17 Grup Ikut Festival Jathilan Tingkat Kabupaten Sleman

13631483_1329447967070421_2763514325159579242_nSleman – Sebanyak 17 grup kesenian jathilan dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman akan berunjuk ketrampilan dan berlaga dalam event Festival Jathilan Sleman Tahun 2016, Kamis – Jumat, 14 – 15 Juli 2016 di Lapangan Parkir Utara Lapangan Denggung Beran Tridadi Sleman. Ajang festival jathilan ini untuk memperebutkan tropi kejuaraan dan uang pembinaan senilai Rp 25 juta.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Rabu (13/7) Ayu menambahkan bahwa Festival Jathilan Kabupaten Sleman merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional kerakyatan khusunya jathilan dalam bingkai kearifan lokal seni budaya dalam rangka mendukung konsep keistimewaan Yogyakarta di wilayah Kabupaten Sleman.

Selain itu juga untuk membangkitkan kembali grup-grup jathilan di wilayah Kabupaten Sleman dalam iklim kompetisi positif, serta memberikan ruang gerak dalam berekspresi bagi para seniman jathilan.

Festival Jathilan Kabupaten Sleman 2016 akan berlangsung selama dua hari yaitu Kamis dan Jumat, 15 – 16 Juli 2016 mulai pukul WIB hingga selesai di parkir utara Lapangan Denggung Beran Tridadi Sleman. Festival Jathilan ini diikuti oleh 17 grup yang direkomendasikan oleh masing-masing kecamatan.

Ayu mengharapkan bahwa event spesial di akhir pekan yang berupa Festival Jathilan Sleman 2016 dapat menjadikan ajang hiburan sekaligus wahana apresiasi bagi para pelaku dan pecinta seni serta wisatawan baik domestik maupun manca negara.

Pada hari Kamis (14/7) akan tampil 9 grup jathilan, yaitu Kudho Nalendra dari Kecamatan Moyudan, Sekar Jati dari Ngalik, Kudho Muda Satriya dari Ngemplak, Kudho Prasetya dari Gamping, Suwito Raharjo dari Kecamatan Sleman, Turonggo Cahyo Mudo dari Seyegan, Mustiko Prasetyo dari Depok, Turangga Manis dari Pakem, dan Turonggo Mudho Satya dari Prambanan.

Sedangkan pada hari Jumat (15/7) akan tampil 8 grup jathilan, yaitu Turonggo Mudo Budoya dari Godean, Kudho Wiromo dari Berbah, Ria Panji Kawedar dari Tempel, Bekso Satriyo Mudo dari Mlati, Puspito Bawono dari Minggir, Kudho Manunggal dari Turi, Kudho Bramuda dari Kalasan, Turonggo Wahyu Budoyo dari Cangkringan.

Selain itu untuk memeriahkan acara tersebut sekaligus sebagai penutup kegiatan akan ditampilkan grup tamu Angguk Si Lestari Pripih dari Kulon Progo. Penyaji Terbaik I mendapatkan hadiah sebesar Rp 7,5 juta, Penyaji Terbaik II Rp 6 juta, dan Penyaji Terbaik III Rp 5,5 juta. Sedangkan untuk Juara Harapan I mendapatkan hadiah sebesar Rp 4 juta, Juara Harapan II Rp 3,5 juta, dan Juara Harapan III Rp 3 juta.

Adapun dewan juri yang akan dihadirkan dalam kegiatan tersebut adalah DR. Kuswarsantya dari akademisi, Drs Gandung Djatmiko dan Dra Daruni dari ISI Yogyakarta.




‪Polsek Pakem Gagalkan Pengiriman Sabu-Sabu ke Lapas Narkoba

Sleman – Polsek Pakem, Selasa (12/7) menggagalkan upaya penyelundupan paket narkoba jenis sabu-sabu ke dalam Lapas Narkoba Sleman. Sabu-sabu itu akan dikirim ke dalam gedung penjara dengan cara dimasukkan ke dalam rambak (kerupuk kulit) dan akan diserahkan sebagai oleh-oleh untuk salah satu narapidana.

Kapolsek Pakem, Kompol Sudaryanto, Rabu (13/7) mengatakan, rambak berisi sabu tersebut dibawa oleh kurir wanita berinisial WL (22) saat ada kegiatan besuk bebas merayakan Idul Fitri. WL sedianya akan membesuk salah satu warga binaan di Lapas Pakem.

“Setelah menerima informasi adanya rencana penyelundupan, kami segera mengirimkan anggota ke Lapas Narkoba yang berjarak sekitar 200 meter dari Polsek Pakem,” jelasnya.

Ia menambahkan polisi kemudian memeriksa barang kiriman pengunjung satu per satu. Salah satunya kerupuk rambak tersebut. Setelah dibuka ternyata di dalam kerupuk rambak itu terdapat kristal bening diduga sabu-sabu yang akan dikirimkan kepada salah satu penghuni Lapas Narkoba,” katanya.

Dari pemeriksaan kerupuk rambak, ujarnya, ditemukan 11 paket sabu-sabu. Akhirnya polisi kemudian memeriksa pembawa barang kiriman itu, yakni WL, warga Temanggung Jawa Tengah serta seorang lainnya.

“Keduanya masih kami periksa intensif dan narapidana yang akan menerima pun juga kami periksa,” katanya. Namun ia enggan menjelaskan hasil pemeriksaan sementara terhadap ketiga orang tersebut.

Polisi selain mengamankan 11 paket sabu-sabu dengan berat 10,9 gram juga satu  paket yang diduga ekstasi berjumlah 10 butir yang juga berusaha diselundupkan dalam kerupuk rambak tersebut. Kini polisi dari Polsek Pakem masih melakukan pengembangan pada WL yang diduga merupakan kurir yang dikendalikan sindikat dalam lapas.




Industri Pengolahan Ikan Meningkat‬

20160621_124346Sleman – Industri pengolahan hasil budidaya perikanan di Kabupaten Sleman mencatat tren pertumbuhan yang positif.‬ ‪Saat ini, sudah ada sekitar 40 orang tergabung dalam Asosiasi Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Kabupaten Sleman (ASPPIN). Bahkan omset yang mereka peroleh mencapai Rp 20 miliar.‬

‪Menurut Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Sleman, Ir Widi Sutikno MSi, peningkatan omset ini sejalan dengan perkembangan DIY sebagai daerah tujuan wisata.

“Industri pengolahan di sektor perikanan tumbuh bagus. Saya menilai ASPPIN telah siap masuk ke pasar bebas,” kata Widi, Rabu (13/7).‬

‪Widi memandang keberadaan industri pengolah perikanan sudah memunculkan alternatif pasar. Dari sisi pendapatan, bisa memberikan keuntungan lebih karena nilai ekonomis produk meningkat.‬

‪Hal itu didukung kesadaran pelaku industri dengan mengurus perizinan, dan menyiapkan tempat produksi yang higienis. Dari pihak Pemerintah Kabupaten memberikan dukungan dengan mengadakan pelatihan rutin tahunan dibiayai APBD.‬

‪Di lain sisi, berkembangnya industri olahan perikanan ternyata potensial untuk mendukung sektor pariwisata. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, dalam Perda telah diatur zonasi basis wisata. Untuk Sleman wilayah barat, pengembangan pariwisata diarahkan pada basis pertanian.‬

‪Hal ini juga didukung berkembangnya sejumlah desa wisata di wilayah tersebut seperti Grogol.  “Di zona barat, potensi perikanan dan pertaniannya sudah ada ditambah kegiatan budaya masyarakatnya. Itu cukup potensial untuk dikembangkan menjadi daerah wisata,” kata Ayu.‬

‪Namun diakui upaya itu tidak mudah karena menghadapi tantangan alih fungsi lahan. Karena itu untuk mewujudkan wisata berbasis zonasi bidang tersebut dibutuhkan kerjasama lintas sektor termasuk dengan masyarakat.




Sleman dikunjungi 299.568 wisatawan selama libur lebaran

Sleman – Selama libur lebaran 2016 ini, destinasi wisata di Kabupaten Sleman dikunjungi setidaknya  wisatawan. Angka tersebut masih sementara mengingat masih ada beberapa destinasi yang belum mengirimkan angka kunjungannya. Demikian dinyatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir. AA Ayu Laksmidewi TP, MM, Selasa (12/7).

Penyebaran kunjungan wisatawan selama libur lebaran 2016 silam meliputi objek wisata Kaliurang sebanyak  wisatawan yang diantaranya Museum Ullen Sentalu dan Museum Gempa Prof dr Sarwidi 38 wisatawan, Volcano Tour Cangktingan , Museum yang terdiri atas Monjali , Museum Gunungapi Merapi (MGM) , Museum Dirgantara Mandala  , dan Museum Affandi 435, wisatawan.

Sedangkan untuk kategori Candi dan Ramayana terakumulasi wisatawan yang terdiri atas atas Candi Prambanan , Candi Ratu Boko , Candi Ijo , Sendratari Ramayana , Candi Barong , Candi Miri wisatawan.

Untuk kelompok desa wisata terakumulasi wisatawan, yang terdiri atas Desa Wisata Breksi , Domes , Kadisobo , Brajan , Sukunan 513, Jethak 431, Pentingsari 425, Grogol 422, Gamplong 400, Pulesari 337, Srowolan 310, Kelor 254, Garongan 154, Garongan 145, Pancoh 100 , Tunggularum 80, Nawung 40 dan Tanjung 27 wisatawan.

Volcano Tour Cangkringan dikunjungi wisatawan yang terdiri atas pengunjung kawasn Kinahrejo sebanyak dan pengguna jeep wisata sebanyak museum sebanyak  wisatawan yang terdiri atas Museum Gunungapi Merapi (MGM) , Monumen Jogja Kembali (Monjali) , Museum Affandi 435,  dan Museum Dirgantara Mandala wisatawan.

Agrowisata Bhumi Merapi dikunjungi wisatawan, Sindu Kusuma Edupark , Jogja Bay Water Park , Taman Pelangi wisatawan. Selain itu destinasi minat khusus yang masih perawan diwilayah Sambirejo Prambanan yaitu Spot Riyadi dikunjungi wisatawan, Batu Kapal wisatawan serta Rumah Budaya Omah Petruk dengan 400 wisatawan.




Sawah Terpapar Bahan Kimia, Belut Makin Menghilang di Sleman

Sleman – Kabupaten Sleman khususnya Kecamatan Godean sudah terkenal sebagai produsen keripik belut. Namun ternyata, keberadaan belut di areal persawahan di Sleman saat ini diyakini semakin menghilang.

‪Ekosistem yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia disinyalir menjadi penyebab utamanya. Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehuatanan (DPPK) Sleman, Suparmono mengatakan, sebenarnya budidaya belut muncul secara alami di areal persawahan yang luas, berair jernih dan alami.‬

‪Hanya saja, kondisi persawahan Sleman saat ini semakin terpapar bahan pupuk kimia dan pestisida untuk mendorong tumbuh kembang tanaman. Hal ini berimbas pada hilangnya belut dari area setempat karena bermigrasi ke wilayah lain yang masih alami.‬

‪”Belut sekarang sudah ngga ada di persawahan Sleman karena penggunaan pupuk kimia. Kalaupun ada, populasinya pastilah sedikit,” kata Suparmono, Selasa (12/7).

‪Menurut Suparmono, belut termasuk hewan yang sulit diterapkan rekayasa teknologi budidaya. Hingga kini belum ditemukan teknologi baru dalam rekayasa pembiakan hewan bertubuh licin itu. Jalan paling gampang dan efektif dikatakan Suparmono adalah dengan pengembangan sistem minapadi yang organik, tanpa bahan kimia. Minapadi disebutnya telah terbukti sangat disukai belut untuk dijadikan habitat hidup dan berkembang biak.

Saat ini, Sleman memiliki luasan lahan minapadi sekitar 98 hektar. Dinas sendiri terus mendorong masyarakat untuk memperluas cakupan area minapadi tersebut. Tahun ini, Kementerian Pertanian sendiri akan memberi backup pengadaan lahan minapadi seluas 65 hektare. Sekitar 40 hektare di antaranya berada di Seyegan dan sisanya ada di Moyudan dan Minggir.‬

‪”Kalau minapadi ini bisa lebih dikembangkan, mungkin 2-3 tahun ke depan Sleman bisa jadi daerah produsen belut,” kata Suparmono.‬

Diakui Wati, pengusaha keripik belut di Dusun Klaci II, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, selama ini dirinya selalu mengambil belut segar dari wilayah Jawa Timur dan sedikit dari Jawa Barat serta Cilacap. Hal ini dilakukan mengingat ketersediaan bahan baku di Sleman sangat tidak memadai jumlah produksinya.‬

“Bahan baku tetap ambil dari luar. Sekali ambil dari Jawa Timur bisa mencapai 1 ton, untuk kebutuhan dua hari,” katanya.