Pemkab Sleman Awasi Peredaran Daging Olahan

Sleman – Seiring dengan kenaikan harga daging sapi yang kian sulit ditekan, masyarakat dihimbau lebih waspada terhadap produk daging olahan karena besar kemungkinan  dapat mendorong produsen makanan olahan bertindak nakal.

‬Kepala Bidang Peternakan  Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Suwandi Aziz mengatakan, menghadapi kondisi  seperti saat ini, dapat saja produsen makanan bertindak curang, dengan mencampur daging sapi bersama daging lain guna menekan beaya produksi atau bahkan mengawetkan dagangan daging dengan formalin.‬

‪”Silahkan dicek betul-betul dagingnya seperti apa? Pertama kalau daging berformalin itu biasanya dagingnya mengkilap, kemudian lalat tidak ada sama sekali disitu, beda dengan yang tidak ada formalin,” jelas Suwandi Aziz, Minggu (19/6),

Menurut Suwandi Aziz, berdasarkan hasil pantauan Bidang Peternakan DPPK Sleman, daerahnya masih  aman dari produksi oplosan daging olahan maupun kemungkinan peredaran daging berformalin atau glonggongan.‬

‪”Saya menghimbau dan meminta secara terus menerus agar para pedagang bersikap jujur demi keamanan dagangan maupun keamanan dari jerat hukum,” tambahnya.‬

‪Harga daging sapi di Sleman untuk kualitas pertama, saat ini  dijual antara Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram. Meski demikian untuk tingkat penjualan oleh sejumlah pedagang dinilai masih berjalan normal.




1.200 Titik LPJU di Sleman Mati

Sleman – Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Sleman memiliki banyak tanggungan tugas perbaikan lampu penerangan jalan umum (LPJU). Dari pendataan tercatat sekitar titik penerangan jalan umum dalam kondisi mati. 

Mengingat banyaknya jumlah titik yang perlu diperbaiki, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menerapkan skala prioritas yakni pada ruas jalan dengan kepadatan arus lalu lintas tinggi. Diantaranya Jalan Solo, Jalan Magelang, Jalan Wates, dan ruas sepanjang ringroad.

Menurut Kepala Dishubkominfo Sleman, Drs Agoes Soesilo Endiarto, sebagian besar LPJU yang mati itu disebabkan kondisi cuaca.

“Beberapa bulan terakhir sering turun hujan yang mengakibatkan alat penerangan jalan menjadi korosif,” kata Agoes, kemarin.

Pihaknya setiap tahun rutin menganggarkan perbaikan LPJU. Menjelang lebaran, frekuensi kegiatan ditingkatkan untuk mendukung kelancaran arus mudik. Ditargetkan, pengerjaan perbaikan selesai sekitar pertengahan bulan ramadan.

“Proses pengerjaan dikebut bahkan sampai malam hari. Kami menambah jumlah personel untuk menangani ini,” kata Agoes.

Soal anggaran, Agoes tidak menyebut nominal. Namun jika kurang akan diajukan di pembahasan anggaran perubahan. Selain jalan yang arus lalu lintasnya padat, perbaikan dan penambahan sarana LPJU juga difokuskan di titik perempatan.

Agoes menambahkan, saat ini sudah banyak PJU yang menerapkan sistem cerdas. Karenanya, jika ada peralatan yang rusak perlu segera diperbaiki. Sebab jika terlalu lama dibiarkan justru akan menimbulkan pemborosan.

Sementara itu, kriminolog UGM Suprapto mengatakan, area yang gelap berpotensi menjadi sasaran lokasi kejahatan. Potensi kejahatan itu bisa dimulai dari hal sederhana semisal tempat nongkrong untuk menikmati miras, kencan dengan bukan pasangan resmi, sampai pada tindak kriminal seperti penjambretan, perampasan, dan penodongan.

Sementara jika masih ada LPJU yang belum diperbaiki, untuk antisipasi kriminalitas warga disarankan menghindari lokasi yang gelap atau sepi. Jika terpaksa harus melintasi tempat tersebut diminta supaya tidak sendirian.




‪Satpol PP Sleman Sita Minuman Beralkohol

Sleman – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman menyita ratusan botol minuman beralkohol berbagai merk dalam Operasi Ramadan yang digelar Sabtu (18/6) dini hari di sejumlah tempat hiburan.‬

‪”Dalam operasi kami juga menutup paksa tempat hiburan yang beroperasi di luar ketentuan,” kata Kepala Seksi Operasi dan Ketertiban Satpol PP Kabupaten Sleman, Sri Madu di Sleman, kemarin.‬

‪Menurut Sri Madu, operasi yang digelar tersebut sebagai bentuk penegakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Pelarangan Peredaran, Penjulan dan Penggunaan Minuman Beralkohol.‬

‪”Dalam Perda diatur tentang lokasi dan izin penjualan minuman beralkohol. Termasuk penegakan aturan jam beroperasi hiburan malam selama Ramadan dimana batas maksimal hanya sampai jam WIB,” katanya.‬

‪Ia mengatakan razia dilakukan di antaranya di sekitar Jalan Lingkar Utara, Depok.‬

‪”Di tempat ini kami mengamankan 246 botol minuman beralkohol, yang terdiri dari golongan B dan C,” katanya.‬

‪Sri Madu mengatakan tempat karaoke tersebut melanggar dua aturan, yakni tetap menjual minuman beralkohol di bulan puasa.‬

‪”Selain itu, minuman beralkohol yang dijual tidak sesuai izin,” katanya.‬

‪Pihaknya juga melakukan operasi ke sejumlah karaoke di Kawasan Babarsari, Depok, namun petugas tidak mendapatkan satu pun tempat karaoke yang beroperasi.‬

‪”Dari tiga tempat karaoke di Babarsari ada dua yang menjadi target kami karena biasanya bandel buka melebihi ketentuan,” katanya.‬

‪Sementara operasi di kawasan Seturan didapati kafe yang beroperasi lebih dari pukul WIB.‬

‪”Kami minta kepada pemilik kafe untuk menutupnya saat itu juga, untuk memastikan, kami tunggui sampai benar-benar ditutup,” katanya.‬

‪Sri Madu mengatakan selain penegakan Perda juga dilakukan penegakan terhadap Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 15 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Usaha Hiburan umum, Rumah Makan, Restoran dan Hotel pada Bulan Puasa dan Idul Fitri.‬

‪”Kali ini kami belum memberikan sanksi, masih sebatas penyitaan dan teguran,” katanya.




Disperindagkop Gelar Pasar Lebaran

Sleman – Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1437 H, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Sleman bekerjasama dengan BPD DIY Cabang Sleman, Bank Sleman, Bank BRI dan Wardah cosmetik akan menyelenggarakan Pasar Lebaran selama 6  hari, mulai hari Senin 20 Juni  hingga  Sabtu 25 Juni 2016 pukul hingga WIB, bertempat di Halaman Kantor Disperindagkop Jalan Parasamya No.8 Beran, Sleman.

Demikian disampaikan Kepala Disperindagkop Sleman, Drs Pustopo di Sleman, Jumat (17/6). Menurut Pustopo tujuan dilaksanakannya Pasar Lebaran selain untuk mempromosikan dan mempertemukan 72 UMKM binaan  Disperindagkop dengan masyarakat setempat juga  dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri dengan harga yang terjangkau.

Disamping itu sekaligus sebagai ajang kegiatan sosial berupa penjualan paket sembako murah kepada 300 orang masyarakat yang kurang mampu, dengan pembelian  Rp akan mendapatkan paket sembako senilai Rp. yang terdiri dari :  beras 1 kg, gula pasir 1 kg, minyak goreng 1 pouch, dan produk UMKM Sleman.

Sasaran penjualan paket sembako murah ditujukan kepada masyarakat yang kurang mampu di Wilayah Desa Tridadi, Desa Triharjo, dan Desa Pendowoharjo. Untuk pembelian paket dimaksud harus menunjukkan voucher yang telah dibagikan oleh panitia sebelum pelaksanaan berlangsung.

Pustopo mengatakan dengan tema ” Bangga Berlebaran dengan Produk Sleman” diharapkan akan mampu menggugah masyarakat  untuk sadar menggunakan produk unggulan daerah sendiri, baik dalam pemenuhan kebutuhan pokok maupun kebutuhan penunjang lebaran lainnya seperti fashion dan accesoris.

Bagi masyarakat umum tersedia paket sembako murah antara lain Beras C 64 kemasan 2 kg harga pasaran Rp cukup dibeli dengan Rp , gula pasir kemasan 1 kg harga pasaran Rp dijual dengan Rp dan Minyak Goreng Sania kemasan 1 liter harga pasaran Rp dijual Rp . Daging sapi 1 kg harga Rp dijual Rp . Khusus daging sapi setiap orang dibatasi untuk pembeliannya makimal 1 kg.

Guna menyemarakkan Pasar Lebaran, panitia menyediakan Beras sebanyak 3400 kg, gula pasir 4000 kg dan minyak goreng 4000 liter selama 6 hari pameran. Produk – produk tersebut dapat di beli oleh masyarakat umum mulai jam WIB dengan kuota perhari untuk beras 280 paket, gula pasir 660 paket, minyak goreng 660 paket dan daging sapi 300 kg.

Disamping itu guna memberikan apresiasi dan penghargaan kepada tenaga kerja lepas harian, tersedia paket belanja murah khusus untuk tenaga PHL/ PTT/ Tenaga Alih Daya/ Banpol (Pemda Sleman) sebanyak 700 paket dengan harga Rp. dibayar Rp. . sebelumnya Dinas Perindagkop telah mendata jumlah PHL dan PTT di setiap dinas instansi untuk ditindaklanjuti dengan pembagian voucher paket belanja murah khusus.

Guna menarik pengunjung juga tersedia aneka minuman, makanan siap saji, pakaian, batik, kerajinan, asesoris dan akan ditampilkan aneka produk unggulan UMKM Sleman dengan harga murah.

Serta akan dimeriahkan dengan Penampilan Nasyid, Penampilan juara 1 Penyanyi tingkat SD, Penampilan juara 1 Penyanyi PNS Pasar Lebaran Tahun 2015, Penampilan Band Guthos (Koes Plusan), Penampilan Band Polres Sleman, Penampilan Band Bank Sleman, Lomba Fashion Show dan Lomba Menyanyi bagi PNS Pemerintah Kabupaten Sleman, serta Organ Tunggal Rumah Music Purwanggan.

“Pasar lebaran ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam upaya membantu pemasaran produk UMKM serta memudahkan masyarakat guna mendapatkan kebutuhan pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri,” kata Pustopo.




Sembilan Sekolah di Sleman Belum Lakukan RTO

Sleman – Sebanyak sembilan SMP Negeri di Kabupaten Sleman, belum melakukan sistem “Real Time Online” atau RTO dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2016/2017 karena terkendala akses internet.‬

‪Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Sleman, Arif Haryono SH mengatakan SMP Negeri yang belum menjalankan sistem RTO dalam PPDB disebabkan kesulitan jaringan akses internet.‬

‪”Beberapa kali dilakukan ujicoba di kawasan sembilan tersebut, ternyata jaringan internet tidak bagus. Kami khawatir bila diterapkan akan bermasalah saat `trafic` puncak,” kata Arif, Jumat (17/6).‬

‪Menurut Arif, sejumlah SMP Negeri yang tidak ikut serta RTO memang terdapat di kawasan perbatasan seperti Kecamatan Prambanan, Cangkringan dan Tempel.‬

‪”Ke sembilan SMP tersebut yakni SMPN 1, 2, 3 dan 4 Prambanan, SMPN 1 dan 2 Cangkringan serta SMPN 1, 2 dan 4 Tempel,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, RTO diselenggarakan di sekolah-sekolah negeri. Jumlah SMP negeri di Sleman sebanyak 54 SMP. Sementara total SMP sebanyak 111 sekolah dengan daya tampung siswa.

“Sedangkan untuk total daya tampung penerimaan peserta didik baru (PPDB) Sleman keseluruhan mencapai siswa dari rombongan belajar (rombel). Jumlah tersebar ada dijenjang SD dengan 627 rombel dengan daya tampung siswa. Untuk SMA ada 46 rombel dengan daya tampung siswa dan SMK ada 285 rombel atau siswa,” tutur Arif.‬

‪Arif mengatakan, total sekolah di Sleman sendiri ada 717 untuk SD, SMP, SMA/SMK baik negeri maupun swasta.‬

‪”Waktu pelaksanaan PPDB, jelasnya, untuk SD berlangsung 20-24 Juni . Jenjang SMP 27-29 Juni, SMA 22-24 Juni dan SMK tanggal 22-25 Juni 2016,” katanya.‬

‪Arif menambahkan untuk tingkat SD, seleksi dilakukan berdasarkan usia. Dimana bila ada usia yang sama maka yang diambil adalah calon siswa yang terdekat jarak rumah dengan sekolah.‬

‪”Selain itu, penerimaan siswa SD tidak diperkenankan melakukan tes baca, tulis dan hitung (Calistung). Bila ada penerimaan SD manapun dengan calistung silahkan laporkan nanti akan diberikan teguran,” katanya.