Festival Gerobak Sapi Hidupkan Kembali Transportasi Tradisional

Foto Festival Gerobak Sapi oleh Nana

Sleman – Transportasi tradisional kini sudah mulai ditinggalkan. Tak banyak orang yang tahu bahwa gerobak sapi dulunya pernah menjadi sarana transportasi yang digunakan masyarakat. Bahkan, menjadi kendaraan utama pada zaman dulu.

Hal inilah yang dilihat Pangrekso Andini Karya, sebuah paguyuban gerobak sapi di Sleman. Berniat kembali mengenalkan transportasi gerobak sapi, paguyuban ini sudah kesembilan kalinya mengadakan Lomba dan Festival Gerobak Sapi Merdeka dalam rangka menyambut hari jadi RI dan hari jadi paguyuban.

Pelaksanaan kali ini terasa berbeda karena pelaksanaannya bertepatan dengan Dies Natalis Fakultas Kedokteran Hewan UGM ke-71.

“Kebetulan untuk tahun ini yang ketempatan adalah Pemerintah Desa Sariharjo Ngaglik dan kebetulan bersamaan dengan Dies Natalis Fakultas Kedokteran Hewan UGM yang ke-71,” terang Tri Hariyono, Ketua Pangrekso Andini Karya saat ditemui Minggu (20/8) di Lapangan Ngetiran, Sariharjo, Ngaglik, Sleman.

Diikuti oleh 150 peserta dari berbagai paguyuban, acara terbagi menjadi dua, yakni pawai gerobak sapi dan lomba-lomba. Pawai Gerobak Sapi bersifat gratis bagi para penggemar gerobak sapi yang ada di Sleman, Bantul, Klaten, dan sekitarnya.

“Justru panitia menyediakan doorprize,” jelas Tri. Doorprize yang disediakan pun beragam mulai dari satu ekor kambing, pakan (makanan-red) sapi, satu paket vitamin khusus untuk sapi, dan lain sebagainya.

Melewati rute sejauh 7 km, gerobak sapi dengan modifikasi hiasan hasil pertanian terbaiklah yang akan memeroleh nilai tertinggi.

“Hiasan dengan hasil pertanian yang paling baik itu nanti yang akan menang,” ujar Tri.

Didik, perwakilan Bajingan dari Sleman Barat Manunggal Sari Seyegan, menyampaikan alasannya berpartisipasi dalam festival ini adalah untuk mendapatkan ilmu.

“Kita belajar cara berternak sapi yang baik sama cara memilih bibit sapi yang unggul,” lanjut Didik.

Didik yang membawa dua sapi terbaik miliknya ini, pun mengakui bahwa tujuannya berfestival bukan lagi soal mendapat kemenangan tetapi lebih kepada kesenangan pribadi.

“Saya hadiah nomor belakang yang penting senang dulu aja,” tutur Didik.

Selain pawai gerobak sapi, pada kesempatan tersebut juga diadakan lomba sapi dengan beberapa kategori, seperti sapi bakalan jantan, sapi bakalan betina, dan sapi penggemukan. Lomba ini dinilai langsung oleh dokter-dokter hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM.***




Festival Ketoprak Sleman Jaga Keistimewaan Yogyakarta

Sleman – Sebagai wujud kepedulian dan perhatian Pemkab Sleman terhadap kelestarian kehidupan seni tradisional kethoprak,  Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman kembali menggelar Festival Kethoprak Tingkat Kabupaten Sleman 2017. Kegiatan tersebut berlangsung 19-27 Agustus 2017 mulai pukul WIB di Lapangan Sendangagung Minggir, Sleman. 

Kepala Dinas Kebudayan Sleman HY Aji Wulantara menyampaikan bahwa festival tersebut diikuti 17 grup dari masing-masing kecamatan di Kabupaten Sleman.

“Aspek penilaian dalam festival ini meliputi wiraga,  wirama,  wicara,  tata rias busana, wirasa atau harmonisasi”,  terangnya dalam pembukaan Festival Kethoprak Tingkat Kabupaten Sleman 2017 di Lapangan Sendangagung,  Sabtu (19/8).

Aji menambahkan bahwa usia peserta atau pemain pada festival ini dibatasi maksimal 40 tahun. Hal ini bertujuan untuk regenerasi memunculkan seniman dan seniwati kethoprak muda.

“Selain itu kegiatan ini juga sebagai media beraktivifas dan peningkatan kualitas seniman kethoprak buna mempertahankan eksistensi jati diri seniman kethoprak sebagai salah datu akar budaya seni kerakyatan”, tambahnya.

Sementara itu Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun yang juga hadir membuka acara tersebut menyampaikan bahwa Pemkab Sleman menaruh perhatian terhadap berkembangnya seni budaya di masyarakat termasuk kethoprak. Penyelenggaraan festival tersebut menurutnya mendukung program pemerintah untuk menjadikan kecamatan sebagai pusat pelestarian budaya masyarakat.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk pelaksanaan festival ini.  Melalui kegiatan ini diharapkan generasi muda akan semakin termotivasi untuk lebih mengenal, mengerti sekaligus melestarikan budaya Jawa”, kata Muslimatun.

Muslimatun juga menyampaikan bahwa festival kethoprak tersebut juga merupakan salah satu bentuk menjaga keistimewaan Yogyakarta yang tidak hanya dimaknai secara politik namun juga keistimewaan dalam hal budaya yang adiluhung.

“Guna menjaga keistimewaan Yogyakarta,  mau tidak mau kita harus memberdayakan seni budaya lokal yang kedepan dapat memberikan nilai kepada kehidupan masyarakat”, tambahnya.




Pertunjukan Drum Band Meriahkan Upacara HUT RI di Turi

Turi –  Turi mengadakan upacara peringatan Hari Kemerdekaan ke-72 Negara Republik Indonesia pada Kamis (17/8). Camat Turi, Siti Anggraeni Susilo Prapti, SM, yang bertindak sebagai pembina upacara, dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Paskibraka sekaligus memberikan hadiah kepada para pemenang lomba tingkat kecamatan.

Upacara yang dihadiri oleh berbagai instansi, siswa sekolah, warga masyarakat Turi, Tentara, Polisi, dan lain sebagainya ini juga mempertontonkan pertunjukan drum band dari SD N Turi 3 dan dari SMP Muhammadiyah Turi.




Ribuan Peserta Semarakkan Upacara HUT RI di Ngaglik

Ngaglik – Sejak Kamis (17/8) pagi pukul WIB, masyarakat Ngaglik sudah berbondong-bondong datang ke Lapangan Gadingan Sinduharjo. Ngaglik, Sleman. Baik pejabat, perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta siswa SD, SMP, SMA, SMK se-Kecamatan Ngaglik memeriahkan HUT Kemerdekaan ke-72 RI dengan melaksanakan upacara bendera.

Diperkirakan 3 ribu peserta upacara hadir pada upacara yang dipimpin oleh Camat Ngaglik, Anggoro Aji Sunaryono, SH, MH ini.




Ngemplak Bagikan Sembako Usai Upacara Kemerdekaan

Ngemplak – Warga RW 40 Dusun Blotan, Desa Wedomartani, Ngemplak mengadakan upacara bendera dalam rangka HUT ke-72 RI di halaman rumah warga pada Kamis (17/8). Diikuti oleh seluruh warga RT 01, 02, 03 dari RW 40, upacara dipimpin oleh Ketua RW 40.

Selepas upacara, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian santunan dan sembako untuk warga masyarakat usia lanjut.