DLH Akan Ganti Pohon Yang Tumbang

Sleman – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Drs Purwanto mengatakan proses pemangkasan pohon yang tumbang sampai saat ini masih berlangsung.

“Berdasar laporan BPBD, ada lima ratusan pohon yang roboh akibat angin kencang. Di lingkungan kantor Pemda sendiri sekitar 22-25 pohon,” kata Purwanto, Jumat (13/1).

Pasca musibah ini dikatakan Purwanto, DLH telah menerjunkan 35 tenaga untuk membantu pemotongan pohon. Setelah semua selesai, pihaknya akan langsung mengganti pohon yang tumbang tersebut terutama yang berada di lokasi strategis. Dalam hal ini, DLH telah berkoordinasi dengan Fakultas Kehutanan UGM untuk menentukan jenis pohon yang cocok ditanam.

“Batang pohon yang sudah selesai dievakuasi sekarang ditumpuk sebelah rumah dinas Bupati. Karena merupakan aset daerah, mungkin nantinya akan dilelang tapi jika ada warga yang membutuhkan sisa dahan, diperbolehkan untuk mengambilnya,” kata Purwanto.

Menurut Purwanto rencana mengganti  pohon yang tumbang di lokasi strategis dengan pohon baru memang perlu dikoordinasikan dengan Fakultas Kehutanan UGM untuk pemilihan pohon yang cocok dan memiliki akar yang kuat sebagai pengganti.

Ditambahkan Purwanto,  saat ini pembersihan dan evakuasi pohon yang tumbang masih terus berlangsung.




Angin Kencang Sapu 327 Rumah di Sleman

Sleman – Bencana angin kencang yang melanda sebagian Kabupaten Sleman beberapa hari terakhir telah mengakibatkan kerusakan 327 unit rumah warga. Dari 327 rumah rusak tersebut dengan rincian 264 rusak berat, 50 rusak sedang, dan 13 rusak berat.

Selain itu angin kencang juga mengakibatkan 455 pohon tumbang dan rusaknya  5 fasilitas umum, 6 fasilitas pendidikan, 3 fasilitas ibadah, 3 tempat usaha, serta 7 kandang ternak. Kejadian itu tercatat berlangsung pada tanggal 4 Januari, 5 Januari, dan 9 Januari 2017.

Berdasar data yang dihimpun Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, wilayah terdampak antara lain tersebar di Kecamatan Tempel, Mlati, Seyegan, dan Godean.

“Data sementara, nilai kerusakan akibat bencana angin kencang mencapai Rp 383,67 juta. Saat ini tim masih berada di lapangan untuk memverifikasi bangunan yang rusak,” kata Joko Supriyanto, Kepala Pelaksana BPBD Sleman di Pemkab Sleman, Kamis (12/1).

Selain rumah hunian, musibah angin angin kencang juga mengakibatkan 6 kendaraan roda dua, dan 3 mobil yang rusak akibat tertimpa pohon. Joko menjelaskan, untuk kendaraan yang mengalami kerusakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) tidak akan memberi bantuan ganti rugi.

Sesuai Peraturan Bupati Nomer 114 Tahun 2016, bantuan bencana diberikan kepada warga yang menjadi korban, dan rumah yang mengalami kerusakan. Untuk rumah yang rusak berat, akan diberi bantuan maksimal Rp 12 juta dan roboh total paling banyak Rp 30 juta.

Proses verifikasi dilakukan tim yang melibatkan DPUP dan Dinas Kesehatan, dengan mendasarkan laporan dari Dukuh, Desa dan Camat setempat. Setelah disetujui oleh Bupati, bantuan berupa uang tunai akan diserahkan kepada pemilik rumah. Sementara bagi korban bencana akan ditangani secepatnya.

“Kami minta kepada rumah sakit agar tidak menarik biaya kepada korban bencana. Kami yang akan mengurusi pembiayaannya dengan batasan plafon tertentu,” kata Joko.

Agar tidak terjadi duplikasi anggaran, bagi korban yang telah memiliki BPJS, penanganannya dibiayai dari lembaga tersebut. Dari laporan yang masuk ada 7 orang yang mengalami luka ringan, 1 orang luka sedang, dan seorang meninggal dunia.

Joko menambahkan bahwa kebijakan BPBD pada situasi kedaruratan cuaca ekstrim salah satunya adalah memprioritaskan penyelamatan jiwa masyarakat yang terdampak langsung bencana dengan menyiapkan TRC untuk penyelamatan didukung dengan Sleman Emergency Service (SES).




Pemkab Kaji Payung Hukum Pemberian Bantuan Bencana

Sleman – Diawal tahun 2017 ini wilayah Kabupaten Sleman telah dilanda bencana angin kencang dan setidaknya tiga kali bencana angin kencang yang terjadi Minggu ini mengakibatkan puluhan pohon tumbang, rumah rusak dan ada korban meninggal dan luka-luka.

Untuk memberikan bantuan kepada korban bencana alam tersebut Pemerintah Kabupaten ( Pemkab) Sleman sedang mengkaji payung hukumnya. Hal itu untuk menghindari masalah dikemudian hari setelah pengucuran bantuan kepada korban bencana alam.

‪Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan, pihaknya telah meminta kepada Sekda Sleman dan Assek untuk mengkaji payung hukum untuk memberikan bantuan kepada korban bencana alam. Payung hukum itu bisa berwujud status darurat atau kebijakan bersifat diskresi.‬

‪”Masih terus dikaji apakah nanti berupa status darurat atau apa. Jika memang status darurat, kami bisa mengucurkan dana tak terduga yang jumlahnya mencapai Rp 5,8 miliar,” kata Sri Purnomo, Rabu (11/1).

Menurut Sri Purnomo dari Kajari Sleman juga sudah mendapat masukan, Pemkab bisa mengeluarkan kebijakan bersifat diskresi. ‪Payung hukum lanjut Sri Purnomo,  memang sangat penting untuk mengambil kebijakan Pemkab Sleman.

Mengingat belakangan ini sering terjadi bencana alam angin kencang yang melanda Sleman. Namun Pemkab belum bisa memberikan bantuan kepada korban maupun rumah yang rusak terkena angin kencang. ‬

Dan payung hukum itu dibutuhkan untuk menghindari permasalahan hukum dikemudian hari.

‪Disisi lain Sri Purnomo juga menghimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati pada musim hujan. Terutama pada saat perubahan ekstrim dari panas dan tiba-tiba hujan deras akan berpotensi terjadi angin kencang. Selain itu, masyarakat diminta tidak berjualan atau beraktivitas di bawah pohon. ‬

“Masyarakat harus meningkatkan kewaspasdaannya perbedaan cuaca yang ekstrim dapat menimbulkan angin kencang,” tutur Sri Purnomo.




Ribuan Anak Bergandengan Tangan Sepanjang 7 Kilometer

Gandeng TanganSleman – Sebanyak 7500 orang siswa dari tingkat pendidikan TK hingga SMA diwilayah Kecamatan Berbah bergandengan tangan sepanjang 7 kilometer di mulai dari Lapangan Bercak hingga Balai Desa Tegaltirto Berbah Sleman, Rabu (11/1).

Acara tersebut merupakan rangkaian acara Deklarasi Kecamatan Ramah Anak dan Anti Kekerasan yang diselenggarakan oleh Kecamatan Berbah yang dihadari oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI bersama Dandim 0732 Sleman, Letkol Arm Djoko Sudjarwo dan Kapolres Sleman, AKBP Burkan Rudy Satria yang turun langsung ke lapangan menyapa para siswa menggunakan kendaraan jeep.

Camat Berbah, Dra Tina Hastani menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya acara tersebut adalah untuk menumbuh kembangkan segala kegiatan yang menjamin dan melindungi anak dari kekerasan serta hak-haknya untuk dapat hidup, tumbuh berkembang secara optimal baik fisik, intelegensi, dan spiritual.

“Kegiatan ini merupakan komitmen kami mewujudkan Kecamatan Berbah menjadi kecamatan ramah anak dan anti kekerasan untuk mendukung Kabupaten Sleman menjadi Kabupaten Layak Anak,” kata Tina.

Kegiatan tersebut akan diajukan untuk masuk MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) sebagai kegiatan terpanjang dan terbanyak.‬ Ini karena kegiatan tersebut dilaksanakan dengan bergandengan tangan yang dilakukan oleh para peserta.‬Mereka sambung menyambung sambil mendeklarasikan keinginan masyarakat untuk menjadikan Kecamatan Berbah sebagai Kecamatan yang Ramah Anak, dan Anti Kekerasan.‬

Dimulai sejak pukul WIB, terlihat siswa dari 37 sekolah berbaris rapi sambil bergandengan tangan dari lapangan Bercak, Jogotirto hingga Balai Desa Tegalrejo. Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI disela-sela acara tersebut  menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan bergandengan tangan tersebut.

Menurut Sri Purnomo bergandeng tangan sebagai simbol menjaga silaturahmi dan kesatuan, serta wujud tolong menolong.

“Berbagai upaya yang dicanangkan selama ini telah mengantarkan Sleman menjadi Kabupaten Layak Anak pada tingkat Madya. Capaian ini selain menjadi wujud apresiasi atas berbagai upaya yang kita lakukan tentunya juga menjadi tanggung jawab bagi kita bersama untuk dapat meningkatkan capaian ini pada tingkat-tingkat selanjutnya. Saya mengajak seluruh jajaran, baik Pemerintah, pihak sekolah, masyarakat, keluarga serta pemangku kebijakan lain untuk dapat meningkatkan sinergisitas dalam upaya mewujudkan Kabupaten Layak Anak,” kata Sri Purnomo.

Diungkapkan Sri Purnomo, berbagai kasus kekerasan terhadap anak saat ini semakin marak bermunculan. Pada tahun 2015 sebanyak 157 kasus kekerasan terhadap anak ditemukan di Kabupaten Sleman. Hal ini tentu menuntut perhatian lebih dari seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat untuk dapat menekan bahkan menghentikan kasus kekerasan terhadap anak di masa yang akan datang.

Berkaca dari kasus yang terjadi, Sri Purnomo menambahkan bahwa terciptanya kondisi lingkungan yang ideal bagi tumbuh kembang anak harus dilakukan secara holistik, terpadu dan terintegrasi.

“Saya berharap berbagai upaya pemerintah yang selama ini telah dilakukan dapat memperoleh respon positif dari seluruh komponen masyarakat melalui upaya serupa disesuaikan dengan peran dan fungsi masing-masing. Melalui komitmen kuat dan langkah bersama ini saya yakin lingkungan ramah anak dan anti kekerasan dapat terwujud,” tutur Sri Purnomo.

Sementara Muji Harjana selaku panitia pelaksana kegiatan tersebut mengatakan bahwa kegiatan deklarasi yang diawali bergandeng tangan tersebut rencananya akan diajukan ke Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI).

“Acara ini memenuhi kriteria paling, pertama, langka, pendidikan, persatuan dan kesatuan sehingga akan kami ajukan ke MURI,” kata Muji.




Keselamatan Wisatawan Jip Wisata Merapi Diutamakan

Sleman – ‪Pelaku jip wisata lereng Gunung Merapi di Kabupaten Sleman tetap mengutamakan keselamatan wisatawan saat melintasi aliran Sungai Kuning yang berhulu Gunung Merapi pada musim hujan seperti sekarang ini.‬

‪”Keamanan wisatawan tetap menjadi prioritas kami, selain di dukung peralatan keselamatan memadai, kami juga terus memantau perkembangan cuaca pada musim hujan ini,” kata Bambang Sugeng, Ketua II Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) di Sleman, Selasa (10/1).‬

‪Dikatakan Bambang, salah satu jalur jip wisata adalah melintasi aliran Sungai Kuning yang memicu andrenalin para wisatawan, namun sungai ini juga cukup berbahaya pada musim hujan karena merupakan jalur aliran banjir lahar Merapi.‬

‪”Namun sebagian besar pelaku jip wisata ini merupakan anggota SAR atau relawan bencana, sehingga mereka juga saling berkomunikasi dalam memantau perkembangan di puncak Merapi, termasuk jika ada potensi bajir lahar dingin,” katanya.‬

‪Bambang menambahkan para pelaku wisata ini sudah satu komando dan setiap perkembangan yang dinilai membahayakan wisatawan akan langsung diinformasikan ke seluruh anggota.

‪”Jadi baik yang sedang ada di trek maupun yang sedang `standby` selalu saling mendukung,” kata Bambang.‬

‪Bambang mengatakan, pada akhir pekan ini diperkirakan jumlah wisatawan yang menggunakan jasa jip wisata masih akan tinggi setelah liburan tahun baru pekan lalu.‬

‪Menurut Bambang  pada libur Natal dan tahun baru lalu, jip wisata lereng Merapi cukup banyak peminatnya dan seluruh anggota semua mendapat tamu atau wisatawan.‬

‪”Rata-rata satu anggota bisa sampai empat kali membawa tamu menyusuri rute `Lava Tour` Merapi,” katanya.‬

‪Paket dalam “lava tour” Merapi tersebut ada tiga paket, yaitu paket “short” dengan mengungjungi empat titik antara lain bekas Padukuhan Petung korban erupsi Gunung Merapi, padukuhan Jambu yang terdapat batu Allien.‬

‪”Paket short dengan jarak tempuh pergi-pulang (PP) sekitar 30 Km dan lama tempuh sekitar tiga jam,” katanya.‬

Kemudian paket medium jarak tempuh PP saekitar 34 Km dan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 3,5 jam dengan mengunjungi lima titik wisata.‬

‪”Sementara untuk paket “long” obyek yang dikunjungi lebih lengkap termasuk makam Mbah Marijan yang lokasinya di Glagaharjo Cangkringan, jarak tempuhnya PP sekitar 40 Km dengan durasi waktu saekitar empat jam,” katanya.‬

‪Ia mengatakan wisatawan akan disuguhi dan menikmati indahnya susuran Sungai Kuning dan bekas erupsi merapi yang tersebar di wilayah Kecamatan Cangkringan.‬

‪”Wisatawan juga bisa belanja dan menikmati kuliner khas Pakem dan Cangkringan, pendeknya wisatawan akan dibuat puas dengan keramahan khas pedesaan,” tuturnya.‬