Buletin Rangkum Informasi Pembangunan Desa Sardonoharjo

Ngaglik – Kepala Desa Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho, SE menerima KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) Kecamatan Ngaglik dalam acara Anjangsana ke Desa Sardonoharjo, Selasa (10/10). 

Harjuno menyambut baik atas kunjungan KIM Kecamatan Ngaglik, yang bertujuan untuk melihat dari dekat Kiprah KIM Desa Sardonoharjo yang telah terbentuk beberapa bulan yang lalu.

Sekarang ini, KIM Desa Sardonoharjo sudah mulai aktif dengan keahlian para generasi muda di Desa Sardonoharjo. Hal ini dibuktikan dengan Desa Sardonoharjo yang sudah mempunyai website, Instagram, serta media lainnya.

Menariknya lagi, KIM Desa Sardonoharjo mulai membuat buletin 2 bulanan dengan nama Warta Sardonoharjo dengan ikon berita warga Desa Sardonoharjo.

Informasi apapun yang sifatnya pembangunan dan kemasyarakatan bisa dimuat di buletin ini. Biaya pencetakan buletin ini pun mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Sardonoharjo dan pihak sponsorship.

Dalam kesempatan ini, Suripto selaku perwakilan KIM Kecamatan Ngaglik mengharapkan KIM Desa Sardonoharjo dapat terus dikembangkan. “Apalagi sudah ada modal dasar tenaga dari remaja karang taruna yang semangat dan handal dengan berbagai media yang telah ada, tinggal terus mengaktifkan semua potensi yang ada di Desa Sardonoharjo,” tambah Suripto.

Wakil Ketua KIM Desa Sardonoharjo, Eka Sastra, menyampaikan kesiapannya untuk memajukan KIM Desa Sardonoharjo yang merupakan bagian dari KIM Kecamatan Ngaglik ini. (Suripto)




Kartu Tani Atasi Masalah Terkait Pertanian

Ngaglik – Kita semua telah masuk era digital untuk itu semua harus bisa mengikuti perkembangannya. Kini semua pelayanan satu demi satu sudah memanfaatkan elektronik. Termasuk para petanipun sudah harus melek elektronik karena ke depan sudah serba digital, mau tidak mau, suka tidak suka harus menggunakannya.

Seperti yang dilakukan Kepala Desa Sukoharjo, Hadi Subronto yang menyerahkan Kartu Tani untuk para petani Desa Sukoharjo pada Senin (9/10) di Aula Balai Desa Sukoharjo Ngaglik.

Para petani diberikan Kartu Tani tujuannya tidak lain untuk mempermudah cara bertransaksi termasuk pencairan bantuan dari pemerintah dan kredit perbankan termasuk mencari pupuk melalui koperasi atau melalui kelompok tani. Diharapkan dengan kartu tani ini, para petani bisa mengakses terkait persoalan pertanian mulai pembibitan sampai panen.

Namun karena ini hal yang baru maka perlu pendampingan, pemantauan, dan evaluasi secara berkesinambungan, baik keuntungan dan kerugian pemakaian kartu ini. Lebih lanjut, para penerima kartu tani mengucapkan terima kasih karena para petani sudah terbantu dengan kartu tani ini.

Para petani berharap kartu ini bisa memperlancar usaha taninya mulai dari pembibitan sampai pasca panen termasuk penjualan dan pemasarannya di lapangan.

Sementara itu, perwakilan dari Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman menyampaikan selamat telah menerima kartu tani ini. Semoga bermanfaat dan menambah semangat baru dalam bertani sehingga produksi pertaniannya dapat meningkat. (Suripto)

 




Peserta KB Baru Capai 25,15%

Sleman – Acara Monitoring dan Evaluasi Bakti Sosial TNI Manunggal keluarga berencana dan KB tingkat Provinsi DIY dilaksanakan Jumat (6/10) di balai desa Trimulyo, Kabupaten Sleman.

Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) merupakan program yang melibatkan berbagai lintas sektor oleh karena itu penyerasian kebijakan antar sektor menjadi perhatian bersama.

Maka dari itu dalam realisasinya BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) bersama TNI telah menetapkan kesepakatan bersama tentang kerjasama revitalisasi Program KKBPK.

Dalam sambutannya, Sri Purnomo mengatakan bahwa kegiatan Bakti Sosial TNI Manunggal KB Kesehatan telah sejalan dengan agenda prioritas Pembangunan Nasional (Nawacita), cita ketiga yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Purnomo juga menyampaikan, sampai bulan Agustus jumlah peserta baru Keluarga Berencana (KB) telah tercapai 25,15% dan peserta aktif KB 77,41%.

“Pencapaian kesertaan KB sampai dengan bulan Agustus  peserta KB Baru telah tercapai dari perkiraan permintaan pasar (PPM) tercapai 25,15 %. Sedangkan Peserta aktif sebanyak dari PPM atau %,” jelas Sri Purnomo.

Sementara  Dandim 0732 Sleman Letkol Arm Djoko Sudjarwo memaparkan bahwa tujuan dari monitoring ke daerah-daerah atau ke wilyah-wilayah kabupaten ingin mencatat atau ingin mengetahui apa yang dilakukan dan dikerjakan program pemerintah dalam hal pengendalian laju pertumbuhan penduduk ini bisa berhasil atau tidak.

“Program dari BKKBN dalam hal ini oleh pemerintah merupakan suatu program yang harus dijalankan,” Jelas Joko.
Ia mengatakan, program yang beberapa waktu lalu diharapkan pegendalian laju penduduk bisa terkontrol tetapi pada evaluasi program 2016 ternyata tidak tercapai.

“Mudah-mudahan kita selaku warga yang bertempat tinggal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dapat mensukseskan program yang dicanangkan pemerintah,” harap Joko mengakhiri pidatonya. (Firli)




Abon Lele Awet Hingga Satu Tahun

Sleman – Gemarikan atau Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan sudah dilakukan sampai ke level kelompok. Salah satu kelompok yang ikut mengkampanyekan Gemarikan adalah Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklasar) Ikan Sari Mina dari Dusun Sempu, Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Sleman.

Melalui produk olahan ikan dari kelompok yang diketuainya, Yati Pratiwi memulai menularkan kepada masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi ikan. “Kami memang memperhatikan gizi anak daripada makan ayam yang broiler terus,” ucap Yati saat ditemui Senin (9/10).

Kepedulian Yati dan 10 anggota lainnya terhadap pemenuhan nutrisi anak ini, diawali pada tahun 2008 lewat pelatihan yang diberikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman.

“Kami ada pelatihan dari Disperindag dan ini dulu berdirinya dari tahun 2008 tepatnya November terus dengan itu kita beranggotakan 20 orang kemudian setelah berjalannya waktu yang namanya kelompok itu ada yang mengundurkan diri tinggal 10,” cerita Yati.

Produk olahan ikan yang diunggulkan oleh Poklasar Sari Mina adalah Abon Lele. Lele sendiri sering diolah dengan cara digoreng atau dibakar. Menurut Yati, pengolahan model ini tidak bisa membuat lele tahan konsumsi sehingga Yati dan kelompoknya mengembangkan inovasi baru.

“Kalau diabon bisa setahun disimpan,” beber Yati.

Meski olahan abon ikan bukan olahan baru, dituturkan Yati, abon lele buatannya berbeda dari abon yang lainnya.

“Abon kami tidak amis kata orang yang mencobanya,” ungkap Yati.

Yati membocorkan, abonnya tidak amis karena menggunakan bahan rempah-rempah yang banyak.

“Bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, gula, jahe, lengkuas, serai, daun salam, daun jeruk, air asam jawa. Ini saya dapat pas saya ke Pekanbaru, dapat ilmu cara ngolah ikan biar enggak amis,” bocor wanita 47 tahun ini.

Selain penggunaan rempah-rempah yang berlimpah, Yati tidak memasukkan bahan penyedap rasa buatan. Konsumennya menyebut, justru karena tidak menggunakan penyedap rasa buatan, abon milik Yati dan kelompoknya ini terasa lebih lezat dibanding yang lain.

Dalam satu bulan, Poklasar Sari Mina bisa memproduksi 50 kg abon lele dari 2 kuintal lele mentah yang Yati dapat dari forum perikanan atau petani ikan di Sempu, Minggir, Macanan, dan Berbah. Abon yang per kilonya dijual seharga 200 ribu rupiah ini, dipasarkan hampir ke seluruh Indonesia.

“Pertama penjualannya dulu lewat pameran dan di Asosiasi Pengolah Pemasar Ikan Kabupaten Sleman. Lalu tahun 2012 penjualan mulai lewat jaringan, kulakan, atau orang ngambil ke saya di online-kan,” ujar Yati.

Yati dan teman-temannya cukup berbangga atas usaha yang sudah dikelolanya selama 9 tahun ini. “Bisa memberi lapangan kerja, dijual juga laku, awet,” tuturnya.

Ke depannya, Yati dan teman-temannya berharap usahanya dapat terus bertahan sehingga ada lebih banyak orang yang mengkonsumsi abon buatan kelompoknya ini.

Tak hanya itu, Yati juga ingin dapat membagikan ilmunya mengenai pengolahan abon ikan ke masyarakat luas agar konsumsi ikan di Indonesia dapat terus meningkat.




Olahan Wingko Kembangkan Potensi Lokal

Sleman –  Mengolah bahan dasar menjadi suatu produk olahan makanan lebih diminati oleh banyak UMKM dewasa ini. Hal ini karena produk olahan makanan memiliki daya jual yang lebih tinggi ketimbang bahan dasar itu sendiri.

Kelapa, siapa yang menyangka jika diolah dengan cara yang lebih kreatif dan dicampur dengan bahan-bahan tambahan unggulan bisa menghasilkan olahan wingko yang lezat? Dengan bantuan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar yang diketuai oleh Siswanti memutuskan untuk memulai usaha wingko kelapa pada tahun 2014.

Bernama Wingko Ayu, KWT Mekar memulai usaha wingko dengan 8 anggota di dalamnya. Olahan wingko ini dipilih karena kelapa sendiri dinilai oleh para anggota sebagai bahan dasar yang familiar dan memiliki ketersediaan sangat tinggi.

“Karena di sini banyak kelapa dan untuk wingko di sini belum ada kalau ada kan juga jauh belinya,” ujar Siswanti.

Siswanti mengatakan bahwa wingko dari KWT Mekar punya kelebihan dibandingkan wingko-wingko yang ada di pasaran.

“Tanpa pengawet, manis dari gula asli, semuanya asli tanpa tambahan bahan lainnya,” bocor wanita 49 tahun ini.

Meski begitu, dituturkan Siswanti wingko KWT Mekar ini hanya tersedia dalam satu varian rasa, yakni original. Siswati mengakui bahwa anggotanya masih menilai bahwa penggunaan bahan tambahan lain seperti pewarna dan perasa justru dapat mengurangi cita rasa wingko itu sendiri.

“Selain itu kan, pewarna itu enggak bagus untuk kesehatan,” tambahnya.

Dengan bahan dasar 2 kg kelapa, tepung ketan, margarin, dan gula, setiap dua hari KWT Mekar bisa memproduksi 100 buah wingko. Siswati menuturkan bahwa dirinya dan para anggota memproduksi rutin wingko setiap hari hanya jika ada pesanan.

“Kalau ada pesanan itu tiap hari kalau enggak ada pesanan ya nanti setor saja ke warung,” ungkap Siswanti.

Pun, Siswanti berpikir wingko hanya layak konsumsi hingga tiga hari sehingga lebih baik diproduksi saat akan dijual saja.

“Kira-kira yang di warung menipis baru tambah produksi tanpa nyetok, ada pesanan langsung bikin saja jadi fresh,” tambahnya.

Selama tiga tahun memproduksi wingko, KWT Mekar memasarkan wingkonya sekadar melalui mulut ke mulut. Sebab, para anggota belum paham benar mengenai media sosial. Hal ini tentu berimbas pada jumlah penjualan yang jika dihitung per minggu hanya berkisar antara 600 hingga 700 buah wingko.

Dengan harga per buah wingko Rp ,00, per bulan untung bersih yang didapat KWT yang beralamatkan di Desa Balong Rt 09 Pakembinangun Sleman ini kurang lebih Rp 500 ribu.

Ke depannya, Siswanti dan para anggota berharap dapat memperluas pasarnya. Cara termudah yang disebut Siswanti adalah dengan mengikutsertakan ibu-ibu muda di daerahnya dalam kegiatan kelompoknya ini, utamanya dalam hal pemasaran.

“Ingin mengajak ibu-ibu muda untuk meneruskan dan membantu pemasaran lewat online kan mereka lebih mengerti,” kata Siswanti.