Rezeki Tak Terduga Putra Pemulung Berhasil Masuk UGM
Sleman – “Rasanya seperti mimpi. Saya juga merasa telah mendapatkan rahmat dan rezeki yang tak terduga dari Allah SWT,” ungkap Permana Suskalanggeng dirumahnya Saragan Desa Pendowoharjo Sleman, Rabu (3/8).
Permana Suskalanggeng yang biasa dipanggil Sus dan istrinya Dwi Asih Prihati patut bangga dan bersyukur karena putra pertamanya yang bernama Muhammad Wiskha Al Hafiidh Suskalanggeng saat ini diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM)Yogyakarta. Bagi pasangan suami-istri tersebut, pendidikan adalah segala-galanya demi hidup dan masa depan anak yang lebih baik.
Sus sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Tidak ada rasa malu bagi Sus menjadi seorang pemulung, yang penting menurutnya apa yang dikerjakan untuk menghidupi keluarganya adalah halal. Diceritakan Sus, setiap pagi mulai pukul WIB dirinya pergi ke desa-desa di Sleman dengan mengendarai motor tua miliknya.
“Setiap hari saya memutar ke desa-desa masuk kampung dan perumahan untuk mencari barang rongsokan disepanjang jalan yang saya lewati. Bahkan kadang saya berhenti di rumah-rumah warga untuk menanyakan barang bekas yang sudah tidak lagi terpakai,” cerita bapak dari 3 orang anak ini.
Jika diizinkan oleh pemilik rumah, maka rongsokan tersebut ia masukkan ke dalam krombong di belakang jok motornya. Barang bekas pakai itu biasanya diberikan kepadanya secara cuma-cuma. Tidak jarang pula, Sus dihentikan orang untuk diberi barang rongsokan.
Jika harus membeli rongsokan, Sus mengaku tidak memiliki modal. Sehingga rongsokan dibawa pulang kalau pemiliknya memberikan secara cuma cuma. Rongsokan hasil perolehannya setiap hari dibawa pulang kemudian dirumah dipilah-pilah baru kemudian disetorkan ke pembeli rongsokan yang sudah menjadi langganannya.
Dari hasil menjual rongsokan yang dikumpulkan, dalam sebulan Sus bisa mendapatkan uang rata-rata sebesar Rp .
“Ada kalanya saya hanya mendapatkan Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu per bulan. Namun kalau lagi ramai pernah mendapatkan Rp 1 juta, tapi rata-rata ya hanya Rp 900 ribu,” tutur Sus.
Uang dari hasil penjualan rongsokan ini digunakan untuk menghidupi keluarganya dan biaya sekolah ketiga anaknya. Karena itu saat tahu anaknya Muhammad Wiskha Al Hafiidh Suskalanggeng yang biasa dipanggil Wiskha diterima di UGM, selain bersyukur namun juga terselip rasa kebingungan Sus untuk membiayai kuliah anaknya.
Namun Sus dan istrinya tetap yakin dan optimis tentu akan mendapatkan jalan keluar untuk biasa kuliah anaknya.
“Anak saya saat ini masih harus berjuang keras agar mendapatkan beasiswa Bidikmisi agar dapat dibebaskan dari biaya perkuliahan,” kata Sus seraya menambahkan sampai anaknya masuk di UGM belum dimintai biaya sepersenpun.
Sampai kini diakui Sus keluarganya belum memiliki rumah sendiri. Ia bersama keluarganya menempati sebuah rumah milik saudaranya yang ditinggal merantau ke Kalimantan.
Meski dalam keterbatasan ekonomi, Sus tidak lantas melupakan pendidikan anak-anak mereka. Ia justru mendorong agar kedua anaknya tetap bersekolah dan memiliki cita-cita untuk terus diperjuangkan hingga tercapai.
Karena itu Sus selalu berpesan kepada anaknya Wiskha agar belajar dengan baik. Tunjukkan semangat belajar yang tinggi agar bisa menjadi inspirasi bagi teman kuliahnya.
“Saya pesan pada anak saya, jadilah inspirasi bagi teman kuliahmu. Tunjukkan kamu memang pantas kuliah di UGM karena memang pandai tapi harus tetap rendah hati dan tidak boleh sombong,” ungkap Sus mengulang pesannya pada putra pertamanya.
Berkat dorongan semangat yang selalu diberikannya, Wiskha memang menjadi anak yang rajin dan berprestasi di sekolah. Sejak SD, SMP, hingga SMA, Wiskha selalu juara kelas. Ia pernah meraih juara dua Olimpiade Fisika Paket Hari Ilmiah se Jawa Bali pada 2015. Wiskha lulus SMA dengan predikat nilai tertinggi se-Kabupaten Sleman dan keempat di tingkat Provinsi DIY
Begitu lulus SMA, Wiskha berhasil masuk ke Fakultas Kedokteran UGM. Sus juga salut pada istrinya yang selalu mendorong Wiskha tetap bersemangat untuk melanjukan kuliah. Wiskha sempat merasa ragu bisa masuk ke jurusan yang didambakannya itu. Sebab, peminat fakultas itu sangat banyak.
Lagi pula, Wiskha sempat gagal masuk pendidikan dokter UGM lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Namun berkat dorongan ibunya, dan Wiskha terus giat belajar, akhirnya Wiskha bisa diterima melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Untuk itu Sus dan istrinya berharap putranya dapat sukses belajarnya dan kelak setelah menjadi dokter bisa berguna bagi bangsa dan negara. Dan yang penting bisa mengangkat derajat dan nama baik keluarganya dalam kehidupan yang lebih baik.
