Kementerian Agama Sleman Gelar Sosialisasi Wakaf Uang Tunai

Ngaglik – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pimpinan Wilayah (PW) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman mengadakan Sosialisasi Wakaf Uang Tunai dan Umroh Bagi Marbot Masjid pada Rabu (11/10) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman. Program ini merupakan program unggulan Pimpinan Wilayah (PW) Dewan Masjid Indonesia (DMI) DIY.

Sumber dana melalui Wakaf Uang Tunai merupakan hal yang baru. Selama ini, wakaf dikenal hanya berbentuk benda tidak bergerak, misalnya tanah. Namun, dengan dikeluarkannya Undang–Undang Nomor 41 tahun 2004, wakaf dapat diberikan dalam bentuk uang tunai.

Undang-undang ini terbilang masih baru maka perlu disosialisasikan kepada masyarakat dan jemaah masjid di wilayah Sleman, disampaikan oleh Ketua Pimpinan Wilayah DMI DIY Prof. DR. Muhammad, . Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman H. Sya’ban Nuraeni, menyambut baik dan berterima kasih karena telah diadakan sosialisasi wakaf uang tunai ini.

Nuraeni juga menyampaikan, Kementerian Agama DIY sendiri memiliki program lain, yakni:

  1. Masalah ketahanan keluarga terkait nilai-nilai agama dalam keluarga yang harus ditanamkan dalam keluarga sejak dini
  2. Program pemberantasan radikalisme dan menanamkan dan meningkatkan toleransi
  3. Peningkatan mutu pendidikan madrasah
  4. Peningkatan kerukunan umat beragama

Dengan beberapa program unggulan tersebut, termasuk di dalamnya masjid difungsikan sebagai tempat ibadah yang dirindukan para jemaahnya, juga sebagai tempat untuk meningkatkan pengetahuan agama serta tempat pembinaan jemaah. Selain itu, masjid pun merupakan pusat dakwah, kebudayaan, dan kaderisasi pemimpin bangsa masa depan. Sementara itu, terkait program DMI, masjid difungsikan sebagai pengembangan ekonomi umat utamanya dalam pemberdayaan ekonomi para jemaahnya.

Dalam kesempatan itu, hadir pula tokoh pelaksana wakaf uang tunai dari Yayasan Wakaf Indonesia, H. Muhammad Jae Prasetyo yang menjelaskan tata cara dan pelaksanaan wakaf uang tunai kepada 40 takmir masjid se-Kabupaten Sleman sebagai pelopor wakaf uang tunai. Dalam kesempatan tersebut juga hadir Ketua DMI Kabupaten Sleman Drs. H. Parwoto. MM serta undangan lainnya. (Suripto)




Mulai Jum’at Besok, Rangkaian Upacara Adat Wonolelo Digelar

Foto Ngalap Berkah Upacara Adat Wonolelo Oleh Giri Wijayanto

Sleman – Rangkaian upacara adat Ki Ageng Wonolelo bakal digelar mulai Jum’at malam tanggal 13 – 28 Oktober 2017 di Pondok Wonolelo  Widodomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta. Pembukaan ditandai dengan pengajian akbar oleh Al Ustadz H. Habib Mussofha dari Cilacap Jawa Tengah. 

Pengajian akbar tersebut dimaksudkan sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai ulama besar dan penyebar agama Islam Sedangkan puncak acara yang berupa Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo akan dilangsungkan pada Jum’at Kliwon 27 Oktober 2017.

Demikian dinyatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman HY Aji Wulantara, SH, , Kamis 12 Oktober 2017 dikantornya Jl. KRT Pringgodiningrat  Beran Tridadi Sleman Yogyakarta.

Ketua panitia Wartono mengatakan bahwa maksud dan tujuan diselenggarakannya upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo adalah untuk mendukung wisata budaya di Kabupaten Sleman pada khususnya dan di DIY pada umumnya.

Selain itu juga untuk mengajak generasi muda menggali dan lebih memahami nilai-nilai seni budaya yang adiluhung dan memberikan wahana bagi pertumbuhan kesenian rakyat serta menumbuhkan rasa handarbeni dan kecintaan terhadap seni budaya bangsa sendiri. Disamping itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku ekonomi selama aktivitas kegiatan berlangsung,

Wartono menambahkan bahwa Ki Ageng Wonolelo dengan nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram.

Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo, memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu. Karena memiliki ilmu yang tinggi, ia pernah diutus Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkan terhadap Mataram.

Ia pun berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya. Nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru dengannya.

Sebagai seorang panutan Ki Ageng Wonolelo memiliki ilmu tinggi, Ki Ageng Wonolelo banyak mewariskan berbagai peninggalan yang berupa tapak tilas dan pusaka dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian dikirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya.

Dalam rangkaian upacara adat Ki Ageng Wonolelob tersebut akan dipentaskan berbagai potensi seni budaya diantaranya pentas seni akan PAUD/ TK, hadroh dan qosidah, srunthul, jathilan, orkes melayu/ dangdut, badui, angklung, sholawatan, karawitan, kethoprak PS Bayu, dll.

Sedangkan dalam puncak upacara adat pada tanggal 27 Oktober 2017 berupa kirab pusaka Ki Sgeng Wonolelo, kirab Gunungan, Kirab Keprajuritan, tari dan fragmen serta penyebaran apem sebagai simbolisme sedekah untuk diperebutkan oleh pengunjung yang dianggap dapat mendatangkan keberkahan hidup. Sedangkan penutupan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2017 dengan pementasan orkes melayu Lathansa dan Wayang Kulit dengan dalang Ki Sritanto.