‪Sleman Angkat Enam Prioritas Pembangunan‬

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman pada tahun 2018 mendatang,  akan mengangkat enam prioritas pembangunan dengan 15 sasaran daerah.‬

‪Enam prioritas ini mencakup peningkatan kualitas pelayanan publik yang bersih dan efektif, pemerataan pembangunan sampai ke tingkat desa, dan mewujudkan kemandirian dengan menggerakan sektor strategis ekonomi lokal agar dapat bersaing di pasar internasional.‬

‪Selain itu pembangunan diproritaskan untuk meningkatkan ketentraman, ketertiban, dan kenyamanan, serta meningkatkan kerukunan masyarakat dengan mengangkat kebudayaan lokal dan kesetaraan gender.‬

‪Sekretaris Daerah Sleman, Sumadi SH MH menerangkan, mengacu sistem perencanaan pembangunan nasional, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2018 diharuskan merujuk pada dokumen perencanaan mulai dari tingkat nasional sampai kabupaten. Utamanya dilihat dari keterkaitan prioritas pembangunan, kebijakan, dan arah pembangunan yang akan dilaksanakan tahun depan.‬

‪“Kami juga akan mengangkat 30 indikator sasaran dengan tujuan utama peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Sumadi, Minggu (22/1).‬

‪Berpedoman pada arah pembangunan berdasar Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Daerah Kabupaten Sleman periode tahun 2016-2021, tema pembangunan pada tahun 2018 adalah meningkatkan pendampingan dan pemberdayaan sektor unggulan daerah menuju kemandirian dan kesejahteraan masyarakat berbudaya.‬

“Draf ini nantinya yang akan dijadikan pedoman musrenbang untuk menyusun dokumen perencanaan dan penganggaran tahun 2018. Karena itu kami mengundang kalangan masyarakat untuk berpartisipasi menyumbangkan ide dan gagasan,” katanya.‬

‪Selain program pembangunan, draf tersebut juga memuat gambaran umum mengenai kondisi daerah, rancangan kerangka ekonomi dan kebijakan keuangan, serta prioritas dan sasaran pembangunan daerah.




Waspada Antraks di Sleman Dilakukan Dengan Vaksinasi‬

Sleman – Untuk mencegah penyebaran virus antraks, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melakukan antisipasi. Antisipasi tersebut dilakukan menyusul munculnya kasus penyakit antraks yang menyerang warga Kulonprogo. Dan bentuk antisipasi dari Pemkab Sleman tersebut antara lain melakukan vaksinasi dan membatasi penjualan daging sapi asal Kulonprogo ke Sleman.‬

‪Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian Pangan dan Kehutanan (DPPK) Sleman menyikapi masalah penyakit antraks. Salah satunya, dengan mengawasi distribusi daging sapi yang beredar di Sleman.‬

‪“Kami akan mencegah (penyebaran) antraks masuk ke Sleman. Instansi terkait sudah melakukan beberapa upaya pengawasan,” kata Sri Purnomo, Minggu (22/1).

‪Menurut Sri Purnomo, wilayah Sleman belum pernah ditemukan kasus antraks. Meski begitu, upaya pencegahan penyakit  tersebut, terus dilakukan. Pasalnya, infeksi virus antraks dinilai membahayakan manusia.‬

‪“Setiap tahun kami lakukan vaksinasi kepada sapi-sapi yang ada di Sleman. Termasuk saat ini, meski tidak semuanya. Jumlah sapi di Sleman sekitar ekor, jadi yang divaksinasi hanya yang diduga berpotensi terjangkit antraks,” kata Ir Widi Sutikno MSi, Kepala DPPK Sleman.‬

‪Selain vaksinasi dikatakan Widi, DPPK juga berupaya mencegah peredaran daging sapi asal Kulonprogo. Pihaknya juga menambah jumlah petugas kesehatan hewan di lapangan untuk meningkatkan pengawasan, baik di pasar tradisional maupun pasar hewan.‬

‪“Pencegahan peredaran daging sapi dari Kulonprogo ini dilakukan  arinya bukan anti Kulonprogo. Tapi ini dilakukan demi kebaikan bersama. Kami sudah bekerjasama dengan Balai Besar Veteriner Wates untuk memantau antraks,” kata Widi.‬

‪Menurut Widi, yang paling penting dari persoalan antraks adalah bagaimana masyarakat juga berupaya melakukan tindakan pencegahan. DPPK juga akan melakukan sosialisasi pada masyarakat.‬

‪Dikatakan Widi, awal mula kasus antraks di Kulonprogo terjadi akibat kondisi lingkungan yang menyebabkan munculnya virus antraks. Pasalnya, ternak yang terjangkit antraks disembelih kemudian dikonsumsi bersama.‬

‪“Sapi yang sakit seharusnya ditangani secara medis. Bukan justru dikonsumsi tanpa diketahui lebih dulu penyakitnya.  Kami himbau agar masyarakat atau peternak yang sapinya sakit, tolong melapor agar bisa ditangani secepatnya,” tutur Widi.‬

‪Di wilayah Sleman, tambah Widi, fasilitas kesehatan hewan untuk memantau kesehatan ternak sudah cukup memadai. Setidaknya terdapat 14 Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang tersebar di Sleman yang dinilainya mampu memberikan vaksin antraks pada sapi.‬




Keberadaan Paguyuban SMS Jadi Duta Sleman

Bupati Sleman Lantik Pengurus PaguyubanSleman – Peringatan ulang tahun ke-15 Paguyuban Sleman Manunggal Sembada(SMS) yaitu paguyuban warga Sleman yang merantau di Jabodetabek, Minggu (22/1) terasa istimewa dengan kehadiran Bupati, Wakil Bupati dan Ketua DPRD Sleman serta Pejabat Sleman lainnya.

“Ulang tahun dilaksanakan di Anjungan DIY TMII Jakarta diawali dengan pagi hari jalan sehat mengelilingi kawasan TMII sejauh 4 Km dilanjutkan dengan senam sehat bersama. Usai senam pagi juga dilakukan pembagian santunan bagi anak-anak yatim sejumlah 44 anak,” kata Dra Sri Winarti, Kabag Humas Sleman, Selasa (24/1).

Menurut Sri Winarti pada kesempatan tersebut juga diadakan pelantikan pengurus masa bhakti 2017 – 2022 dengan ketua H Syambudi Siswoyo dengan Dewan Penasehat DR Tukiman (mantan Ketua paguyuban).

Puncaknya dengan pertunjukan wayang kulit dalang Ki Hadi Darwanto dari Sleman mengambil lakon Gatotkoco Winisudo. Tokoh wayang Gatotkoco secara simbolis diserahkan oleh Ketua DPRD Sleman kepada dalang untuk dipentaskan.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI pada kesempatan tersebut  berharap melalui paguyuban dapat terjalin silaturahmi antar anggota dan saling dapat berbagi ilmu dan pengalaman masing-masing serta dapat saling membantu kesulitan sehingga dapat diatasi bersama.

Dalam usianya yang ke-15 ini Paguyuban SMS harus senantiasa berusaha menjadi organisasi yang dibangun dengan pondasi yang kokoh, dipoles dengan racikan potensi yang tidak saja indah tapi sekaligus merupakan ikatan yang sangat kuat bagi seluruh anggotanya.

Paguyuban SMS hendaknya juga mampu menjadi sarana dan media untuk mengembangkan potensi yang dimiliki warga Sleman, khususnya yang berada di Jakarta.

Apabila seluruh potensi yang dimiliki anggota Paguyaban SMS dapat dipersatukan dalam ikatan yang erat dan kuat maka akan menjadi potensi yang sangat besar dan kuat, yang tidak saja bermanfaat bagi anggota paguyuban tetapi juga bagi masyarakat lainnya.

Paguyuban SMS dapat menjadi duta bagi Kabupaten Sleman dalam mempromosikan potensi Sleman baik kerajinan, industri, makanan khas maupun potensi wisata dan investasi lainnya. Walaupun ada yang sudah puluhan tahun berada di perantauan sebagai warga Sleman tentu tidak akan pernah melupakan tanah kelahirannya.

“Peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung hendaknya tetap menjadi prinsip hidup dengan tetap mempertahankan budaya, kebiasaan dan adat istiadat tempat asal kita dimanapun kita berada,” kata Sri Purnomo.

Sri Purnomo  juga mengenalkan potensi batik Parijoto Salak sebagai produk khas Sleman yang bisa dikembangkan.

Sementara Ketua Paguyuban yang baru  Syambudi Siswoyo menghimbau bagi warga Sleman yang belum tergabung dapat segera bergabung dengan  karena manfaat paguyuban sangat besar baik bagi anggota maupun masyarakat lainnya, dalam bidang seni, budaya, pengembangan usaha serta sebagai mitra Pemkab Sleman dalam ikut mempromosikan potensi Sleman.




Perwakilan FAO Kunjungi Pengembangan Mina Padi di Sleman

FAO (1024 x 668)Sleman – Perwakilan FAO mengunjungi sawah percontohan Mina Padi Kelompok Tani Mina Murakabi di Dusun Cibluk Desa Margoluwih, Sleman,  Jumat (20/1).

Hadir dalam kunjungan, termasuk Deputi Menteri Koordinator Kemaritiman Bidang Sumber Daya Manusia, Ilmu dan Teknologi, dan Budaya Maritim Safri Burhanuddin, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Musdhalifah Machmud, perwakilan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan dan Kementrian Pertanian serta perwakilan dari FAO (Food and Agriculture Organization) Mark Smulders beserta Ageng S Herianto selaku Programme FAO Indonesia.

Sejak 2015, FAO sendiri telah bekerja sama dengan Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk mulai menghidupkan kembali kearifan tradisional melalui pertanian yaitu Inovasi Mina Padi seluas 25 hektar pada tiap lokasinya di berbagai wilayah di Indonesia dan Sleman menjadi salah satunya.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI  menyampaikan bahwa Sleman sebagai lumbung padi DIY berkewajiban untuk terus mendorong intensifikasi pertanian yang dihadapkan dengan keterbatasan lahan. Namun terlihat dengan metodi Mina Padi, sekalipun lahan terbatas untuk produktifitas dapat meningkat.

Mina Padi dapat menjawab tantangan keterbatasan lahan dengan produksi padi di Sleman. Melalui metode tersebut juga keuntungan yg diraih berlipat ganda tak hanya padi namun juga ikan serta keberlangsungan lahan yang produktif.

Mark Smulders perwakilan dari FAO mengatakan bahwa Mina Padi yang dikenalkan di Indonesia berhasil dengan baik. Khususnya di Sleman yang petaninya sangat antusias dalam penerapan Mina Padi sehingga produksi beras, pertumbuhan ekonomi dan kecukupan gizi dapat terus meningkat.

Film Dokumenter tentang Mina Padi yang ada di Sleman telah disebarkan sebagai percontohan di wilayah Asia Pasifik dan tak kurang sudah 15 perwakilan dari Negara lain dan banyak petani dari berbagai penjuru sudah datang mengunjungi Sleman untuk dapat melihat langsung sawah percontohan Mina Padi tersebut.

Smulder juga mengatakan bahwa Mina Padi harus diperluas untuk memastikan banyak keluarga petani meraih hidup yang lebih baik yang menguntungkan pedesaan serta Negara. Mark menginginkan generasi muda kembali tertarik dalam bidang pertanian ini seperti yang dilakukan pada kelompok tani Murakabi.

Sehingga generasi muda tidak hanya mengandalkan pekerjaan di kota melainkan memajukan desanya dengan terjun dalam bidang pertanian khususnya mina padi yang sangat menjanjikan untuk bisa meningkatkan perekonomian, terlebih bila dikemas menjadi wisata mina padi.

Musdhalifah Machmud mengatakan melalui Mina Padi kita telah berhasil mendapat 3 WIN(keuntungan). Adapun beberapa keuntungan yang didapat oleh petani yaitu naiknya produksi beras, naiknya pendapatan dan membaiknya nutrisi masyarakat. Melalui sawah percontohan Mina Padi tersebut terbukti mampu menaikkan hasil panen padi rata-rata Rp 6,5 juta ton/ha menjadi 9,3 ton/ha.

Hal tersebut tentunya secara langsung menambah pendapatan petani serta juga panen ikan yang dihasilkan pada tiap hektar dalam satu musim mampu mencapai Rp 42 juta.

Sehingga membantu dalam meningkatkan nutrisi di kalangan masyrakat DIY sesuai data Badan Pusat Statistik 2014 menyebutkan wilayah DIY hanya mengkonsumsi ikan 19,79 kg/kapita/tahun, dimana merupakan provinsi yang terendah dibandingan dengan Provinsi lainnya yang rata-rata mengkonsumsi ikan sebesar 37 kg/kapita. Sehingga melalui Mina Padi tersebut dapat meningkat konsumsi ikan dan tercukupinya nutrisi masyarakat.

Disisi lain penerapan inovasi tersebut menggunakan pendekatan ekosistem tanpa menggunakan pestisida serta pupuk kimia sehingga sangat ramah lingkungan dan menjaga keberlangsungan lahan pertanian.




Wagub DIY Membuka JORC V di Lereng Merapi‬

IMG-20170120-WA0007 (1024 x 682)Sleman – Wakil Gubernur (Wagub) DIY, KGPAA Paku Alam X membuka rangkaian kegiatan Jogja Off Road Challenge (JORC) V di lapangan Jabalkat Dusun Tanjung Desa Wukirsari  Cangkringan Sleman, Jumat (20/1).

Hadir pada kesempatan tersebut Wakil Bupati Sleman Dra Sri Muslimatun MKes, Deputi Bidang Olahraga Menpora RI, Kadisops Lanud Adisutjipto, KH Masrur Ahmad, MZ sebagai pengasuh Ponpes Al Qadir Sleman.

‪Rangkaian  Jogja Off Road Challenge V tersebut dibuka dengan jathilan Krido Budoyo Turonggo Mudho sebagai representasi budaya lokal yang terus dikembangkan.

Sementara Adib Daudi selaku Ketua Panitia JORC V menyampaikan bahwa kegiatan tahunan ini dilaksanakan dengan tujuan utama mendorong kegiatan pariwisata di sekitar kawasan Merapi.

Apresiasi kegiatan ini datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Hal tersebut terbukti dari keikutsertaan 40 tim dari DIY, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin, Makassar, bahkan Jayapura.

“Total sebanyak 135 kendaraan 4×4 yang mengikuti event ini dan telah dicek kesiapannya untuk mengeksplorasi potensi kawasan Merapi,” kata Adib.‬

Ketua IOF Pengda DIY, Inung Nur Fajri menyampaikan rasa  terima kasih kepada Wakil Gubernur DIY yang telah memberi support dan mau membina IOF hingga kegiatan terlaksana dengan baik.

“Kami juga ucapkan terima kasih kepada KH  Masrur Ahmad MZ sebagai pengasuh Ponpes Al Qadir yang peduli dengan kegiatan ini. Event tahun ini bisa dibilang kita ber-off road sambil ibadah,” kata Inung.

Inung juga menekankan agar peserta menunjukkan kebersamaan, menjaga kebersihan dan kepedulian alam, serta mengembangkan potensi yang ada di Merapi.‬ ‪Sedang Paku Alam X berpesan agar event yang menggabungkan wisata, olahraga, dan budaya ini mampu dimanfaatkan dengan baik bagi seluruh peserta maupun masyarakat sekitar.

Wagub juga berharap kegiatan ini semakin memacu dan menggairahkan cabang olahraga off road di DIY. ‬‪Wagub membuka event ekspedisi tahunan ini dengan mengibaskan bendera start. Rangkaian kendaraan 4 x 4 pun segera bergerak dengan deru mesin khasnya.