Tambah Nilai Jual Sisa Furniture Lewat Daur Ulang

Sleman – Barang yang tidak terpakai bagi sebagian orang hanya akan berakhir di ruang penyimpanan ataupun di tempat pembuangan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Rizal Zubaidi.

Rizal merupakan pengrajin kayu asal Ponorogo yang sudah 4 tahun menetap di Dusun Ngangrik, Triharjo, Sleman. Ia menekuni bisnis kerajinan kayu jati dengan memanfaatkan limbah-limbah sisa furniture dan aluminium untuk dijadikan berbagai produk.

“Jadi barang-barang berupa tempat cangkir, tempat tisu, atau talenan,” tutur pria 48 tahun ini.

Rizal bercerita bahwa harga kayu jati yang terlampau mahal membuatnya harus memutar ide bahan dasar apa yang akan ia gunakan untuk membuat kerajinan.

“Kalau beli kayu jati baru sudah mahal, harganya sudah tidak masuk, jadi ya pakai bahan-bahan yang biayanya tidak mahal,” terang Rizal.

Dengan desain yang terbilang modern dan simpel, Rizal bersama dua pekerjanya hanya mampu memproduksi 50 buah produk dalam seminggu.

“Ini kami memproduksi juga berdasar pesanan jadi tidak ada stock,” kata Rizal.

Seluruh proses produksi pun digarap sendiri, kecuali untuk pengecatan yang masih menggunakan jasa pihak ketiga. Meski demikian, Rizal tak tanggung-tanggung dalam proses pemasaran produknya. Ia bekerja sama dengan para eksportir di Bantul, Jepara, dan Solo untuk memasarkan produknya.

“Kita hanya memanfaatkan sisa-sisa tempat di container yang akan dikirim ke Eropa dan ke Australia, satu container isi 50 pieces,” tambah Rizal saat ditemui Selasa (18/7).

Rizal memasarkan produknya dengan harga yang terbilang cukup terjangkau, yakni dari 75 ribu sampai 150 ribu per produk. Dengan harga produk yang dipatok tersebut, ia mengaku sudah dapat mengantongi omset sebesar 30 juta rupiah per bulannya.




Ragam Potensi Ekonomi Sleman Daya Tarik Bagi Investor

Sleman – Sampai dengan bulan April 2017, jumlah unit usaha PMA (Penanaman Modal Asing) di wilayah Kabupaten Sleman terdapat sebanyak 67 unit usaha dengan nilai investasi mencapai US$ yang menyerap tenaga kerja hingga 9000 orang. 

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Kabupaten Sleman Sutadi Gunarto SH., ., pada acara Forum Komunikasi Investasi Kabupaten Sleman di Graha Sarina Vidi, Mlati, Sleman, Selasa (18/7).

Sedangkan untuk usaha Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menurutnya pada tahun 2017 tedapat 60 unit usaha dengan nilai investas iRp 3 Milyar dan menyerap orang tenaga kerja.

“Mulai Januari 2014 pengurusan ijin PMDN tidak perlu ke BKPM RI di Jakarta, tetapi cukup di DPMPP Sleman berdasarkan Peraturan Bupati Kabupaten Sleman nomer tahun 2014 tentang kewenangan penyelenggaraan perizinan peraturan Bupati Sleman nomor 33.1 tahun 2015”, kata Gunarto.

Sementara itu Assekda Bidang Administrasi Umum Arif Haryono SH., mewakili sambutan Bupati Sleman dalam acara yang dihadiri 100 orang pelaku usaha tersebut menyampaikan bahwa Sleman memiliki berbagai potensi ekonomi yang masih terbuka lebar dan menarik investor untuk mengembangkan investasi di berbagai bidang  usaha.

Potensi di berbagai bidang usaha tersebut didukung dengan lokasinya yang terletak di jalur ekonomi regional sebagai penghubung aktivitas pariwisata Jawa Tengah dan DIY.

Potensi ini juga didukung dengan ketersediaan tenaga kerja terdidik dan terampil, masyarakat yang ramah, heterogenitas, kemudahan aksesibilitas, keamanan yang kondusif, serta ketersediaan infrastruktur jalan, listrik dan air yang dibutuhkan investor dalam kapastas yang memadai.

“Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki tersebut tentunya menjadi poin tersendiri bagi Kabupaten Sleman untuk menjadi tujuan utama investor”, kata Bupati Sleman.

Berkenaan dengan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman senantiasa mendukung investasi pengembangan program kebijakan yang dikembangan adalah untuk menciptakan iklim investasi usaha yang terbuka,kondusif dan aman.

”Peningkatan derajat perekonomian secara holistik, juga perlu didukung dengan peningkatan investasi bagi pertumbuhan UKM sehingga mampu bersaing dalam mekanisme pasar dengan pelaku ekonomi lainnya dan mampu beradaptasi dengan perubahan menghadapi pasar bebas ASEAN,” tambah Bupati Sleman.