Jogja Adventure Kids Ajak Anak lepas Burung dan Tanam Epifit

IMG_4267Sleman – Angin beliung yang melanda daerah Condong Catur termasuk area kampus UPN “Veteran Yogyakarta, mengakibatkan banyak pohon roboh, termasuk tumbuhan Epifit beserta inangnya, dan burung kehilangan sarangnya. 

Jogja Adventure Kids mengajak anak – anak untuk mengambil peran dalam penanaman tumbuhan Epifit, ditanam kembali ke inang / indukannya yang baru.

“Diketahui bahwa tumbuhan Epifit, salah satunya jenis Simbar Menjangan adalah tempat biasa semut Rangrang hidup dan bertelur. Telur semut yang disebut “Kroto” ini adalah pakan bagi burung-burung liar”, kata Zaeni, salah satu anggota Jogja Adventure Kids UPN Condong Catur, Sleman, Minggu (19/3).

“Artinya, menanam tumbuhan Epifit, selain mempercantik taman kampus, juga menyiapkan kebutuhan pakan burung secara alami”, tambahnya

Dalam kesempatan tersebut, anak – anak diajak belajar langsung di alam terbuka. Melepaskan burung, adalah salah satu kegiatan Jogja Adventure Kids. Memanjat pohon (tree climbing) dibawah panduan Mapala UPN divisi panjat tebing.

Selain itu, anak anak juga diperkenalkan dengan beberapa jenis tangga berbahan bambu, dan juga memanjat dengan alat climbing. Memberikan pakan burung liar dengan alat bantu “bird feeder” semakin seru, karena alat itu dibuat dari hasil karya dari anak anak sendiri. Jogja Adventure Kids menyampaikan pesan bahwa burung menjadi bagian dari ekosistem.

Burung mengendalikan hama serangga, ulat dan semut, sehingga hasil panenan bapak petani menjadi bagus. Burung juga berperan dalam persebaran biji – biji tumbuhan.

Kampus adalah pertahanan terakhir dari sebagian “hutan kota” yang ada. Kesadaran menata ruang hijau, lebih mudah dibangun dikalangan akademisi kampus daripada masyarakat umum kota. Yang saat ini, dihadapkan pada kebutuhan pemukiman hunian yang semakin hari, semakin sempit.

Tak heran jika pohon dihalaman rumah, dengan mudahnya dipotong karena alasan sederhana menghalangi papan baliho toko. Padahal asupan oksigen (udara bersih) yang dihasilkan dari pohon tetap dibutuhkan manusia dalam keseharian, agar lingkungan tetap sehat.

Burung membutuhkan pohon, manusia membutuhkan pohon, manusia membutuhkan burung. Semua saling terkait dan harmoni. Kampus / universitas, idealnya menjadi contoh dalam penataan ruang hijau, serta menginspirasi masyarakat sekitar kampus untuk serta peduli lingkungan hidup.




Latihan Bersama Komunitas Musik Bambu

Berlatih Suling BambuSleman – Sekelompok anak muda itu tampak sabar dan telaten mengajari anak-anak dan ibu-ibu rumah tangga memainkan suling bambu. Sesekali mereka tertawa lepas ketika suling yang ditiup hanya mengeluarkan suara angin tanpa bunyi, atau mengeluarkan nada yang fals. 

Berlembar-lembar kertas bertuliskan not terhampar di tikar, di antaranya not lagu Perahu Layar, dan lagu sederhana Topi Saya Bundar. Sementara itu di belakang mereka, di panggung utama, sekelompok remaja dari SMKN 1 Depok sedang memainkan angklung.

Anak-anak muda yang mengajari suling itu adalah anggota Komunitas Suling Bambu Nusantara. Mereka sehari-harinya adalah mahasiswa, yang memiliki keprihatinan yang sama karena suling bambu kini sudah tergantikan oleh suling plastik. Menurut mereka suling bambu jauh lebih baik karena merupakan produk asli nusantara dan lebih sehat karena jauh dari bahan kimia seperti halnya plastik.

Padukuhan Senuko, Desa Sidoagung, Godean tampak lebih ramai Minggu (19/1) pagi itu. Tujuh komunitas penggiat alat musik bambu berkumpul dan berlatih bersama.

Mereka adalah Bahana Desa (Senuko, Godean), Komunitas Suling Bambu Nusantara, Laras Asri (Purwomartani, Kalasan), Gita Bambu Asri (Donokerto, Turi), Rumpun Gita Musika (Sinduharjo, Ngaglik), DMC (SMKN 1 Depok), Angklung Kadirojo (Kadirojo, Kalasan), dan Komamutu (Murangan, Sleman).

“Ini acara tahunan latihan bersama. Ini yang kedua, tahun lalu di SMKN 1 Depok. Biasanya latihan bersama ini adalah latihan pemanasan sebelum “konser warga” yang akan dilaksanakan sekitar bulan September-Oktober besok. Tahun lalu konser warga ini kita laksanakan di pendopo Ambarukmo,” terang A’yun, salah seorang anggota Komunitas Suling Bambu Nusantara.

Komunitas-komunitas alat musik bambu ini menggelar latihan bersama-sama dengan biaya swadaya dan lokasinya selalu berpindah-pindah.

“Cita-cita kami bukan untuk biar terkenal atau mencariperhatian atau bagaimana. Latihan bersama termasuk mengajari suling bambu ini sebagai alat utuk silaturahmi dan mencari saudara. Merasakan suasana yang guyub”, tambah A’yun.

Kami berharap ke depannya kita tetap bermusik bambu bersama-sama, menambah anggota atau desa untuk lokasi latihan bersama. Syukur-syukur ada pihak yang membantu karena selama ini kita murni swadaya untuk dana dan tempat latihan,” pungkas A’yun.