Mengenal Sejarah Stasiun Maguwo

Sleman – Stasiun Maguwo Lama merupakan satu dari sedikit stasiun kayu yang tersisa di Indonesia. Bangunan kayu tersebut diresmikan pada tahun 1909 dan sejak itu menjadi saksi dari kejayaan 18 pabrik gula yang pernah berdiri di Yogyakarta. Bukan itu saja, Stasiun Maguwo Lama juga menyimpan banyak kisah-kisah pilu Yogyakarta di masa Agresi Militer II.
Stasiun Maguwo Lama mulai beroperasi seiring beroperasinya jalan rel rute Klaten – Lempuyangan (30 km) oleh perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij). Jalan rel tersebut merupakan bagian dari jalur kereta api rute Solo – Yogyakarta yang dibangun oleh NIS.
Bangunan stasiun Maguwo Lama yang didirikan pertama kali itu selanjutnya dibongkar pada tahun 1930, kemudian dibangunlah bangunan baru yang dapat dilihat sampai sekarang. Meski saat ini sepi dan tidak ada aktivitas perkeretaapian lagi, namun ternyata stasiun ini menyimpan banyak cerita bersejarah.
“Stasiun Maguwo lama merupakan stasiun unik karena menjadi satu dari sedikit stasiun yang masih memakai kayu sebagai bahan utama,” kata Seksi Bidang Bangunan Komunitas Roemah Toea, Hari Kurniawan saat Kelas Mewarnai Indonesia Seri Menulis dan Jelajah Heritage di Stasiun Maguwo Lama, Minggu (2/4). Kelas Mewarnai Indonesia Seri Menulis dan Jelajah Heritage ini sendiri adalah upaya yang digagas untuk mempromosikan nilai-nilai budaya Jogja. Diikuti oleh mahasiswa, blogger, dan pecinta fotografi, acara berlangsung ramai dan unik karena peserta mengenakan pakaian rakyat Jawa tempo dulu dan pakaian pejuang di era revolusi.
Bergaya arsitektur Eropa, Stasiun Maguwo Lama berbentuk persegi panjang, memiliki empat ruang, yaitu ruang PPKA (pimpinan perjalanan kereta api), ruang kepala stasiun yang tergabung dengan loket tiket, ruang dapur dan ruang tunggu penumpang.
Ketika masih aktif, stasiun ini melayani bongkar muat pupuk Sriwijaya ke gudang pupuk dan melayani angkutan ketel untuk memasok Avtur ke Bandara Adisucipto. Seiring dengan diaktifkannya Stasiun Maguwo baru pada tahun 2008 yang terintegrasi dengan bandara Adisucipto maka stasiun Maguwo lama ini dinonaktifkan. Karena memiliki nilai sejarah, maka bangunan stasiun Maguwo lama kemudian masuk ke dalam daftar bangunan cagar budaya.
Pada tahun 2010, Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan – PT Kereta Api Indonesia (persero) melakukan perawatan dengan cara memperbaharui warna cat sehingga tampak lebih bersih dan rapi. Bangunan yang sudah lama tidak berfungsi ini direncanakan akan dihidupkan kembali agar bermanfaat bagi masyarakat luas. Saat ini bangunan antik tersebut banyak dimanfaatkan oleh para pecinta bangunan heritage, komunitas fotografi, dan blogger.


