‪Dinkes Himbau Masyarakat Tidak Khawatir Imunisasi‬

Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman  menghimbau masyarakat untuk tetap melakukan imunisasi terhadap anak-anaknya dan tidak perlu khawatir adanya vaksin palsu.‬

‪”Sampai saat ini di Sleman tidak ditemukan vaksin palsu, dan diharapkan masyarakat tidak khawatir,” kata Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Wisnu Murtiyani MSc di Sleman, Jumat (5/8).‬

Menurut Wisnu, vaksinasi merupakan program yang sangat penting dan efektif untuk mencegah penyakit infeksi berbahaya yang mengancam nyawa anak. Disamping itu vaksin terbukti aman, efek samping yang mungkin muncul bersifat ringan, dan penting untuk tumbuh kembang anak.‬

‪”Imunisasi merupakan pencegahan spesifik untuk penyakit tertentu yang berbahaya. Imunisasi adalah melindungi seseorang terhadap penyakit tertentu, untuk menurunkan prevalensi penyakit, dan tujuan akhir adalah untuk menghilangkan penyakit,” katanya.‬

‪Hanya saja yang perlu diperhatikan lanjut Wisnu, penerima imunisasi harus sehat, tidak boleh sedang sakit, tidak boleh dalam keadaan akan menjadi sakit kalau diimunisasi, dan berat badan harus di atas gram pada bayi prematur (atau berat badan lahir rendah).‬

‪”Tata laksana imunisasi itu sendiri harus mengikuti SOP, yaitu `Safe Injection, tehnik, aseptik dan dosis yang tepat, jadwal kontraindikasi, coldchain, dan persiapan alat resusitasi. Yang jelas prinsip Vaksin diberikan pada anak sehat dan tidak boleh dalam kondisi anak sakit, sehingga efektif untuk menimbulkan kekebalan serta mencegah penyakit,” katanya.‬

‪Wisnu mengatakan, disamping itu manfaat imunisasi jauh lebih besar daripada risiko.‬

‪”Sedangkan penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi (P3DI) yang vaksin program adalah TBC berat, Hepatitis B, Dipteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, polio, campak, dan Haemofilus influensa tipe B,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, untuk vaksin nonprogram berupa Invansive Pneumococcus Disease (IPD), Diare Rotavirus, Cacar Air, Parotitis (Gondongen), Rubela (Cacar Jerman), Influaensa, Hepatitis A, Tipus, dan Kanker Rahim.‬

‪”Efek samping proses imunisasi yang ringan antara lain demam, rewel, menangis dan kemerahan selama 1 hingga 2 hari,” katanya.‬

‪Di Kabupaten Sleman  kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) 2016 akan dimulai Agustus 2016 dengan pendataan dan pengambilan logistik.‬ Siswa yang diimunisasi semua siswa SD kelas I, imunisasi yang diberikan Campak selama Agustus-September 2016. Sedang BIAS 2 akan dilakuakan Minggu ke 3 November 2016 dengan sasaran siswa SD kelas 1 hingga 3. kelas I DT, kelas 2 dan 3 Td.




Masyarakat Perlu Berperan Dalam Penyelamatan Arsip Daerah

Sleman– Pengelolaan kearsipan, baik itu arsip negara/pemerintah daerah maupun arsip pribadi/ perseorangan perlu dilakukan. Dan pengelolaan kearsipan penting dilakukan oleh pemerintah, swasta, organisasi kemasyarakatan, maupun perseorangan sebagai dokumen administrasi penyelenggaraan organisasi, bukti otentik, ataupun dokumen sejarah. 

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Arsip Daerah,  Retno Susiati SH dikantornya, Kamis (4/8). Retno mengubgkapkan perlunya  langkah nyata dari setiap pemangku kepentingan dalam upaya mewujudkan tata kelola kearsipan yang baik dan benar.

Saat ini masyarakat secara umum rata-rata belum secara serius memperhatikan dan menyimpan dokumen kearsipannya secara baik dan benar, sedangkan wilayah Kabupaten Sleman merupakan wilayah rawan bencana baik bencana gunung api maupun rawan bencana tanah longsor.

Untuk itu diperlukan upaya yang tepat dalam penyimpanan dokumen-dokumen pribadi untuk menghindari kerusakan atau kehilangan dokumen-dokumen penting yang dimiliki oleh masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten Sleman saat ini juga sedang menyelesaikan proses penyusunan Peraturan Daerah yang mengatur tentang Pengelolaan Kearsipan baik itu arsip pemerintah daerah dan juga Peran Serta Masyarakat dalam penyelenggaraan kearsipan,” kata Retno.

Dalam Perda yang masih dalam proses penyeselesaian tersebut diharapkan dapat mendorong peran aktif masyarakat dalam kearsipan berkenaan dengan menciptakan, menyimpan, dan melindungi arsip, serta mendukung ketertiban kegiatan penyelenggaraan kearsipan negara dengan menyerahkan arsip statis kepada lembaga kearsipan daerah.

Upaya tersebut sebagai bentuk perlindungan dan penyelamatan arsip yang dimungkinkan hilang atau rusak karena disebabkan oleh bencana alam maupun bencana sosial dan juga.

Selain itu lanjutnya pembudayaan penggunaan dan pemanfaatan arsip sesuai prosedur yang benar, penggalangan dan/atau menyumbangkan dana untuk penyelenggaraan kearsipan, keterlibatan masyarakat sebagai sukarelawan dalam pengelolaan dan penyelamatan arsip, juga menjadi item dalam draf peraturan daerah yang telah disusun.

Eksistensi Pemerintah Kabupaten Sleman dalam pengelolaan arsip dan pembinaan kearsipan melalui Kantor Arsip Daerah telah diapresiasi oleh Arsip Nasional RI (ANRI) dengan diraihnya peringkat pertama Anugerah Kearsipan Tingkat Nasional pada tahun 2015, dan pada tahun 2016 ini Sleman kembali dievaluasi sebagai upaya peningkatan pengelolaan dan pembinaan kearsipan oleh ANRI.

Disampaikan pula oleh Retno Susiati bahwa Kantor Arsip Daerah Kabupaten Sleman akan mendorong dan menggalakkan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam bidang kearsipan, yang salah satunya dengan menghimbau kepada masyarakat untuk menyerahkan arsip yang berkaitan dengan kepemerintahan, sejarah, dan budaya kepada pemerintah daerah, agar arsip-arsip tersebut akan lebih aman dan terjaga.

Hal tersebut memungkinkan karena lembaga kearsipan daerah telah memiliki sarana dan prasaran untuk meyimpan arsip  serta memiliki standar operasional procedure dalam memperlakukan arsip. Dokumen-dokumen arsip yang terkait dengan pemerintah daerah akan sangat bermanfaat sebagai referensi dalam proses  pengambilan kebijakan ataupun perencanaan pemerintah daerah.




Pemkab Gelar Galdi Lapang Bencana Tanah Longsor

Petugas BPBD Menggendong KorbanSleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus melakukan mitigasi bencana dengan melakukan gladi lapang. Gladi lapang penanggulangan bencana tanah longsor dilaksanakan di Desa Madurejo Kecamatan Prambanan Sleman, Kamis (4/8) tepatnya di depan SDN Madusari Prambanan.

Gladi berlangsung lancar dan sukses, bahkan gladi terlaksana seperti kejadian yang sebenarnya. Hal ini karena peran dan dukungan dari masyarakat sangat menjiwai seperti layaknya kejadian bencana tanah longsor yang sebenarnya.

Sebagai titik lokasi bencanaa tanah longsor memang berada di lereng perbukitan yang memang berpotensi terjadi longsor bila terjadi hujan yang terus menerus. Disatu sisi masyarakatnya sangat kompak dan ditunjang peran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman sebagai lembaga yang memang menangani berbagai bencana di Kabupaten Sleman.

Digambarkan dalam simulasi tersebut, terjadi hujan lebat yang mengguyur wilayah Desa Madurejo Prambanan hingga menyebabkan beberapa titik terjadi tanah longsong yang mengakibatkan dua rumah tertimbun tanah longsor dan beberapa pohon tumbang yang sebagian menimpa rumah warga.

Tanah longsor tersebut juga menimbulkan beberapa orang mengalami luka berat dan ringan, dua orang tertimbun tanah longsor, dua orang mengalami patah tulang karena kena reruntuhan rumah dan satu orang tertimpa pohon tumbang. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa namun kerugian yang ditimbulkan akibat bencana tersebut mencapai ratusan juta rupiah.

Beruntung relawan dan BPBD Sleman sigap dalam menangani bencana tersebut hingga para korban bisa cepat dievakuasi ke tempat yang lebih aman /barak pengungsin.

Disamping itu ditengah hiruk pikuknya masyarakat yang menyelamatkan diri masih saja dijumpai  penjahat yang memanfaatkan situasi untuk mencuri, namun berkat kesigapan aparat dan mesyarakat pencuri tersebut berhasil ditangkap dan dibawa ke Polsek Prambanan untuk diproses lebih lanjut.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan  BPBD DIY Ir Heri Siswanto, Plt Pelaksana BPBD Sleman Ir Kunto Riyadi, Muspika kecamatan Prambanan dan masyarakat setempat.

Pada kesaempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan Pengurus forum pengurangan resiko bencana dan pengurus unit pelaksana desa penanggulangan bencana Desa Madurejo Prambann Kunto Riyadi.

Sedangkan  Heri Siswanto  menyampaikan bahwa dalam upaya mewujutkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, pemerintah memiliki perhatian serius dalam upaya peningkatan kapasitas untuk mesyarakat desa. Karena desa  yang langsung  mengalami dampak bila terjadi bencana.

Oleh karena itu penguatan kapasitas masyarakat adalah upaya  strategis untuk menjadikan bangsa yang tangguh dalam menghadapi bencana. Berdasarkan pemetaan yang telah dilaksanakan pada tahun 2012 DIY terdapat 12 potensi ancaman bencana, dari 438 desa yang ada di DIY 301 desa merupakan desa rawan bencana, Diantaranya terdapat di Kabupaten Sleman.

Sementara Kunto Riyadi mengatakan Gladi lapang menjadi momen strategis bagi masyarakat Sleman khususnya masyarakat di Desa Madurejo Prambanan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat, terkait bencana longsor. Masyarakat harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

Disampaikan Kunto bahwa pelaksanaan gladi lapang tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiapsiagaan dan ketrampilan warga masyarakat dalam menghadapi bencana longsor, khususnya di Desa Madurejo Prambanan.

Diharapkan dengan adanya  gladi lapang  tersebut jatuhnya korban jiwa akibat longsor dapat diantisipasi, karena masyarakat telah maengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat.

Yang jelas ketepatan bertindak tentunya harus didukung oleh pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi sistuasi darurat terkait bencana. Gladi lapang tersebut menjadi sarana yang efektif untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan ketrampilan dalam mensikapi kondisi darurat. Dengan bekal tersebut diharapkan  seluruh warga masyarakat tidak akan panik bila terjadi bencana.




Gladi Lapang Penanggulangan Bencana di Wukirharjo Prambanan

Tinjau Dapur UmumSleman – Satu orang mengalami luka berat patah tulang kaki dan harus dirujuk ke RSUD Prambanan, dan lainnya mengalami luka ringan akibat bencana tanah longsor yang terjadi di Wukirharjo Prambanan Rabu (3/8). 

Kejadian tersebut akibat hujan yang terus menerus mengguyur wilayah Prambanan. Wilayah yang paling parah akibat tanah longsor tersebut sebagian wilayah Wukirharjo, terutama daerah perbukitan dan berada disekitar Balai desa setempat.

Disamping beberapa orang mengalami luka ringan, ada beberapa ternak sapi yang harusnya ikut diungsikan di balai desa, tetapi karena terbatasnya armada hanya tiga ekor sapi yang sempat diungsikan lainnya masih ditinggal pemiliknya mengungsi di balai desa. Disamping beberapa orang yang mengalami luka ringan ada beberapa orang ibu hamil yang harus diungsikan  karena tingkat kehamilannya sudah mendekati melahirkan.

Dan ditengah hiruk pikuknya masyarakat yang menyelamatkan diri masih saja dijumpai  penjahat yang memanfaatkan situasi untuk mencuri, namun berkat kesigapan aparat dan masyarakat pencuri tersebut berhasil ditangkap dan dibawa ke Polsek Prambanan untuk diproses lebih lanjut. Hal tersebut tergambar saat simulasi bencana tanah longsor di balai desa Wukirharjo Prambanan.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala pelaksana BPBD DIY Drs Krido Suprayitno SE MSi, Asekda bidang Pembangunan Dra Suyamsih,  Plt Pelaksana BPBD Sleman Ir Kunto Riyadi, Muspika Kecamatan Prambanan dan masyarakat setempat.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan Pengurus forum pengurangan resiko bencana dan pengurus unit pelaksana desa penanggulangan bencana oleh Bupati Sleman yang diwakili Asekda Bidang Pembangunan. Juga pengukuhan pengurus unit pelaksana oleh Plt. BPBD Sleman.

Sedangkan Krido menyampaikan bahwa dalam upaya mewujutkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, pemerintah memiliki perhatian serius dalam upaya peningkatan kapasitas untuk masyarakat desa. Karena desa  yang langsung  mengalami dampak bila terjadi bencana. Oleh karena itu penguatan kapasitas masyarakat adalah upaya  strategis untuk menjadikan bangsa yang tangguh dalam menghadapi bencana.

Lebih lanjut disampaikan bahwa berdasar pemetaan yang telah dilaksanakan pada tahun 2012 DIY terdapat 12 potensi ancaman bencana, dari 438 desa yang ada di DIY 301 desa merupakan desa rawan bencana diantaranya terdapat di Kabupaten Sleman.

Sementara Suyamsih menyampaikan gladi lapang menjadi momen startegis bagi masyarakat Sleman khususnya masyarakat di desa Wukirharjo Prambanan untuk meningkatkan kesiap-siagaan dan kewaspadaan masyarakat, terkait bencana longsor.

Masyarakat harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiap-siagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan  langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

Dikatakan Suyamsih bahwa pelaksanaan gladi lapang tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiap-siagaan dan ketrampilan warga masyarakat dalam menghadapi bencana longsor, khususnya di desa Wukirharjo Prambanan.

Diharapkan dengan adanya  gladi lapang  tersebut jatuhnya korban jiwa akibat longsor dapat diantisipasi, karena masyarakat telah maengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat. Ketepatan bertindak tentunya harus didukung oleh pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi sistuasi darurat terkait bencana.

Gladi lapang tersebut menjadi sarana yang efektif untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan ketrampilan dalam mensikapi kondisi darurat. Dengan bekal tersebut diharapkan  seluruh warga masyarakat tidak akan panik bila terjadi bencana.




Budidaya Beras Organik Pakem Terkendala Luas Lahan

Sleman – Permintaan terhadap beras organik dari Kabupaten Sleman semakin meningkat. Namun demikian petani pembudidaya beras organik di wilayah Kecamatan Pakem Sleman masih merasa kesulitan dan belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar. Tingkat produksi belum bisa optimal karena luasan lahan yang terbatas.‬

“Ada permintaan memenuhi kebutuhan beras organik hitam untuk kosmetik dari Jakarta, tapi belum bisa kami penuhi,” tutur Wakil Ketua Kelompok Tani Rukun Padasan, Pakem, Marzuki saat ditemui di rumahnya, Rabu (3/8). Menurut Marzuki, jumlah permintaan yang tidak mampu dipenuhi sebesar satu ton perminggu.

Pasalnya luas lahan petani pembudidaya beras tersebut masih terbatas. Sehingga produksi beras organik masih di bawah permintaan pasar. Saat ini terdapat 9,95 hektar lahan di Padasan yang digunakan untuk menanam tiga jenis beras organik. Dengan kapasitas beras hitam dua ton, merah tiga ton, dan mentik susu tiga ton per bulan.

Sementara, Kelompok Tani Rukun telah menyuplai kebutuhan beras organik di wilayah lokal dan luar daerah. Di antaranya 500 kg beras hitam organik per minggu untuk wilayah Semarang, mentik susu 500 kg per minggu untuk Jakarta, dan wilayah Jogja satu ton per dua minggu dengan jenis beras merah dan hitam.

Guna mengurangi keterbatasan lahan, Kelompok Tani Rukun sengaja menggunakan sistem blok dalam menanam beras organik. Setidaknya saat ini lahan di Padasan dibagi menjadi tiga blok, yang disesuaikan dengan masa tanam beras.

“Selain keterbatasan lahan, penanaman beras organik memang tidak mudah seperti beras konvensional,” kata Marzuki. Pasalnya air yang digunakan untuk mengairi sawah harus dikelola lebih dulu agar terbebas dari pertisida dan campuran kimiawi lainnya.

Bahkan tanah yang digunakan untuk menanam padi juga harus memenuhi standar tertentu. Untuk itu saat ini Marzuki dan kawannya tengah mengajak petani lain untuk menanam beras organik. Sebab ke depannya permintaan beras organik akan semakin meningkat.

Sementara Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman, Edy Sri Harmanta menuturkan, pihaknya juga akan terus mendorong petani untuk menanam beras organik. Bahkan selain beras, DPPK mendorong agar petani menanam buah, sayur, dan tanaman organik lainnya.

“Tahun ini ada delapan kelompok yang kami biayai untuk menanam sayuran, tumbuhan, dan beras organik,” kata Edy.

Menurutnya, pembudidayaan beras organik juga dilakukan di Dusun Klawisan, Desa Margokaton, Kecamatan Seyegan seluas lima hektar.