Sleman Miliki Program Pembinaan Lansia

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes mengatakan dalam penanganan warga lanjut usia (lansia), selama ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah memberikan perhatian kepada para lansia dengan melalui beberapa program.

“Program tersebut diantaranya diwujudkan dengan penanganan kesehatan lansia melalui pembinaan kelom­pok/Posyandu usia lanjut, pelatihan kader usia lanjut di bidang kesehatan, pembinaan senam bugar usia lanjut serta pendampingan kelompok Usaha Ekonomi Produktif Lanjut Usia (USEP Lanjut Usia),” kata Sri Muslimatun disela-sela menghadiri  ulang tahun ke 15 sekaligus pelantikan pengurus Paguyuban Among Yuswo, Banteng Baru, periode 2017 – 2020, Selasa (24/1).

Sri Muslimatun juga menyampaikan Paguyuban Lansia merupakan wadah dan kesempatan bagi para lansia untuk menjalin tali silaturahmi dengan sesama lansia dan berupaya untuk tetap meningkatkan kualitas hidup para lansia.

“Di­ha­rapkan dengan memiliki kualitas hidup yang baik di usia lanjut, maka para lansia dapat menghadapi dan menjalani usia lanjut dengan pe­nuh kebahagiaan,” kata Sri Muslimatun.

Di Sleman lanjut Sri Muslimatun, pada saat ini usia harapan hidup sudah mencapai 74,57 tahun. Dan  jumlah usia lanjut di Sleman (60 tahun ke atas) mencapai orang yang terdiri dari perempuan sebanyak orang dan pria sebanyak orang.

Diantara lansia tersebut masih banyak yang aktif dalam berbagai kegiatan atau paguyuban. Hal ini menunjukkan bahwa para lansia masih mampu berkarya dan memiliki hidup yang berkualitas.

“Walaupun telah memasuki usia lanjut, bukan jadi halangan untuk tetap produktif,” tutur Sri Muslimatun.

Seperti kiprah Paguyuban Lansia ”Among Yuswo”  Ini membuktikan bahwa para lansia di sekitar Banteng Baru  masih tetap semangat dan produktif untuk terus berkarya.  Saat ini anggota paguyuban mencapai 150 orang yang aktif ikut senam lansia ada 80 orang dan paling tua ada yang berusia 92 tahun. Selain itu ada kegiatan Posyandu Lansia dan kegiatan rekreasi bersama.




Sleman Produktif Jadi Program Unggulan Baznas

BaznasSleman – Selama ini masyarakat beranggapan Baznaz hanya memberikan zakat bagi fakir miskin, namun sebetulnya banyak yang  telah diberikan kepada masyarakat, karena sesuai dengan visinya yang menjadikan Amil Zakat yang amanah, transparan dan profesional. Sedang misinya meningkatkan kesadaran umat untuk menunaikan zakat melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Selain itu juga meningkatkan pengumpulan, pengelolaan  dan pendayaagunaan zakat sesuai ketentuan Syariah dan prinsip manajemen masa kini.

“Dan yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan peran zakat dalam ikut menanggulangi kemiskinan melalui sinergi dan koordinasi dengan lembaga terkait,” kata Drs Kriswanto MSc,  salah satu Ketua Baznas Sleman di Sleman, Selasa (24/1).

Disampaikan Kriswanto bahwa program unggulan Baznas Sleman berupa Sleman Produktif, dimana Baznas Sleman akan memberikan bantuan modal dan peralatan usaha bagi fakir miskin dan mualaf yang sudah mempunyai embrio usaha. Hal ini dilakukan agar bisa mengangkat pertumbuhan ekonomi bagi keluarnya yang kurang mampu yang pada akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan.

“Selain Sleman produktif juga ada Sleman Cerdas, program tersebut akan memberikan bantuan biaya pendidikan bagi anak dari keluarga fakir miskin yang bersekolah di SMK kelas XII yang mengalami kesulitan membayar tunggakan biaya sekolah untuk mengambil ijasah,” kata Kriswanto.

Menurut Kriswanto untuk progam ini sementara hanya untuk siswa SMK mengingat untuk program tersebut juga membutuhkan jumlah yang cukup besar. Namun tidak menutup kemungkinan nantinya akan menjangkau pada jenjang pendidikan yang lain.

Program lainnya adalah Sleman Sehat, program tersebut diperuntukkan untuk membantu biaya bagi fakir miskin dan anggota keluarganya yang menderita sakit dan dirawat dirumah sakit, tetapi masih ada kekurangan pembayaran, dan diprioritaskan pada penderita kanker stadium IV dan cuci darah.

“Program yang lainnya adalah Sleman membangun, program tersebut berupa bantuan fisik dan mental berupa bantuan pembangunan fisik untuk pembangunan Masjid, mushola dan rumah bagi fakir miskin yang tidak layak huni,” tutur Kriswanto.

Sementara untuk pembangunan mental melalui kaum rois yang bertugas membangun keimanaan dan ketakwaan umat Islam diwilayahnya. Sedang program Sleman Peduli diwujutkan dalam bentuk bantuan untuk korban bencana alam dalam bentuk uang dan barang, termasuk bantuan untuk korban bencana di Aceh sebesar Rp 225 juta  yang  diserahkan Bupati Sleman dalam waktu dekat dan diperuntukkan bagi pembangunan dan rehabilitasi Masjid.

Ditambahkan Kriswanto bahwa untuk mengajukan permohonan bantuan lewat Baznas cukup mudah masyarakat harus mengajukan permohonan dengan dilampiri rincian kebutuhan anggaran, foto copy KTP, KK dan diketahui Camat dan KUA setempat.

Tentang besarnya bantuan disesuaikan dengan ketentuan yang sudah ada di Baznas dan ketersediaan dana Baznas. Tentang besarnya bantuan, untuk usaha produktif maksimal Rp 3 juta  atau sesuai hasil verifikasi, beasiswa untuk pengambilan Ijasah sesuai dengan tunggakan, sakit kanker stadium IV dan cuci darah bantuannya Rp 3 juta, sedang biaya perawatan dibawah Rp 5 juta bantuannya Rp 1 juta.

Sedang untuk biaya perawatan  antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta akan maendapatkan bantuan Rp 2 juta, diatas Rp 10 juta akan mendapatkan bantuan Rp 3 juta. Sementara untuk bantuan Masjid sebesar Rp 1 juta, bantuan Mushala Rp dan kegiatan keagamaan Rp .***




Bupati Serahkan Bantuan Korban Angin Kencang

Bupati Sleman Serahkan BantuanSleman – Sebanyak 70 orang korban bencana angin kencang di wilayah Kecamatan Seyegan yang terjadi tanggal 4,5 dan 9 Januari 2017 lalu mendapat bantuan keuangan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman. Bantuan diserahkan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI di Aula Kecamatan Seyegan,  Senin (23/1). Total bantuan yang diserahkan mencapai Rp 84,7 juta dengan nilai terkecil Rp 200 ribu dan terbesar Rp 6,5 juta.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Sleman, Drs Joko Supriyanto MSi wilayah yang terdampak angin kencang mencakup 7 wilayah kecamatan yakni Moyudan, Minggir, Seyegan, Sleman, Mlati, Tempel dan Godean. Kerusakan rumah mencapai 418 rumah, kerusakan fasos fasum 5 buah, kerusakan tempat usaha 10 buah dan korban meninggal 1 orang dan luka 7 orang.

“Total kerugian mencapai Rp 539,7 juta,” kata Joko.

Adapun rincian penerima bantuan korban angin kencang di Seyegan untuk Desa Margoagung  sejumlah 50 orang, dengan nilai bantuan Rp 57,3 juta, Desa Margodadi jumlah 6 orang nilai Rp 9,8 juta, Desa Margokaton sejumlah 2 orang nilai Rp 2,3 juta dan Desa Margoluwih 121 orang dengan bantuan senilai Rp 15,3 juta.

Menurut Joko bantuan untuk wilayah lain masih dalam proses verifikasi dan setelah selesai juga akan segera diberikan bantuan sesuai Perda 114 tahun 2016 tentang Bantuan Bencana.

Sri Purnomo secara simbolis menyerahkan bantuan kepada 5 orang didampingi Kepala Pelaksana BPBD Sleman dan Camat Seyegan. Sri Purnomo juga menyampaikan Pemkab Sleman senantiasa bertindak cepat dalam mengatasi bencana yang terjadi yakni dengan segera melakukan evakuasi dan memberikan bantuan kepada korban.

Bantuan yang diberikan diakui Sri Purnomo, tidak dapat mencukupi semua kerugian yang diderita warga namun dapat meringankan beban korban untuk segera melakukan perbaikan/renovasi rumah yang rusak sehingga dapat kembali untuk aktivitas keluarga.

Masyarakat diminta selalu waspada dan berupaya memotong ranting-ranting pohon yang rawan roboh karena daerah Sleman seringkali dilewati angin kencang karena merupakan daerah cekungan.

Walaupun pohon-pohon yang dimiliki masyarakat merupakan asset yang bisa menghasilkan namun bila membahayakan harus tetap diwaspadai untuk dikurangi rantingnya.




Tarik Wisatawan Dengan Kolaborasikan Event Budaya dan Wisata‬

Sleman – Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Sleman tetap akan mengemas event budaya sebagai daya tarik pariwisata.‬

‪”Meskipun saat ini sudah ada Dinas Kebudayaan, namun kami tetap berkolaborasi mengemas event budaya sebagai event pariwisata untuk menarik kunjungan wisatawan,” kata Dra Sudarningsih MSi, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman  di Sleman, Senin (23/1).‬

Menurut Sudarningsih, atraksi-atraksi budaya yang selama ini telah menjadi kegiatan rutin akan tetap ditangani Dinas Pariwisata, dan kegiatan tersebut tetap akan dilanjutkan pada tahun-tahun yang akan datang.‬

‪”Beberapa event budaya tersebut di antaranya Pelagi Budaya Bumi Merapi, Festival Bregodo, Saparan Bekakak dan lainya,” kata Sudarningsih.‬

‪Sudarningsih menambahkan, meski ditangani Dinas Pariwisata, namun pihaknya tetap bekerja sama dan bersinergi dengan Dinas Kebudayaan.‬

“Meski secara institusi berpisah, namun kami telah bersama-sama mengembangkan pariwisata dan seni budaya yang ada di Sleman,” tuturnya.‬

Kerja sama tersebut lanjut Sudarningsih termasuk juga dalam pengelolaan kawasan wisata cagar budaya yang ada di Sleman.‬

‪”Kawasan cagar budaya seperti Candi Ijo di Prambanan, Candi Sambisari di Kalasan maupun Goa Jepang di lereng Gunung Merapi dan lainnya dikelola bersama-sama. Kami tetap koordinasi dan tidak lepas,” katanya.‬

‪Sedang  untuk alokasi dana keistimewaan (danais) untuk kebudayaan, Dinas Pariwisata Sleman hanya mendapatkan alokasi melalui Dinas Pariwisata DIY.‬ ‪”Dana sementara masih digelontor dari DIY, tahun 2017 ini belum,” kata Sudarningsih.‬

‪Sedangkan untuk Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementrian Pariwisata  pada tahun ini senilai Rp 1 miliar.‬ Bantuan DAK dari Kementrian Pariwisata ini digunakan untuk meningkatkan dukungan pariwisata di Gardu Pandang Merapi Kaliurang seperti untuk membangun area parkir, kios souvenir dan toilet serta untuk fasilitas lainnya.




Batu Yang Berpotensi Longsor Dievakuasi

IMG-20170122-WA0014Sleman – Dalam rangka mengantisipasi terjadi bencana longsor diwilayah perbukitan Prambanan, TRC Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman bersama Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Prambanan Bandung Bondowoso, warga Gedang Bawah Desa Sambirejo Kecamatan Prambanan Sleman, Minggu (22/1) mengadakan kegiatan gotong royong menurunkan batu yang berpotensi longsor atau glundung.

“Setelah dilakukan pemecahan batu, batu  yang dievakuasi jatuh di jalan dekat longsoran batu yang terjadi Rabu (18/1) lalu,” kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman usai melakukan pemantauan kegiatan tersebut.

Menurut Makwan batu yang dievakuasi  sudah diturunkan dan jatuh di jalan adalah batu yang posisi sebelumnya bersampingan dengan batu besar yang sudah longsor Rabu lalu. Karena itu untuk mengantisipasi batu yang masih ada  dilakukan penurunan. Pasalnya jika dibiarkan dikhawatirkan bisa longsor dan menutup jalan bila terkena hujan deras.

Seperti diberitakan sebuah  batu besar yang memiliki panjang lima meter dengan lebar lima meter, dan tinggi 2,5 meter longsor  di Gedang bawah RT 3 RW 09 Sambirejo. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Ada kemungkinan tanah di sekitar batu tergerus air karena hujan deras dan kemudian melongsorkan batu raksasa itu. Longsoran batu tersebut mengakibatkan akses jalan yang menghubungkan jalan Desa Gayamharjo dengan Desa Sambirejo sempat tertutup.‬

Warga bersama relawan FPRB Prambanan Bandung Bondowoso dan personel TNI masih terus mengevakuasi batu dan melakukan pengkondisian tanah di sekitar batu yang longsor.‬