya eselon II dan eselon III.‬

‪”Pemerintah Kabupaten Sleman dalam melaksanakan PP 18 tahun 2016 ini secara tepat ukuran, tepat sasaran, dan telah melakukan evaluasi sebelumnya agar nantinya dalam penggabungan dan pemisahan SKPD ini masyarakat dapat terlayani dengan lebih baik,” katanya.

‪Sementara rapat sinkronisasi pembahasan perombakan OPD yang digelar Pemkab  Sleman bersama dengan DPRD Sleman telah mencapai tahap finalisasi, di antaranya urusan keuangan yang semula diampu dua instansi berbeda akan digabungkan.‬

‪Bupati Sleman, Drs H  Sri Purnomo MSI mengatakan lembaga yang digabung itu mencakup urusan pengelolaan keuangan yang diampu Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) serta urusan pendapatan yang ditangani Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda).‬

‪Pada draft usulan Susunan Organisasi Tata Kerja (SOTK) awal yang diajukan Pemkab Sleman kepada legislatif sebelumnya, kedua instansi tersebut diusulkan dirombak menjadi dua instansi berbentuk badan.

Namun pada akhirnya, setelah melalui proses pandangan fraksi di DPRD Sleman hingga rapat sinkronisasi dengan jawaban Bupati, keduanya disepakati untuk dilebur dalam satu instansi menjadi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).‬

‪”Dengan digabung, urusan pendapatan dan pengeluaran bisa dikelola dalam satu rumah,” kata Sri Purnomo.‬

‪Menurut Sri Purnomo, penggabungan itu berdasar ekspektasi Dewan dengan bercermin pada struktur lembaga pengelola keuangan dan asset di daerah lain.‬

‪”Di tingkat Pemerintah DIY, urusan pendapatan dan belanja daerah disatukan dalam satu kelembagaan yang sama,” katanya.‬

‪Sri Purnomo menambahkan kesamaan struktur kelembagaan di tingkat Kabupaten dan Provinsi itu juga akan mempermudah koordinasi lintas daerah dan proses administrasi mengingat nantinya sistem dan `template` laporan keuangan juga sama.‬

‪”Penggabungan akan memperlancar kinerja keuangan. Sistem laporannya jadi selaras, sehingga bisa seirama dengan di Provinsi,” katanya.‬

‪Sri Purnomo mengatakan, selain itu, pemecahan urusan juga terjadi di instansi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah raga (Disdikpora).‬ Dari rapat sinkronisasi, eksekutif maupun legislatif kompak menyetujui dipecahnya instansi tersebut menjadi dua organisasi terpisah.

Yakni, Dinas Pendidikan sebagai instansi tipe A dengan empat kebidangan dan Dinas Kepemudaan dan Olah raga sebagai instansi tipe C dengan dua kebidangan.‬




Kirab Seni 17 Kecamatan Tandai FKY Sleman Dimulai

IMG_9894Sleman – Festival Kesenian Yogyakarta Kabupaten Sleman dengan tema “Masa Depan Hari Ini Dulu” akan digelar selama 3 (tiga) hari mulai Kamis besok 25 – 27Agustus 2016 Jam – WIB di Parkir Utara Lapangan Denggung Sleman Yogyakarta. 

“Selain dilaksanakan pawai seni, FKY Sleman kali ini juga akan menampilkan pentas seni tradisi kerakyatan dan pentas seni unggulan”, kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Dra. Endah Sri Widiastuti, MPA, di kantornya, Rabu (24/8).

Endah menambahkan bahwa FKY Kabupaten Sleman 2016 dimaksudkan sebagai media pelestarian, pembinaan, pengembangan dan pemanfaatan seni, upaya melestarikan dan mengembangkan seni budaya lokal, peningkatan kualitas karya seni melalui kreativitas dan inovasi seni serta menggali potensi seniman seniwati muda berbakat. Serta, mendorong kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi lokal khususnya musik dan nyanyian tradisional.

Rangkaian acara selama FKY Kabupaten Sleman tersebut sangat beragam mulai dari pawai seni, pentas seni tradisi kerakyatan maupun pentas seni unggulan. Kamis 25 Agustus 2016 mulai pukul sampai akan dipentaskan Kesenian Jathilan ‘Turonggo Budoyo Rukun’ dari Kecamatan Kalasan sebagai kesenian pembuka.

Setelah itu dilanjutkan dengan rangkaian acara pembukaan yang berupa manguyu-uyu pukul – WIB, tarian pembuka “Tari Nawung Sekar” dan tarian utama “Krido Laksita Mahambara”pukul – WIB.

FKY Kabupaten Sleman secara resmi menurut rencana akan dibuka oleh Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo, pada pukul WIB dilanjutkan dengan pelaksanaan pawai seni dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman. Ke 17 grup kesenian tersebut adalah dari Kecamatan Turi “Langen Toyo”, Ngemplak “Bima Sakti”,Cangkringan “Rego Gadingan”, Kalasan “ Gondowasitan”, Mlati “Madi Budoyo”, Tempel Wayang Wong “Eka Budaya”.

Dan, Kecamatan Pakem “Tawang Budaya”, Seyegan “Margo Pusung”, Moyudan “Nalendra”, Kecamatan Sleman Sanggar PS Bayu, Prambanan “Jatalunda”, Gamping “Ulu Cumbu”, Ngaglik “Suryo Langen Budoyo”, Godean “Hyang Rama”, Depok “Kinari Manunggal”, Minggir “Sanggar Pojok” dan Berbah “Suryo Aji Budoyo”.

Pada malam harinya pukul  –  WIB di Parkir Utara Lapangan Denggung akan dipentaskan kesenian religious Badui Tunas Mudo dari Selobonggo Bangunkerto Turi,Langen Carita oleh Sanggar SDN Pangukan Tridadi Sleman, Fragmen Tari dari Sanggar Dewi Pule Pulesari Wonokerto Turi, Kethek Ogleng dari Gadingan Sinduharjo Ngaglik, Sendra Tari Bandung Bondowoso oleh Sanggar Sekar Jagad dan penampilan Wayang Orang dari Sanggar Ngrancang Kencono.

Pada hari kedua Jum’at 26 Agustus 2016 mulai pukul – WIB dipentaskan jathilan “Laras Kusuma” dari Daratan Sendangarum Minggir, jathilan “Bekso Among Mudo” Mriyan Margomulyo Seyegan, jathilan “Krido Turonggo Jati Jiwosari” Jiwan Argomulyo Cangkringan, “Peksimoi” Sukowaten Merdikorejo Tempel, Kubrosiswo “Catur Putro” Nambongan Caturharjo Sleman, Badui “Alimababa” Klawisan Margoagung Seyegan.

Pada malam harinya mulai pukul WIB dipentaskan Fragmen Bocah dari Sanggar Tari Kembang Sakura Mesan sinduadi Mlati, Jeber Juwes “Minak Budaya” dari Tengahan Sendangagung Minggir, wayang topeng dari Ngajeg Kalasan, kethoprak teater dari Sanggar Laras Giriseto Gamping dan kethoprak tradisional “Sentono Budaya” dari Mranggen Sinduadi Mlati.

Pada hari ketiga Sabtu 27 Agustus 2016 mulai pukul – WIB dipentaskan jathilan “Turonggo Wulung” dari Tanjung Sumberejo Tempel, jathilan “Cipto Wiloho” dari Pakem Tamanmartani Kalasan, jathilan “Ngesti Turonggo Budoyo” dari Kragilan Mlati, angguk “Lentur Putri Utami” dari Kopen Wonokerto Turi, hadroh “Ridhotul Jannah” dari Jonggrangan Sendangrejo Minggir, hadroh “Paser” dari Kecamatan Sleman.

Pada malam harinya mulai pukul WIB dipentaskan keroncong “Langen Gita” dari Karanganyar Tamanmartani Kalasan, rodad saman dari Gambiran Berbah, angklung “Topi Lurik” dari Pogung Sinduadi Mlati dan Band Neo dari Ganggong Bangunkerto Turi.




Pemkab Sleman Terus Lakukan Pelestarian Lingkungan

Penanaman PohonSleman – Pelestarian lingkungan terus diupayakan antara pemerintah dan swasta. Dengan menggandeng pihak swasta dapat menjadi pelopor yang menginspirasi stakeholder lain untuk bersama-sama memikul tanggung jawab sosial lingkungan berdampingan dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun lingkungan yang nyaman dan bersahabat.

Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes mengungkapkan hal tersebut disela-sela kegiatan penghijauan di taman wisata Candi Prambanan Sleman, Rabu (24/8).

Menurut Sri Muslimatun  penyelenggaraan penghijauan dengan pihak swasta  antara Kabupaten Sleman dengan Djarum Foundation dalam upaya membangun masyarakat Sleman menuju masyarakat yang lebih sejahtera dan berdaya saing.

“Kami berharap kerjasama ini dapat kita tingkatkan dan kembangkan dimasa-masa mendatang. Karena sebagai kawasan hulu di DIY, Sleman juga memikul tanggung jawab sebagai kawasan konservasi air utama,” kata Sri Muslimatun.

Dengan tanggung jawab tersebut, maka upaya penghijauan adalah syarat mutlak yang harus dilakukan berkelanjutan.  Keterlibatan semua pihak dalam upaya penghijauan ini dapat mewujudkan lingkungan yang kondusif.

Program penanaman pohon sepanjang Joglosemar ini dituntut untuk segera dimulai sejak saat ini mengingat trembesi  ‘si penyerap karbondioksida’ ini  membutuhkan waktu minimal 2 tahun untuk dapat hidup mandiri dari alam.

Merawat sama pentingnya dengan menanam, upaya penghijauan ini tidak akan berhasil tanpa campur tangan dari pihak lain. Sri Muslimatun juga berharap Candi-candi di wilayah Sleman yang lain juga disentuh dengan program penghijauan semacam ini. Penghijauan untuk kawasan taman wisata Candi Prambanan sejumlah 300 batang dengan melibatkan anak-anak muda pecinta alam.

Dalam kesempatan tersebut juga dibagikan tanaman dan alat berupa cangkul kepada para Camat se Kabupten Sleman untuk melakukan penghijauan di wilayahnya masing-masing.