Operasi Katarak Gratis, Secercah Cahaya Bagi yang Membutuhkan

Sleman – Bagi sebagian orang bisa melihat mungkin adalah hal yang biasa namun tidak untuk Ngadiyono, warga Pereng Dawe, Bale Catur. Kembali dapat melihat dengan jelas merupakan hal yang sangat diharapkan oleh pria kelahiran 64 tahun silam ini.

“Saged resik, padang, kalih-kalihe pun mbothen ketingal (bisa bersih, terang, dua-duanya sudah tidak kelihatan-red),” ungkap Ngadiyono.

Ngadiyono merupakan satu dari 55 warga yang lolos dari screening operasi katarak gratis yang diinisiasi oleh Kabupaten Sleman bekerja sama dengan PERDAMI (Persatuan Dokter Mata Indonesia) DIY dalam rangka hari jadi Kabupaten Sleman yang ke-101.

Ditemui pada Sabtu (13/5), dr. Widya Prafitri Rasmiyati, SpM. MSc, selaku penanggung jawab operasi katarak gratis sekaligus dokter mata RSUD Sleman, mengungkap bahwa penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia adalah katarak. Katarak ini merupakan penyakit degeneratif pada usia lanjut yang mana faktor risikonya menjadi besar karena Indonesia berada di daerah tropis dengan paparan sinar ultraviolet yang tinggi.

“Karena paparan sinar matahari yang tinggi jadi kasusnya banyak,” terang dr Widya.

Operasi katarak yang dijalani oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, menurut dr. Widya belum tercover biaya asuransi. Sementara, apabila tidak tercover, biaya yang harus dikeluarkan oleh penderita untuk satu mata bisa mencapai 5 juta rupiah.

Dengan operasi katarak yang berlangsung dua hari pada Sabtu dan Minggu, 13-14 Mei 2017 di RSUD Sleman ini, pasien akan mendapat pengobatan dan perawatan gratis hingga 28 hari post operasi. Bahkan, selama 28 hari tersebut, pasien akan dicek secara berkala untuk melihat perkembangan dari hasil operasi.

Dr. Krisna Dwi, perwakilan dari PERDAMI DIY, menambahkan dengan adanya operasi katarak gratis ini, diharapkan penderita dapat kembali melakukan kegiatannya sehari-hari secara lebih maksimal, terutama bagi mereka yang merupakan tulang punggung keluarga. Khusus untuk operasi katarak ini, dr. Krisna Dwi membeberkan bahwa PERDAMI DIY siap menerjunkan 15 personil senior.




Pelestarian Budaya Lewat Lomba Macapat Tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK di Kecamatan Turi

Turi – Sabtu (13/5) telah berlangsung lomba macapat untuk siswa SD, SMP, dan SMA/ SMK di Kecamatan Turi. Adapun tujuan dari diadakannya lomba macapat ini adalah untuk menjalankan program Pemerintah Daerah Sleman dalam upaya pelestarian budaya yang mana tingkat kecamatan merupakan pusat, pengembangan, dan pelestarian budaya.

Selain itu, lomba ini juga dimaksudkan untuk ikut menyemarakkan ulang tahun Kabupaten Sleman yang ke-101 sekaligus mencari bibit-bibit muda yang bisa menyanyikan tembang macapat.

Lomba macapat ini diikuti oleh 15 siswa SD, 12 siswa SMP, dan 8 siswa SMA/SMK di Kecamatan Turi. Adapun juri dari lomba adalah Drs Hadisuwanto, Marjuki, dan Sajiyono. Berikut daftar pemenang lomba macapat untuk tingkat SD ketgori putera Bagas Resandi, SD Turi 3; Huda Saka S, SD Wonosari; Ridho Ade G, SD Karanganyar; Mikael F.F, SD Tarakanita Ngembesan.

Sedang kategori puteri Shafa Sabrina, SD Turi 3; Andini Deby, SD Wonosari 1; Debrina Maria, SD Karanganyar; Margaretta A, SD Tarakanita Ngembesan.

Dan, untuk tingkat SMP kategori putera Dominikus H.S, SMP N Turi 1; Adi Setiawan, SMP N Turi 3; Jati Fahrudin, SMP N Turi 2; Muh Masduki, SMP Insan Cendekia. kategori puteri Gloria Kinanti, SMP N Turi 3; Amarati Hidayani, SMP Aloyisius T; Shinta Aprillia, SMP N Turi 1; Anjas Sinta W, SMP N Turi 2.

Tingkat SMA/ SMK kategori putera Arji Andika, SMK Insan Cendekia; Lukky Antana, SMK Muhammadiyah 1; Riyan Adytya, SMK Muhammadiyah 2; Fahuzi Aditama, SMK Muhammadiyah 1. Kategori puteri Maria Aurel ER, SMA N Turi 1; Ayu Anggita, SMK Muhammadiyah 1; Manik Susanti, SMK Muhammadiyah 2; Isrowiyah, SMK Insan cendekia. Suharno/