Bupati Serahkan Bantuan Korban Angin Kencang

Bupati Sleman Serahkan BantuanSleman – Sebanyak 70 orang korban bencana angin kencang di wilayah Kecamatan Seyegan yang terjadi tanggal 4,5 dan 9 Januari 2017 lalu mendapat bantuan keuangan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman. Bantuan diserahkan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI di Aula Kecamatan Seyegan,  Senin (23/1). Total bantuan yang diserahkan mencapai Rp 84,7 juta dengan nilai terkecil Rp 200 ribu dan terbesar Rp 6,5 juta.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Sleman, Drs Joko Supriyanto MSi wilayah yang terdampak angin kencang mencakup 7 wilayah kecamatan yakni Moyudan, Minggir, Seyegan, Sleman, Mlati, Tempel dan Godean. Kerusakan rumah mencapai 418 rumah, kerusakan fasos fasum 5 buah, kerusakan tempat usaha 10 buah dan korban meninggal 1 orang dan luka 7 orang.

“Total kerugian mencapai Rp 539,7 juta,” kata Joko.

Adapun rincian penerima bantuan korban angin kencang di Seyegan untuk Desa Margoagung  sejumlah 50 orang, dengan nilai bantuan Rp 57,3 juta, Desa Margodadi jumlah 6 orang nilai Rp 9,8 juta, Desa Margokaton sejumlah 2 orang nilai Rp 2,3 juta dan Desa Margoluwih 121 orang dengan bantuan senilai Rp 15,3 juta.

Menurut Joko bantuan untuk wilayah lain masih dalam proses verifikasi dan setelah selesai juga akan segera diberikan bantuan sesuai Perda 114 tahun 2016 tentang Bantuan Bencana.

Sri Purnomo secara simbolis menyerahkan bantuan kepada 5 orang didampingi Kepala Pelaksana BPBD Sleman dan Camat Seyegan. Sri Purnomo juga menyampaikan Pemkab Sleman senantiasa bertindak cepat dalam mengatasi bencana yang terjadi yakni dengan segera melakukan evakuasi dan memberikan bantuan kepada korban.

Bantuan yang diberikan diakui Sri Purnomo, tidak dapat mencukupi semua kerugian yang diderita warga namun dapat meringankan beban korban untuk segera melakukan perbaikan/renovasi rumah yang rusak sehingga dapat kembali untuk aktivitas keluarga.

Masyarakat diminta selalu waspada dan berupaya memotong ranting-ranting pohon yang rawan roboh karena daerah Sleman seringkali dilewati angin kencang karena merupakan daerah cekungan.

Walaupun pohon-pohon yang dimiliki masyarakat merupakan asset yang bisa menghasilkan namun bila membahayakan harus tetap diwaspadai untuk dikurangi rantingnya.




Tarik Wisatawan Dengan Kolaborasikan Event Budaya dan Wisata‬

Sleman – Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Sleman tetap akan mengemas event budaya sebagai daya tarik pariwisata.‬

‪”Meskipun saat ini sudah ada Dinas Kebudayaan, namun kami tetap berkolaborasi mengemas event budaya sebagai event pariwisata untuk menarik kunjungan wisatawan,” kata Dra Sudarningsih MSi, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman  di Sleman, Senin (23/1).‬

Menurut Sudarningsih, atraksi-atraksi budaya yang selama ini telah menjadi kegiatan rutin akan tetap ditangani Dinas Pariwisata, dan kegiatan tersebut tetap akan dilanjutkan pada tahun-tahun yang akan datang.‬

‪”Beberapa event budaya tersebut di antaranya Pelagi Budaya Bumi Merapi, Festival Bregodo, Saparan Bekakak dan lainya,” kata Sudarningsih.‬

‪Sudarningsih menambahkan, meski ditangani Dinas Pariwisata, namun pihaknya tetap bekerja sama dan bersinergi dengan Dinas Kebudayaan.‬

“Meski secara institusi berpisah, namun kami telah bersama-sama mengembangkan pariwisata dan seni budaya yang ada di Sleman,” tuturnya.‬

Kerja sama tersebut lanjut Sudarningsih termasuk juga dalam pengelolaan kawasan wisata cagar budaya yang ada di Sleman.‬

‪”Kawasan cagar budaya seperti Candi Ijo di Prambanan, Candi Sambisari di Kalasan maupun Goa Jepang di lereng Gunung Merapi dan lainnya dikelola bersama-sama. Kami tetap koordinasi dan tidak lepas,” katanya.‬

‪Sedang  untuk alokasi dana keistimewaan (danais) untuk kebudayaan, Dinas Pariwisata Sleman hanya mendapatkan alokasi melalui Dinas Pariwisata DIY.‬ ‪”Dana sementara masih digelontor dari DIY, tahun 2017 ini belum,” kata Sudarningsih.‬

‪Sedangkan untuk Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementrian Pariwisata  pada tahun ini senilai Rp 1 miliar.‬ Bantuan DAK dari Kementrian Pariwisata ini digunakan untuk meningkatkan dukungan pariwisata di Gardu Pandang Merapi Kaliurang seperti untuk membangun area parkir, kios souvenir dan toilet serta untuk fasilitas lainnya.