Padukuhan Malangrejo Miliki Rumah Data

Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Setda DIY Sulistyo dan Ketua Rumah Data Joni Prasetyo

Sleman – Setelah dikukuhkan menjadi kampung KB di awal 2016, jumlah pasangan usia subur yang aktif ber-KB di Padukuhan Malangrejo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman hingga saat ini telah meningkat 20%. Sebelum menjadi kampung KB 213 dari 330 pasangan usia subur aktif ber-KB. Kini di tahun 2017 jumlah itu telah meningkat menjadi 238 dari 299 pasangan usia subur aktif ber-KB.

Data di atas adalah salah satu dari sekian data yang terpampang di papan informasi Rumah Data Kependudukan Padukuhan Malangrejo. Rumah data ini diresmikan oleh Pemerintah Provinsi DIY yang diwakili oleh Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Setda DIY Sulistyo, Senin (27/11) di Padukuhan Malangrejo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

Rumah Data adalah bagian dari kampung KB yang digalakkan oleh BKKBN DIY. Joni Prasetyo, Ketua Rumah Data Padukuhan Malangrejo menuturkan bahwa sehari-harinya Rumah Data digunakan sebagai pusat aktivitas mengolah data. Mereka membuat infografis agar data yang disajikan mudah dimengerti dan yang mengerjakan mayoritas adalah remaja dan pemuda.

“Melalui Rumah Data yang terbentuk di kampung KB ini, kami mengharapkan adanya manfaat yaitu tersedia data yang berkualitas sehingga dapat ,memberikan arah yang lebih seksama menuju sasaran pembangunan dan menjadi dasar pengambilan keputusan maupun kebijakan pembangunan,” tutur Kepala Perwakilan BKKBN DIY Drs. Bambang Marsudi yang turut hadir di acara tersebut.

Padukuhan Malangrejo, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman dikukuhkan menjadi kampung KB oleh Sultan Hamengkubuwono X di awal tahun 2016 lalu bersama 4 padukuhan lainnya di seluruh DIY yang untuk tahun 2017 kini jumlahnya telah berkembang menjadi 78 kampung KB. Sejak saat itu Malangrejo terus menggalakkan berbagai macam program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.




Rumah Data Kependudukan Sajikan Informasi Kondisi Masyarakat Level Mikro

Sleman – Rumah Data Kependudukan Kampung KB (Keluarga Berencana) Padukuhan Malangrejo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, telah diresmikan oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda DIY, Drs. Sulistyo, SH., CN., ., Senin (27/11). Rumah Data Kependudukan tersebut merupakan pusat data terkait dinamika penduduk baik secara kuantitas maupun kualitas yang berbasis di Kampung KB.

Sulistyo mengatakan bahwa Rumah Data Kependudukan ini akan menjadi sumber informasi mengenai kondisi masyarakat di level mikro. Sehingga menurutnya data tersebut nantinya dapat dijadikan referensi untuk perencanaan pembangunan di daerah tersebut.

“Pada intinya ending dari program KB ini adalah terwujudnya keluarga yang berkualitas,” jelasnya.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa pada tahun 2020 nanti Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu meningkatnya jumlah usia produktif di tengah-tengah masyarakat. Ia berharap masyarakat mulai mempersiapkan langkah-langkah untuk menghadapi kondisi tersebut.

“Bonus demografi ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik, jika tidak maka kita akan kehilangan momentum ini,” paparnya.

Sementara itu, Drs. Bambang Marsudi, MM, selaku Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY berharap keberadaan Rumah Data Kependudukan Kampung KB tersebut mampu berdampak pada kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

Menurutnya sudah ada sebanyak 78 Kampung KB yang tersebar di seluruh Kecamatan di DIY. Adapun Rumah Data Kependudukan tersebut, lanjutnya, berfungsi sebagai basis data dan informasi kondisi kependudukan suatu wilayah.

“Ketersediaan data melalui Rumah Data Kependudukan merupakan suatu indikator keberhasilan dalam melaksanakan perkiraan untuk membangun kampung KB. Sehingga peningkatan kualitas dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai,” ucap Bambang.

Purwatno Widodo, SH, CCN., Asisten Sekretaris Daerah Bidang Administrasi Umum Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa di Kabupaten Sleman telah memiliki 17 Kampung KB yang tersebar di masing-masing kecamatan. Ia juga menjelaskan bahwa kesadara masyarakat Sleman dalam melaksanakan program KB cukup tinggi. Hingga bulan Oktober lalu, lanjutnya, peserta KB baru mencapai peserta.

“Sedangkan KB aktif berjumlah peserta,” sambung Purwatno.

Ia berharap Rumah Data Kependudukan tersebut mampu meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dan mitra di Kampung KB. Diharapkan pula Rumah Data Kependudukan tersebut dapat meningkatkan keterlibatkan masyarakat atas program-program KB yang dicanangkan oleh Pemerintah.

“Semoga keberadaan Rumah Data Kependudukan di Padukuha Malangrejo ini dapat menjadi role model bagi keberadaan Rumah Data Kependudukan di Kampung KB lainnya di Kabupaten Sleman,” imbuhnya.

Kampung KB merupakan intruksi Presiden yang telah dicanangkan sejak tanggal 14 Januari 2016 lalu, di dusun Jenawi, Desa Mertasinga, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Dalam interuksinya, menjelaskan bahwa setidaknya setiap Kabupaten/Kota setidak-tidaknya harus memiliki satu Kampung KB. di DIY sendiri telah ada 78 Kampung KB yang berada di setiap Kecamatan yang tersebar di lima Kabupaten/Kota.




Perjalanan Sejarah Kabupaten Sleman Segera Diabadikan

Sleman – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Seminar Storyline Sejarah Kabupaten Sleman bertempat di Hall Merbabu Hotel Prima SR, Jumat (24/11). Dalam seminar tersebut dibahas terkait perjalanan sejarah Kabupaten Sleman dari masa ke masa.

Ir. A.A. Ayu Laksmi Dewi Tri Astika Putri, MM, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, mengaku pihaknya berencana untuk membuat gedung diorama di Kabupaten Sleman. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa diorama tersebut nantinya akan memuat perjalanan sejarah Kabupaten Sleman dari jaman prasejarah.

“Jadi penyusunan storyline ini merupakan langkah awal untuk membuat diorama. Dari storyline nanti akan terlihat rangkaian sejarah Sleman seperti apa. Dan itu kita bahas di seminar ini bersama beberapa narasumber yang hadir,” jelasnya.

Menurutnya keberadaan diorama di Kabupaten Sleman ini dianggap penting untuk menyelamatkan dokumen sejarah Kabupaten Sleman. Ia juga akan melakukan konsultasi dengan beberapa tokoh serta ahli sejarah untuk menyusun storyline tersebut. Ayu berharap pembangunan diorama ini dapat terealisasi secepat mungkin.

“Diorama ini secara fisik mungkin sama dengan museum. Bedanya kalau diorama itu dilengkapi dengan dokumen-dokumen asli yang sah. Harapan kami diorama ini bisa mulai dibangun tahun depan,” imbuh Ayu.

Budi Wibowo, ,selaku Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi (BPAD) DIY yang turut hadir sebagai narasumber, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Sleman.

“Bagus sekali ini. Sleman memulai membuat diorama ini yang pertama di DIY. Bahkan DIY saja baru mau mulai membuat diorama di tahun 2018 nanti,” ungkapnya.

Seminar tersebut turut dihadiri oleh BKAD (Badan Keuangan dan Aset Daerah) dan Bappeda (Badan Pembangunan Daerah) Kabupaten Sleman. Selain itu, hadir pula pada kesempatan tersebut Junno Mahesa dari CV. Java Advertising selaku coordinator tim penyusun story line sejarah Kabupaten Sleman, Prof Dr Timbul Haryono, MSc., dosen UGM Drs. dan Darto Harmoko, pelestari Cagar Budaya DIY.

Acara diakhiri dengan penandatanganan berita acara penyerahan arsip yang sudah selesai direstorasi antara Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman dengan Kepala Desa Girikerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman. Pada tahun 2017 ini telah ada sebanyak 1863 lembar arsip yang sudah direstorasi di kabupaten Sleman.




Gedung Dakwah Sebagai Sentral Kegiatan Umat

Gamping – Minggu (26/11) pukul WIB, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, meresmikan Gedung Dakwah Nogotirto di Dusun Jangkang Desa Nogotirto, Gamping. Peresmian gedung milik Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Nogotirto ini ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita.

Para undangan yang hadir, antara lain tokoh Muhammadiyah dan juga ulama yang menjunjung tinggi nilai toleransi, Ahmad Syafii Maarif, Camat Gamping, Abu Bakar, Kapolsek Gamping Kompol Herwinedi, Kepala Desa Nogotirto Faizin, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta para jemaah Muhammadiyah Ranting Nogotirto.

Menurut Ketua PRM Nogotirto, Heru Prasetya, dalam sambutannya, peresmian yang sekaligus menyemarakkan hari jadi ke-105 organisasi massa Islam yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan tahun 1912 ini mengambil tema “Untuk Masyarakat yang Berkemajuan”. Gedung dakwah ini dimanfaatkan untuk melanjutkan cita-cita K.H. Ahmad Dahlan dalam memajukan masyarakat sekitar dan menjadi sentral kegiatan umat baik dalam hal kehidupan beragama, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan hubungan sosial kemasyarakatan.

Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Muhammadiyah beserta organisasi otonomnya, yakni Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah adalah mengadakan kajian dengan tema aktual, layanan pemeriksaan kesehatan, pelatihan perawatan jenazah, pasar ramadhan yang diikuti pelaku ekonomi dari masyarakat setempat, dan pemberian tunjangan kepada siswa-siswi yatim.

Selanjutnya Ketua PRM Nogotirto memberitahukan bahwa Gedung dua lantai ini didirikan di atas tanah wakaf almarhum Trisno Pawiro seluas 123 m2. Pembangunan dimulai pada tanggal 3 Juni 2016 menelan biaya kurang lebih Rp 373 juta yang berasal dari swadaya jemaah. Sementara itu, bantuan masyarakat berupa uang tunai dan material bangunan, seperti genteng, pasir, semen, granit. Donasi juga diberikan oleh amal usaha Muhammadiyah, yaitu Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Aisyiyah, dan CV. Qumiirato.

Peresmian gedung diakhiri dengan peninjauan ke seluruh ruangan yang ada. (Adnan Nurtjahjo)