Batu Yang Berpotensi Longsor Dievakuasi

IMG-20170122-WA0014Sleman – Dalam rangka mengantisipasi terjadi bencana longsor diwilayah perbukitan Prambanan, TRC Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman bersama Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Prambanan Bandung Bondowoso, warga Gedang Bawah Desa Sambirejo Kecamatan Prambanan Sleman, Minggu (22/1) mengadakan kegiatan gotong royong menurunkan batu yang berpotensi longsor atau glundung.

“Setelah dilakukan pemecahan batu, batu  yang dievakuasi jatuh di jalan dekat longsoran batu yang terjadi Rabu (18/1) lalu,” kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman usai melakukan pemantauan kegiatan tersebut.

Menurut Makwan batu yang dievakuasi  sudah diturunkan dan jatuh di jalan adalah batu yang posisi sebelumnya bersampingan dengan batu besar yang sudah longsor Rabu lalu. Karena itu untuk mengantisipasi batu yang masih ada  dilakukan penurunan. Pasalnya jika dibiarkan dikhawatirkan bisa longsor dan menutup jalan bila terkena hujan deras.

Seperti diberitakan sebuah  batu besar yang memiliki panjang lima meter dengan lebar lima meter, dan tinggi 2,5 meter longsor  di Gedang bawah RT 3 RW 09 Sambirejo. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Ada kemungkinan tanah di sekitar batu tergerus air karena hujan deras dan kemudian melongsorkan batu raksasa itu. Longsoran batu tersebut mengakibatkan akses jalan yang menghubungkan jalan Desa Gayamharjo dengan Desa Sambirejo sempat tertutup.‬

Warga bersama relawan FPRB Prambanan Bandung Bondowoso dan personel TNI masih terus mengevakuasi batu dan melakukan pengkondisian tanah di sekitar batu yang longsor.‬




‪Sleman Angkat Enam Prioritas Pembangunan‬

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman pada tahun 2018 mendatang,  akan mengangkat enam prioritas pembangunan dengan 15 sasaran daerah.‬

‪Enam prioritas ini mencakup peningkatan kualitas pelayanan publik yang bersih dan efektif, pemerataan pembangunan sampai ke tingkat desa, dan mewujudkan kemandirian dengan menggerakan sektor strategis ekonomi lokal agar dapat bersaing di pasar internasional.‬

‪Selain itu pembangunan diproritaskan untuk meningkatkan ketentraman, ketertiban, dan kenyamanan, serta meningkatkan kerukunan masyarakat dengan mengangkat kebudayaan lokal dan kesetaraan gender.‬

‪Sekretaris Daerah Sleman, Sumadi SH MH menerangkan, mengacu sistem perencanaan pembangunan nasional, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2018 diharuskan merujuk pada dokumen perencanaan mulai dari tingkat nasional sampai kabupaten. Utamanya dilihat dari keterkaitan prioritas pembangunan, kebijakan, dan arah pembangunan yang akan dilaksanakan tahun depan.‬

‪“Kami juga akan mengangkat 30 indikator sasaran dengan tujuan utama peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Sumadi, Minggu (22/1).‬

‪Berpedoman pada arah pembangunan berdasar Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Daerah Kabupaten Sleman periode tahun 2016-2021, tema pembangunan pada tahun 2018 adalah meningkatkan pendampingan dan pemberdayaan sektor unggulan daerah menuju kemandirian dan kesejahteraan masyarakat berbudaya.‬

“Draf ini nantinya yang akan dijadikan pedoman musrenbang untuk menyusun dokumen perencanaan dan penganggaran tahun 2018. Karena itu kami mengundang kalangan masyarakat untuk berpartisipasi menyumbangkan ide dan gagasan,” katanya.‬

‪Selain program pembangunan, draf tersebut juga memuat gambaran umum mengenai kondisi daerah, rancangan kerangka ekonomi dan kebijakan keuangan, serta prioritas dan sasaran pembangunan daerah.




Waspada Antraks di Sleman Dilakukan Dengan Vaksinasi‬

Sleman – Untuk mencegah penyebaran virus antraks, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melakukan antisipasi. Antisipasi tersebut dilakukan menyusul munculnya kasus penyakit antraks yang menyerang warga Kulonprogo. Dan bentuk antisipasi dari Pemkab Sleman tersebut antara lain melakukan vaksinasi dan membatasi penjualan daging sapi asal Kulonprogo ke Sleman.‬

‪Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian Pangan dan Kehutanan (DPPK) Sleman menyikapi masalah penyakit antraks. Salah satunya, dengan mengawasi distribusi daging sapi yang beredar di Sleman.‬

‪“Kami akan mencegah (penyebaran) antraks masuk ke Sleman. Instansi terkait sudah melakukan beberapa upaya pengawasan,” kata Sri Purnomo, Minggu (22/1).

‪Menurut Sri Purnomo, wilayah Sleman belum pernah ditemukan kasus antraks. Meski begitu, upaya pencegahan penyakit  tersebut, terus dilakukan. Pasalnya, infeksi virus antraks dinilai membahayakan manusia.‬

‪“Setiap tahun kami lakukan vaksinasi kepada sapi-sapi yang ada di Sleman. Termasuk saat ini, meski tidak semuanya. Jumlah sapi di Sleman sekitar ekor, jadi yang divaksinasi hanya yang diduga berpotensi terjangkit antraks,” kata Ir Widi Sutikno MSi, Kepala DPPK Sleman.‬

‪Selain vaksinasi dikatakan Widi, DPPK juga berupaya mencegah peredaran daging sapi asal Kulonprogo. Pihaknya juga menambah jumlah petugas kesehatan hewan di lapangan untuk meningkatkan pengawasan, baik di pasar tradisional maupun pasar hewan.‬

‪“Pencegahan peredaran daging sapi dari Kulonprogo ini dilakukan  arinya bukan anti Kulonprogo. Tapi ini dilakukan demi kebaikan bersama. Kami sudah bekerjasama dengan Balai Besar Veteriner Wates untuk memantau antraks,” kata Widi.‬

‪Menurut Widi, yang paling penting dari persoalan antraks adalah bagaimana masyarakat juga berupaya melakukan tindakan pencegahan. DPPK juga akan melakukan sosialisasi pada masyarakat.‬

‪Dikatakan Widi, awal mula kasus antraks di Kulonprogo terjadi akibat kondisi lingkungan yang menyebabkan munculnya virus antraks. Pasalnya, ternak yang terjangkit antraks disembelih kemudian dikonsumsi bersama.‬

‪“Sapi yang sakit seharusnya ditangani secara medis. Bukan justru dikonsumsi tanpa diketahui lebih dulu penyakitnya.  Kami himbau agar masyarakat atau peternak yang sapinya sakit, tolong melapor agar bisa ditangani secepatnya,” tutur Widi.‬

‪Di wilayah Sleman, tambah Widi, fasilitas kesehatan hewan untuk memantau kesehatan ternak sudah cukup memadai. Setidaknya terdapat 14 Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang tersebar di Sleman yang dinilainya mampu memberikan vaksin antraks pada sapi.‬




Keberadaan Paguyuban SMS Jadi Duta Sleman

Bupati Sleman Lantik Pengurus PaguyubanSleman – Peringatan ulang tahun ke-15 Paguyuban Sleman Manunggal Sembada(SMS) yaitu paguyuban warga Sleman yang merantau di Jabodetabek, Minggu (22/1) terasa istimewa dengan kehadiran Bupati, Wakil Bupati dan Ketua DPRD Sleman serta Pejabat Sleman lainnya.

“Ulang tahun dilaksanakan di Anjungan DIY TMII Jakarta diawali dengan pagi hari jalan sehat mengelilingi kawasan TMII sejauh 4 Km dilanjutkan dengan senam sehat bersama. Usai senam pagi juga dilakukan pembagian santunan bagi anak-anak yatim sejumlah 44 anak,” kata Dra Sri Winarti, Kabag Humas Sleman, Selasa (24/1).

Menurut Sri Winarti pada kesempatan tersebut juga diadakan pelantikan pengurus masa bhakti 2017 – 2022 dengan ketua H Syambudi Siswoyo dengan Dewan Penasehat DR Tukiman (mantan Ketua paguyuban).

Puncaknya dengan pertunjukan wayang kulit dalang Ki Hadi Darwanto dari Sleman mengambil lakon Gatotkoco Winisudo. Tokoh wayang Gatotkoco secara simbolis diserahkan oleh Ketua DPRD Sleman kepada dalang untuk dipentaskan.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI pada kesempatan tersebut  berharap melalui paguyuban dapat terjalin silaturahmi antar anggota dan saling dapat berbagi ilmu dan pengalaman masing-masing serta dapat saling membantu kesulitan sehingga dapat diatasi bersama.

Dalam usianya yang ke-15 ini Paguyuban SMS harus senantiasa berusaha menjadi organisasi yang dibangun dengan pondasi yang kokoh, dipoles dengan racikan potensi yang tidak saja indah tapi sekaligus merupakan ikatan yang sangat kuat bagi seluruh anggotanya.

Paguyuban SMS hendaknya juga mampu menjadi sarana dan media untuk mengembangkan potensi yang dimiliki warga Sleman, khususnya yang berada di Jakarta.

Apabila seluruh potensi yang dimiliki anggota Paguyaban SMS dapat dipersatukan dalam ikatan yang erat dan kuat maka akan menjadi potensi yang sangat besar dan kuat, yang tidak saja bermanfaat bagi anggota paguyuban tetapi juga bagi masyarakat lainnya.

Paguyuban SMS dapat menjadi duta bagi Kabupaten Sleman dalam mempromosikan potensi Sleman baik kerajinan, industri, makanan khas maupun potensi wisata dan investasi lainnya. Walaupun ada yang sudah puluhan tahun berada di perantauan sebagai warga Sleman tentu tidak akan pernah melupakan tanah kelahirannya.

“Peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung hendaknya tetap menjadi prinsip hidup dengan tetap mempertahankan budaya, kebiasaan dan adat istiadat tempat asal kita dimanapun kita berada,” kata Sri Purnomo.

Sri Purnomo  juga mengenalkan potensi batik Parijoto Salak sebagai produk khas Sleman yang bisa dikembangkan.

Sementara Ketua Paguyuban yang baru  Syambudi Siswoyo menghimbau bagi warga Sleman yang belum tergabung dapat segera bergabung dengan  karena manfaat paguyuban sangat besar baik bagi anggota maupun masyarakat lainnya, dalam bidang seni, budaya, pengembangan usaha serta sebagai mitra Pemkab Sleman dalam ikut mempromosikan potensi Sleman.