Pasar Sore Ramadan UGM, Peluang Bisnis Bagi Para Penjaja Takjil

Sleman – Menikmati suasana kampus sambil menunggu waktunya berbuka puasa bisa kamu rasakan di Pasar Sore Ramadan UGM. Deretan pedagang yang menjajakan aneka snack takjil sudah memenuhi seputaran jalan lingkar timur UGM mulai dari hari pertama Ramadan berlangsung.
Lokasi ini tak pelak menjadi lokasi favorit dari mahasiswa, warga setempat, bahkan warga luar daerah yang ingin menunggu datangnya adzan maghrib. Di sana, kita bisa menemukan beragam minuman dan panganan kecil, seperti Es Buah, Es Tebu, Es Nangka, Sempol Ayam, Batagor, Siomay, Sosis Bakar, dan jajan pasar lainnya.
Yoga Adi Pratama, Ketua Umum Paguyuban Ngabuburit UGM, menuturkan bahwa setidaknya terdapat ratusan pedagang yang berjualan di Pasar Sore Ramadan UGM ini. “Kurang lebih 300-400 pedagang. Yang jualan orang umum semua ini, banyak dari orang-orang luar,” tuturnya.
Pedagang-pedagang ini membuka lapak jualannya mulai dari pukul hingga pukul WIB. Beberapa pengunjung bahkan sudah mulai berdatangan sebelum stand-stand jajanan lengkap berdiri. Kepopuleran pasar yang rutin digelar tiap Ramadan ini pun diungkap oleh Nada Fadila, mahasiswa UNY angkatan 2015. “Banyak temen-temen sih sering ngomong, sering ngajakin nyari takjil di sini, di Pasar Ramadan ada banyak gitu,” ungkap Nada.
Nada menambahkan selain jenis jajanan yang cukup beragam, harganya pun tergolong wajar bagi para mahasiswa. “Kalau harga masih normal 7 ribu-8 ribu, jadi belum tinggi-tinggi banget, masih wajar lah kalau buat mahasiswa,” tambah Nada.
Selain memudahkan bagi mahasiswa atau warga yang ingin mencari alternatif jajanan buka puasa, Pasar Sore Ramadan UGM juga merupakan sarana bagi para pedagang untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.
Rogus, pedagang Es Nangka, yang ditemui pada Kamis (1/6) mengakui bahwa tiap harinya ia bisa mengantongi uang sebesar 250 ribu hanya dalam waktu 3 jam buka. ”Kemarin itu rata-rata 250, ada sekitar 75 cup lah.” tutur pria asal Wirobrajan ini.
Peluang ini jugalah yang dilihat oleh Sheila, penjaja Nasi Nagih, ia mengatakan bahwa ia sengaja mengawali bisnis kulinernya lewat Pasar Sore Ramadan UGM. “Inginnya sih berkelanjutan bisnisnya sambil liat pasar dulu,” cerita Sheila. Seharinya Sheila menargetkan terjual paling tidak 20 porsi Nasi Nagih. Ini ia usahakan dengan melakukan promosi melalui media sosial. “Sementara ini sih lewat Instagram @nasinagih,” lanjut alumnus dari Akademi Pariwisata Ambarukmo Yogyakarta ini.