Camat Ngaglik Lepas 16 Calon Jemaah Haji Desa Sukoharjo

Sleman  – Calon jemaah haji di Desa Sukoharjo dilepas oleh Camat Ngaglik, Anggoro Aji Sunaryono, SH, , pada Minggu (16/7) di Gedung IPHI Ranting Sukoharjo. 

Dalam sambutannya, Aji mengingatkan kepada 16 calon jemaah haji Desa Sukoharjo agar bisa memenuhi syarat, baik wajib maupun sunah ibadah haji. Apalagi kloter pertama, harus melakukan salat arbain selama 8 hari atau 40 rakaat yang tidak boleh kurang. Meski demikian, perlu mengukur kondisi umur dan kesehatan, jangan memaksakan diri, harus banyak istirahat serta selalu mengikuti pembimbing haji yang dipercayakan.

Sementara itu, calon jemaah haji yang diwakili oleh Ustaz Umar zaid Calhaj dari Gemutri menyampaikan permohonan maaf dan mohon pamit. Tak lupa, meminta doa agar rombongan dari Desa Sukoharjo bisa melaksanakan syarat rukun haji wajib maupun sunahnya sehingga nantinya mendapatkan predikat Haji Mabrur.

Acara dilanjutkan, dengan tausiyah yang diisi oleh Ustaz H. Ikhsanudin dari Kiyudan. Dalam tausiyahnya, Ustaz H. Ikhsanudin membeberkan mengenai hal-hal yang harus dilakukan agar dapat menjadi haji yang mabrur, antara lain jiwa kedermawanan, pemaaf, tidak dendam, dan istiqomah dalam ibadah agar menjadi bekal untuk kita bersama.

Di kesempatan yang sama, diserahkan bantuan dari Masjid Besar Baiturrahman untuk pembangunan Gedung IPHI Sukoharjo sebesar 5 juta rupiah dan untuk bantuan Masjid Surirejo sebesar 1 juta rupiah.




TABO Sleman Turunkan Angka Demam Berdarah

Sleman – TABO Beraksi Nyamuk Mati, itulah slogan yang selalu dipegang oleh kelompok TABO (Tanggap Bocah) Kecamatan Sleman. Untuk lebih menambah semangat dalam berkreasi dan berinovasi bagi anggota dan pendamping TABO, Puskesmas Sleman mengadakan kegiatan Jambore Tanggap Bocah pada Kamis (13/7).

“Kegiatan ini sebenarnya adalah kegiatan refresing dari Puskesmas Sleman untuk program TABO,” jelas Kepala Puskesmas Sleman, Trisni Nur Andayani.

TABO sendiri dituturkan oleh Trisni, merupakan kelompok anak usia sekolah TK, SD, dan SMP di 82 dusun Kecamatan Sleman yang setiap Minggu pagi melakukan kegiatan bermain PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

“Program ini sudah mulai ada dari tahun 2009. Awalnya anak-anak diajari untuk memantau jentik-jentik di lingkungan mereka tapi ke sini kami kembangkan juga agar anak-anak melakukan hidup bersih dan sehat sejak dini untuk mendukung Kabupaten Layak Anak,” lanjut Trisni. Seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok TABO ini tentunyadidampingi oleh kader kesehatan yang menjadi pengurus TABO.

Kepala Dinas Kesehatan, Nurulhayah, juga menyampaikan dukungan penuhnya terhadap program TABO ini. “Ini harusnya sudah perlu direplikasikan jadi mudah-mudahan dengan Jambore atau Gebyar Anak untuk TABO ini membuka yang lainnya untuk bisa mereplikasi,” tutur Nurulhayah.

Dilaksanakan di Lapangan Pemda Sleman, Jambore TABO melibatkan 2000 anak dan 500 pendamping dari 5 desa, yakni Desa Triharjo, Desa Tridadi, Desa Trimulyo, DesaCaturharjo, dan Desa Pandowoharjo. Dengan tema “Anak Peduli Lingkungan Sehat”, acara ini memiliki berbagai agenda, antara lain lomba yel-yel TABO dengan materi peduli lingkungan sehat, penyuluhan, serta role play PHBS yang diikuti seluruh peserta.

Dalam kesempatan tersebut, kelompok-kelompok TABO juga menyambangi beberapa instansi pemerintah di sekitar Lapangan Pemda Sleman, seperti Dinas Kesehatan, Dinas P3AP2KB, Dinas Perpustakaan, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat untuk memeriksa kamar mandi dan tempat-tempat yang potensial untuk bersarang jentik nyamuk.




HANI Cegah Narkoba Pada Generasi Muda

Sleman – Peringatan HANI (Hari Anti Narkotika Internasional) tingkat DIY tahun 2017 ini diselenggarakan secara terpusat di Kabupaten Sleman, tepatnya di Gedung Serbaguna pada Kamis (13/7). 

Hadir pada kesempatan tersebut, antara lain Kepala Badan Kesbangpol DIY, Agung Supriyono, Kepala BNNP DIY Kombes Pol Mardi Rukmianto, Bupati Sleman, Sri Purnomo, Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, dan jajaran OPD se-Provinsi DIY.

Pada peringataan HANI tersebut juga dilakukan pengukuhan dan penyerahan SK kepada Satgas Anti Narkoba dari 6 desa yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Bupati Sleman.

Keenam desa yang dikukuhkan tersebut adalah Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan, Desa Girikerto Kecamatan Turi, Desa Mororejo Kecamatan Tempel, Desa Margorejo Kecamatan Tempel, Desa Trimulyo Kecamatan Sleman, dan Desa Pandowoharjo Kecamatan Sleman.

Sri Purnomo menyadari bahwa peredaran narkoba kini tidak hanya pada lingkup kota tetapi sudah dari desa ke desa.

“Jadi kita minta untuk desa-desa itu siaga, waspada, untuk mengantisipasi makanya dibentuk Satgas Anti Narkotika,” tutur Sri Purnomo.

Kepala BNNP DIY, Kombes Pol Mardi Rukmianto, dalam laporannya menambahkan bahwa berdasarkan hasil survei Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) UI dan BNN mengenai prevalensi penyalahgunaan narkoba di DIY, terdapat orang penyalahguna narkoba atau sebesar % dari total populasi penduduk di DIY.

Karenanya, hingga saat ini DIY menduduki peringkat kedelapan kedaruratannya se-Indonesia, setelah sebelumnya menduduki peringkat 5 (lima) dalam hal prevalensi penyalahgunaan narkoba.

Dari orang penyalahguna narkoba, kepolisian daerah dan BNNP DIY baru mengungkap kurang lebih 594 kasus, sementara yang direhabilitasi baru sekitar orang.

“Sehingga masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar, menjadi keprihatinan yang besar, untuk menekan prevalensi penyalahguna narkoba dan peredaran gelapnya,” terang Mardi.

Sementara berdasarkan ringkasan eksekutif hasil survei penelitian terhadap kalangan pelajar dan mahasiswa di 18 provinsi yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Data dan Infomasi(Puslitdatin) UI pada tahun 2016, angka pernah pakai dan setahun pakai penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa di DIY berada di urutan pertama mengalahkan DKI Jakarta.

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di dalam masyarakat menunjukkan kecenderungan semakin meningkat dengan korban yang semakin meluas, terutama di kalangan anak-anak, remaja, generasi muda, oknum aparatur sipil negara, prajurit TNI, anggota kepolisian, kepala daerah hingga di lingkungan pesantren.

Mardi mengajak seluruh komponen masyarakat untuk memerangi penyalahgunaan narkoba dan peredaran gelapnya dengan langkah-langkah strategis.

“Antara lain melalui strategi demand reduction yaitu menekan pasar, dengan cara menggiatkan penggiat-penggiat anti narkoba yang ada di seluruh DIY,” jelas Mardi.

Selain itu, melakukan upaya supply reduction melalui penegakan hukum yang tegas dan terukur agar sindikat narkoba jera.

Selanjutnya, BNN Kabupaten Sleman dalam rangkaian peringatan HANI ini telah menggandeng berbagai komunitas mobil untuk konvoi anti narkoba, melaksanakan talkshow angkringan, serta kampanye simpatik sebagai kegiatan pra HANI. Sementara untuk gelaran pasca HANI akan dilaksanakan kegiatan car free day serta pagelaran seni HANI.




Desa Sukoharjo Lantik Sekretaris Desa yang Baru

Ngaglik – Desa Sukoharjo melaksanakan pelantikan Sekretaris Desa pada Selasa (11/7). Pelantikan ini merupakan bentuk pelaksanaan sistem seleksi terbaru yang dimulai dengan hasil Musyawarah Desa (Musdes) Desa Sukoharjo. Adapun sekretaris yang dilantik adalah Yuliani, yang menggantikan Agus Triyono.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Hukum, Musta`in Aminun, SH,  mengharapkan sekretaris desa dapat menjadi pengendali administrasi Desa Sukoharjo.

Oleh sebab itu, perlu kecepatan dalam bertindak dan bekerja karena sekarang semuanya sudah menggunakan sistem komputer dan digital. Terlebih lagi, sekarang sedang dikembangkan smart regency dan smart village sehingga seluruh kabupaten dan 86 desa yang ada bisa dipantau pembangunannya, baik anggaran maupun penyelesaian kegiatan.

Staf Ahli Bupati Sleman menambahkan agar desa terus gerak cepat karena undang undang yang lama adalah membangun desa sementara sekarang “Desa Membangun” artinya aktivitas desa menjadi subyek pembangunan baik pemerintahan maupun kemasyarakatan.

Pelantikan yang dihadiri oleh kurang lebih 300 peserta ini, ditutup dengan jabat tangan sekaligus syawalan.




Pemda Sleman Janjikan Harga Salak Stabil

Sleman – Anjloknya harga salak pada Lebaran 2017 ini menjadi sebab utama ratusan petani salak dari Desa Wonokerto berunjukrasa di Pendopo Parasamya Sleman, Selasa (11/7).

Ratusan petani salak ini mendatangi Kantor Bupati Sleman dengan membawa keranda lengkap dengan sosok jenazah di dalamnya. Aksi unjuk rasa pun dimulai oleh para petani salak dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Desaku.

Seperti diketahui, di pasaran harga jual salak pondoh dari petani saat bulan Ramadan hingga setelah Lebaran 2017 ini mencapai 2 ribu rupiah per kilo. Melihat hal tersebut, petani salak yang diwakili oleh Ketua Paguyuban Petani Salak Wononokerto, Tomon Haryo Wirosobo, membeberkan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah Daerah Sleman.

“Kita mohon pemerintah daerah untuk bisa menetapkan harga terendah salak pondoh, ini yang dalam waktu pendek,” terang Tomon.

Selanjutnya, Tomon mewakili ratusan petani salak yang hadir juga menginginkan Pemerintah Daerah Sleman memberikan fasilitas dan pendampingan terkait produksi, pengolahan, serta pemasaran produk olahan salak.

Salah satu petani salak, Sunarjo, mengungkap bahwa ketidaktahuan petani mengenai proses produksi menjadi penghalang dalam peningkatan kualitas produk olahan salak.

“Pendampingan ini yang penting, bahan salaknya seperti apa, kemudian airnya seperti apa, lingkungan produksinya seperti apa,” tutur Sunarjo.

Tidak berhenti di pendampingan proses produksi saja, petani salak juga mengharapkan Pemda Sleman memberikan pendampingan tentang bagaimana cara memasarkannya produk olahan tersebut.

“Beberapa petani sudah membuat criping, sirup, tapi tidak bisa memasarkan,” ungkap Sunarjo.

Sekda Sleman Sumadi, SH, MH, menanggapi aspirasi petani dengan langsung memberikan pengarahan kepada SKPD terkait untuk mengkaji, mengkoordinasikan, dan mendiskusikan regulasi.

“Bahkan kami sudah gerak cepat, besok kami pun akan melakukan penyuluhan langsung ke Wonokerto,” jelas Sumadi.

Sementara untuk penetapan dan standardisasi harga salak pondoh, Sumadi beserta SKPD terkait masih harus melakukan kajian mendalam sebab itu berhubungan dengan mekanisme pasar.

“Ini masukan bagi kami, mereka boleh saja menyampaikan, tapi harus kami kaji, kan begitu,” tambah Sumadi.