Sleman The Living Culture Part of Jogja

Sleman – Sleman The Living Culture Part of Jogja yang diluncurkan pada peringatan hari jadi ke-101 Kabupaten Sleman pada 15 Mei 2018 yang lalu, hendaknya tidak dianggap sebagai akhir dari proses branding itu sendiri, demikian disampaikan oleh Dr. Sumbo Tinarbuko dalam acara Sosialisasi Brand Sleman di Aula Bappeda Sleman, Rabu (31/5).

Peluncuran brand pada hakikatnya adalah langkah awal Kabupaten Sleman untuk mulai bersaing dengan daerah lain dalam memasarkan potensi yang dimilikinya.

Sosialisasi perlu terus dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman dalam upaya menginternalisasikan brand ini, sehingga konsep the living culture dapat terlihat dalam peri kehidupan masyarakat Sleman, sehingga tujuan akhir yang ingin dicapai melalu brand baru ini dapat tercapai.

Dr. Ike Janita Dewi, selaku narasumber utama penyusunan brand baru Sleman menyampaikan bahwa brand baru Sleman ini ditujukan untuk lebih mengenalkan Sleman sebagai tujuan wisata, perdagangan dan investasi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Potensi yang ada tersebut perlu upaya pemasaran berkelanjutan, yang dilakukan tanpa mengenal lelah dan terukur, sehingga keinginan untuk mensejahterakan masyarakat Kabupaten Sleman dapat segera terwujud.

Dra. Hj. Sudarningsih, , Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa proses pencarian brand baru Sleman yang awalnya ditujukan untuk pariwisata Sleman telah melalui beberapa pertemuan dengan semua stakeholder pariwisata.

Namun dalam perkembangannya, brand baru ini menjadi brand bagi Kabupaten Sleman, yang diharapkan dapat menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Sleman.

Melalui brand ini, ke dalam diharapkan dapat memberi kebanggaan bagi warga Sleman yang tinggal dan hidup di lingkungan yang berkebudayaan, dalam lingkup Jogja Istimewa. Selain itu, brand ini diharapkan mampu menarik lebih  banyak wisatawan, pebisnis dan investor untuk datang dan berinvestasi di Kabupaten Sleman.

Sosialisasi brand Sleman kali ini dihadiri oleh lebih dari 90 orang yang merupakan perwakilan dari DPRD Kabupaten Sleman, OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman, kecamatan dan desa se-Kabupaten Sleman, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, komunitas/asosiasi dunia usaha dan pariwisata, dan wartawan.

Beberapa peserta yang hadir meyakini dengan brand baru Sleman, warga Sleman semakin bangga dengan wilayahnya dan akan berusaha untuk menginternalisasikan brand ini dalam kehidupan kesehariannya, sehingga Sleman menjadi daerah tujuan wisata dan investasi utama di Daerah Instimewa Yogyakarta.




Sleman Terpilih Menjadi Pilot Project Smart City

Sleman – Sebanyak 25 Kabupaten/kota se Indonesia menjadi Pilot Project penerapan kota pintar (Smart City) di Indonesia, Kabupaten Sleman menjadi satu – satunya perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini tertuang dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dalam rangka Program Gerakan menuju 100 smart city di Hotel Four Point Sheraton, Makassar Sulawesi Selatan, (22/05).

Pada tahun pertama in (2017), telah terpilih 25 kota/kabupaten yang akan mengikuti tahap pertama Gerakan Menuju 100 Smart City ini. Dalam dua tahun ke depan, akan dipilih 75 kota dan kabupaten lainnya. Dengan demikian, di tahun 2019 nanti, diharapkan akan terbentuk 100 kota/kabupaten yang memiliki pondasi kuat untuk menjadi smart city.

Kota/kabupaten ini dipilih dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti Dimensi Pembangunan Sektor Unggulan, Dimensi Pembangunan Pemerataan dan Kewilayahan, serta Nawa Cita. Kandidat kota juga telah melalui proses assessment yang mengukur kesiapan visi, regulasi, SDM, serta potensi di tiap daerah.

Terpilihnya Kabupaten Sleman didasari dari hasil assessment oleh tim dari Kementrian Kominfo yang dilakukan terhadap 80 kabupaten kota se Indonesia pada 2-3 Mei lalu di Pustiknas, Ciputat, Tangerang, dan  “Kabupaten Sleman menjadi salah satu dari 25 kabupaten/kota yang terpilih”.

Sebagai kabupaten yang berpredikat kabupaten pintar, Sleman nantinya akan mendapat dukungan serta bantuan dari kemenkominfo untuk mewujudkan Sleman Smartcity (Smart Regency) sampai 2 tahun kedepan. Dukungan tersebut dalam bentuk fasilitasi, pendampingan, konsultasi, pelatihan, studi banding, yang memadukan kota yang telah matang dengan kota yang sedang menuju smart city.

Ini akan mempercepat proses Sleman menjadi Kabupaten Cerdas sesuai dengan visi yaitu menuju Sleman Smart Regency melalui sinkronisasi program-program strategis dari kementrian ke pemerintah daerah, dengan kolaborasi ABGC (Academic, Bussiness, Government, Community).

Program 100 smart city diprakarsai oleh Kementerian Informasi dan Komunikasi bekerja sama dengan Kemendagri, Kementerian PU, Kementerian PPN/Bappenas. Sebanyak 25 Kabupaten/Kota yang terpilih sebagai Smart City pada tahap pertama ini hadir untuk melakukan penandatanganan MoU dengan Kementerian Informasi dan Komunikasi.

Kabupaten Kota tersebut yakni Semarang, Sleman, Singkawang, Makassar, Bogor, Tomohon, Badung, Siak, Mimika, Gresik, Jambi, Sidoarjo, Bandung, Cirebon, Bekasi, Purwakarta, Sukabumi, Samarinda, Tanggerang Selatan, Kutai Kartanegara, Tanggerang, Banyuasin, Pelalawan, Bojonegoro, dan Banyuwangi.




Menjaga Pikiran, Mata, dan Telinga Agar Puasa Lebih Berkualitas

Ngaglik – Minggu (28/5), Bupati Sleman Drs. H Sri Purnomo, berkesempatan mengisi tausiyah di Masjid Besar Bairurrahman Dusun Klidon, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman.

Dalam rangka menyemarakan bulan suci Ramadan, setiap tahunnya Dusun Klidon telah menjadwalkan khatib atau pengisi ceramah Salat Tarawih di Masjid Besar Baiturrahman Dusun Klidon di luar dari Program Tarawih Keliling yang dilaksanakan rutin oleh pihak Kabupaten Sleman.

Dalam ceramah yang berlangsung pada pukul WIB ini, Bupati Sleman menerangkan mengenai banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas ibadah selama bulan puasa.

Beliau berpesan bahwa puasa tidak hanya menahan makan, minum, dan nafsu saja tetapi yang lebih penting adalah bagaimana bisa menahan pikiran, mata, telinga, dan anggota badan lainnya yang memiliki kecenderungan diganggu oleh syaitan (setan-red). Hal tersebut harus dijaga betul selama menjalankan puasa sehingga nantinya kita dapat memeroleh derajat muttaqin karena telah melaksanakan puasa yang berkualitas

Dalam tausiyahnya, Bupati Sleman juga menyinggung mengenai era teknologi informasi yang mana dalam menggunakannya harus disaring atau difilter. Ini untuk mengantisipasi penyebaran hal negatif. Seperti diketahui teknologi informasi diharapkan bisa meningkatkan kualitas kehidupan manusia, bukan malah sebaliknya.

Tausiyah ini dihadiri kurang lebih 600 jemaah dan dihadir pula Camat Ngaglik, Anggoro, SH, , Kepala Desa Sukoharjo, Hadi Subronto, perangkat desa, serta masyarakat sekitar.




Supporter PSS Sleman dan PPSM Sakti Magelang Tandatangani Kesepakatan Damai

Sleman – Sehubungan dengan kabar bentrok yang terjadi antara supporter PSS Sleman dengan warga Magelang, Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo,  bersama Walikota Magelang, Ir. H. Sigit Widyonindito, M.T. mengadakan klarifikasi sekaligus penandatanganan surat perjanjian damai pada Jumat (26/5).

Bertempat di Pendopo Pengabdian Rumah Dinas Walikota Magelang, hadir pula Wakil Bupati Sleman, Dra. Hj. Sri Muslimatun, , perwakilan dari Kapolres Magelang Kota, AKBP Hari Purnama, perwakilan dari Kapolres Sleman, AKBP Burhanrudi, Dandim Sleman, perwakilan PSS Sleman, perwakilan PPSM Sakti Magelang, serta SKPD Sleman dan Magelang Kota beserta jajarannya.

Dalam sambutannya, Walikota Magelang, menyampaikan apresiasinya atas upaya damai yang dilakukan kedua belah pihak.

“Luar biasa jadi kesepakatan damai dari saudara kita yang ada di Sleman berkaitan sepak bola hari ini dicapai,” tutur Sigit Widyonindito.

Hal ini juga diamini oleh Bupati Sleman yang menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan langkah yang bagus dan strategis guna menanggapi isu yang beredar di media sosial.

“Jadi perlu ada silaturahmi untuk memperjelas masalah,” jelas Sri Purnomo.

Dengan bertemu dan bertatap muka maka harapannya supporter dari PSS Sleman dan PPSM Sakti Magelang dapat saling sepemahaman.

“Saling kenal mengenal, tolong menolong, kemudian terjadi keakraban,” lanjutnya.

Walikota Magelang sendiri juga berharap konflik semacam ini menjadi konflik pertama dan yang terakhir sehingga ke depannya persepakbolaan di Indonesia menjadi lebih maju dan lebih baik.

“Negara ini bisa maju, olahraganya jadi baik,” tambah Sigit.

Pada kesempatan ini pula, sebagai bentuk kesepakatan berdamai, perwakilan dari supporter PSS Sleman dan PPSM Sakti Magelang menandatangani surat kesepakatan perdamaian yang diketahui oleh Bupati Sleman dan Walikota Magelang.

Adapun poin penting yang perlu digarisbawahi dari perjanjian ini adalah terkait penyelesaian permasalahan terhadap korban luka-luka dan mengalami kerugian materiil yang akan diselesaikan secepatnya setelah perjanjian perdamaian ini disepakati.




Animasi Jadi Unggulan Sleman

Sektor animasi, film dan video menjadi unggulan Sleman dalam Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Selain animasi, sektor lain yang menjadi unggulan Sleman adalah Bambu dan Seni Pertunjukan.

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan Dra. Suyamsih, memaparkan bahwa atmosfer industri film, animasi dan video sangat kuat di Sleman. “Pelaku di sektor industri ini tidak hanya berkarya tetapi juga mampu meraih prestasi di tingkat lokal, nasional, regional bahkan dunia. Hal ini kemudian membuat SDM film dan animasi di Sleman banyak dicari di tingkat nasional dan bahkan internasional,” papar Suyamsih di hadapan Tim Asesor Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia di Hotel Grand Mercure Jakarta Selasa (23/5).

Di wilayah Sleman saat ini terdapat 9 studio animasi, 16 komunitas, 16 lembaga pendidikan di berbagai tingkat dengan jurusan animasi, 20-an rumah produksi film, 5 bioskop film dan 3 televisi lokal. Salah satu yang menonjol adalah rumah produksi MSV Pictures yang beralamat di Universitas AMIKOM. Salah satu film animasinya yang berjudul Battle Of Surabaya berhasil menyabet berbagai penghargaan internasional seperti Gold Winner Remi Award Houston 2016, Winner Best Animation Noida Int Film Fest, Grandprize Winner Sicaf Seoul 2016, Holland Animation Official Selection 2016, Nice Int Official Selection 2017, Athens Animfest Official Selection 2016.

Selain itu, sektor animasi, film dan video memiliki daya ungkit yang tinggi sekali karena mampu menjadi daya ungkit bagi industri konvensional lain seperti pariwisata, manufaktur, boneka, cinderamata dan subsektor ekonomi kreatif lain seperti para pembuat game dan aplikasi, periklanan, fashion, dan penata musik.

Di Sleman, kolaborasi dalam ekosistem sinergi antar aktor telah terjalin. Saat ini di Sleman terdapat Komunitas Sleman Kreatif yang beranggotakan para pelaku industri film, animasi dan video, komunitas, akademisi dan unsur pemerintah. Kultur gotong royong sudah terjalin dimana mereka telah terbiasa saling mendukung dan melengkapi dalam pengerjaan proyek serta festival.

Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia digalang oleh Bekraf untuk memetakan potensi dan permasalahan ekonomi kreatif di daerah. Peran dari pelaku utama seperti pemerintah, akademisi, komunitas dan pelaku bisnis sangat dituntut dalam penilaian ini. Bagi pemerintah Sleman sendiri, hasil pemetaan potensi dan permasalahan ini dijadikan bahan untuk membangun dan mengembangkan sektor ekonomi kreatif.