Akumulasi Magma Capai 90%, Pemerintah Kagoshima Susun Upaya Penanggulangan

Sleman – Bencana erupsi gunung berapi menjadi perhatian penuh bagi negara-negara di dunia yang memiliki wilayah dengan jalur pegunungan api aktif. Sleman sebagai kabupaten di mana gunung api aktif, yakni Gunung Merapi berada tentunya menaruh kewaspadaan yang lebih terhadap potensi meletusnya gunung ini.
Erupsi Merapi terakhir kali terjadi pada tahun 2010. Erupsi ini menelan ratusan korban jiwa sehingga pemerintah baik itu Kabupaten Sleman pun pusat melakukan berbagai upaya penanganan mitigasi bencana letusan gunung berapi.
Salah satu upaya yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Sleman dalam hal antisipasi bencana alam ini adalah dengan membentuknya Desa Tangguh Bencana (Destana) yang hingga tahun 2021 ditargetkan berjumlah 86. Selain melalui Destana, Sleman juga melakukan pemonitoran dan pemantauan harian terhadap pergerakan Gunung Merapi melalui pos-pos pengamatan.
Segala persiapan menghadapi bahaya erupsi gunung berapi ternyata tak hanya dilakukan oleh Kabupaten Sleman, Kota Kagoshima di Jepang sebagai wilayah yang dikenal memiliki gunung api aktif, yakni Sakurajima pun melakukan hal yang sama.
Walikota Kagoshima, Mori Hiroyuki menuturkan bahwa Gunung Sakurajima pernah meletus secara dahsyat pada tahun 1914.
“Meletus dengan sangat besar, 10 kali lipat dari meletusnya Merapi tahun 2010,” jelas Mori ditemui saat kunjungannya ke Kabupaten Sleman, Selasa (25/7).
Tak berhenti sampai di situ, Mori menjelaskan bahwa Gunung Sakurajima selama 100 tahun terakhir telah mengalami letusan besar hingga 4 kali dan pada tahun 2011 tercatat ada 996 letusan kecil yang terjadi. Bahkan diprediksi gunung Sakurajima akan kembali mengalami erupsi besar karena akumulasi magma yang sudah mencapai 90%.
Mori yang hadir beserta jajarannya didampingi dengan Prof. Masato Iguchi, Ketua Tim Peneliti dari Universitas Kyoto, berharap dapat menjalin kerjasama dengan Kabupaten Sleman terkait dengan siaga bencana erupsi dan penanggulangannya.
“Dapat saling menguatkan ikatan dengan Kabupaten Sleman yang sama-sama memiliki gunung berapi aktif khususnya dalam bidang penanggulangan bencana,” terang Mori.
Bupati Sleman, Sri Purnomo, pun menyambut baik kunjungan Walikota Kagoshima tersebut. Sri Purnomo berbagi cerita mengenai penanganan bencana letusan Gunung Merapi yang terjadi tahun 2010 lalu baik itu saat maupun pasca bencana berlangsung.
Lebih lanjut, Sri menceritakan dalam pemulihan perekonomian, Pemerintah Kabupaten Sleman menekankan pada kearifan lokal pada aspek memberdayakan masyarakat, dan mengembalikan mata pencaharian masyarakat seperti sebelum terjadi bencana tersebut.
Pemerintah Kabupaten Sleman juga memberikan bantuan usaha produktif melalui kelompok ekonomi yang produktif.
“Selain itu kami juga menata kembali objek pariwisata yang ada di lereng merapi, salah satunya Lava and Volcano Tour,” imbuh Sri Purnomo.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Sumadi, menuturkan baik Sleman ataupun Kagoshima memiliki kekurangan dan kelebihan dalam upaya penanggulangan bencana erupsi.
Menurut Sumadi, Pemerintah Kagoshima sangat terkesan dengan semangat gotong royong para korban Merapi sehingga mampu bangkit dengan cepat baik secara ekonomi maupun psikologis.
Namun, masih menurut Sumadi, Pemerintah Kabupaten Sleman juga harus belajar beberapa hal kepada Pemerintah Kagoshima yang telah memanfaatkan sistem informasi online dengan baik.
“Ini sesuai dengan visi kita untuk menyejahterakan masyarakat berbasis IT pada 2021. Nah ini akan kita kembangkan juga system informasi tentang mitigasi bencana ini,” ungkap Sumadi.
Dalam kunjungan yang berlangsung selama dua hari tersebut, Hiroyuki Mori berkesempatan melakukan studi referensi ke beberapa tempat, yakni Kantor BPPTKG DIY, Museum Gunung Merapi, Pos Pengamatan Gunung Api Merapi di Kaliurang, dilanjutkan ke Petilasan Rumah Mbah Marijan di Kinahrejo Umbulharjo Cangkringan.



