Selama Puasa Jam Kerja PNS Berkurang 1 Jam‬

Bupati Sampaikan Surat EdaranSleman – Selama bulan puasa Ramadan, jam kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Sleman dikurangi satu jam setiap harinya. Ini berdasarkan Surat Edaran (SE) Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi  tentang penetapan jam kerja selama Ramadan bagi PNS.‬

‪Dalam SE tersebut, jam masuk PNS tetap sama, pukul WIB. Sehari-hari, jam kerja PNS pulang pukul WIB, Senin-Kamis. Sedangkan Jumat, pulang pukul WIB. Namun selama puasa nanti, pulang pukul WIB. Khusus Hari Jumat ada waktu istirahat selama satu jam, antara  WIB dan pulang pukul WIB.‬

‪”Dalam pelaksanaannya, pengurangan jam kerja hanya berlaku untuk kepulangan. Sedangkan jam masuk PNS tetap seperti hari-hari biasa. Jam pulangnya saja yang dipercepat satu jam,” kata Kepala Badan Kepegawaian Daeran (BKD) Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno, Senin (6/6).‬

‪Sementara untuk instansi yang memberlakukan enam hari kerja. Jam pulang PNS mulai pukul WIB pada Senin hingga Kamis. Untuk hari Jumat menjadi pukul WIB dan Sabtu pukul WIB.

“Bisa disesuaikan dengan jam kerja instansi masing-masing,” kata Iswoyo.‬

‪Kebijakan ini tidak dimaksudkan mengurangi produktivitas PNS. Karena puasa tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kelancaran dan efektivitas kerja. Apalagi yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat.




Sleman Terbaik dalam Festival Reog dan Jathilan

Penampilan Reog Kudho WiromoSleman – Kontingen Kabupaten Sleman berhasil meraih sebagai Juara 1 Festival Reog dan sekaligus Juara 1 Festival Jatilan dalam Festival Reog dan Jatilan se DIY yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata DIY di Kawasan Tebing Breksi Prambanan Sleman, Minggu (5/6).

Demikian disampaikan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA dikantornya, Senin 6 Juni 2016 dikantornya, Senin (6/6).

Menurut Endah  keberhasilan kontingen Kabupaten Sleman dalam festival reog dan jatilan tersebut cukup menggembirakan.

“Meskipun demikian kejuaraan bukan tujuan utama dalam pembinaan kesenian di Kabupaten Sleman, yang lebih penting lagi adalah upaya pengembangan dan pelestarian kesenian itu sendiri dapat dilakukan dengan baik,” kata Endah.

Dengan menyandang prestasi sebagai penyaji terbaik atau kejuaraan lanjut Endah justru menjadi tantangan tersendiri untuk senantiasa mengedepankan prestasi dan penampilan.

Kontingen Reog “Kudho Wiromo” asal Sleman meraih Juara 1 dengan nilai 418 mengungguli kontingen lainnya yaitu Reog “Manggolo Mudho” dari Bantul dengan nilai 415, Reog “Rontek Bambu Nada” dari Kota Yogyakarta dengan nilai 386, Reog “Gandhewo” dari Kulonprogo dengan nilai 373, dan Reog “Mawar 7 Timbul Kencana” dengan nilai 351 serta Reog “Sembrani” asal Sleman dengan nilai 313.

Sedangkan untuk kategori Jatilan Juara 1 Jatilan “Melati” dari Sleman dengan nilai 432, disusul kontingen jatilan lainnya yaitu “Ngesti Budoyo” asal Kulonprogo dengan nilai 417, “Turonggo Mudho Perwiro” dari dari Bantul dengan nilai 396, “Puspanjala” dari Gunungkidul dengan nilai 386, “Turonggo Mudho Budhoyo’ dari Sleman dengan nilai 383, dan “Turonggo Bekso Codhe Laras” dari Kota Yogyakarta dengan nilai 366.

‪Dewan Juri dalam Festival Reog dan Jatilan tersebut terdiri atas Dr Kuswarsantyo MHum sebagai ketua, Dr Nur Iswantoro MHum, Warsito AMd, Dra Daruni MHum, RM Donny S Megananda SS MBA.




 Masyarakat Didorong Budidaya Tanaman Bambu

Sleman – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Kabupaten Sleman mendorong masyarakat untuk menggeluti budidaya tanaman bambu. Guna memberikan gambaran keuntungan budidaya tanaman tersebut, dinas berupaya menggelar pertemuan antara petani dan kelompok perajin bambu secara intens.

Dengan mengetahui nilai positifnya, diharapkan masyarakat tertarik untuk mengembangkan budidaya bambu terutama dengan memanfaatkan lahan marjinal atau bantaran sungai.

“Kami terus mendorong warga agar menanam bambu. Selama ini kebanyakan lahan ditanami pohon sengon atau jati padahal bambu juga potensial,” kata Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan DP2K Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, Minggu (5/6).

Saat ini, kebutuhan bahan baku bambu untuk industri kreatif baru terpenuhi 20 persen dari Sleman sedangkan sisanya didatangkan dari luar daerah. Ini sebenarnya merupakan peluang pasar bagi pembudidaya bambu lokal.

Terlebih industri bambu berkembang cukup pesat. Beragam produk dikreasikan dari bahan baku bambu semisal sabun arang, mebel, dan bambu yang diawetkan untuk kebutuhan ekspor.

Dari pendataan dinas, saat ini ada sekitar 715 hektare lahan bambu di wilayah Sleman. Luasan itu diharapkan bertambah seiring kesadaran masyarakat untuk menanam bambu.

“Kami juga tengah upayakan modifikasi teknologi untuk menghasilkan bibit yang berkualitas. Sebab industri kadang meminta bahan baku dengan kualifikasi tertentu seperti ruas bambu harus panjang,” papar Rofiq.

Salah satu pemilik dari Sahabat Bambu, Indra Setiadarma mengatakan selama ini baru sekitar 10 persen bambu yang dipasok dari Sleman. Sisanya didatangkan dari Malang dan Magelang. Bambu yang dibutuhkan antara lain jenis apus, wulung, dan petung.

Sebagian besar diawetkan untuk diekspor ke Prancis, Malaysia, Taiwan, dan Filipina. Bambu yang dikirim ke luar negeri harus memenuhi spesifikasi tertentu. Diantaranya bambu harus tua, berbentuk lurus, dan diameternya memadai.




Tempat Hiburan Wajib Tutup Pada Pekan Pertama Ramadan

Sleman – Guna menghormati umat Islam yang menjalankan ibadah puasa Ramadan, tempat atau usaha hiburan di Kabupaten Sleman diwajibkan tutup pada pekan pertama Ramadan 1437 Hijriah.‬

‪”Kewajiban ini mengacu pada Peraturan Bupati (Perbup) Sleman Nomor 26 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan usaha hiburan umum, rumah makan, restoran dan hotel pada Bulan Puasa dan Idul Fitri,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman, Drs Joko Supriyanto , Minggu (5/6).‬

‪Menurut Joko, berdasarkan Perbup tersebut, usaha hiburan umum yang meliputi kafe, karaoke, game net, game station, game centre, salon, spa, panti pijat/refleksi dan usaha lain sejenis wajib tutup.‬

‪”Selain itu untuk jam operasional juga harus menyesuaikan. Untuk usaha hiburan kafe, karaoke dan usaha lain sejenis dimulai pukul WIB hingga WIB,” kata Joko.‬

‪Kemudian usaha game net, game station, game centre dan usaha lain sejenis dimulai pukul WIB hingga pukul WIB untuk siang hari dan pukul WIB hingga WIB untuk malam hari.‬

‪”Sedangkan salon, Spa, panti pijat refleksi dan usaha lain sejenis dimulai pukul WIB hingga pukul WIB,” katanya.‬

‪Joko menambahkan, aturan itu dimaksudkan untuk menjaga suasana kondusif selama puasa.‬

‪”Bagi pegawainya juga diimbau untuk menyesuaikan. Dengan berpakaian yang pantas dan sopan,” katanya.‬

‪Joko mengatakan, pengusaha dan pegawai tempat hiburan diminta untuk bersama-sama menjaga ketertiban, keamanan dan ketentraman dalam penyelenggaraan usahanya.‬

‪”Bagi yang melanggar, penindakan yang dilakukan dengan mencabut izin gangguan (HO),” katanya.




Sleman Canangkan Perang Terhadap Penyalahgunaan Narkoba‬

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyatakan perang terhadap penyalahgunaan narkoba karena tingginya kasus tersebut di Sleman.‬

‪”Sleman menduduki peringkat pertama kasus penyalahgunaan narkoba di DIY dengan jumlah penyalah guna narkoba diperkirakan sebanyak yang 20 persen di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa,” kata Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes disela-sela  peringatan hari anti Narkoba di lapangan Pemda Sleman, Sabtu (4/6).‬

‪Dikatakan Sri Muslimatun berdasarkan kasus yang terungkap, kerawanan dalam penyalahgunaan narkoba di Sleman terbagi manjadi wilayah rawan I yang terdiri dari Kecamatan Depok, Mlati, Pakem, Gamping, Moyudan, Ngemplak dan Kalasan dengan jumlah kasus yang ditemukan lebih besar sama dengan tiga kasus.‬

‪”Sementara wilayah rawan II terdiri dari Kecamatan Prambanan, Berbah, Seyegan, Ngaglik, Cangkringan dan Turi dengan jumlah kasus lebih sedikit dari tiga kasus,” tutur Sri Muslimatun.‬

‪Menurutnya kondisi penyalahgunaan narkoba berdasar data tersebut terlihat sangat memprihatinkan, apalagi banyak yang menyerang generasi muda.‬

‪”Penyalahgunaan narkoba merupakan masalah besar dan serius. Peredaran narkoba saat ini sudah bersifat lintas negara, lintas daerah dan terorganisir, sehingga menjadi ancaman nyata yang harus ditangani dengan serius dan mendesak,” katanya.‬

‪Sri Muslimatun menambahkan semua pihak diharapkan untuk bersama-sama menyatakan perang terhadap narkoba terlebih generasi muda.‬

‪”Guna memerangi penyalahgunaan narkoba memerlukan kerja sama semua pihak. Tidak hanya Badan Narkotika Nasional (BNN), namun semua pihak harus turun tangan membantu melawan penyalahgunaan dan peredaran narkoba,” katanya.‬

‪Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan pelantikan Satgas antinarkoba desa.‬

‪”Satgas narkoba desa ini sebagai bagian langkah nyata mengobarkan perang terhadap narkoba di tingkat desa,” kata Sri Muslimatun.‬

‪Disisi lain Sri Muslimatun berharap hal tersebut tidak berhenti sampai di pelantikan saja, namun harus segera bergerak untuk terus menghimpun kekuatan untuk melawan peredaran narkoba yang semakin mengancam.‬

‪Sementara Kepala Bagian Kesra Kabupaten Sleman, Drs Hery Sutapa mengatakan tujuan khusus peringatan Hari Anti Narkoba tersebut untuk memberi motivasi masyarakat agar berdaya dalam melaksanakan kegiatan P4GN di wilayahnya.‬

‪”Kegiatan ini juga untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam melaksaanakaan kegiatan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaaran gelapp narkoba (P4GN) serta mewujudkan sinergitas dan berkolaborasi yang maksimal antara masyarakat daan lembaga paemerintah yang terkait,” katanya.