10 PMR Sleman Ikuti Jumbara di Makasar

Sleman – Sepuluh anggota Palang Merah Remaja (PMR) asal Kabupaten Sleman dikirim mengikuti kegiatan Jumpa Bakti Gembira (Jumbara) tingkat nasional ke-VIII. Acara ini dilaksanakan tanggal 25-31 Juli 2016 di Pangkajene, Kepulauan Sulawesi. Kontingen PMR dari Kabupaten Sleman akan diberangkatkan Minggu (24/7) mendatang dengan dua orang pendamping.

“Tahun ini, kami memberangkatkan 10 personel PMR terbaik untuk mengikuti jumbara. Usianya mulai dari tingkatan mula sampai wira,” kata Ketua PMI Cabang Sleman, dr  Sunartono MKes disela-sela acara syawalan PMI, Rabu (20/7).

Sunartono  menjelaskan, event jumbara ini digelar dalam rangka pembentukan karakter anggota PMR agar peduli terhadap sesama, sekaligus ajang peningkatan ketrampilan. Sunartono mengingatkan kepada kontingen Sleman agar membawa nama baik daerah.

Terlebih pada kegiatan jumbara nantinya, mereka akan bertemu rekan sesama anggota PMR dari banyak daerah. Acara itu bisa dijadikan kesempatan untuk mempererat persaudaraan, dan ajang evaluasi program PMR. Selama berada di arena jumbara, kontingen akan mengikuti serangkaian kegiatan. Diantaranya kunjungan wisata, bakti sosial, pentas seni, dan donor darah.

Yang menggembirakan lanjut Sunartono bahwa Bupati Sleman pada kesempatan tersebut akan mendapatkan penghargaan atas jasanya dalam pengembangan PMR dan sukarelawan, dan itu satu-satunya bupati di Indonesia selain beberapa Gubernur.

Menanggapi hal ini Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Sleman Sri Murni Rahayu mengatakan, Pemkab terus mendukung program PMI. Selama ini, keberadaan PMI menjadi langkah penguat bagi Pemkab dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat kondisi wilayah dan sosial masyarakat.

“Kami berharap momen syawalan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri maupun lembaga. Sehingga anggota PMI dapat terus meningkatkan kinerja dan perannya,” kata Murni.




Syawalan Ajang Mempererat Tali Silaturahmi dan Saling Memaafkan

IMG_7534Sleman – Syawalan sudah menjadi tradisi keagamaan dikalangan masyarakat yang biasanya dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Syawalan merupakan momen untuk saling memaafkan, bersilaturahmi, berbagi rizki, dan bertukar informasi.

“Permasalahan dalam berbangsa dan bernegara tidak lepas dari silaturahmi dan saling memaafkan antar sesama”, kata Kepala Dinas Hubkominfo Kabupaten Sleman, Drs. Agoes Soesilo Endiarto, dalam acara Syawalan di Aula Kantor Dinas Hubkominfo Sleman, Selasa (19/7).

Sedangkan pengisi ceramah, Drs. H. Thoyib Hidayat, MM menyampaikan keluarga sakinah pandai mensyukuri nikmat, berbakti kepada orang tua, segala amal ibadah diniatkan untuk mencari ridho Allat SWT, anak yang soleh, hidup harus ada perubahan, dan berpegang teguh atas nama agama dikutip dari Q.S Al Ahqaf ayat 15.

Syawalan tersebut mengangkat tema mempererat silahturami menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan dihadiri segenap pegawai Dinas Hubkominfo, Darma Wanita, dan Pensiunan. Selain itu, disampaikan pula tali asih kepada Staf Seksi Angkutan dan Terminal Bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas Dishubkominfo, Suwito.




Bupati dan Jajaran pejabat Silaturahmi ke Kyai dan Alim Ulama Kabupaten Sleman

IMG_9064Sleman – Bupati dan Wakil Bupati Sleman bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah mengadakan silaturahmi di tiga tempat kediaman Kyai dan Alim Ulama,  Selasa (19/7). Rombongan yang dipimpin langsung oleh Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengawali silaturahmi di kediaman KH Abdul Chaliq Muchtar di Perum Banteng, Sinduharjo, Ngaglik.

Pada kesempatan tersebut  Abdul Chaliq berpesan pada jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Sleman perlu adanya revolusi dalam pembangunan. Menurutnya ada tiga revolusi yang diperlukan yaitu revolusi sistem regulasi untuk membangun pola pikir baru, kedua adalah revolusi Manajeman birokrasi antar lembaga untuk membangun pola sikap terpadu, dan ketiga adalah revolusi strategi eksekusi untuk membangun pola tindakan yang maju.

“Membangun Indonesia yang berkemajuan dengan cara membiasakan kebenaran, bukan dengan cara membenarkan kebiasaan,” ungkapnya.

Kunjungan silaturahmi kedua dilanjutkan di kediaman Ketua MUI Sleman, Drs KH Ma’mum M Muroi LML Klabanan Sinduharjo Ngaglik. Dalam Kesempatan tersebut KH Ma’mum mengungkapkan keprihatinanya pada kondisi kehalalan daging ayam potong dipasaran. KH Ma’mun berharap jajaran Pemkab Sleman melakukan sidak terkait dengan pemotongan ayam agar daging ayam yang beredar dipasaran dapat terjamin kehalalannya.

Terkait dengan masukan KH Ma’mun, Bupati  Sri Purnomo akan menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan Dinas Pasar dan instansi terkait. Kunjungan silaturahmi ditutup di kediaman Alm KH Zamakhsyari Ponpes Mursyidulhadi Plosokuning, Minomartani. Rombongan diterima oleh istri  Alm KH Zamakhsyari beserta pengurus ponpes.

Sri Purnomo menyampaikan bahwa maksud kunjungan silaturahmi dilakukan adalah agar  kedekatan jajaran pemerintah di Kabupaten Sleman dengan Kyai dan Alim Ulama di Sleman semakin terjalin dengan baik serta dapat meningkatkan Ukuwah Islamiyah. Silaturahmi yang dilakukan menurut Sri Purnomo dibagi menjadi du area yaitu area Sleman timur dan Sleman Barat.  Untuk area Sleman Barat dilaksanakan pada hari Kamis (20/7).




Berbah Terbaik dalam Festival Jathilan

Sleman – Kontingen “Kudho Wiromo” asal Kecamatan Berbah terpilih sebagai penyaji terbaik I dalam Festival Jathilan Kabupaten Sleman yang diselenggarakan pada hari Kamis dan Jumat (14 – 15/7) di Parkir Utara Lapangan Denggung Sleman. 

Atas prestasi tersebut kontingen ini memperoleh tropi dan hadiah uang pembinaan sebesar Rp 7,5 juta. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Senin (18/7).

Sedang penyaji terbaik II adalah Suwito Raharjo dari Kecamatan Sleman mendapat tropi dan uang pembinaan  Rp 6 juta dan Penyaji Terbaik III diraih oleh Kudho Prasetyo dari Kecamatan Gamping yang mendapatkan tropi serta uang pembinaan Rp 5,5 juta.

Sementara untuk kategori Juara harapan, kontingen “Kudho Bramudo” dari kecamatan Kalasan menjadi Juara Harapan I mendapatkan Tropi dan Uang Pembinaan sebesar Rp 4 juta, dilanjutkan dengan Juara Harapan II adalah kontingen dari kecamatan Moyudan ”Kudho Nalendro” yang  mendapatkan Tropi dan hadiah uang Pembinaan Rp 3,5 juta dan Juara Harapan III diraih oleh “Turonggo Satrio Mudo” dari Prambanan yang mendapatkan Tropi serta Uang Pembinaan Rp 3 juta.

Sementara itu untuk Penyaji Terbaik Festival Kesenian Religius yang diselenggarakan Jumat dan Sabtu (15 – 16/7) di desa wisata Grogol Margodadi Seyegan adalah grup Badui Babussalam dari kecamatan Godean, atas prestasi yang diraih Kontingen ini mendapatkan Tropi serta Uang Pembinaan sebesar Rp 7,5 juta.

Selanjutnya kontingen “Badui Sirojan Muniro “dari Kecamatan Mlati sebagai Penyaji Terbaik II mendapatkan Tropi serta Uang Pembinaan Rp 6 juta, lalu Penyaji Terbaik III diperoleh Kontingen dari Kecamatan Seyegan “Kubro Mudo Siswo” yang mendapatkan Tropi dan Uang Pembinaan sebesar Rp 5,5 juta.

Selanjutnya untuk kategori  Juara Harapan, Kontingen asal Kecamatan Minggir “Badui Sabilul Mutaqin” mendapatkan Juara Harapan I dengan mendapatkan hadiah Tropi serta Uang Pembinaan Rp 4 juta.

Dan, kontingen “Badui Tunas Muda” dari Ngemplak mendapatkan Juara Harapan II dengan membawa Hadiah Uang Pembinaan sebesar Rp 3,5 juta dan Tropi Penghargaan, dan Juara Harapan III adalah Kontingen dari Prambanan “Turonggo Satrio Mudo” yang mendapatkan Hadiah Tropi serta Uang Pembinaan Rp 3 juta.

Ayu mengharapkan kepada kontingen yang terpilih sebagai penyaji terbaik agar tetap mempertahankan kualitas tampilannya.

“Kejuaraan bukanlah tujuan akhir akan tetapi merupakan bukti nyata keberhasilan dalam pembinaan kesenian. Sedangkan kepada kontingen yang belum berhasil memperoleh kejuaraan diharapkan tetap bersemangat untuk berkreasi dan berkiprah dalam dunia seni pertunjukan yang merupakan potensi bangsa yang adiluhung,” kata Ayu.




Kerajinan Busur Panah Banyak Diminati‬

IMG_0996Sleman – Seiring maraknya olahraga panahan, piranti busur panah semakin banyak peminat. Salah satu produsen peralatan ini adalah Maskur Asyhari, warga Dusun Plumbon Lor, Desa Mororejo, Kecamatan Tempel, Sleman.‬

‪Setiap minggunya, pria yang akrab disapa Hari ini rata-rata memproduksi dua unit busur panah. Pelanggan kebanyakan berasal dari luar daerah seperti Bekasi, Bogor, Purwokerto, Jember, dan Papua. Mayoritas merupakan sekolah atau klub panah.‬

‪“Permintaan sebenarnya cukup banyak tapi produksi masih terbatas. Baru bisa menghasilkan dua busur tiap minggu,” kata Hari, Selasa (19/7).‬

‪Keterbatasan produksi itu lantaran dia masih menggunakan peralatan manual, dan hanya dibantu seorang asisten.‬

‪Saat ini Hari memproduksi sembilan macam busur panah. Di antaranya untuk kelas profesional seperti jenis recurve yang dibagi menjadi take down bow, classic, dan american classic bow. Selain itu ada pula jenis compound bow, seperti panah tradisional seperti horsebow, snake horsebow, dan gendewa jemparingan.

‪Dari segi harga, produk buatan Hari relatif terjangkau yakni berkisar antara Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta tergantung material yang digunakan. Saat ini yang paling banyak diminati kalangan penghobi maupun atlet panahan adalah busur compound.‬

‪Ke depan, Hari berkeinginan memproduksi busur jenis riser berbahan alumunium. Namun harapan itu belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat karena keterbatasan sarana produksi.‬ ‪Hari juga berharap agar produknya bisa semakin dikenal publik. Di lain sisi sekaligus untuk memasyarakatkan olahraga panahan.