Ribuan KK di Sleman Terkendala Sanitasi dan Sampah‬

Sleman – Ribuan keluarga di Kabupaten Sleman masih mengalami kendala untuk mengakses fasiltas sanitasi yang layak. Antara lain meliputi  KK pengguna jamban tidak aman, serta KK masih buang air besar (BAB) sembarangan. ‬

‪”Meski begitu, saat ini cakupan sanitasi layak telah mencapai 94,34 persen. Pada 2019 kami menargetkan cakupan sanitasi layak dapat ditingkatkan menjadi 96,19 persen,” tutur  Sri Purnomo, Bupati Sleman, Jumat  (20/1).‬

‪Sri Purnomo mengungkapkan, selain sanitasi, masalah lingkungan yang perlu segera dipecahkan adalah pengelolaan sampah perkotaan. Di mana pada 2016 pelayanan pengelolaan sampah Pemda setempat baru mencakup 52,96 persen masyarakat. ‬

‪Di sisi lain, setiap harinya, timbunan sampah di Sleman mencapai meter kubik. Sedangkan kemampuan TPA untuk menampung sampah hanya 750 meter kubik per hari. Oleh karena itu Sri Purnomo menyampaikan, dibutuhkan kerjasama dari semua pihak untuk mengelola sampah perkotaan. ‬Sebab ke depannya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menargetkan agar pelayanan pengelolaan sampah perkotaan dapat menjangkau seluruh masyarakat.

”Nanti pada tahun 2019 pelayanan pengelolaan sampah ditargetkan bisa melayani 100 persen masyarakat di Sleman,” tutur Sri Purnomo.‬

‪Guna memecahkan masalah tersebut, saat ini Pemkab Sleman tengah menjalin kerja sama pengelolaan sanitasi terpadu dengan Bremen Overseas de Research and Development Association (BORDA).

‪Sementara Kepala Bagian Humas Setda Sleman, Dra Sri Winarti mengemukakan, kerjasama yang dijalankan berupa pemenuhan kebutuhan air bersih untuk memenuhi akses sanitasi yang layak.‬

‪”Sasaran utama kami adalah kawasan kumuh. Pemenuhan akses sanitasi layak di Kabupaten Sleman sendiri dilakukan untuk mewujudkan sanitasi berbasis masyarakat yang berkualitas dan terjangkau,” tutur Sri Winarti.




Bupati Prihatin Dengan Kenakalan Remaja

Kapolres Sleman Menjadi Pembicara Pembinaan KarakterSleman – Maraknya tindak kriminalitas di DIY yang dilakukan pelajar mendorong semua pihak untuk peduli dan mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Hal ini dilakukan oleh Badan Pendidikan Menengah  Kabupaten Sleman dengan mengadakan pembinaan  penguatan pendidikan karakter di Sekolah SMA/SMK se Kabupaten Sleman yang dilaksanakan di Youth Centre, Kamis (19/1).

Peserta kegiatan tersebut adalah  Kepala Sekolah dan Ketua Komite dari 57 SMK dan 49 SMA. Bertindak sebagai nara sumber Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI dan Kapolres Sleman AKBP Burkhan Rudi Satrio.

Sri Purnomo menyampaikan kondisi kenakalan remaja saat ini memang menjadi keprihatinan sehingga diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi jawaban atas permasalahan dan kenakalan remaja dapat tertangani.

Menurut Sri Purnomo  ada tiga hal yang terlibat dalam pembentukan perilaku anak-anak yaitu orang tua, sekolah dan lingkungan. Apabila salah satu dari tiga hal tersebut tidak berfungsi dengan baik maka salah satu dampaknya adalah munculnya kenakalan remaja. Orang tua bertanggungjawab terhadap pembentukan karakter dan pendidikan anak-anak ketika berada di rumah.

“Banyak orangtua sekarang yang terlalu sibuk bekerja sehingga perhatian kepada anak menjadi berkurang. Mereka mengumbar berbagai fasilitas untuk anak mereka tanpa adanya kontrol sehingga terkadang hal tersebut justru menjerumuskan anak ke dalam kenakalan,” kata Sri Purnomo.

Pembentukan karakter anak selanjutnya dipengaruhi oleh sekolah dalam hal ini yang memiliki peran penting adalah guru. Tidak mudah memang untuk menjadi guru yang ideal, namun selayaknya cita-cita untuk menjadi guru didasari oleh sebuah idealisme yang luhur, untuk menciptakan para remaja sebagai generasi penerus yang berkualitas. Ini menjadi tantangan untuk menciptakan pendidikan karakter di sekolah sebagai upaya pencegahan terjadinya kenakalan remaja.

Dikatakan Sri Purnomo yang tidak kalah penting adalah kondisi lingkungan pergaulan. Menciptakan lingkungan pergaulan yang kondusif ini menjadi tanggung jawab bersama.

Peran Lingkungan pun harus lebih peduli, dengan menganggap para remaja yang ada di lingkungannya adalah tanggung jawab bersama, tentunya lingkungan pun akan dapat memberikan informasi yang benar kepada orangtua tentang tindak tanduk si remaja tersebut dan kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangannya agar tidak terjebak dalam kenakalan remaja.

“Tak kalah penting untuk diperhatikan adalah perkembangan teknologi informasi saat ini. Teknologi informasimembawa banyak manfaat, namun ternyata juga membawa pengaruh negatif. Apalagi anak-anak sudah dengan bebas dan mudahnya mengakses informasi melalui dunia maya. Jika tanpa pengawasan orangtua, guru dan tanpa kepedulian masyarakat, akan mengakibatkan terjadinya kenakalan anak,” tuturnya.

Sri Purnomo juga  berpesan kepada para Kepala Sekolah untuk tingkat SMK agar dapat melakukan inovasi dan evaluasi terhadap sarana dan prasarana praktek sekolah. Karena SMK diharapkan dapat menyiapkan siswa lulus siap kerja dan bersaing baik di negeri sendiri maupun di luar negeri. Hal ini karena saat ini sudah dimulai persaingan tenaga kerja dengan maraknya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia.

Selanjutnya bagi Kepala Sekolah SMA agar dapat menyiapkan siswanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jangan kuatir bagi siswa yang kurang mampu bila prestasinya bagus banyak biasiswa yang telah disiapkan oleh Pemerintah maupun swasta yang peduli terhadap pendidikan.

Sementara  Kapolres Sleman memaparkan penanganan masalah kriminalitas Pelajar. Kapolres menyebut kriminalitas karena tindakan pelajar saat ini sudah bukan lagi kenakalan remaja karena sudah merupakan tindakan kriminal mengingat para pelajar bertindak bukan dengan tangan kosong lagi tetapi sudah menggunakan senjata tajam yang bertujuan untuk melukai orang lain.

Kejadian yang terjadi di DIY sampai dengan akhir November kemarin 43 kasus dan di Sleman mencapai 21 kasus. Polres Sleman berupaya membatasi gerak dengan menempatkan 2 anggotanya disekolah-sekolah yang dicurigaisebagai pemicu pada saat pulang sekolah dan melakukan operasi dititik-titik kumpul.

Dan untuk menimbulkan efek jera terhadap pelanggar hukum bila ancaman hukuman di atas 7 tahun pelaku langsung ditahan dan diproses secara hukum. Saat ini ada 14 anak yang di tahan di Polsek Pakem, Turi dan Gamping.




Batu Longsor Dari Ketinggian 50 Meter

BatuSleman – Sebuah batu besar longsor di kawasan perbukitan Ijo, Sambirejo, Prambanan, Rabu (18/1) pagi. Beruntung tidak ada korban jiwa terkait peristiwa tersebut.‬

‪Menurut Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Prambanan Bandung Bondowoso, Prawoto proses evakuasi batu tersebut dilakukan sejak Rabu siang dilanjutkan hari Kamis (19/1). Pasalnya, pemecahan batu baru bisa untuk dilewati kendaraan roda dua.

“Batu agak susah dipecah. Jenis batunya tidak keras tapi agak susah pecah,” jelas Prawoto.‬

Hingga Rabu sore, progres pemecahan batu glundung longsor tersebut baru mencapai 25 %. Batu tersebut menggelundung dari ketinggian 50 meter. Akibat deras dan beratnya batu yang jatuh, kata Prawoto, batu raksasa itu tertancap sedalam lebih dari satu meter.‬

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan menjelaskan batu yang jatuh tersebut termasuk besar. Karena batu tersebut memiliki panjang lima meter dengan lebar lima meter, dan tinggi 2,5 meter.

“Batu tersebut longsor pada pukul WIB di Gedang bawah RT 3 RW 09 Sambirejo. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu,” kata Makwan, Rabu (18/1).‬

‪Dia menjelaskan, sejak Selasa (17/1) malam di wilayah tersebut memang terjadi hujan. Ada kemungkinan tanah di sekitar batu tergerus air kemudian melongsorkan batu raksasa itu. Longsoran batu tersebut mengakibatkan akses jalan yang menghubungkan jalan Desa Gayamharjo dengan Desa Sambirejo sempat tertutup.‬

‪Warga bersama relawan FPRB Prambanan Bandung Bondowoso dan personel TNI masih terus mengevakuasi batu dan melakukan pengkondisian tanah di sekitar batu yang longsor.‬

Sekadar diketahui, Desa-desa di wilayah Prambanan memang memiliki potensi bencana longsor. BPBD Sleman mencatat, beberapa dusun yang memiliki potensi bencana longsor meliputi, Dusun Dawung dan Cepit (Bokoharjo), Dusun Jali, Jontro, Kalinongko Kidul, Kalinongko Lor, Gayam, Lemahabang dan Dusun Nawung (Gayamharjo).‬

‪Selain itu, Dusun Sembir (Madurejo), Dusun Dawangsari, Gunungsari, Nglengkong, Kikis, Gedang, Mlakan dan Dusun Gunung Cilik (Sambirejo), Dusun Umbulsari A, Umbulsari B, Sengir, Dayakan dan Gamparan (Sumberejo), Dusun Klumprit I dan II, Candisari, Losari I dan II, serta Watukangsi (Wukirharjo).‬




Pemkab Mulai Bahas Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2018

ForumSleman – Tahun 2018 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan mengangkat 6 prioritas pembangunan dengan 15 sasaran daerah dan 30 indikator sasaran dengan tujuan utama peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Sumadi SH MH dalam Konsultasi Publik Penyusunan Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Sleman di Aula Kantor Bappeda, Kamis (19/1).

Sumadi menjelaskan bahwa 6 prioritas tersebut adalah meningkatkan kualitas pelayanan publik yang bersih dan efektif, mewujudkan kemandirian dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi lokal untuk dapat bersaing di pasar internasional.

Dan, pemerataan pembangunan sampai ke tingkat desa, meningkatkan kualitas hidup manusia, meningkatkan ketentraman, ketertiban, kenyamanan, serta meningkatkan kerukunan masyarakat dengan mengangkat kebudayaan lokal dan kesetaraan gender.

Mengacu pada sistem perencanaan pembangunan nasional, maka RKPD 2018 diharuskan merujuk pada dokumen–dokumen perencanaan RPJP Nasional, RPJM Nasional, RKP tahun 2018, RPJP DIY, RPJM DIY, RPJPD Kabupaten Sleman, RPJMD Kabupaten Sleman, dan RKPD DIY tahun 2018 terutama dilihat dari keterkaitan prioritas pembangunan, kebijakan dan arah pembangunan yang akan dilaksanakan tahun 2018.

“Dengan berpedoman pada arah pembangunan berdasarkan RPJPD Kabupaten Sleman dan RPJDM Kabupaten Sleman Tahun 2016-2021, maka tema pembangunan Kabupaten Sleman tahun 2018 adalah meningkatkan pendampingan dan pemberdayaan sektor unggulan daerah menuju kemandirian dan kesejahteraan masyarakat Sleman yang berbudaya,” jelas Sumadi.

Kepala Bappeda Kabupaten Sleman, Drs Kunto Riyadi MPPM menyampaikan bahwa konsultasi publik penyusunan RKPD 2018 bertujuan untuk mendapatkan masukan dan pengayaan substansi guna penyempurnaan draft rancangan awal RKPD tahun 2018 yang memuat gambaran umum kondisi daerah, rancangan kerangka ekonomi daerah dan kebijakan keuangan daerah, prioritas dan sasaran pembangunan daerah, serta program pembangunan daerah tahun 2018.

“Hasil yang diharapkan dari forum komunikasi publik RKPD ini adalah penyempurnaan draft rancangan awal RKPD Kabupaten Sleman 2018 untuk menjadi rancangan awal yang akan digunakan sebagai pedoman musrenbang untuk menyusun dokumen perencanaan dan penganggaran tahun 2018,” harap Kunto.




Batu Besar Longsor Menutup Akses Jalan di Prambanan

bsatuSleman – Cuaca ekstrim masih berlangsung di wilayah Sleman, jika beberapa hari lalu angin kencang sempat menumbangkan ratusan pohon dan merusakkan rumah warga di wilayah Sleman. Hari Rabu (18/1) pagi sebuah batu besar longsor dan menutup akses jalan di wilayah perbukitan Prambanan Sleman.

“Sebuah batu besar longsor dan menggelinding. Panjang batu kurang lebih 5 meter, lebar 5 meter, tinggi 2,5 meter. Akibatnya batu yang longsor tersebut menutup akses jalan Gayamharjo- Sambirejo,” kata Makwan, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Rabu (18/1).

Kejadian menurut Makwan, berlangsung sekitar pukul  WIB dan lokasi kejadian tepatnya Gedang Bawah RT 3 RW 09 Sambirejo Prambanan Sleman. Masyarakat setempat dibantu TNI dan  relawan dari Prambanan langsung malakukan gotong royong mengkondisikan tanah dengan membersihkan tanah yang menutup jalan untuk memudahkan pengkodisian batu.

“Untuk batu dikondisikan Rabu siang sehabis dzuhur oleh FBRB Bandung Bondowoso Prambanan,” kata Makwan.