Turi Ikuti Pemerintah Adakan Imunisasi MR

Turi – Pemerintah sedang menggalakkan program imunisasi MR (Measles Rubella) bagi anak-anak untuk membebaskan mereka dari ancaman penyakit campak dan rubella. Penggalakkan imunisasi MR ini akan berlangsung dalam dua tahap, tahap pertama di Pulau Jawa dimulai dari bulan Agustus-September 2017. Sementara untuk tahap kedua, khusus untuk seluruh provinsi di luar Jawa, yakni dari bulan Agustus-September 2018.

Baru-baru ini, SD Karanganyar Turi Bersama Puskesmas Turi mengadakan imunisasi MR pada Sabtu (12/8). Kepala Sekolah SD Karanganyar Turi, Sumarman, mengatakan jumlah siswa yang mengikuti imunisasi MR ini berjumlah 168 siswa. Menurutnya, baik sekolah maupun orang tua menanggapi kegiatan imunisasi ini sebagai hal yang positif.

Selanjutnya, Koordinator Imunisasi MR, Benardeta Rustiastanti, menyampaikan bahwa pemerintah memberikan imunisasi MR tambahan untuk anak usia 9 bulan sampai dengan kurang 15 tahun. Dengan rentang usia tersebut, menurut data yang dihimpun Puskesmas Turi sudah ada siswa di Turi yang diimunisasi MR. Jumlah ini didapat dari 22 SD,1 SLB, 7 SMP, 1 SMA, 3 SMK, 75 Posyandu, dan 17 PAUD.




Sleman Sambut HUT RI dengan Lomba Permainan Tradisional

Sleman – Berbagai lomba dalam rangka HUT ke-72 RI diadakan tak hanya di tingkat dusun, desa, atau kecamatan saja, Pemda Sleman juga melaksanakan beragam lomba dalam upaya menyambut hari jadi Indonesia ini.

Berlangsung di Lapangan Pemda Sleman, Jumat (11/8), berbagai lomba dalam rangka HUT ke-72 RI dibuka secara resmi oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo. Hadir pada kesempatan tersebut, antara lain Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, Ketua TP PKK Kabupaten Sleman, Kustini Sri Purnomo, Kepala Dinas Kominfo, Intriati Yudatiningsih, dan seluruh OPD di lingkungan Pemda Sleman.

Dalam sambutannya, Sri Purnomo mengatakan bahwa jika kita dapat melakukan olahraga secara rutin maka kebugaran tubuh akan terjaga sehingga mampu memberikan pelayan yang lebih baik. Sri Purnomo pun berharap, dengan mengadakan berbagai lomba tersebut mampu membantu menghidupkan beberapa jenis permainan tradisional yang saat ini sudah mulai ditinggalkan seperti Gobak Sodor, Egrang, Tarik Tambang, dan lain sebagainya.

Usai pembukaan, dilanjutkan pertandingan Gobak Sodor yang mempertandingkan Kelompok Bupati Sleman yang terdiri Kepala SKPD melawan regu dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman, yang dimenangkan regu Dinas Pemuda dan Olahraga.

Selain Gobag Sodor, Engrang, dan Tarik Tambang, memperlombakan juga jenis olahraga Senam Gamu Famire. Pemenang dari Lomba Senam Gema Famire ini adalah dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, disusul oleh UPT Yandik Godean, Bank Sleman, RSUD Sleman dan UPT Yandik Moyudan. Sementara untuk Tarik Tambang Putri juara I direbut oleh RSUD Sleman, yang diikuti oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Kawasan Permukiman, dan UPT Yandik Cangkringan.

Nima Hikmawati, salah satu peserta Lomba Gobag Sodor Putri menyampaikan apresiasinya ke pada para panitia penyelenggara Lomba HUT RI ke-72 di lingkungan Pemda Sleman ini.

“Karena sudah nguri-uri kabudayan (melestarikan kebudayaan-red), sekarang ini kan tidak banyak orang yang tahu soal permainan tradisional itu,” lanjut Nima.

Nima pun berharap ke depannya, akan ada inovasi terkait lomba-lomba yang dilaksanakan di lingkungan Pemda Sleman. Sebab, menurutnya permainan tradisional itu sangat beragam.




Klaten Tukar Wawasan Terkait Program Kerja dengan Sleman

Sleman – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Klaten bertandang ke Diskominfo Sleman guna memperluas wawasannya mengenai program kerja yang telah dan tengah dijalankan oleh Diskominfo Sleman pada Kamis (10/8).

Totok Gantoro, SE, MM, Kepala Bidang Komunikasi dan Persandian Diskominfo Kabupaten Klaten, menggaris bawahi maksud kedatangannya beserta rombongan adalah untuk menggali lebih dalam mengenai program-program pelayanan masyarakat milik Diskominfo Sleman.

“Kemajuan Kominfo yang ada di Sleman ingin kami padukan sesuai dengan apa yang ada di Klaten,” tutur Totok.

Totok menambahkan, dalam sesi kunjungan kali ini Diskominfo Klaten memperbincangkan banyak hal bersama dengan jajaran OPD di Kominfo Sleman. “Yang diperbincangkan adalah masalah smart city terus kemudian masalah program-program kegiatan yang ada di Sleman,” lanjut Totok.

Selain itu, Totok juga berencana untuk melengkapi program-program yang ada di Diskominfo Kabupaten Klaten dengan program-program yang telah dijalankan oleh Diskominfo Sleman.

Hal ini termasuk soal pengaturan jaringan internet dan data center yang menurut Totok di Klaten belum tersentralkan ke Diskominfo. “Saya ingin semua OPD itu yang mengaturbandwidth dari Kominfo,” jelas Totok.

Kegiatan kunjungan ini diterima baik oleh Kepala Diskominfo Sleman, drg. Intriati Yudatiningsih, . Intri menyampaikan kegembiraannya, meski Diskominfo Sleman baru terbentuk pada Januari 2017 ternyata sudah ada banyak daerah yang berkunjung ke Sleman untuk bertukar wawasan.

Harapan Intri ke depan, Kominfo dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia dapat saling menyamakan persepsi terkait kegiatan-kegiatan yang dijalankan. “Paling tidak sistemnya sama karena tentu saja Kominfo itu kan memberikan pelayanan kepada masyarakat terutama di bidang informasi sehingga informasi yang diberikan harapannya menjadi harapan dari masyarakat sehigga masyarakat juga puas,” terang Intri.

Selain itu, Intri juga berharap kepada para tamu yang datang ke Sleman untuk dapat bersama-sama membangun suatu sistem yang bisa bermanfaat. “Dan apabila ada yang dianggap baik di Sleman, silakan kalau mau direplikasi karena semua itu untuk pelayanan masyarakat,” imbuh Intri.

 




UPT BP4 Seyegan Ajang Kenalkan Potensi Agribisnis Lokal

Sleman – Gelar potensi Unit Pelaksana Teknis Balai Penyuluh Pertanian, Pangan dan Perikanan (UPT-BP4 Wilayah III yang meliputi Seyegan, Tempel dan Mlati) yang berlangsung di UPT III Seyegan cukup meriah karena diikuti 48 stand perwakilan dari tiga kecamatan, Rabu (9/8). Gelar potensi tersebut dibuka secara resmi oleh Asekda Bidang Ekonomi dan Pembangunan Dra. Suyamsih, yang ditandai dengan pelepasan balon. 

Disamping gelar potensi ditempat yang sama juga diadakan lomba melukis bagi anak TK yang ditandai dengan penggoresan pensil oleh Asekda Bidang Ekonomi dan Pembangunan yang diberikan kepada peserta yang lahir pada bulan Agustus. Dan kebetulan peserta yang lahir pada bulan Agustus dua anak, hingga Dra, Suyamsih juga membuat dua goresan pada kertas gambar.

Disamping itu juga dilakukan kampanye Minum Susu yang dipimpin oleh Asekda Bidang Ekonomi dan Pembangunan dengan membagikan kemasan Susu Cup kepada siswa SD yang diminum secara bersama-sama.

Serta penyerahan SK peningkatan kelas kepada 14 kelompok tani di wilayah Seyegan, Tempel dan Mlati , Usai membuka lomba menggambar, kampanye minum susu, dan membuka pameran dilanjutkan peninjauan stand pameran, yang diikuti camat Seyegan Drs. Budi Sutamba, Kepala UPT BP4 wilayah III Seyegan  Ipnu Sutapa, SP  dll.

Sementara itu bupati sleman dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asekda Bidang Ekonomi dan Pembangunan antara lain menyampaikan bahwa dengan gelar potensi dan Bazar produk pertanian, Pangan dan Perikanan  diharapkan  mampu memotivasi paara petani di Kabupaten Sleman khususnya di wilayah kecamatan seyegan, Tempel dan Mlati untuk semakin menggiatkan pembangunan di bidang pertanian.

Gelar potensi pertanian juga merupakan salah satu strategi untuk mengangkat potensi yang dimiliki sekaligus mengembangkan pamasaran hasil produksi pertanian. Oleh karena itu kegiatan tersebut  menjadi salah satu kesempatan bagi para petani kecamatan Seyegan, temple dan Mlati  yang harus dimanfaatkan dengan sabaik-baiknya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pembangunan sector pertanian di Kabupaten Sleman diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup, meningkatkan perekonomian masyarakat dan kesejahteraan petani.

Oleh karenanya pembangunan sector pertanian yang berkelanjutan mutlak diperlukan. Peran serta masyarakat adalah modal pokok dalam pembangunan sector pertanian termasuk keterlibatan generasi muda.

Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan potensi-potensi lokal yang kita miliki dapat diangkat dan kegiatan tersebut dapat menarik generasi muda kita untuk berperan serta memajukan pertanian demi terwujudnya kemandirian pangan. Peran generasi muda sangat penting karena ditangan merekalah masa depan pembangunan Sleman ditentukan.

Terkait dengan pentingnya peran berbagai elemen masyarakat dalam pembangunan pertanian, bupati menyambut baik akan diadakannya sarasehan dengan tema “Peran Kelompok Wanita Tani dalam Mewujudkan Kemandirian Pangan”. Semoga sarasehan yang akan dilaksanakan besok dapat memberikan motivasi kepada kaum wanita dalam mendukung upaya mewujudkan kemandirian pangan.

Sedangkan Kepala UPT-BP4 wilayah III Seyegan melaporkan bahwa tujuan gelar potensi tersebut  untuk memperkenalkan potensi agribisnis di wilayah kerja UPT BP4 wilayah III Seyegan yang meliputi kecamatan Seyegan, Tempel dan Mlati.

Juga untuk mempromosikan produk usaha agribisnis kelompok tani UPT BP4 wilayah III Seyegan, serta untuk menumbuhkan minat generasi muda untuk mencintai dunia pertanian dan mewujutkan kemandirian pangan. Lebih lanjut dilaporkan bahwa  gelar potensi akan dilanjudkan dengan sarasehan yang diikuti kelompok wanita tani dari 25 KWT dengan peserta 100 orang.




Lindungi Batik Lokal Sleman Lewat HKI

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman tengah gencar melakukan perlindungan terhadap produk-produk lokal Sleman, salah satunya adalah batik.

Batik sendiri merupakan produk budaya yang sudah dianggap sebagai salah satu produk local genius. Bahkan, pada tanggal 2 Oktober 2009 UNESCO menyatakan dengan tegas bahwa seni batik telah menjadi warisan budaya dunia tak benda (Intangible Cultural Heritage Humanity).

Di Sleman, Batik Parijotho Salak diakui sebagai motif khas batik Sleman. Motif ini dilansir dari , terinspirasi dari tanaman parijotho, tanaman dedaunan yang banyak tumbuh di kawasan pegunungan.

Untuk melindungi eksistensi batik ini, Sleman memiliki komitmen dan kebijakan yang mengarah kepada pengembangan batik Sleman. Hal ini dibuktikan dengan telah diterbitkannya Peraturan Bupati No. 35 tahun 2015 tentang tata kelola desain batik Sleman.

Kebijakan ini sangat berpengaruh utamanya untuk melindungi batik dalam persaingan di pasaran internasional. Sebab, masalah yang terjadi saat ini adalah banyak negara yangdengan sengaja mengadopsi kerajinan batik, bahkan memakai proses membatik Indo­nesia, sehingga batik dari negara-negara tersebut hampir sama dengan batik In­donesia.

Terlebih faktanya, banyak pelaku usaha kerajinan batik yang belum mengetahui pentingnya pendaftaran paten atau Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai salah satu sarana perlindungan batik.

Padahal menurut Luwi Saluadji, Ketua Pokja Fashion Kadin Indonesia, perlindungan terhadap HKI sangat penting dilakukan.

“Ini adalah merupakan basis kreatifitas, kita bisa berbicara kreatifitas dan lain sebagainya tapi kalau tidak dilindungi dengan HKI yang baik maka yang rugi adalah kita sendiri, industrinya akan rugi, apalagi UMK-UMK,” ungkap Luwi.

Melihat pentingnya setiap pelaku usaha batik untuk mendaftarkan paten atau HKI dari batiknya, Luwi bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Sleman merancang workshop bertajuk “Implementasi Ecolabeling sebagai Merek Kolektif untuk Green Batik” sebagai salah satu rangkaian acara dalam Sleman Fashion Festival 2017.

Workshop ini memaparkan mengenai upaya komunitas asosiasi pembatik Sleman yang sedang mengembangkan brand bersama sehingga dapat dilindungi secara hukum melalui sistem merek kolektif (ecolabeling).

“Melalui organisasi komunitas pembatik ini juga dikembangkan sistem pengawasan terkait dengan pemasaran produk-produk batik Sleman”, tutur Budi Agus Riswandi, Direktur Eksekutif Pusat HKI Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia saat ditemui pada workshop, Senin (7/8).

Tak hanya di situ, Budi menjelaskan bahwa penggunaan merek kolektif pada asosiasi pembatik Sleman juga akan memberikan banyak keuntungan. “Salah satunya, dapat memfasilitasi kerjasama antara produsen lokal dan pedagang dan meningkatkan kontrol kualitas,” ujar Budi.

Karena seperti diketahui, Batik Sleman terkenal dengan kualitasnya yang baik. Ini dilihat dari penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan. Budi pun berharap ke depannya, penggunaan merek kolektif ini bisa dilakukan oleh seluruh pembatik di Sleman sehingga batik Sleman dapat dilestarikan dan dilindungi keberadaannya.