KIM Turi Bahas Peningkatan Programnya

Turi – Dalam rangka pelaksanaan kegiatan KIM Kertomandiri Turi pada Senin (20/11) pukul WIB, diadakan pertemuan di Dusun Nangsri Lor Girikerto, Turi.

Dalam pertemuan Ketua KIM Kertomandiri Turi, Bakir, meminta agar program KIM dapat ditingkatkan lagi. Selain itu, UMKM kualitas produk perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

Ketua Koperasi Simpan Pinjam Kertomandiri Sejahtera, Yatiman, dalam sambutannya mengajak kepada pengurus untuk secara rutin mengerjakan administrasi karena sudah akan Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Selanjutnya, disampaikan sosialisasi oleh Suharno tentang Kebijakan Anggaran Dana Desa. Anggota KIM harus mengerti dan perlu menyampaikan kepada warganya. Selanjutnya Suharno, menyampaikan tentang akses informasi dan networking.

Acara dilanjutkan dengan laporan simpan pinjam, dana sosial, arisan, dan tanya jawab. (Suharno)




Bangunkerto Raih Juara Pertama Lomba Kampong Hijau

Turi – Senin (20/11), bertempat di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DIY Lantai 2, diadakan pengumuman sekaligus pemberian hadiah untuk Lomba Kampong Hijau tingkat provinsi.

Lomba Kampong Hijau adalah lomba yang diadakan setiap tahun oleh DLH DIY. Adapun kriteria lomba meliputi adaptasi dan mitigasi suatu kampung terhadap dampak dari pemanasan global antara lain meliputi tentang kebersihan, keindahan, kesejukan, keasrian, dan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lumbung pangan.

Lingkungan harus dirawat dan dimanfaatkan dengan baik. Pekarangan rumah bisa dimanfaatkan dengan ditanami sayuran dan buah-buahan sehingga bisa bermanfaat. Pun, dengan sampah harus dikelola sendiri oleh warga kampung melalui kelompok sedekah atau bank sampah. Jangan sampai sampah dibakar karena itu bisa meyebabkan pemanasan global.

Tahun ini, lomba diikuti oleh Kotamadya, Sleman, Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul. Kelimanya sudah dievaluasi dan dinilai pada September lalu. Pemenang pertama jatuh kepada Dusun Wonosari, Bangunkerto, Turi, Sleman. Sementara juara dua adalah Dusun Rejosari, Baleharjo, Gunungkidul. Disusul oleh Rw 13 Kauman Ngupasan Yogyakarta dan Dusun Karanganom Sitimulyo Piyugan Bantul. Juara terakhir diperoleh Dusun Kroco Sendangsari Pengasih Kulon Progo.

Hadiah berupa uang pembinaan total sebesar Rp 25 juta dan juga masing-masing mendapatkan tanaman buah dalam pot sebanyak 50 buah. Hadiah diberikan langsung oleh Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas DLH DIY, Sri Lestari. (Harman)




Kreatif Tonjolkan Warna Alami Daun

Sleman – Kepeduliannya pada lingkungan membawa gadis kelahiran tahun 1990 ini berinovasi pada kain kreasinya. Jika pengusaha lain menggunakan pewarna buatan sebagai bahan menggambar motif, ini berbeda dengan Hastin Solihah. Hastin yang peduli terhadap bagaimana pewarna kimia dapat mencemari lingkungan, berupaya melakukan penelitian satu tahun lamanya untuk mencari pewarna alami yang ramah lingkungan.

“Kalau enggak punya sumur limbah khusus untuk pewarna kimia itu nyerap langsung ke tanah jadi berpengaruh ke air sumurnya terus gimana caranya supaya terus berkarya dengan pewarna yang alami,” cerita Hastin.

Ditemui di kediamannya di Padukuhan Jangkang, Nogotirto, Gamping, Sleman, Selasa (14/11), Hastin membeberkan bahwa ia menggunakan teknik eco printing sebagai solusi dari permasalahan pencemaran lingkungan tersebut.  Eco printing sendiri adalah salah satu teknik pengolahan kain yang menggunakan pewarna alam sebagai bahan untuk membuat motif.

“Jadi saya tidak menggunakan bahan kimia, motif-motifnya dibuat dari daun-daunan, jadi kalau bisa dilihat motifnya memang bentuknya natural daun, kemudian ada bunga, ada batang, ada akar juga,” urai wanita 27 tahun ini.

Untuk menghasilkan kain eco printing buatannya, ada beberapa proses yang harus dilalui. Pertama, kain harus dimurdan atau proses menghilangkan kanji di atas kain.

“Jadi kalau kita beli kain di pabrik kan masih ada campuran bahan kimia ya, ini direbus dulu atau direndam semalam dengan air tawas,” jelas Hastin.

Proses selanjutnya adalah mengumpulkan dedaunan. Hastin dan pekerja lepasnya menggunakan beragam daun, mulai dari daun jati, daun jarak, daun ketepeng, daun ekor kucing, daun lanang, kulit bawang bombay, kunyit, hingga secang sebagai motif kainnya.

Daun segar yang sudah terkumpul ini, kemudian ditempel di atas kain, dan digulung dengan cara dipress. 

“Jadi gulungnya kalau bisa memang flat gitu supaya semakin manet (kuat-red) dengan kain warnanya akan semakin keluar dan tercetak di atas kainnya itu,” ungkap wanita lulusanInstitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan tekstil ini.

Hastin melanjutkan bahwa usai digulung, kain direbus selama 1-2 jam lalu didiamkan semalam supaya semakin meresap dan paginya baru dibuka.

Kain eco printing karyanya, ia beri label Kaine, dan mulai ia produksi secara rutin awal tahun 2017 ini. Dengan kain selebar 2,5 meter per potong, Hastin mulanya memproduksi hanya lembaran kain bermotif daun saja. Namun, seiring perjalanannya, ia mulai menggunakan jasa rekanan penjahit untuk mengubah kainnya menjadi baju, scraft, maupun hijab.

Ia mematok harga yang bervariasi pada karyanya ini, tergantung pada komposisi warna dan bahan yang digunakan.

“Kalau potongan biasanya itu 2,5meter ya Rp 400 ribu-350 ribu. Kalau jilbab untuk yang square jilbab biasa itu Rp 100 ribu, itu kan bahannya katun atau paris, kalau sutra Rp 400 ribu, tergantung juga dari kainnya, kainnya yang dipakai ada katun primisima, ada sutra, kain-kain yang memiliki serat alam,” tutur Hastin.

Pameran menjadi salah satu cara Hastin bertemu dengan konsumennya.

“Jadi ikut di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, itu suka ada fasilitas pameran. Nah, dari situ saya juga mendapatkan costumer,” lengkap Hastin.

Selain itu, ia juga memilih media sosial Instagram untuk memperluas pangsa pasarnya.  Melalui kedua model pemasaran ini, konsumen Hastin pun tersebar tak hanya di Indonesia tetapi hingga luar negeri seperti Singapura dan Jepang.

Omzet yang didapatnya pun terbilang cukup besar untuk usaha yang baru saja ia mulai, yakni sekitar Rp 4-5 juta per bulan. Omzet ini bisa bertambah apabila Hastin mengikuti pameran. Sebab, ia akan menambah stock produksinya tidak hanya 20 kain, seperti yang ia hasilnya tiap minggunya.

Hastin meyakini bahwa usahanya akan terus berkembang. Oleh karena itu, ke depan Hastin terus melakukan penelitian terhadap daun-daun lain yang kiranya mengandung zat tanin sehingga bisa menjadi motif baru di kain buatannya.