Sleman Peroleh Apresiasi Sinergi Pengawasan Obat dan Makanan

Sleman – “Badan POM, Hadir Melayani dan Melindungi Masyarakat” adalah tema peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-16 Badan POM. 

Terkait dengan bentuk pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Yogyakarta telah berperan melakukan pengawasan keamanan, manfaat dan mutu produk Obat dan Makanan yang beredar di DIY.

Kepala Balai Besar POM, I Gusti Ayu Adhi Aryapatni memberi apresiasi terhadap Bupati Sleman beserta jajarannya yang telah cukup aktif bersinergi dalam kegiatan pengawasan obat dan makanan melalui Dinas Kesehatan, Dinas Disperindag, Dinas Pertanian dan lintas sektor lain di BBPOM Yogyakarta, (26/2).

Dukungan yang baik dari lintas sektor terus menerus diharapkan demi keberhasilan sistem pengawasan obat dan makanan di DIY. Selama pengawasan BBPOM di Yogyakarta tahun 2016 masih ditemukan sarana produksi dan distribusi obat, obat tradisional, kosmetik dan pangan di Kabupaten Sleman yang tidak memenuhi ketentuan.

Diantaranya yaitu, sarana produksi yang tidak memenuhi ketentuan sebesar 86,36% dan sarana distribusi yang tidak memenuhi ketentuan sebesar 39,73%.

Program Pasar Aman dari Bahan Berbahaya tahun 2016 yang dilaksanakan di Pasar Sambilegi Sleman menunjukkan penurunan jumlah sampel yang mengandung bahan berbahaya dari tahap I sebesar 21 % menjadi 12 % pada tahap II.

Porsi terbesar sampel mengandung bahan berbahaya adalah teri nasi dan ikan asin besar positif mengandung formalin serta sampel  positif rhodamin B adalah kue moho, kue kukus beras dan kukus gundul.

Hasil intensifikasi pengawasan pangan menjelang ramadhan dan Idul Fitri tahun 2016 di Kabupaten Sleman menunjukkan dari 162 sarana yang diperiksa, sebanyak 112 sarana (69,14%) Memenuhi Ketentuan (MK) dan 50 sarana (30,86%) Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK).

Selain itu juga ditemukan sebanyak 55 item produk pangan rusak, 73 item produk kedaluwarsa, 37 item produk Tanpa Izin Edar (TIE), 9 item produk Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) label dan 21 item produk mengandung bahan berbahaya.

Hasil pengawasan pangan jajanan buka puasa (takjil) dalam rangka intensifikasi pengawasan pangan terpadu tahun 2016 di Lembah UGM menunjukkan bahwa dari 16sampel yang disampling sebanyak 1 sampel (6,25%) mie goreng mengandung bahan berbahaya boraks.

Sedangkan hasil pemantauan pangan beredar bersama Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) DIY tahun 2016 di Pasar Godean Tahun 2016 menunjukkan bahwa dari 26 sampel yang disampling, sebanyak 10 sampel (%) mengandung bahan berbahaya Rhodamin B.

Hasil intensifikasi pengawasan pangan menjelang natal 2016 dan tahun baru 2017 di Kabupaten Slemandari 22 sarana yang diperiksa, sebanyak 11 sarana (50%) MK dan 11 sarana (50%) TMK dengan temuan sebanyak 35 item produk pangan rusak, 23 item produk kedaluwarsa dan24 item produk TIE.

Terhadap temuan-temuan tersebut, tindak lanjutnya adalah pemusnahan produk oleh pemilik, pengembalian produk kepada penyalur dan surat pernyataan dari penjual.

Menyadari pentingnya dukungan dari berbagai pihak demi keberhasilan sistem pengawasan Obat dan Makanan di DIY, BBPOM di Yogyakarta pada hari ini juga mengukuhkan sinergi kemitraan dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UGM.

Perjanjian Kerjasama tersebut dimaknai sebagai perwujudan peningkatan kerja sama dalam hal meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam memilih produk obat dan makanan yang aman, berkhasiat/bermanfaat, dan bermutu sebagai salah satu upaya pemberdayaan masyarakat.

Melalui berbagai kegiatan yang dilakukan, BBPOM di Yogyakarta mengharapkan agar kualitas produk Obat dan Makanan yang beredar di DIY dapat terus ditingkatkan sehingga dapat memiliki nilai jual dan mampu bersaing. BBPOM di Yogyakarta juga terus menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk turut berperan aktif dalam mengawasi peredaran Obat dan Makanan.

Jika menemukan hal-hal yang mencurigakan terkait Obat dan Makanan, hubungi Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) BBPOM di Yogyakarta melalui telp (0274) 561038 atau 552250.




 Panen Raya Padi Gapoktan ’Bimo Makmur’ Bimomartani Ngemplak

Wabup Sleman Panen PadiSleman – Gapoktan Bimo Makmur melakukan panen raya padi jenis Hibrida Sembada 168 di Rogobangsan, Bimomartani, Ngemplak, Sleman, Kamis (23/2). Panen raya yang secara simbolis diawali oleh Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun tersebut memperoleh hasil yang cukup menggembirakan yaitu rata-rata 9,18 ton/Ha.

Mulyadi selaku Ketua Gapoktan Bimo Makmur menjelaskan bahwa padi varietas Hibrida Sembada 168 tersebut baru pertama kali ditanam oleh petani di wilayahnya. Biasanya ketika musim penghujan petani sekitar Bimomartani menggunakan benih jenis Ciherang, Mikongga, dan IR 64. Bibit Hibrida Sembada 168 tersebut menurutnya merupakan subsidi dari Dinas Pertanian Kabupaten Sleman yang ditanam untuk percobaan.

”Panen raya wilayah pertanian Gapoktan Bimo Makmur Bimomartani meliputi Kalibulus, Rogobangsan, dan Krebet yang luas lahannya sekitar 100 Ha”, jelas Mulyadi.

Panen ini diharapkan mampu memotivasi para petani dalam memproduksi padi secara maksimal, sehingga Sleman mampu mempertahankan predikatnya sebagai gudang berasnya propinsi DIY.

Sementara itu Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menyampaikan bahwa dari waktu ke waktu upaya untuk mempertahankan produksi beras di Sleman menghadapi tantangan yang sangat berat. Terle­bih lagi luas lahan pertanian yang ada di Sleman ini dari tahun ke tahun semakin menyusut.

”De­ngan pelak­­­sa­­na­an panen raya padi ini saya semoga dapat memotivasi kelom­pok-kelompok tani lainnya untuk mengoptimalkan produk­sinya”, kata Muslimatun.

Menurutnya Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya untuk meningkatkan inovasi dalam menjawab tantangan yang ada termasuk dalam pertanian. Pemerintah Kabupaten Sleman telah menggalakkan pola tanam jajar legowo dan mewajibkan pola tanam jajar legowo bagi kelompok tani yang menerima bantuan.

Keunggulan dari pola tanam ini adalah peningkatan hasil produksi, karena pola tanam ini berimplikasi pada kemudahan dalam pemberian pupuk dan pengendalian organisme penggangu serta kemampuan dalam menjaga kesuburan tanah karena adanya jarak tanam.

Selain itu Pemerintah Kabupaten Sleman juga mewajibkan penambahan pupuk organik sebagai upaya dalam menjaga kualitas hasil produksi yang aman bagi kesehatan, adanya pola tanam dan pemupukan berimbang serta menggalakkan pertanian pangan yang ramah lingkungan.

Harapannya melalui berbagai inovasi yang kami galakkan ini dapat berkontribusi secara positif terhadap peningkatan hasil produksi pertanian khususnya padi di Kabupaten Sleman.

”Saya berharap ke depan petani dapat terus berinovasi mengembangkan budidaya pertanian guna meningkatkan kesejahteraan keluarga. Berkaitan dengan hal ini, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan, diharapkan dapat terus memotivasi petani agar semakin inovatif dan bisa memanfaatkan tekhnologi tepat guna dalam upaya meningkatkan produktifitas pertanian.




Rapat Anggota Tahunan KPRI-KP2KS

Sleman – Perkembangan koperasi di Kabupaten Sleman hingga semester pertama tahun 2016 tercatat ada 654 koperasi dengan jumlah anggota orang. Bupati Sleman Sri Purnomo menyampaikan bahwa keberadaan koperasi telah terbukti berperan dalam peningkatan dinamika perekonomian masyarakat dalam acara Rapat Anggota Tahunan (RAT) KPRI – KP2KS Kabupaten Sleman di Gedung Serba Guna Denggung Sleman, Rabu (22/2).

”Namun untuk mewujudkan koperasi yang baik dan mampu berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sangat tergantung pada profesionalitaspara anggota dan pengurusnya”, jelas Sri Purnomo.

Sri Purnomo menjelaskan bahwa  jumlah aset yang terkumpul mencapai lebih dari Rp 1,1 triliun dan SHU yang terkumpul dan dibagikan anggota sebesar 32,2 Milyar meningkat 11% dari tahun sebelumnya.

Menurutnya diperlukan inovasi dan kreatifitas para pengurus dan anggota untuk menciptakan terobosan-terobosan baru guna pengembangan usaha serta program-program yang senan­tiasa ber­o­rientasi pada kesejahteraan anggota dan bukannya terjebak pada upaya untuk meraih keuntungan bagi pengurusnya, sehingga dapat ber­saing secara sehat dengan koperasi atau lembaga keuangan lainnya.

Lebih lanjut Sri Purnomo menyampaikan bahwa untuk dapat bersaing, koperasi perlu menetapkan bunga pinjaman yang kompetitif bahkan lebih rendah dibanding koperasi atau lembaga keuangan lainnya. Demikian pula dengan penentuan harga di bidang pertokoan yang idealnya lebih murah dibanding harga-harga di luar.

Sri Purnomo berharap KPRI – KP2KS dapat terus meningkatkan profesionalismenya dalam mengelola badan usaha, tidak hanya sebagai upaya dalam mengembangkan KPRI – KP2KS namun juga diharapkan melalui kinerja profesionalisme yang ditampilkan dapat menjadi magnet bagi para anggota baru untuk bergabung serta dapat terus berupaya melakukan ekspansi usaha sehingga dapat bergerak pada bidang usaha lainnya.




Hadapi Dunia Kerja, Lulusan SMK Harus Memiliki Skill

Sleman – Dalam menghadapi dunia kerja,disiplin dan pintar saja tidaklah cukup bagi lulusan SMK. Hendaknya ketika lulus para siswa SMK juga memiliki skil yang telah dibekali di bangku sekolah maupun ketika Praktek Kerja Lapangan (PKL). Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman Sri Purnomo dalam acara Launching SMK Muhammadiyah Pakem sebagai Sekolah Berbasis Industri, Sabtu (18/2).

Sri Purnomo menyampaikan bahwa SMK seharusnya menyatu dengan dunia usaha maupun dunia industri  sesuai kejuruan masing-masing. Sebagai langkah awal, teori yang didapatkan di sekolah selanjutnya diterapkan dan dikembangkan sesuai dengan perusahaan maupun dunia usaha tempat mereka magang. Selain itu Sri Purnomo berharap para guru juga terus mengupdate perkembangan ilmu yang ada serta mengupgrade fasilitas praktikum di sekolah.

“Hal ini dilakukan supaya tidak ada disparitas antara ilmu yang didapatkan disekolah dengan dunia kerja yang dihadapi”, jelas Sri Purnomo.

Acara launching yang ditandai dengan pelepasan balon oleh Bupati Sleman tersebut dihadiri langsung rombongan General Manager, Owner, dan Direktur dari 25 perusahaan industri ternama dari komplek industri Cikarang, Bekasi. Direktur PT. Chemco Harapan Nusantara, Tata Herjendra Widhisatmaka yang sekaligus menjadi pimpinan rombongan sependapat dengan Bupati Sleman.

Menurutnya ketersediaan tenaga kerja yang memiliki skill saat ini relatif langka. Perlu adanya sinergitas dengan pelaku industri untuk meningkatkan lulusan SMK yang berkualitas dan memiliki skill.

“Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan anak SMK yaitu dengan memperpanjang waktu magang. Mereka juga diberikan shift yang sama seperti karyawan lainnya agar merasakan dunia kerja yang sesungguhnya. Sehingga ketika lulus dan menghadapi dunia kerja mereka sudah terbiasa”, jela Tata.

Tata berharap dengan hadirnya para pelaku usaha di acara launching tersebut dapat terbuka kerjasama antara SMK dengan perusahaan industry baik dari PKL/magang hingga penyerapan tenaga kerja.

“Saat ini ada sekitar 57 SMK di Yogyakarta, namun baru beberapa saja yang melakukan kerjasama dengan perusahaan industry di Cikarang. Kami mendorong SMK yang ada di Yogyakarta untuk dapat bekerjasama dengan kami. Karena kami sangat berharap dengan kerjasama tersebut dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menghadapi dunia kerja nantinya”, tambah Tata.




Pembentukan Karakter Anak Dipengaruhi Oleh 3 Faktor

Bupati Sleman Berikan PengarahanSleman – Setelah sebelumnya diadakan pembinaan Penguatan Pendidikan Karakter bagi Kepala SMA/SMK di Gedung Serbaguna Sleman, dilakukan lagi Penguatan Pendidikan Karakter bagi sekitar 300 peserta dari Kepala SMP/MTS serta Ketua Komite, Rabu (8/2). 

Kepala Dinas Pendidikan Sleman Arif Haryono, SH menyampaikan maraknya tindak kriminalitas di DIY yang dilakukan pelajar mendorong semua pihak untuk peduli dan mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Arif memandang perlu upaya untuk mengembangkan kecerdasan afektif sama pentignya dengan pengembangan intelektual, selain akademik juga perlu penguatan pendidikan karakter.

Untuk itu Arif Haryono mengharapkan Komite Sekolah sebagai mitra sekolah memiliki peran penting dalam membantu sekolah dengan bersinergi dalam pengembangan karakter anak-anak sebagai nara sumber Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSI dan Kapolres Sleman AKBP. Burkhan Rudi Satrio.

Bupati Sleman dalam kesempatan ini menyampaikan kondisi kenakalan remaja saat ini memang menjadi keprihatinan sehingga diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi jawaban atas permasalahan dan kenakalan remaja dapat tertangani.

Lebih Lanjut Sri Purnomo mengatakan ada tiga hal yang terlibat dalam pembentukan perilaku anak-anak yaitu orang tua, sekolah dan lingkungan. Apabila salah satu dari tiga hal tersebut tidak berfungsi dengan baik maka salah satu dampaknya adalah munculnya kenakalan remaja. Orang tua bertanggungjawab terhadap pembentukan karakter dan pendidikan anak-anak ketika berada di rumah.

Banyak orang tua sekarang yang terlalu sibuk bekerja sehingga perhatian kepada anak menjadi berkurang. Mereka mengumbar berbagai fasilitas untuk anak mereka tanpa adanya kontrol sehingga terkadang hal tersebut justru menjerumuskan anak ke dalam kenakalan.

Pembentukan karakter anak selanjutnya dipengaruhi oleh sekolah dalam hal ini yang memiliki peran penting adalah guru. Tidak mudah memang untuk menjadi guru yang ideal, namun selayaknya cita-cita untuk menjadi guru didasari oleh sebuah idealisme yang luhur, untuk menciptakan para remaja sebagai generasi penerus yang berkualitas.

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah kondisi lingkungan pergaulan. Menciptakan lingkungan pergaulan yang kondusif ini menjadi tanggung jawab bersama.

Peran Lingkungan pun harus lebih peduli, dengan menganggap para remaja yang ada di lingkungannya adalah tanggung jawab bersama, tentunya lingkungan pun akan dapat memberikan informasi yang benar kepada orang tua tentang tindak tanduk si remaja tersebut dan kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangannya agar tidak terjebak dalam kenakalan remaja.

Tak kalah penting untuk diperhatikan adalah perkembangan teknologi informasi saat ini. Teknologi informasi membawa banyak manfaat, namun ternyata juga membawa pengaruh negatif. Apalagi anak-anak sudah dengan bebas dan mudahnya mengakses informasi melalui dunia maya.

Jika tanpa pengawasan orang tua, guru dan tanpa kepedulian masyarakat, akan mengakibatkan terjadinya kenakalan anak. Bupati berpesan kepada para Kepala Sekolah untuk tingkat SMK agar dapat melakukan inovasi dan evaluasi terhadap sarana dan prasarana praktek sekolah, Karena SMK diharapkan dapat menyiapkan siswa lulus siap kerja dan bersaing baik di negeri sendiri maupun di luar negeri.

Hal ini karena saat ini sudah dimulai persaingan tenaga kerja dengan maraknya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia. Selanjutnya bagi Kepala Sekolah SMA agar dapat menyiapkan siswanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Jangan kuatir bagi siswa yang kurang mampu bila prestasinya bagus banyak biasiswa yang telah disiapkan oleh Pemerintah maupun swasta yang peduli terhadap pendidikan.

Sementara itu Kapolres Sleman memaparkan penanganan masalah kriminalitas Pelajar. Kapolres menyebut kriminalitas karena tindakan pelajar saat ini sudah bukan lagi kenakalan remaja karena sudah merupakan tindakan kriminal mengingat para pelajar bertindak bukan dengan tangan kosong lagii tetapi sudah menggunakan senjata tajam  yagn bertujuan untuk melukai orang lain.

Kejadian yang terjadi di DIY sampai dengan akhir November kemarin 43 kasus dan di Sleman mencapai 21 kasus. Polres Sleman berupaya membatasi gerak dengan menempatkan 2 anggotanya disekolah-sekolah yang dicurigaisebagai pemicu pada saat pulang sekolah dan melakukan operasi dititik-titik kumpul. Dan untuk menimbulkan efek jera terhadap pelanggar hukum bila ancaman hukuman di atas 7 tahun pelaku langsung ditahan dan diproses secara hukum.

Saat ini ada 14 anak yang di tahan di Polsek Pakem, Turi dan Gamping. Tindakan tegas ini memang banyak mendapat tantangan dari berbagai pihak namun bagaimanapun hukum harus ditegakkan dan terbukti saat ini sudah menurun tingkat kriminalitas pelajar.

Kapolres juga memaparkan latar belakang anak yang melakukan tindak kriminal kebanyakan dipengaruhi oleh faktor keluarga yakni kurangya perhatian dari orang tua, adanya kekerasan terhadap anak, dan ketidak harmonisan hubungan orang tua/broken home.