Peringatan Nuzulul Qur’an jadi Momentum Pemahaman Al Qur’an

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyampaikan, setiap peringatan Nuzulul Qur’an diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dan sumber petunjuk yang hak dan universal, termasuk kandungan aspek kehidupan sebagai warga masyarakat dalam keberagamaan dan kehidupan bersama.

“Kaum Muslimin meyakini bahwa Al Qur’an, adalah sumber utama ajaran Islam, dan sumber ilmu pengetahuan yang tak ada habisnya untuk digali dan dikaji. Al Qur’an menyajikan substansi hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam semesta,” kata Sri Purnomo ketika menghadiri Peringatan Nuzulul Qur’an di masjid Agung Sudiro Husodo, Jumat (24/6).

Menurut Sri Purnomo, setiap muslim diingatkan bahwa akal adalah karunia yang sangat penting di antara karunia yang diberikan Allah kepada manusia. Namun akal semata, tidak akan pernah bisa membawa manusia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan yang hakiki.

Oleh karena itu, kepada manusia diberikan hidayah agama yang menjadi pedoman yang pasti dalam menjalankan tugas kekhalifahan di muka bumi. Dengan mengandalkan kemampuan akal semata, tapi mengabaikan tuntunanagama, hanya akan melahirkan manusia yang pintar tapi berakhlak rendah dan tidak memberikan manfaat bagi sesama.

Dalam kesempatan tersebut, juga disampaikan pentasyarufan dana BAZ untuk masjid serta mushola dan kegiatan keagamaan di Kabupaten Sleman sehingga  sampai dengan tanggal 23 Juni 2016 dana BAZ yang telah disalurkan mencapai Rp 741,750 juta yang diperuntukkan bagi kaum Rois sebesar Rp 696,250 juta dan sebesar Rp 45,750 juta untuk masjid serta mushola dan kegiatan keagamaan.




Dusun Modinan Gamping Dinilai Tim Lomba Toga Tingkat Provinsi

Tim Penilaian TogaSleman – Kehadiran Tim penilai ke Sle­man dapat memberikan suatu motivasi untuk melaksanakan upaya peningkatan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat dengan lebih baik. Untuk menunjang keberhasilan pembangunan bidang kesehatan, tentunya tidak hanya mengandalkan upaya dari pemerintah saja, tetapi sangat diperlukan adanya peran serta aktif masyarakat.

“Wadah yang tepat bagi masyarakat untuk berkiprah dalam pembangunan bidang kesehatan adalah melalui pelaksanaan kegiatan Posyandu dan membentuk kelompok pembudidayaan tanaman obat di lingkungan sekitar,” kata Camat Gamping, Priyo Handoyo SH MSi disela-sela  menerima Tim lomba Toga tingkat DIY di Dusun Modinan banyuraden Gamping, Jumat (24/6).

Disampaikan Priyo bahwa Lomba pemanfaatan Toga (Taman Obat Keluarga) merupakan wujud partisipasi aktif masyarakat dibidang kesehatan melalui rumahtangga, oleh karena itu Toga diharapkan dapat menunjang kesehatan sebagai upaya preventif, kesejahteraan, keindahan lingkungan, pelestarian tanaman dan budaya dan sebagai sumber penyedia bahan baku obat tradisonal bagi keluarga.

Melalui pemanfaatan Toga yang dilakukan oleh keluarga, terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh antara lain untuk ketersediaan P3K alami, penghijauan pekarangan dan juga dapat mempercantik halaman rumah. Agar dalam pembinaan dapat lebih obyektif, tim penilai dipersilahkan untuk mengadakan pemantauan dan pengamatan langsung di lapangan.

“Bagaimanapun hasil yang dicapai, nantinya akan kami manfaatkan untuk mengevaluasi dan memacu serta menyempurnakan program-program kegiatan, sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Bagi kami keberhasilan merupakan suatu harapan, namun demikian keberhasilan tersebut bukan merupakan tujuan akhir karena keberhasilan yang kami cita-citakan adalah keberhasilan yang obyektif,” kata Priyo.

Sedangkan Dra Anik Rahmani mewakili tim penilai menyampaikan dengan Toga dapat menjadikan tubuh tetap sehat dan dengan Toga pula Indonesia dapat mempunyai prestasi besar jangan sampai kalah dengan produk obat herbal dari Hongkong maupun Jepang yang sudah terkenal di seluruh dunia.




Masyarakat Diminta waspadai Ancaman Tanah Longsor

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman meminta masyarakat di daerah rawan longsor meningkatkan kewaspadaan saat turun hujan deras.‬

‪”Jika durasi hujan deras terasa lama, sebaiknya segera mengungsi ke tempat aman,” kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kabupaten Sleman, Heru Saptono di Sleman, Kamis (23/6).

‪Menurut Heru, masyarakat diharapkan lebih peka dan tanggap dengan tanda-tanda ancaman bencana, karena pada dasarnya perangkat “Early Warning System” (EWS) sebagai penunjang saja.‬

‪”Lebih utama dan penting itu kewaspadaan dari masyarakat, masing-masing harus lebih tanggap dengan keadaan sekitarnya,” katanya.‬

‪Heru mengatakan untuk itu diharapkan agar masyarakat terutama di perbukitan Kecamatan Prambanan agar meningkatkan kewaspadaannya.‬

‪”Karena adanya gangguan cuaca berupa kemarau basah atau La Nina ini potensi turun hujan deras dengan durasi lama memungkinkan terjadi,” katanya.‬

‪Heru mengatakan, dalam waktu dekat, pihaknya juga akan bertemu langsung dengan warga di Kecamatan Prambanan yang mempunyai kerawatan longsor, terutama di daerah Gayamharjo, Sambirejo, serta Bokoharjo.‬

‪”Selain memberikan peringatan bahaya bencana, juga pengecekan EWS yang ada. Apakah selalu berfungsi dengan baik atau tidak,” katanya.‬***




Jelang Lebaran, Keripik Belut Kebanjiran Order

Kripik belut (1024 x 785)Sleman – Momentum lebaran mendatangkan keuntungan tersendiri bagi produsen oleh-oleh dan camilan. Salah satu yang ikut menikmati berkah hari raya ini adalah pelaku usaha keripik belut.

Menjelang Idul Fitri, pesanan di tempat mereka bisa melonjak hingga tiga kali lipat. Wartiyem (47), salah satu produsen keripik belut di Dusun Klaci II, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Sleman menuturkan, pada hari biasa produksi sebulan berkisar 500 kg-1 ton. Namun memasuki lebaran ini, order yang sudah masuk sekitar 2-3 ton.

“Alhamdulillah banyak pesanan. Hanya saja kendala ada di bahan baku,” ungkap Warti, Kamis (23/6).

Selama ini, Warti mengambil bahan baku dari wilayah Jawa Timur. Pada hari pasaran biasa, usahanya mendapat jatah 1 hingga 1,5 ton belut segar tapi menjelang lebaran ini hanya dipasok 8 kuintal. Untuk menambah stok bahan baku, Warti mengambil dari luar daerah seperti Jawa Barat dan Cilacap.

Tapi itu pun tetap belum bisa menutupi kebutuhan. Ditambah lagi harga bahan baku belut yang terus merangkak naik dari semula Rp menjadi Rp Akhirnya, produsen terpaksa menaikkan harga.

Produk keripik belut kualitas 1 kini dijual seharga Rp , kualitas 2 Rp , dan kualitas 3 Rp Sebelumnya, harga hanya di kisaran Rp

“Terpaksa dinaikkan karena harga bahan baku dan minyak goreng juga terus naik. Untung saja konsumen bisa paham,” ujar ibu dua anak yang sudah membuka usaha sejak tahun 2002 ini.

Dia mengaku sudah berusaha menekan harga agar bisa terjangkau di konsumen semua segmen. Salah satu caranya dengan membuat tepung sendiri dicampur dengan tepung pabrik.

Tapi tepung campuran ini hanya digunakan untuk produk nomer dua dan tiga, sedangkan keripik belut kualitas pertama tetap memakai tepung pabrikan.




Usaha Akomodasi Sleman Siap Layani Wisatawan

Sleman – Menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1437 H yang jatuh pada awal Juli tahun 2016 ini usaha akomodasi di Kabupaten Sleman siap untuk melayani wisatawan yang menginap selama libur lebaran 2 hingga 10 juni 2016 mendatang.

Sedikitnya terdapat kamar lebih dari usaha akomodasi yang meliputi 36 hotel bintang dengan kapasitas kamar dan 147 hotel non bintang dengan kamar serta 256 pondok wisata dengan kapasitas kamar siap untuk menampung wisatawan yang berkunjung ke Sleman dan sekitarnya. Demikian diungkapkan  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir  AA Ayu Laksmidewi TP MM di kantornya, Kamis (23/6).

Menurut Ayu, saat libur lebaran tahun-tahun sebelumnya sebagian besar hotel-hotel di Sleman tingkat hunian atau okupansinya mencapai 100%, bahkan sudah dipesan jauh sebelum hari H.

Diharapkan libur lebaran tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, bahkan akan lebih meningkat lagi. Selain hotel sebagai alternatif akomodasi bagi wisatawan yang berkunjung ke Sleman, desa-desa wisata juga layak untuk dipertimbangkan.

Mengingat menginap di desa wisata Sleman pada saat ini sudah mulai menjadi trend bagi sebagian wisatawan. Hal tersebut dikarenakan menginap di desa wisata akan memberikan sensasi tersendiri.

“Memang suasananya sangat berbeda dengan menginap di hotel. Menginap atau live-in di desa wisata layaknya menginap di keluarga sendiri dengan suasana alami pedesaan dan dengan keakraban pemilik rumah,” kata Ayu.

Wisatawan selain menikmati suasana keakraban juga dapat melakukan aktivitas tradisional bersama dengan warga masyarakat setempat. Desa wisata sangat cocok untuk tamu-tamu keluarga.

Beberapa desa wisata di Sleman siap untuk menerima wisatawan khususnya dari kalangan tamu-tamu keluarga dengan kapasitas 186 kamar dengan daya tampung 381 Orang.

Diantara desa wisata yang siap menerima tamu adalah Desa Wisata Tanjung 26 kamar dengan kapasitas 60 orang, Desa Wisata Sidoakur 12 kamar kapasitas 25 orang, Desa Wisata Brayut 10 kamar kapasitas 20 orang, Desa Wisata Grogol 5 kamar kapasitas 10 orang, Desa Wisata Brajan 8 kamar kapasitas 16 orang, Desa Wisata Pulesari 50 kamar kapasitas 100 orang, Desa Wisata Pentingsari 75 kamar kapasitas 150 orang.

Setidaknya pada hari H+2 beberapa desa wisata di Sleman sudah dapat menerima wisatawan menginap ataupun sekedar untuk melakukan pertemuan – pertemuan, sepertinya acara syawalam keluarga atau trah atau pertemuan komunitas.