Perwakilan FAO Kunjungi Pengembangan Mina Padi di Sleman

FAO (1024 x 668)Sleman – Perwakilan FAO mengunjungi sawah percontohan Mina Padi Kelompok Tani Mina Murakabi di Dusun Cibluk Desa Margoluwih, Sleman,  Jumat (20/1).

Hadir dalam kunjungan, termasuk Deputi Menteri Koordinator Kemaritiman Bidang Sumber Daya Manusia, Ilmu dan Teknologi, dan Budaya Maritim Safri Burhanuddin, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Musdhalifah Machmud, perwakilan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan dan Kementrian Pertanian serta perwakilan dari FAO (Food and Agriculture Organization) Mark Smulders beserta Ageng S Herianto selaku Programme FAO Indonesia.

Sejak 2015, FAO sendiri telah bekerja sama dengan Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk mulai menghidupkan kembali kearifan tradisional melalui pertanian yaitu Inovasi Mina Padi seluas 25 hektar pada tiap lokasinya di berbagai wilayah di Indonesia dan Sleman menjadi salah satunya.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI  menyampaikan bahwa Sleman sebagai lumbung padi DIY berkewajiban untuk terus mendorong intensifikasi pertanian yang dihadapkan dengan keterbatasan lahan. Namun terlihat dengan metodi Mina Padi, sekalipun lahan terbatas untuk produktifitas dapat meningkat.

Mina Padi dapat menjawab tantangan keterbatasan lahan dengan produksi padi di Sleman. Melalui metode tersebut juga keuntungan yg diraih berlipat ganda tak hanya padi namun juga ikan serta keberlangsungan lahan yang produktif.

Mark Smulders perwakilan dari FAO mengatakan bahwa Mina Padi yang dikenalkan di Indonesia berhasil dengan baik. Khususnya di Sleman yang petaninya sangat antusias dalam penerapan Mina Padi sehingga produksi beras, pertumbuhan ekonomi dan kecukupan gizi dapat terus meningkat.

Film Dokumenter tentang Mina Padi yang ada di Sleman telah disebarkan sebagai percontohan di wilayah Asia Pasifik dan tak kurang sudah 15 perwakilan dari Negara lain dan banyak petani dari berbagai penjuru sudah datang mengunjungi Sleman untuk dapat melihat langsung sawah percontohan Mina Padi tersebut.

Smulder juga mengatakan bahwa Mina Padi harus diperluas untuk memastikan banyak keluarga petani meraih hidup yang lebih baik yang menguntungkan pedesaan serta Negara. Mark menginginkan generasi muda kembali tertarik dalam bidang pertanian ini seperti yang dilakukan pada kelompok tani Murakabi.

Sehingga generasi muda tidak hanya mengandalkan pekerjaan di kota melainkan memajukan desanya dengan terjun dalam bidang pertanian khususnya mina padi yang sangat menjanjikan untuk bisa meningkatkan perekonomian, terlebih bila dikemas menjadi wisata mina padi.

Musdhalifah Machmud mengatakan melalui Mina Padi kita telah berhasil mendapat 3 WIN(keuntungan). Adapun beberapa keuntungan yang didapat oleh petani yaitu naiknya produksi beras, naiknya pendapatan dan membaiknya nutrisi masyarakat. Melalui sawah percontohan Mina Padi tersebut terbukti mampu menaikkan hasil panen padi rata-rata Rp 6,5 juta ton/ha menjadi 9,3 ton/ha.

Hal tersebut tentunya secara langsung menambah pendapatan petani serta juga panen ikan yang dihasilkan pada tiap hektar dalam satu musim mampu mencapai Rp 42 juta.

Sehingga membantu dalam meningkatkan nutrisi di kalangan masyrakat DIY sesuai data Badan Pusat Statistik 2014 menyebutkan wilayah DIY hanya mengkonsumsi ikan 19,79 kg/kapita/tahun, dimana merupakan provinsi yang terendah dibandingan dengan Provinsi lainnya yang rata-rata mengkonsumsi ikan sebesar 37 kg/kapita. Sehingga melalui Mina Padi tersebut dapat meningkat konsumsi ikan dan tercukupinya nutrisi masyarakat.

Disisi lain penerapan inovasi tersebut menggunakan pendekatan ekosistem tanpa menggunakan pestisida serta pupuk kimia sehingga sangat ramah lingkungan dan menjaga keberlangsungan lahan pertanian.




Wagub DIY Membuka JORC V di Lereng Merapi‬

IMG-20170120-WA0007 (1024 x 682)Sleman – Wakil Gubernur (Wagub) DIY, KGPAA Paku Alam X membuka rangkaian kegiatan Jogja Off Road Challenge (JORC) V di lapangan Jabalkat Dusun Tanjung Desa Wukirsari  Cangkringan Sleman, Jumat (20/1).

Hadir pada kesempatan tersebut Wakil Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes, Deputi Bidang Olahraga Menpora RI, Kadisops Lanud Adisutjipto, KH Masrur Ahmad, MZ sebagai pengasuh Ponpes Al Qadir Sleman.

‪Rangkaian  Jogja Off Road Challenge V tersebut dibuka dengan jathilan Krido Budoyo Turonggo Mudho sebagai representasi budaya lokal yang terus dikembangkan.

Sementara Adib Daudi selaku Ketua Panitia JORC V menyampaikan bahwa kegiatan tahunan ini dilaksanakan dengan tujuan utama mendorong kegiatan pariwisata di sekitar kawasan Merapi.

Apresiasi kegiatan ini datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Hal tersebut terbukti dari keikutsertaan 40 tim dari DIY, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin, Makassar, bahkan Jayapura.

“Total sebanyak 135 kendaraan 4×4 yang mengikuti event ini dan telah dicek kesiapannya untuk mengeksplorasi potensi kawasan Merapi,” kata Adib.‬

Ketua IOF Pengda DIY, Inung Nur Fajri menyampaikan rasa  terima kasih kepada Wakil Gubernur DIY yang telah memberi support dan mau membina IOF hingga kegiatan terlaksana dengan baik.

“Kami juga ucapkan terima kasih kepada KH  Masrur Ahmad MZ sebagai pengasuh Ponpes Al Qadir yang peduli dengan kegiatan ini. Event tahun ini bisa dibilang kita ber-off road sambil ibadah,” kata Inung.

Inung juga menekankan agar peserta menunjukkan kebersamaan, menjaga kebersihan dan kepedulian alam, serta mengembangkan potensi yang ada di Merapi.‬ ‪Sedang Paku Alam X berpesan agar event yang menggabungkan wisata, olahraga, dan budaya ini mampu dimanfaatkan dengan baik bagi seluruh peserta maupun masyarakat sekitar.

Wagub juga berharap kegiatan ini semakin memacu dan menggairahkan cabang olahraga off road di DIY. ‬‪Wagub membuka event ekspedisi tahunan ini dengan mengibaskan bendera start. Rangkaian kendaraan 4 x 4 pun segera bergerak dengan deru mesin khasnya.




Ribuan KK di Sleman Terkendala Sanitasi dan Sampah‬

Sleman – Ribuan keluarga di Kabupaten Sleman masih mengalami kendala untuk mengakses fasiltas sanitasi yang layak. Antara lain meliputi  KK pengguna jamban tidak aman, serta KK masih buang air besar (BAB) sembarangan. ‬

‪”Meski begitu, saat ini cakupan sanitasi layak telah mencapai 94,34 persen. Pada 2019 kami menargetkan cakupan sanitasi layak dapat ditingkatkan menjadi 96,19 persen,” tutur  Sri Purnomo, Bupati Sleman, Jumat  (20/1).‬

‪Sri Purnomo mengungkapkan, selain sanitasi, masalah lingkungan yang perlu segera dipecahkan adalah pengelolaan sampah perkotaan. Di mana pada 2016 pelayanan pengelolaan sampah Pemda setempat baru mencakup 52,96 persen masyarakat. ‬

‪Di sisi lain, setiap harinya, timbunan sampah di Sleman mencapai meter kubik. Sedangkan kemampuan TPA untuk menampung sampah hanya 750 meter kubik per hari. Oleh karena itu Sri Purnomo menyampaikan, dibutuhkan kerjasama dari semua pihak untuk mengelola sampah perkotaan. ‬Sebab ke depannya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menargetkan agar pelayanan pengelolaan sampah perkotaan dapat menjangkau seluruh masyarakat.

”Nanti pada tahun 2019 pelayanan pengelolaan sampah ditargetkan bisa melayani 100 persen masyarakat di Sleman,” tutur Sri Purnomo.‬

‪Guna memecahkan masalah tersebut, saat ini Pemkab Sleman tengah menjalin kerja sama pengelolaan sanitasi terpadu dengan Bremen Overseas de Research and Development Association (BORDA).

‪Sementara Kepala Bagian Humas Setda Sleman, Dra Sri Winarti mengemukakan, kerjasama yang dijalankan berupa pemenuhan kebutuhan air bersih untuk memenuhi akses sanitasi yang layak.‬

‪”Sasaran utama kami adalah kawasan kumuh. Pemenuhan akses sanitasi layak di Kabupaten Sleman sendiri dilakukan untuk mewujudkan sanitasi berbasis masyarakat yang berkualitas dan terjangkau,” tutur Sri Winarti.