Kerai Bambu Jogja, Tingkatkan Nilai Jual Komoditas Desa

Sleman – Berkecimpung di dunia bisnis bukanlah hal mudah. Apalagi jika awalnya terbiasa menyandang status sebagai pegawai orang tanpa perlu mengkawatirkan kerasnya persaingan dalam dunia bisnis. Namun, tekad kuat Wiwit Budi Wicaksono, warga Ngrenak Kidul, Sidomoyo, Godean, Sleman mengalahkan ketakutannya pada sengitnya kompetisi di dunia bisnis.

Mengawali karirnya sebagai pegawai di sebuah perusahan mebel sejak tahun 2006, Wiwit mengasah jiwa dagang yang ia miliki hingga hampir 5 tahun lamanya.

“Dulunya di mebel sekitar 5 tahun dari tahun 2006 terus jaga counter handphone di daerah Gejayan,” cerita Wiwit saat ditemui Selasa (14/11).

Mengusung nama Kerai Bambu Jogja, Wiwit membuka usaha finishing, assembling, dan packing kerai bambu pada tahun 2014. Menurut Wiwit, kerai bambu merupakan komoditas di desanya, ia hanya berusaha mengembangkan komoditas tersebut agar meningkat daya jualnya.

“Saya kan tidak produksi saya cuma finishing, assembling, packing, dan beberapa teman kan istilahnya saya ajak untuk produksi. Kalau ukir kan ada rekanan sesama UKM pengrajin bambu gitu ada dari Magelang,” terang pria dengan dua anak ini.

Dengan dua pegawai, rata-rata per hari Wiwit bisa menyelesaikan satu lembar kerai. Kerai ini menggunakan bahan dasar bambu wulung yang didapatnya dari Purworejo, Kulon Progo, bahkan Sedayu. Dengan daya tahan mencapai 2 tahun, kerai ini ia jual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 170 ribu hingga Rp 450 ribu, tergantung dari desain motif dan ukiran kerai.

“Itu ukuran standar 2×2 meter,” tukasnya.

Diakui Wiwit, desain motif dan ukiran kerainya tak sepenuhnya hasil kreativitasnya.

“Desain ini kita googling, kalau umumnya kerai polos, cuma untuk pengembangannya kadang ada yang by request pesanannya, nanti mau minta yang gambar apa. Cuma kalau kita sendiri kita tawarkan gambar yang sudah kita punya, paling gambar seperti motif daun,” jelas Wiwit.

Motif daun inilah yang menurutnya paling cepat terjual sebab terkesan natural pun klasik.

Wiwit menjual kerai hasil kerajinannya tak hanya secara offline tetapi juga online melalui berbagai media sosial. Tak pelak ini, membuat konsumennya tersebar hingga ke pelosok Indonesia.

“Kalau pasarannya kita rata-rata malah ke luar kota. Lebih dari 50% pembelinya kita di luar kota, kalau biasanya Bandung, Jakarta, Lampung, Makassar, Dompu, NTB, NTT juga ada,” urai alumni SMA Negeri 9 Yogyakarta ini.

Meski sudah mapan secara pasar, Wiwit mengaku dirinya belum tertarik melakukan ekspor untuk kerajinan kerainya.

“Karena terlalu riskan kalau untuk kerai, karena costnya terlalu tinggi untuk pengolahannya, soalnya kalau kita awetkan dari segi costnya itu semakin mahal tidak relevan dengan nilai kerainya,” urainya.

Selain itu, Wiwit mengatakan bahwa alasannya tak ekspor adalah karena permintaan dalam negeri yang terbilang masih cukup banyak. Di Jogja sendiri bisa mencapai 300 lembar per bulan.

Setiap bulannya, Wiwit bisa mengantongi omzet sebesar Rp 15 juta. Ini dibeberkan Wiwit telah cukup memenuhi kebutuhannya mengingat usaha kerainya merupakan usaha pokok yangh ia jalani. Ke depan, Wiwit berharap usahanya ini bisa mendapatkan hati di lebih banyak konsumen, tak hanya konsumen rumahan, tetapi hingga ke industri perhotelan yang kiranya membutuhkan kerajinan kerai.




Upacara Adat Pager Bumi Wujud Syukur Hasil Bumi

Turi – Upacara Adat Pager Bumi di Desa Wisata Pulesari cenderung sama dengan upacara merti desa lainya, yaitu menampilkan berbagai macam kesenian seperti wayang kulit, jatilan, kobro, dan bregada. Namun, yang membedakan Upacara Adat Pager Bumi yang diselenggarakan pada Jumat (17/11) ini adalah acara dibuka dengan prosesi mubeng (keliling-red) deso. Semua warga Dusun Pulesari wajib ikut acara nengelilingi pinggir kampung melewati jalan setapak yang sudah disiapkan oleh warga ini.

Acara dimulai dengan mujahadahan kemudian dilanjutkan jalan keliling kampung dengan topo bisu (berjalan dengan tidak boleh mengeluarkan kata atau suara) dan diwajibkan berdoa dalam hati untuk keselamatan semua warga.

Malam kedua digelar pentas wayang kulit sementara siang harinya diadakan prosesi Kirab Tumpeng dari Pendopo Desa Wisata Pulesari menuju ke makam. Sebelum diperebutkan oleh warga tumpeng didoakan terlebih dulu dengan harapan mendapatkan berkah dari berbagai macam jenis gunungan tersebut. Sementara itu, malam ketiga dimeriahkan oleh Pentas Kesenian Kobro Siswo dan malam terakhir ditutup dengan Pentas Kesenian Jatilan

Tujuan diadakanya upacara tersebut adalah untuk melestarikan adat istiadat juga seni budaya. Selain itu, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil bumi selama satu tahun ini.

Harapan, semoga Yang Maha Kuasa selalu memberikan rejeki yang melimpah dan memberikan keselamatan kepada semua masyarakat Desa Pulesari ditahun-tahun yang akan datang. (Harman)




Uji Kompetensi Akhiri Pawiyatan Jawa

Kalasan – Sanggar Pembinaan Budi Pekerti dan Pelestari Budaya Jawa “Memetri Wiji” Padukuhan Tamanan, Tamanmartani, Kecamatan Kalasan telah 6 bulan dijadikan pilot project Pawiyatan Jawa oleh Dinas Kebudayaan DIY. 

Dalam Pawiyatan Jawa itu dikhususkan materi baca dan tulis huruf jawa bagi peserta didiknya. Para peserta yang usianya 6 hingga 17 tahun itu tidak saja belajar menulis dan membaca huruf Jawa, tetapi juga angka Jawa.

Pawiyatan Jawa dimulai pertengahan bulan Mei 2017 hingga pertengahan November 2017. Di akhir pawiyatan peserta mengikuti ujian kompetensi yang berlangsung Minggu (19/11). Materi ujian meliputi alih aksara Jawa ke latin, latin ke Jawa, membaca huruf dan angka serta penjumlahan.

Para peserta ujian akan mendapatkan sertifikat dan penghargaan bagi yang berprestasi dan akan diserahkan pada acara Penutupan Program (Wisudan) yang rencananya dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY.

Diharapkan Pawiyatan Jawa yang merupakan baru satu-satunya di DIY ini dapat ditiru dan berkembang di wilayah lain.

Sementara Sanggar Memetri Wiji yang berdiri secara swadaya sejak tahun 2011, pasca berlangsungnya Pawiyatan Jawa tetap akan berjalan seperti biasa dengan materi belajar, yakni unggah-ungguh, tata krama, sopan santun, menulis dan membaca huruf jawa, tembang macapat, geguritan dan tembang dolanan anak. (Tri Joko)

 




Remaja Patut Sadari Kelebihan Dirinya

Turi – Pengurus Ikatan Remaja Kecamatan Turi dengan ketuanya, Muhamad Anwar bekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Turi menyelenggarakan seminar psikologi yang bertema Menjadi Remaja yang Produktif, Minggu (19/11) di Ruang Rapat Kantor Puskesmas Turi. Acara ini diikuti oleh anak SMP dan SMA se-Kecamatan Turi.

Acara yang dimulai dari pukul WIB ini menghadirkan narasumber Psikolog, Titi Pratiwi dari Puskesmas Turi.

Melalui seminar ini diharapkan remaja dapat selalu berpikir positif, menyadari bahwa dirinya pasti ada kelebihan masing-masing, dan tidak selalu melihat orang lain dari sisi buruknya.

“Coba mindset diri Anda untuk melihat dari sisi baiknya. Dengan demikian Anda akan menjadi orang yang beruntung,” ungkap Titi.

Dalam acara ini, juga diadakan simulasi dan cara mengenali teman baru. (Harman)




Musrebangdes, Mekanisme Berjenjang yang Wajib Dilakukan

Ngaglik – Untuk mengawali kegiatan pembangunan perlu ada perencanaan yang mantap sehingga hasil pembangunan bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat guna mencapai kesejahteraannya. Demikian harapan dari seluruh masyarakat Desa Sukoharjo dalam pertemuan Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrebangdes) yang digelar di Balai Desa Sukoharjo, Minggu (19/11).

Acara ini dihadiri 60 peserta dari Perangkat Desa Sukoharjo, Dukuh, RW, RT, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama serta LSM di Desa Sukoharjo serta UPT Kecamatan yang sempat hadir dalam pertemuan ini.

Rangkaian acara Musrebangdes, antara lain pembukaan dilanjutkan dengan sambutan Kepala Desa Sukoharjo, Hadi Subronto. Kepala Desa mengatakan bahwa kegiatan seperti ini rutin dilakukan setiap tahun untuk itu berharap usulan-usulan dari dusun bisa ditampung dan dimasukkan dalam usulan tahun anggaran 2018 mendatang. Namun, mengingat pagu anggaran terbatas yang tidak bisa masuk dalam anggaran tahun 2018 maka bisa dimasukkan dalam anggaran tahun 2019.

Dalam tahun anggaran 2017 sampai bulan ini telah mencapai 80% dari Dana Desa, ADD dan Bagi Hasil. Untuk tahun 2018, Desa Sukoharjo mendapatkan anggaran sesuai pagu sebesar Rp miliyar dan dari BKK sebesar Rp 500 juta. Untuk itu, Kepala Desa Sukoharjo dalam program tahun 2019, setiap padukuhan supaya mengajukan anggaran sesuai kebutuhan masyarakat agar pembangunan bisa bermanfaat dan merata.

Selanjutnya Camat Ngaglik yang diwakili Kasi Ekonomi Dan Pembangunan, Yani, menyambut baik diadakannya musyawarah perencanaan ini di mana merupakan mekanisme yang harus dilaksanakan oleh pemerintah desa secara berjenjang mulai dari dusun sampai nasional.

Ada 2 macam musyawarah perencanaan pembangunan dan RKP Desa karena ada kaitannya masalah kewenangan desa. Kegiatan disesuaikan anggaran yang ada melalui ADD, Bagi Hasil dan PAD serta Bantuan Khusus untuk Desa Hibah tidak diberikan secara langsung melalui BKK untuk pemberdayaan masyarakat untuk pembangunan non fiisik. Kegiatan non fisik dianggarkan 20%. “Tentukan prioritas program dan kegiatan serta untuk mengedepankan hasil outcome bisa dibuat profil desa,” tutur Yani.

Yani juga menyinggung terkait perpustakaan yang telah juara nasional harus terus dipertahankan, juga tetap melanjutkan program BUMDes untuk meningkatkan pendapatan desa.

Acara dilanjutkan paparan RKP Desa Sukoharjo yang disampaikan Ketua LPMD Desa Sukoharjo, Subadi. Paparan langsung ditanggapi oleh peserta Musresbangdes serta hasil diskusi disepakati secara langsung oleh seluruh peserta. (Suripto)