Pengukuhan Pengurus Baru Desa Budaya Bangunkerto Periode 2017-2022

Turi – Dalam rangka memupuk dan mempertahankan budaya, adat istiadat, dan tradisi yang adiluhung di Desa Bangunkerto khususnya dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada umumnya maka Desa Bangunkerto merevitalisasi kepengurusan Desa Budaya Bangunkerto, yang telah dikukuhkan sejak tahun 1995 oleh Dinas Kebudayaan DIY, pada Jumat (27/10).

Pergantian pengurus ini bertujuan untuk penyegaran baik pengurus maupun program kerjanya. Dalam acara tersebut dihadiri Camat Turi, tim monitoring desa budaya Kabupaten Sleman, Dinas Kebudayaan DIY.

Kepengurusan yang baru dikukuhkan oleh Lurah Desa Bangunkerto dan sebagai Ketua Desa Budaya Bangunkerto yang baru adalah Suharman.

Dalam sambutannya, Lurah Desa Bangunkerto mengajak kepengurusan baru untuk bisa bekerjasama dengan desa sehingga program-programnya bisa dilaksanakan.

Sedangkan dari Dinas Kebudayaan DIY mengharapkan supaya masyarakat menjaga budaya gotong-royong yang sangat kental di Yogyakarta agar tidak punah sehingga bisa diturunkan sampai ke anak cucu nanti.

Sementara itu, Ketua Desa Budaya Bangunkerto yang baru, Suharman dalam sambutanya berjanji akan memegang amanah dengan sungguh-sungguh dan akan menjadikan Desa Budaya Bangunkerto lebih selektif lagi dalam kegiatannya. (Harman)




Kapolres Sleman Ajak Masyarakat Hidupkan Kembali Kamling

Turi- Dalam rangka memelihara keamanan dan kenyamanan masyarakat, Kapolres Sleman mengadakan safari kamling dengan tema Rebugan Bareng Polisi pada Jumat (27/10) pukul WIB di Aula Desa Girikerto Turi. Hadir dalam acara tersebut Kapolres Sleman, Kapolsek Turi, Camat Turi, Kepala Desa Girikerto, masyarakat, dan tokoh masyarakat Girikerto, Turi.

Dalam sambutanya, Kapolres Sleman menjelaskan betapa pentingnya kamling (ronda-red) bagi terjaganya keamanan di tingkat kampung masing-masing. Hal ini mengingat akhir-akhir ini tindak kejahatan meningkat. Untuk itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan jika terdapat orang asing yang mencurigakan, masyarakat dimohon untuk segera melapor,

Kamling kini banyak yang tidak aktif dan pos kamling pun tidak berfungsi padahal sangat berguna untuk mendeteksi dini akan terjadinya kejahatan. Untuk itu Kapolres Sleman mengajak kepada semua masyarakat untuk menghidupkan kembali kamling. Kapolres juga mengingatkan bahwa jika menangkap pencuri atau penjahat untuk segera melapor ke Polsek terdekat dan tidak boleh main hakim sendiri. Sebab, jika main hakim sendiri juga bisa kena pidana.

Kapolres juga meminta masyarakat untuk selalu menjaga kegotong-royongan sehingga bisa saling menjaga keamanan antar warga.

Selain itu, Kapolres juga meminta masyarakat untuk selalu tertib dalam berkendara dan berlalulintas untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan juga pengguna jalan yang lain. (Harman)




Peran Aktif Generasi Muda Awasi Dana Desa

Turi – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menyelenggarakan Sarasehan Peran Pemuda Membangun Desa, Jumat (27/10) pukul WIB di Pendopo Youth Center Yogyakarta.

Acara melibatkan seluruh tokoh pemuda di Yogyakarta, di antaranya karang taruna dan KPMD yang berasal dari Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul. Selain itu, setiap desa dari 4 kabupaten diwajibkan mengirimkan satu perwakilan untuk mengikuti acara sarasehan tersebut, termasuk dari Desa Bangunkerto, Turi.

Narasumber dari sarasehan ini adalah Menteri Desa, PDT, dan Trasmigrasi, Eko Putro Sandjoyo, yang menjelaskan mengenai pengertian dana desa dan manfaat dana desa untuk pembangunan desa. Selain itu, Eko dalam uraiannya menuturkan bahwa saat ini Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi telah bejerja sama dengan kepolisian untuk ikut mengawasi dana desa dan yang paling penting peran serta masyarakat terutama generasi muda untuk aktif mengawal dana desa supaya tidak dikorupsi dan tepat sasaran.

Kementerian juga sudah membentuk satgas dana desa jadi bila ada penyelewengan dana desa bisa lapor ke 150 0040 untuk segera ditindaklanjuti.

Acara dilanjutkan oleh narasumber kedua, yakni Pimpinan KPK, Agus Raharjo yang membahas tentang partisipasi anak muda untuk pengawalan dana desa dan contoh korupsi dana desa. (Harman)




Pembawa Acara Tak Sekadar Penyaji Acara

Gamping – Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadikan bulan Oktober sebagai bulan bahasa dan sastra. Melalui gerakan cinta bahasa Indonesia dengan tema Martabatkan Bahasa dan Sastra Indonesia Eratkan Kebhinnekaan, Balai Bahasa DIY mengadakan pelatihan pembawa acara bagi masyarakat umum, Kamis (26/10) pukul WIB di Ruang Sutan Takdir Alisyahbana Balai Bahasa Yogyakarta.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini ditunjukkan dengan banyaknya pendaftar dari berbagai daerah dan beragam profesi, termasuk KIM Kecamatan Gamping yang diwakili Adnan Iman Nurtjahjo. Peserta lain berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti dari NTB, Kalimantan Selatan, Cirebon, Purworejo, Surakarta, dan kabupaten/kota di DIY.

Dalam sambutannya mengawali acara, Kepala Balai Bahasa DIY, Pardi Suratno, menghimbau masyarakat untuk menggunakan bahasa yang baik merupakan bagian etika berbahasa dan bentuk menghormati orang lain. Di akhir sambutan, Pardi juga berpesan agar masyarakat dapat berbahasa secara baik, santun, dan benar.

Pelatihan ini menghadirkan Lusy Laksita, Presenter Jogja TV dan Ferry Anggara Presenter TVRI Yogyakarta dengan moderator Restu Sukesti.

Menjadi seorang pembawa acara memerlukan kemampuan berbahasa yang baik dan dapat dicapai dengan membaca karena dengan membaca bisa mendapatkan banyak istilah. Apabila seseorang memiliki kemampuan berbahasa yang baik dapat berbicara dengan memperhatikan nada, intonasi, diksi, tempo, ekspresi, artikulasi, frasa, dan jeda sehingga pesan bisa tersampaikan dengan baik dan jelas ke audiensi.

Di akhir pelatihan, Ferry Anggara berpesan seorang pembawa acara tidak hanya sekadar sebagai penyaji dan penyampai sebuah acara tapi juga dituntut bisa mengolah acara atau memberi nilai terhadap suatu acara yang dibawakan, serta mengakhiri acara dengan indah. Pembawa acara yang naik panggung tanpa persiapan akan turun panggung tanpa kehormatan. (Adnan Nurtjahjo)




Bekraf Gelar Uji Petik PMK3I di Kabupaten Sleman

Sleman – Badan Ekomomi Kreatif (Bekraf) melaksanakan uji petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunung Kidul.

Untuk presentasi penilaian Kabupaten Sleman dilaksanakan Kamis (26/10) bertempat di Lantai 3 Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman. Penilaian ini dilakukan oleh pemerintah kabupaten, komunitas bisnis, dan juga akademisi.

Program PMK3I ini menurut Lolly Amalia Abdullah, selaku Pakar PMK3I bertujuan untuk melakukan pemetaan ekosistem, potensi, best practice, dan permasalahan pengembangan sistem ekonomi kreatif kabupaten/ kota sebagai bagian dari Sistem Ekonomi Kreatif Nasional yang kemudian dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan ekonomi kreatif untuk kabupaten/ kota. “Sehingga nantinya dapat terlihat jejaring subsektor ekonomi kreatif yang sama dari satu daerah ke daerah lain,” terang Lolly.

Sementara, bagi pemerintah, ditambahkan Lolly, program ini dapat dijadikan acuan untuk menentukan kebijakan pengembangan ekonomi kreatif. “Mudah-mudahan banyak kebijakan-kebijakan lain yang muncul saat sudah menentukan subsektor ekonomi kreatif sehingga bisa menunjang subsektor-subsektor ekonomi kreatif lain,” tambah Lolly.

Loly menuturkan, keputusan subsektor mana yang akan dipilih diserahkan kepada kepala daerah berdasar data analisis dan rekomendasi dari Bekraf. “Data ini perlu untuk memberikan banyak sekali pandangan tentang apa yang harus dilakukan ke depan. Data juga satu alat untuk mengambil kebijakan yang tepat. Tanpa data akan sulit untuk mengambil kebijakan,” jelas Lolly.

Acara kemudian dilanjutkan dengan visitasi dan didampingi oleh para asesor dari Bekraf.