Sleman Tingkatkan Nasionalisme dan Rasa Cinta Tanah Air Lewat Lomba Tata Upacara Bendera

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2017 lalu, Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman mengadakan Lomba Tata Upacara Bendera Tingkat SD, MI, SMP, dan MTs pada Selasa (23/5). Lomba ini diikuti oleh 3 SD dan 16 SMP dari seluruh Kabupaten Sleman. Sedianya lomba ini akan berlangsung selama dua hari hingga Rabu (24/5).

Suharto, Kepala Seksi Pembinaan dan Pemberdayaan Pemuda, mengungkapkan tujuan dari diadakannya lomba ini.

“Membentuk kedisplinan, cinta tanah air, dan nasionalisme anak-anak,” tutur Suharto.

Ada beberapa hal yang dinilai dari lomba ini. Zaenuri, Sersan 1 Kodim Sleman yang sekaligus merupakan juri perlombaan, menambahkan mengenai poin-poin yang menjadi penilaian dalam lomba yang diselenggarakan di Lapangan Pemda Sleman ini.

”Yang dinilai pertama, kedisiplinan, yang kelihatan dari gerakan, suara,” ungkap Zaenuri. Tak hanya itu, hasil jerih payah anak-anak saat mengikuti lomba juga dijadikan patokan pemberian nilai oleh para juri.

Salah satu SD yang mengikuti lomba ini adalah SD Potrojayan 2. SD Potrojayan 2 mengikutsertakan siswa-siswi dari kelas 3, 4, dan 5. Meski sedang dalam masa ujian, banyak persiapan yang sudah dilakukan oleh SD yang terletak di Kecamatan Prambanan ini.

“Karena bersamaan dengan waktu ujian, maka kami mengambil waktu-waktu yang sela untuk latihan,” jelas Midro Darsono, Kepala Sekolah SD Potrojayan 2.

Latihan ini dilakukan selama dua minggu setiap sore hari bekerja sama dengan kepolisian untuk lebih mendisplinkan anak-anak. Darsono mengharapkan dengan adanya lomba ini, anak-anak bisa berkembang, juga tertanamkan sifat patriotisme dan nasionalisme yang tinggi.

“Harapannya menjadi generasi muda yang siap,” imbuh Darsono.




Usaha Blangkon Untuk Melestarikan Budaya Jawa

Sleman – Bertekad untuk menjaga kebudayaan Jawa dari kepunahan, Ratri Solikhah memulai usahanya sebagai pengrajin blangkon. Usaha yang dijalani bersama suaminya, Ari Pambudi, ia mulai sejak lima tahun lalu.

“Saya mulai usaha setelah dua tahun menikah. Selain meneruskan bisnis bapak juga untuk nguri-uri kabudayan (melestarikan kebudayaan-red),” cerita wanita yang akrab disapa Ratri saat ditemui Selasa (23/5).

Ratri pun menjelaskan tentang kelebihan blangkon buatan suaminya dibandingkan blangkon-blangkon lain.

“Dalamnya kapas, lebih halus, dan dilipat satu per satu,” tutur Ratri.

Ini berbeda dengan blangkon lain yang menurut Ratri kadang masih menggunakan tikar mendong untuk bagian dalamnya. Keunggulan lain dari blangkon produksi Ratri adalah bisa dipesan sesuai order.

“Di rumah bisa bikin blangkon Solo, blangkon model Sunda, blangkon model Jawa Timuran juga bisa, belum lama ini juga diminta bikin blangkon Sumatera pakai songket gitu,” lanjut Ratri.

Pembeli juga bisa langsung datang ke rumah dan mengukur ukuran blangkon pesanannya. Wanita yang sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan swasta ini mengaku meski penjualan blangkon miliknya baru sekitar wilayah Sleman dan Yogyakarta, omset yang didapat terbilang lumayan.

“Untuk omsetnya setiap minggu itu kurang lebih ya 8 juta, itu paling banyak, kadang naik turun,” bocor Ratri.

Ratri berharap ke depannya usaha blangkon miliknya masih dapat terus berkembang. Apalagi mengingat sekarang, ia masih belum memaksimalkan berbagai channel pemasaran guna memasarkan produk buatannya tersebut. Hasil karya blangkon dari Ratri dan suaminya ini, bisa ditemui di Pameran Potensi Daerah Kabupaten Sleman, 18-26 Mei 2017.




Proyek Kali Bersih di Kecamatan Turi Tunjukan Partisipasi Aktif Warga

Turi – Sabtu (20/5), Badan Lingkungan Hidup DIY mengadakan Program Kali Bersih yang diikuti oleh 48 warga Kecamatan Turi. Program Kali Bersih ini berlangsung dari pukul WIB. Tujuan diadakannya program ini adalah agar masyarakat sadar mengenai pentingnya kebersihan lingkungan sekitar, termasuk kebersihan sungai.

Menurut keterangan salah satu satuan kerja Dusun Turi, Mistah, agenda kali bersih ini sudah berjalan selama 3 tahun dan hingga saat ini sudah mencapai 60 titik sungai yang dibersihkan dari Sungai Bedog Krasak hingga Tempuran Progo.

Dalam proses pembersihan sungai yang dalam kesempatan ini mencapai 1,5 km, warga menemukan beragam jenis sampah, mulai plastik, kain, hingga kawat. Mistah, di akhir acara berpesan agar sungai yang sudah dibersihkan selalu diperhatikan kebersihannya.




Terapkan Etika Agar Bermedia Sosial Jadi Lebih Santun

Sleman – Bermedia sosial secara santun adalah kampanye yang tengah digalakkan oleh pemerintah Indonesia. Banyak beredarnya berita tidak benar atau hoax tentu menjadi alasan kuat dibalik berjalannya kampanye ini.

Seperti diketahui, hoax dapat memicu perpecahan bangsa apabila menyinggung soal perbedaan pendapat mengenai sebuah isu. Hoax tersebut paling mudah tersebar melalui media sosial. Karenanya, penggunaan media sosial secara santun bisa mencegah lebih luasnya hoax beredar.

Hal inilah yang juga menjadi perhatian MTs Negeri 6 Sleman. Melalui acara penyuluhan yang dilaksanakan pada Senin (22/5), MTs Negeri 6 Sleman mengundang beberapa narasumberguna memberikan wawasannya terkait bermedia sosial. Mewakili Kepala Sekolah MTs Negeri 6 Sleman, Utaminingsih, M. Pd, selaku Guru Bimbingan Konseling, mengungkap pentingnya bermedia sosial secara sehat bagi siswanya.

“Mereka bisa memahami materi yang disampaikan, mereka bisa berhati-hati, mereka bisa memilih dan memilah info-info yang memang benar-benar benar, kemudian yang tepat buat mereka sesuai dengan umur mereka,” tutur Utaminingsih.

Dalam acara penyuluhan ini, MTs Negeri 6 Sleman mengundang Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sleman yang diwakili oleh Cicilia Lusiani, ., , selaku Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik guna menerangkan materi terkait santun dalam bermedia sosial. Hal yang ditekankan oleh wanita yang akrab dipanggil Lusi ini adalah mengenai etika dalam menggunakan media sosial.

“Jangan mudah percaya pada siapapun, terutama orang-orang yang baru pertama kali adek-adek lihat di Facebook. Jangan sembarangan add juga lho,” jelas Lusi pada siswa kelas 7 dan 9 yang hadir.

Bertempat di Masjid Daarul Adzkiya MTs Negeri 6 Sleman, Lusi menambahkan terkait keharusan siswa-siswi untuk tidak mengumbar data pribadi di media sosial, berpikir masak-masak sebelum memposting pandangannya terhadap sebuah isu, serta tidak secara sembarangan mau diajak bertemu oleh orang yang baru dikenal di media sosial.

“Sekarang kan marak penculikan, yang dijadikan sasaran penculikan itu tidak cuma wanita lho, laki-laki juga, jadi harus tetap hati-hati,” tutur Lusi.

Diskominfo sendiri menerapkan etika bermedia sosial di beberapa akun media sosialnya. Salah satu yang diterapkan adalah mengenai filter 3N+1N dalam bermedia sosial, yaknieducation, empowerment, enlightenment, dan nationalism. Empat filter inilah yang setidaknya digunakan Diskominfo sebelum membagikan informasi kepada masyarakat melalui media sosialnya.

Di kesempatan yang sama, hadir pula perwakilan dari Kapolsek Mlati, Ipda Rohmadi yang membagikan cerita mengenai kenalan remaja yang kerap ditemuinya saat bertugas.

“Banyak siswa SMP yang naik motor ke sekolah, ini juga melanggar peraturan,” jelas bapak dua anak ini.

Dalam sesinya, Ipda Rohmadi juga mengharapkan agar siswa-siswi yang hadir menyadari bahwa banyak kenakalan yang dilakukannya bisa merugikan tidak hanya bagi orang lain tapi juga dirinya sendiri di masa mendatang.




Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-109 Tahun 2017

Sleman – Bertempat di Lapangan Pemda Kabupaten Sleman, Aparatur Pemerintah Kabupaten Sleman mengadakan upacara dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional ke-109 Tahun 2017, Senin (22/5). Acara tersebut mengambil tema “Pemerataan Pembangunan Indonesia yang Berkeadilan sebagai Wujud Kebangkitan Nasional”.

Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Rudiantara, dalam sambutannya yang dibacakan Kapolres Sleman Burkan Rudy Satriya sebagai Irup pada upacara bendera tersebut menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo telah mencanangkan penekanan khusus pada aspek pemerataan dalam semua bidang pembangunan.

Pada awal tahun 2017 ini, koefisien Nisbah Gini atau Gini Ratio yang merupakan kesenjangan distribusi pendapatan dan kekayaan produk masih sekitar 40 persen, maka dari itu Bapak Presiden meminta aparat penyelenggara negara bekerja keras menurunkan indeks kesenjangan tersebut melalu berbagai langkah yang multidimensi.

Lebih lanjut disaampaikan bahwa  pemerintah berupaya meningkatkan aspek pemerataan bangunan di segala sektor. Di sektor kelistrikan, misalnya, pembangunan ketenagalistrikan telah dilakukan di desa yang belum mendapatkan aliran listrik.

Pada saat yang sama, kebijakan pemerataan dilakukan melalui subsidi klistrik yang difokuskan kepada masyarakat menengah bawah, sehingga bisa dilakukan relokasi subsidi listrik tahun 2016 sebesar Rp. 12 triliun, dialihkan untuk menunjang sektor kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

Salah satu yang terbaru adalah berkenaan dengan jalan Trans-papua yang sudah hampir selesai dibangun. Dari km jalan Raya Trans-papua, km telah dibuka. Dalam bidang agraria, juga telah diluncurkan Kebijakan Pemerataan Ekonomi (KPE) yang bertumpu pada 3 pilar yaitu lahan, kesempatan dan SDM.

Kebijakan ini bertitik berat pada alokasi dan konsolidasi kepemilikan, penguasaan/akses, dan penggunaan lahan yang dilaksanakan melalui jalur Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) dan perhutanan sosial.

Pemerintah juga melakukan upaya pemerataan disektor kominfo melalui program Palapa Ring, berupa proyek pembangunan jaringan tulang punggung serta serat optik nasional untuk menghubungkan seluruh wilayah indonesia sehingga keberadaan internet berkecepatan tinggi (broadband) dapat dinkmati secara luas.

Disampaikan pula bahwa  berkah Digitalisasi proses perizinan dipercepat hingga enam kali lebih cepat dari waktu semula. Dengan harapan bisa meniti ombak besar perubahan digital dengan semangat dan sentosa dan berbuah manis bagi orientasi pelayanan kepada masyarakat.

“Hanya dengan semangat untuk tidak meninggalkan satu orang pun tercecer dalam gerbong pembangunan maka Negara Kesatuan Republik Indonesia ini akan tetap jaya”, Usai upacara bendera dilajutkan Ziarah ke Makam Dr. Wahidin Soedirohoesodo di mlati.

Hadir pada upacara bendera tersebut antara lain wakil Bupati Sleman Dra. Sri Muslimatun, juga Muspida dan kepala SKPD.