Pemkab Sleman Dukung Pemeriksaan Dini Kanker‬

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah mencanangkan gerakan masyarakat hidup sehat (germas). Titik fokus gerakan ini salah satunya adalah deteksi dini penyakit tidak menular utamanya kanker leher rahim.‬

‪“Kegiatan ini menjadi upaya strategis dalam tindakan preventif maupun pengobatan dini kanker leher rahim. Apalagi penyakit ini sering kali tidak bergejala pada tahap awal,” kata Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes, Kamis (18/8).‬

‪Pemeriksaan ini diharapkan pula menjadi media sosialisasi bagi masyarakat, yang kebanyakan masih belum paham tentang deteksi dini kanker leher rahim. Saat ini seluruh  Puskesmas di Kabupaten Sleman mampu memberikan layanan pemeriksaan IVA sehingga masyarakat tidak harus ke rumah sakit untuk melakukan tes.‬

‪Dari angka yang kecil itu terdapat 13 wanita yang terindikasi calon kanker leher rahim atau 3,01 persen.

“Jika sudah diketahui indikasinya sejak awal, bisa segera diambil langkah tindak lanjut dan pencegahan agar tidak berkembang menjadi penyakit. Diharapkan adanya momen germas ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes.‬

‪Linda menambahkan, germas dimaksudkan sebagai upaya promotif dan preventif yang bertujuan untuk menurunkan beban penyakit. Disamping deteksi dini penyakit tidak menular, gerakan ini juga difokuskan pada peningkatan aktivitas fisik, serta konsumsi sayur dan buah.‬

‪Pencanangan germas diharapkan meningkatkan derajat kesehatan sekaligus mengubah gaya hidup dan perilaku masyarakat.




Bupati Himbau PNS Tetap Jamaah di Masjid Pasca Ramadan‬

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengajak Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Komplek Pemda Sleman untuk tetap berjamaah di Masjid Agung Sleman meski bulan suci Ramadan telah berlalu. Demikian disampaikan Sri Purnomo usai sholat dzuhur di Masjid Agung dr Wahidin Sudirohusodo, Senin (15/8).‬

‪Sri Purnomo mengatakan meskipun bulan Ramadan telah berlalu, hendaknya kegiatan-kegiatan beribadah tetap berlanjut seterusnya.

“Ketika bulan Ramadan masjid terlihat selalu penuh maka diharapkan di bulan-bulan lain juga sama penuhnya. Misalnya bulan Ramadan lalu ada 6 shaf terisi, maka sekarang 5 shaf juga bagus. Yang sisanya 1 shaf semoga sedang mengisi masjid yang lain. Mari kita upayakan untuk Dzuhur dan Ashar ataupun shalat yang lain untuk selalu berjamaah di Masjid Agung ini,” kata Sri Purnomo.‬

‪Sri Purnomo juga menekankan pentingnya membaca Al-Quran.

“Sekarang eranya teknologi. Dengan smartphone kita bisa terhubung dengan orang di belahan dunia manapun setiap saat. Dan kita juga bisa memasang aplikasi apapun di smartphone, termasuk juga membaca Al-Quran dan sejenisnya. Sehingga kita bisa membacanya di mana saja. Dengan mendengarkan orang Al-Quran saja sudah membawa kebaikan, apalagi apabila kita sendiri yang membacanya,” pungkasnya.‬

‪Masjid Agung dr Wahidin Sudirohusodo yang terletak di kompleks perkantoran Pemkab Sleman di Beran, Tridadi, Sleman mengagendakan tausiyah singkat sesudah shalat Dzuhur berjamaah.

Tausiyah sesudah shalat berjamaah ini merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa ketika Ramadan lalu, dan sempat terhenti sesudah Lebaran dan sekarang diawali lagi. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan secara teratur setiap Senin dan Rabu dan untuk jadwal berikutnya akan diisi bergantian oleh tokoh-tokoh dari berbagai kalangan.




Sleman Fashion Festival 2016 Ajang Kreatifitas Promosikan Batik Khas Sleman

Pemenang Sleman Fashion FestivalSleman – Potensi pekerja ekonomi kreatif di bidang fashion terus berkembang dan menjadi kesempatan emas untuk mengangkat potensi lokal berupa batik dan kain lurik yang banyak dikembangkan masyarakat Sleman. Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman dalam penutupan Sleman Fashion Festival (SFF) 2016 yang diwakili  Asisten Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih MPd  di Harbour Theater, Jogja Bay,  Minggu (14/8) malam.

Sri Purnomo mengapresiasi terselenggaranya SFF 2016 karena menurutnya kreativitas-kreativitas pelaku fashion membutuhkan dukungan dari banyak pihak termasuk dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Upaya pelaku fashion dalam acara ini secara tidak langsung dapat mempromosikan potensi wisata dan produk ekonomi kreatif dari saat ini Kabupaten Sleman telah memiliki motif batik khas Sleman yang terdiri dari motif Sinom Parijotho Salak, Motif Salak, Motif Parijoto, Motif Gajah Kombinasi Parang Rusak, Motif salakan, Motif Salak Pondoh, motif belut dan salak, serta motif Semarak Salak.

“Berbagai motif ini diharapkan menjadi referensi bagi para pengrajin batik. Sebaliknya saya harap konsumen juga turut melindungi potensi lokal ini dengan tetap menggunakan batik tulis atau batik cap dibanding menggunakan batik printing pabrikan yang justru mematikan industri kecil,” tambah Suyamsih yang membacakan sambutan Bupati Sri Purnomo.

Sri Purnomo juga mengharapkan melalui even ini, Sleman dapat menjadi rujukan fashion yang mengangkat batik dan kain lurik lokal. Berbagai desain batik dan trend fashion yang dikembangkan nantinya dapat menjadi magnet bagi wisatawan. Oleh karena itu penyelenggaraan even-even semacam ini  menurutnya perlu lebih digiatkan.

Sementara  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM menjelaskan bahwa SFF 2016 diselenggarakan pada 13-14 Agustus lalu diikuti oleh 18 desainer dimana 7 diantaranya berasal dari luar Sleman yaitu Bantul, Jogja, dan Magelang.

Penyelenggaraan SFF 2016 ini menurutnya merupakan sebuah kemasan atraksi wisata yang mampu memberikan edukasi masyarakat dan wisatawan tentang potensi Sleman khususnya batik dan lurik khas Sleman. Sekaligus juga memberikan ruang bagi masyarakat khususnya generasi muda untuk mengembangkan ide kreatifnya.

“Sleman Fashion Festival 2016 merupakan even yang kedua, dimana tujuan acara ini adalah untuk mempromosikan wisata di Sleman serta memberikan apresiasi terhadap karya kreatif berbahan batik dan lurik khas Sleman”, jelas Ayu.

Dalam penutupan SFF 2016 tersebut Juara I kategori fashion design  diraih oleh Taufik Efendi, juara II diraih oleh Tri Karyanto, dan juara III diraih oleh Farisah Anindita.

Sedangkan kategori kreasi lurik juara I diraih oleh Dwindi Ramadhana, juara ke II diraih oleh Fajar Wijarnako, dan juara III diraih oleh Paramita Sekartaji. Masing-masing pemenang Juara I berhak mendapatkan uang pembinaan Rp 3,5 juta, juara II Rp 2,5 juta, dan juara III Rp 1,5 juta.




Sleman Suguhkan Beras Organik Bersertifikat‬

Sleman – Ditengah gaya hidup masyarakat yang mulai concern dengan gaya hidup sehat, Sleman suguhkan beras organik yang bersertifikat. Adalah Kelompok tani rukun di Padasan, Pakembinangun, Pakem yang telah beralih dari menanam beras konvensional ke beras organik sejak 2011.

Tidak hanya sekedar mengklaim bahwa produk yang mereka hasilkan adalah organik namun hal ini dibuktikan dengan perolehan sertifikat organik dari Lembaga sertifikasi mutu pertanian Persada dan lembaga sertifikasi pangan organik.‬

‪Marzuki, wakil ketua kelompok tani rukun menyampaikan bahwa sejak 2011 kelompok tani rukun telah mengantongi sertifikat organik.

“Pada tahun 2011 kita memperoleh sertifikat organik dari Persada Jogja dengan luasan lahan 3,5 Ha, kemudian ditahun 2015 kita re-sertifikat dengan luasan 9,95 hektar,” kata Marzuku, Minggu (14/8).‬

Menurut Marzuki, padi yang dibudidayakan kelompok tani rukun merupakan varietas lokal yang saat ini telah terdaftar di pusat perlindungan varietas tanaman dan Perizinan Pertanian dengan nama varietas sembada hitam untuk beras hitam, sembada merah untuk beras merah dan mentik susu.

Beranggotakan 33 orang petani, kelompok tani rukun dalam sekali panen mampu menghasilkan 7 ton lebih setiap hektarnya, dengan harga bandrol varietas sembada hitam Rp 20 ribu per kg dan Rp 13 ribu per kg untuk sembada merah dan mentik susu.‬

‪Diungkapkan Marzuki hasil produksi ini tidak hanya dipasarkan di pasar lokal dan pedagang namun juga sudah di pasar kan di Jakarta, Semarang dan Surabaya . Setiap minggunya Kelompok Tani Rukun rutin mendapat permintaan beras organik, baik dari Jakarta, Semarang dan Jogja.

Permintaan rutin yang harus dipenuhi untuk daerah Jakarta sebanyak 500 kg/minggu untuk varietas mentik susu, Semarang sebanyak 500 kg/minggu untuk varietas sembada hitam dan Jogja sebanyak 1 ton/bulan untuk varietas sembada hitam dan sembada merah.‬

‪Mensiasati terpenuhi permintaan pasar ini Marzuki menuturkan bahwa lahan sawah dibagi kedalam beberapa blok, yang kemudian blok-blok tersebut ditanami varietas sesuai permintaan pasar.

“Kita menggunakan sistem blok, agar permintaan pasar bisa terpenuhi,” katanya.

Melihat tingginya permintaan pasar akan beras organik Tani Rukun, Marzuki berharap kedepan dapat mengembangkan sistem kerjasama dengan mengajak kelompok tani sekitar untuk ikut menanam dengan pola sesuai pola tanam SNI organik sehingga kawasan sawah organik semakin luas.‬

‪Sementara Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Edi Sri Hatmanto menyampaikan bahwa bukan lahan tanam yang kurang, namun tergantung dari para petani.

“Kuncinya petani mau apa tidak, makanya gapoktan masih akan ajak petani,” tutur Edi.

Edi juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan mendukung para petani melalui bantuan dana.

“Kita setiap tahun ada 8 kelompok tani yang kita biayai untuk buah-buahan, sayuran dan beras organik,” katanya.‬




PMI Targetkan 1,2 Persen Penduduk Sleman Jadi Pendonor Tetap

Sleman – Kalangan pegawai institusi pemerintah dan perusahaan besar diincar pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman untuk menjadi pendonor tetap. Hal itu diharapkan bisa mendorong tercapainya target jumlah pendonor tetap sebanyak 1,2 persen dari jumlah penduduk Sleman.

Ketua PMI Sleman, dr Sunartono MKes mengakui target tersebut belum bisa dicapai. Jumlah pendonor tetap di Sleman saat ini baru mencapai 0,8 persen dari jumlah penduduk Sleman yang sebanyak 1,1 juta penduduk.‬

‪Oleh karena itu, pihaknya merasa perlu menggandeng pihak-pihak dari institusi pemerintahan maupun perusahaan swasta yang statusnya sudah settle (mapan) untuk menggalang kegiatan ke-palangmerah-an di masyarakat. Di antaranya para anggota Polri, TNI, pegawai negeri sipil, dan lainnya.

“Contohnya, sewaktu mereka menggelar event, akan lebih baik bila ada kegiatan donor darah. Ini di antaranya yang terus kami gencarkan. Kami terus melakukan promosi dan pendekatan supaya kesadaran masyarakat untuk menjadi pendonor terus meningkat,” kata Sunartono, Minggu (14/8).

Sunartono juga berharap, dengan menggandeng masyarakat secara lebih luas lagi sebagai pendonor, target jumlah pendonor tetap itu bisa tercapai. Selanjutnya, pemenuhan jumlah stok darah harian yang ada di Sleman juga bisa terjamin.

Rata-rata permintaan darah secara bulanan di Sleman saat ini disebutnya mencapai 800-1000 kantong darah. Dari permintaan tersebut, tidak semua golongan darah bisa dipenuhi karena sifatnya yang langka. Untuk mengatasinya, sambungnya, PMI Sleman terkadang bekerjasama dengan unit pelayanan lain untuk meminta stok yang dibutuhkan.

“Stok darah Sleman sekarang ini masih relatif aman. Jejaring pun sudah mulai lancar. Bila satu wilayah kekurangan, bisa ambil wilayah lain,” jelasnya.