Malangrejo Menjadi Percontohan Kampung KB

Sleman – Kesuksesan Dusun Malangrejo terpilih menjadi satu diantara 17 Kampung KB di Sleman menjadikannya sebagai salah satu tujuan studi banding Partners in Population and Development (PPD)  pada Kamis (30/11). 

Kegiatan ini merupakan rangkaian The 14th International Inter-Ministerial Conference on Population and Development (Konferensi Antar-Menteri untuk Kependudukan dan Pembangunan Internasional ke-14) yang diselenggarakan pada tanggal 26-30 November 2017 di Yogyakarta, dimana Indonesia menjadi tuan rumah PPD tahun 2017

Ahzanul Aziz, Sekretaris Deputi Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Bangladesh, yang juga anggota partner PPD menjelaskan bahwa PPD adalah prakarsa antar pemerintah yang dibuat khusus untuk memperluas dan meningkatkan kerjasama di bidang kesehatan reproduksi, kependudukan, dan pembangunan.

Ahzanul mengungkapkan bahwa dirinya sangat tertarik untuk hadir di Kampung KB Malangrejo karena dapat melihat langsung program-program keluarga yang ada termasuk BKB, BKR, BKL, dan UPPKS.

” Tim ini sangat aware terhadap KB, ibu, dan bayi,  serta kesehatan reproduksi.  Saya juga berharap dapat belajar banyak disini sehingga dapat saya perkenalkan di negara saya Bangladesh  ,” jelasnya.

Bupati Sleman Sri Purnomo yang menyambut langsung kedatangan tim menyampaikan bahwa salah satu kegiatan yang mengintegrasikan berbagai bidang pembangunan, untuk mewujudkan keluarga yang sejahtera adalah dengan membentuk Kampung KB di Kabupaten Sleman. Keberadaan Kampung KB diharapkan dapat menjadi sarana pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mewujudkan keluarga sejahtera.

Program Kampung KB ini juga merupakan wujud dari pelaksanaan agenda pembangunan Nawacita. Agenda pelaksanaan pembangunan Nawacita tersebut meliputi pembangunan Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sesuai SK Bupati No: 52/ tentang Kampung KB, di Kabupaten Sleman telah terbentuk 17 Kampung KB yang aktif. Pedukuhan Malangrejo  menjadi wakil dari Kabupaten Sleman sebagai Kampung KB. Terpilihnya Pedukuhan Malangrejo sebagai Kampung KB di wilayah Kecamatan Ngemplak ini ditentukan dari kriteria utama dan kriteria wilayah.

Kriteria utama tersebut antara lain jumlah pra-Keluarga Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1 Dusun Malangrejo sebanyak 99 KK di atas rata-rata pra dan Keluarga Sejahtera 1 Desa Wedomartani sebanyak 38 KK, jumlah peserta KB aktif Dusun Malangrejo hanya 55,9 persen dibawah rata-rata pencapaian peserta KB aktif Desa Wedomartani yaitu 63,89 persen, serta jumlah Unmet Need, atau perempuan usia subur yang seharusnya KB namun tidak KB sebanyak 104 orang atau 31,4 persen.

Sedangkan berdasarkan kriteria wilayah antara lain karena Dusun Malangrejo berada di wilayah kawasan wisata dan padat penduduk serta merupakan wilayah aglomerasi atau perbatasan perkotaan yang menjadikan salah satu sebab kerawanan dalam berbagai kehidupan sosial bermasyarakat.

“Untuk mendukung program KB, Kabupaten Sleman telah memiliki Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Hingga tahun 2017, Kabupaten Sleman telah memiliki 135 unit PIK Remaja yang terdiri dari 100 PIK R jalur masyarakat dan 35 PIK R jalur sekolah,” kata Sri purnomo.




Endah, 17 Tahun Sukses Kembangkan 32 Jenis Keripik

Sleman – Keripik Pare, Keripik Terong, Keripik Seledri, dan Keripik Bayam, hanya beberapa dari 32 jenis keripik yang berhasil diproduksi Sri Endah Kurniawati, warga Sorogenen, Kalasan, Sleman. Industri rumahan yang dimulai Endah dari tahun 2000 ini, mulanya hanya memproduksi 2 jenis keripik saja, yakni keripik bayam dan keripik emping jagung. Namun, seiring berjalannya waktu dengan melihat animo masyarakat pada produknya, kini 32 produk keripik aktif Endah produksi tiap harinya.

Endah menuturkan, ke-32 keripik buatannya ini hanya memiliki dua rasa, yakni original dan pedas meski dulunya memiliki rasa yang beragam.

“Dulu ada rasa balado, keju, tapi kurang bagus penjualannya, yang paling bagus hanya mercon atau pedas sama original saja,” tutur Endah.

Selain rasa, Endah juga mengamati soal jenis sayuran yang paling diminati oleh para pembeli.

“Sementara ini, penjualan tertinggi ada di pare mercon dan tiram mercon,” kata Endah.

Pembeli yang rata-rata adalah mahasiswa ini dapat menemukan produk keripik dari Endah dengan sangat mudah karena Endah menjualnya melalui banyak supermarket di Yogyakarta.

“Sekarang sudah ada di 50 supermarket,” tutur wanita kelahiran 4 Oktober 1970 ini.

Untuk memenuhi permintaan dari 50 supermarket ini, Endah memperkerjakan 3 karyawan. Setiap harinya, ia dan ketiga karyawan akan mengolah 20 kg bahan baku.

“Sehari rata-rata 20 kg, itu macam-macam bahan baku tapi kalau yang selalu memproduksi setiap hari ya pare dan jamur,” jelas Endah.

Endah menjual satu kemasan keripik seberat 140gram dengan harga berkisar antara 6 ribu hingga 11 ribu rupiah. Dengan harga ini, omzet yang diperoleh Endah tiap bulannya bisa mencapai 30-50 juta rupiah.

Meski omzet yang ia dapatkan terbilang cukup besar, Endah tetap sadar bahwa usahanya memiliki banyak kompetitor. Namun, Endah memiliki trik sendiri untuk menjadikan produk buatannya tetap favorit di mata pembeli.

“Pertama, kita konsisten, kalau toko itu asal kita konsisten itu jalan terus,” beber Endah.

Selain itu, Endah juga memperhatikan kualitas dan juga kuantitas dari produknya.

“Kualitas harus kita jaga terus, bahan baku enggak sembarangan. Selain itu, jumlahnya harus terpenuhi,” lanjut Endah.

Dengan ketiga trik ini, Endah mampu meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar di Indonesia.

“Pembeli sampai Padang yang paling jauh kemarin belum lama, Jakarta, Kalau saya habis pameran biasanya punya costumer dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya. Itu sampai sekarang masih jalan,” terang Endah.

Ke depan ibu dari dua putri ini masih ingin terus menambah jenis keripik yang ia produksi. Utamanya karena ia juga ingin menggunakan bahan baku dari para petani yang ada di daerahnya.

“Nanti bisa wortel, itu yang mudah didapat, bahan baku tidak kesulitan karena banyak supplier di sini,” ungkap Endah.




Koperasi Lansia, Tetap Produktif di Usia Senja

Sleman – Berusia lanjut bukan menjadi halangan untuk berkarya. Sekelompok lansia (lanjut usia-red) dari Purwomartani Kalasan ini bisa menjadi inspirasi bagi warga Sleman melalui kegiatan usaha yang mereka geluti sejak 24 tahun lalu.

Dengan nama Koperasi Serba Usaha Lansia, koperasi ini berdiri tepatnya pada 21 Desember 1993. Diceritakan Widiono, Ketua Pengurus Koperasi Serba Usaha Lansia, latar belakang didirikannya koperasi ini adalah untuk menghilangkan keraguan para lansia mengenai produktivitas mereka di usia senja.

“Ada trauma bagi mereka yang mendekati usia pensiun mau bekerja apa lagi, kegiatan sudah tidak ada,” cerita Widiono.

Melihat hal tersebut, diteruskan Widiono, pendiri Koperasi Serba Usaha Lansia, Sudibyo memiliki gagasan untuk mendirikan satu kegiatan yang positif untuk menunjang ekonomi anggotanya di antaranya adalah membuat Koperasi Serba Usaha Lansia ini.

Awal berdirinya, koperasi ini beranggotakan 74 namun pada tahun 2017 ini tercatat sudah ada 177 anggota yang bergabung. Lama-kelamaan pun, koperasi ini juga bergeser tak hanya koperasi serba usaha saja tetapi juga menjadi koperasi jasa.

“Koperasi jasa terkait pada PPOB, ritel, toko modern, persewaan, dan ada mitra kerja dengan PT Pertamina terkait penyaluran BBM gas,” ungkap Widiono.

Untuk menjalankan kegiatan koperasi yang beragam ini, Widiono berkata bahwa koperasi memiliki struktur kepengurusan.

“Usia paling muda untuk pengurus 66 tahun dan yang tertua 77 tahun sebagai pengawas,” beber lelaki 66 tahun ini.

Tak pelak, kesuksesan koperasi ini juga merupakan hasil dari semangat kerja para pengurus koperasi tersebut.

“Ternyata dalam usia lanjut tidak berpengaruh pada produktivitas. Anggota kami super aktif dan ada rasa memiliki atas koperasi,” lanjut Widiono.

Produktivitas ini dibuktikan dengan nominal perputaran uang setiap tahun koperasi ini yang terbilang cukup besar.

“Tahun lalu perputarannya sekitar 8-9 miliar,” bocor Widiono.

Tak hanya itu, Widiono juga mengatakan bahwa Sisa Hasil Usaha dari koperasi ini bahkan mencapai angka 60 juta. Keuntungan yang besar ini tidak lantas membuat para pengurus berleha-leha. Ke depan, Widiono bercita-cita ingin terus mengembangkan dan menurunkan kegiatan koperasi ini kepada generasi muda.

“Kita sudah mulai suksesi, kemarin baru masuk yang usia 20 tahun,” terang Widiono.




Sleman Siapkan Bantuan Bagi Masyarakat yang Terdampak Bencana

Sleman – Bupati Sleman, Sri Purnomo meninjau kawasan terdampak bencana yang diakibatkan oleh cuaca ekstrim beberapa hari terakhir ini, Kamis (30/11), di Dusun Klaci, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman. Bahu jalan sepanjang lebih dari 10 meter mengalami longsor terkena luapan air sungai. Hadir pula pada kesempatan tersebut Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sri Purnomo mengaku pihaknya tengah mengumpulkan data jumlah kerugian akibat cuaca buruk tersebut. Pemerintah Kabupaten Sleman, lanjutnya, telah mempersiapkan bantuan untuk masyarakat yang terdampak bencana, serta memperbaiki fasilitas umum yang rusak.

“Ini kan data masih terus bertambah. Harapannya minimal siang nanti data yang masuk berapa (sudah bisa diketahui). Walaupun besok pasti ditambah lagi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sri Purnomo menghimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja. Ia juga menyarankan masyarakat untuk menjauhi tempat yang dianggap bahaya.

“Jangan sampai nanti timbul kerugian, timbul korban. Termasuk binatang peliharaan juga harus dievakuasi,” papar Sri Purnomo.

Senada dengan hal tersebut, Joko Supriyanto selaku Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman juga berharap masyarakat tetap waspada meskipun bencana yang diakibatkan oleh badai Cempaka tersebut telah usai. Meurutnya musim hujan dengan cuaca ekstrim masih akan terjadi hingga beberapa bulan ke depan.

“Tetap kita himbau untuk siaga. Puncaknya musim hujan ini kan sampai sekitar Februari, meski musim hujannya mungkin sampai April. Jadi sampai bulan Februari diperkirakan masih akan terjadi hujan lebat disertai angina kencang,” ujarnya.

Hingga saat ini, Prambanan merupakan titik terparah di Kabupaten Sleman yang terkena bencana badai Cempaka tersebut. BPBD Sleman telah mengerahkan lebih dari 200 personilnya untuk melakukan evakuasi di Kecamatan Prambanan.




Gelar Pelatihan Untuk Naikan Harga Jual Salak

Turi – Pemerintah Desa Girikerto, Rabu (29/11) bertempat di Babadan Girikerto mengadakan Pelatihan kepada Kelompok Wanita Tani Babadan. Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Desa Girikerto Sumaryanto.

Dalam pembukaannya, Sumaryanto menyampaikan kepada para peserta agar mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh sehingga dapat menjadi pengusaha yang sukses dan dapat menaikan pendapatan keluarga. Selain itu dengan pelatihan ini, diharapkan juga dapat menaikan harga jual salak yang sudah diolah menjadi bermacam-macam produk.

Pelatihan yang dibiayai APBDes Girikerto tahun 2017 ini diikuti oleh 40 peserta yang dibagi menjadi 4 kelompok.

Dengan narasumber Kusharjanti Puri Sada, pelatihan dimulai pukul WIB sampai dengan pukul WIB. Untuk sesi pertama, pelatihan mengajarkan peserta untuk membuat bakpia salak dan sesi kedua membuat stick salak.

Pelatihan ini dihadiri juga Ketua PKK, Kamti, Sekretaris Desa Girikerto, Trisna Cahyana, Kepala Seksi Kesejahteraan, Yuliantara, Kepala Dusun Babadan, Sudiharjo, PPL, Jumadi, Kepala Urusan Keuangan, Dwi Rahmad Raharjo.

Sebelumnya pelatihan ini, telah diadakan kegiatan pelatihan lainnya, seperti Pengelolaan Sampah di Dusun Daleman, Pembinaan Kelompok Kali Bersih, dan Pelatihan Mikro Komputer.  (Suharno)