Sleman – Gemarikan atau Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan sudah dilakukan sampai ke level kelompok. Salah satu kelompok yang ikut mengkampanyekan Gemarikan adalah Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklasar) Ikan Sari Mina dari Dusun Sempu, Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Sleman.
Melalui produk olahan ikan dari kelompok yang diketuainya, Yati Pratiwi memulai menularkan kepada masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi ikan. “Kami memang memperhatikan gizi anak daripada makan ayam yang broiler terus,” ucap Yati saat ditemui Senin (9/10).
Kepedulian Yati dan 10 anggota lainnya terhadap pemenuhan nutrisi anak ini, diawali pada tahun 2008 lewat pelatihan yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman.
“Kami ada pelatihan dari Disperindag dan ini dulu berdirinya dari tahun 2008 tepatnya November terus dengan itu kita beranggotakan 20 orang kemudian setelah berjalannya waktu yang namanya kelompok itu ada yang mengundurkan diri tinggal 10,” cerita Yati.
Produk olahan ikan yang diunggulkan oleh Poklasar Sari Mina adalah Abon Lele. Lele sendiri sering diolah dengan cara digoreng atau dibakar. Menurut Yati, pengolahan model ini tidak bisa membuat lele tahan konsumsi sehingga Yati dan kelompoknya mengembangkan inovasi baru.
“Kalau diabon bisa setahun disimpan,” beber Yati.
Meski olahan abon ikan bukan olahan baru, dituturkan Yati, abon lele buatannya berbeda dari abon yang lainnya.
“Abon kami tidak amis kata orang yang mencobanya,” ungkap Yati.
Yati membocorkan, abonnya tidak amis karena menggunakan bahan rempah-rempah yang banyak.
“Bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, gula, jahe, lengkuas, serai, daun salam, daun jeruk, air asam jawa. Ini saya dapat pas saya ke Pekanbaru, dapat ilmu cara ngolah ikan biar enggak amis,” bocor wanita 47 tahun ini.
Selain penggunaan rempah-rempah yang berlimpah, Yati tidak memasukkan bahan penyedap rasa buatan. Konsumennya menyebut, justru karena tidak menggunakan penyedap rasa buatan, abon milik Yati dan kelompoknya ini terasa lebih lezat dibanding yang lain.
Dalam satu bulan, Poklasar Sari Mina bisa memproduksi 50 kg abon lele dari 2 kuintal lele mentah yang Yati dapat dari forum perikanan atau petani ikan di Sempu, Minggir, Macanan, dan Berbah. Abon yang per kilonya dijual seharga 200 ribu rupiah ini, dipasarkan hampir ke seluruh Indonesia.
“Pertama penjualannya dulu lewat pameran dan di Asosiasi Pengolah Pemasar Ikan Kabupaten Sleman. Lalu tahun 2012 penjualan mulai lewat jaringan, kulakan, atau orang ngambil ke saya di online-kan,” ujar Yati.
Yati dan teman-temannya cukup berbangga atas usaha yang sudah dikelolanya selama 9 tahun ini. “Bisa memberi lapangan kerja, dijual juga laku, awet,” tuturnya.
Ke depannya, Yati dan teman-temannya berharap usahanya dapat terus bertahan sehingga ada lebih banyak orang yang mengkonsumsi abon buatan kelompoknya ini.
Tak hanya itu, Yati juga ingin dapat membagikan ilmunya mengenai pengolahan abon ikan ke masyarakat luas agar konsumsi ikan di Indonesia dapat terus meningkat.