Gerakan Bebas Narkoba Dinas Kominfo Sleman

Sleman – Dinas Kominfo Sleman ditunjuk Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY sebagai salah satu instansi percontohan yang bebas dalam penyalahgunaan narkoba. Hal ini diungkap oleh Santi Dwi Kristina, , Tim Pemeriksa Urine Test dari BNNP DIY di sela-sela pelaksanaan urine test, Selasa (7/11) di Dinas Kominfo Sleman.

Santi menuturkan bahwa dengan menjadi salah satu dari 15 instansi percontohan berarti Dinas Kominfo Sleman akan dianggap sebagai role model bagi instansi lainnya. Pemeriksanaan urine ini dijelaskan Santi bertujuan untuk melakukan deteksi dini atau screening awal terhadap penyalanggunaan narkoba di kalangan ASN atau di lingkungan instansi pemerintah.

“Urine test merupakan rangkaian terakhir dalam proses pemberdayaan instansi percontohan. Ini salah satu upaya deteksi dini penyalahgunaan narkoba, yang kami lakukan di akhir tahun,” terang Santi.

Dalam urine test ini, ditambahkan Santi terdapat 6 parameter yang akan diperiksa.

“Yang kita periksa hari ini adalah terkait kandungan kokain, am vitamin, med a vitamin, ganja, morphine, dan benzodiazepine,” ucap Santi.

Keenam parameter ini dapat langsung diketahui seusai tes berlangsung. Sebab menurut Santi, BNNP DIY kali ini menggunakan metode rapid test, yakni penggunaan alat penguji yang bisa melihat hasil dalam waktu yang cepat atau tidak sampai 3 menit.

Bersama dengan 5 personil dari BNNP DIY, Santi menerangkan bahwa hasil positif dalam tes urine belum tentu berarti seorang pegawai melakukan penyalahgunaan narkoba.

“Tidak selalu urine test yang positif itu dia menyalahgunakan narkoba. Ada beberapa obat-obatan yang memang menjadikan terapi dokter itu mengandung zat psikotropika,” jelas Santi.

Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi kekeliruan, pihaknya akan melakukan proses assessment awal bagi mereka yang terdeteksi positif.

“Kita akan melakukan assessment awal apakah peserta tes tersebut dalam pengawasan dokter atau memang sedang mengkonsumsi obat-obatan terkait penyakit tertentu. Dari situ kita tahu hasil positifnya itu ada kaitannya dengan pengobatannya atau tidak,” lanjut Santi.

Sekretaris Dinas Kominfo Sleman, Eka Surya Prihantara, mengapresiasi program yang dijalankan BNNP DIY ini. Eka juga berterimakasih karena BNNP DIY telah menunjuk Dinas Kominfo Sleman sebagai OPD percontohan dalam upaya menggalakkan program anti narkoba di DIY.

“Kami juga terima kasih bahwa kami tempat percontohan maka seluruh staf di Kominfo baik PNS maupun non PNS bisa dijadikan contoh oleh OPD-OPD dan masyarakat di wilayah Sleman bahwa kita harus menghindari bahaya narkoba baik itu di diri kita sendiri, institusi, keluarga, maupun di masyarakat,” kata Eka.

Eka juga berharap bahwa program ini bisa terus berlanjut dan bisa menjadi pendorong bagi seluruh pegawai pemerintah maupun masyarakat untuk terus menghindari narkoba.




Merti Dusun Gadung Upaya Lestarikan Adat

Turi – Dalam rangka melestarikan adat dan tradisi yang adiluhung, masyarakat Dusun Gadung Bangunkerto Turi mengadakan acara merti dusun, Minggu (5/11).

Acara dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Gadung bekerja sama dengan pemerintah dan pengurus Desa Budaya Bangunkerto. Hadir dalam acara tersebut, Kepala Desa Bangunkerto. Camat Turi, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, dan pendamping Desa Budaya Bangunkerto.

Dusun Gadung memiliki banyak peninggalan situs sejarah yang melegenda dan memiliki nilai sejarah tinggi, di antaranya Situs Watu Gedhe dan Situs Tuk Umbul.

Acara yang berlangsung dari pukul WIB ini, diawali dengan kirab tumpeng keliling dusun dengan dikawal oleh Bregada Magul Wulung Dusun Gadung, Kobro Siswo, Jatilan Sekar Gadung dan karawitan dari ibu-ibu Dusun Gadung.

Setelah sampai di Tuk Umbul, tumpeng yang berisi berbagai hasil bumi dan jajanan pasar diperebutkan oleh warga dan acara diakhiri dengan pentas Jatilan Sekar Gadung. (Harman)




Evaluasi Kesatuan Gerak PKK KKBPK Kesehatan Tingkat DIY

Turi – Desa Bangunkerto ditunjuk oleh Kabupaten Sleman mewakili lomba kesatuan gerak PKK-KKBPK Kesehatan tingkat DIY. Hal ini karena Bangunkerto pada tahun ini sebagai pemenang lomba baik PKK maupun kesehatan dan Bangunkerto layak untuk mewakili Kabupaten Sleman maju ke tingkat DIY.

Adapun kegiatan lomba melibatkan berbagai kegiatan yang ada di Desa Bangunkerto, antara lain posyadu, poslansia, PKK, PIK R, BKR, UKM, laskar capung, kebersihan lingkungan, germas , BKB.

Pada Senin (6/11), tim evaluasi lomba yang terdiri dari 17 juri dari PKK, KKBPK, dan Dinas Kesehatan DIY ini hadir di Balai Desa Bangunkerto. Tim evalusi tiba disambut oleh Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, Camat Turi, Siti Angraeni Susila Prapti, Kepala Puskesmas Turi, dr Pingki Christina Dewi, Lurah Desa Bangunkerto, Anas Ma’ruf.

Kedatangan juri ini, disambut dengan senam lansia, pertunjukan tari, dan paduan suara oleh pengurus PKK Desa Bangunkerto.

Setelah acara seremonial selesai, tim evaluasi langsung meninjau kelompok-kelompok kerja PKK dan dilanjutkan mengunjungi Dusun Jurugan untuk melihat Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) dan ke rumah bidan desa untuk melihat pelayanan IVA DAN KB,

Kemudian, tim meneruskan ke Dusun Wonosari untuk melihat lingkungan yang bersih dan pemanfaatan pekarangan untuk ketahanan pangan. Setelah itu, tim menuju Dusun Ganggong untuk melihat kegiatan PIK R, Posyandu, BKB, PAAR, dan Laskar Capung. Acara diakhiri dengan acara kesan pesan dan pelepasan oleh Camat Turi. (Harman)




Seni Tradisi, Aspek Penting Gali Potensi

Gamping – GKR Hemas didampingi GKR Mangkubumi melakukan sosialisasi lembaga DPD RI dan penyerapan aspirasi masyarakat, Sabtu (4/11) pukul WIB di Dusun Salakan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman.

Para undangan yang hadir, antara lain Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Eko Suryo Maharsono, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Aris Riyanta, Camat Gamping, Abu Bakar, Kapolsek Gamping, Kompol Herwinedi, Wadanramil 17/Gamping Kapten Chb. Suwardi, Kepala Desa Trihanggo, Herman Budi Pramono, Dukuh Salakan, Suyana, beserta tokoh masyarakat Padukuhan Salakan.

Masyarakat sangat antusias menyambut kehadiran anggota DPD RI perwakilan DIY ini. Terbukti dengan adanya Bregada Kyai Surengpati dan pemasangan spanduk selamat datang beserta umbul-umbul di sepanjang jalan masuk padukuhan.

Dari gapura utama Salakan GKR Hemas menaiki kereta kuda menuju Masjid Al Mukharom. Dilanjutkan penyerapan aspirasi atau sambung aspirasi oleh GKR Hemas didampingi para kepala dinas terkait.

Menurut GKR Hemas, sektor pertanian perlu digarap secara maksimal dan budaya adiluhung melalui seni tradisi menjadi aspek penting untuk menggali potensi di Dusun Salakan sehingga tercipta masyarakat yang mandiri dan berbudaya.

Pada kesempatan ini juga, Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, meresmikan talud Sungai Bedog di Keditan Rt 01 Rw 26 Trihanggo.

Di akhir perbincangan GKR Hemas menyampaikan bahwa diperlukan sinergi antara masyarakat dengan pemerintah DIY dan Kabupaten Sleman agar masyarakat yang sejahtera, mandiri, dan berbudaya benar-benar dapat terwujud. (Adnan Nurtjahjo)




Monolit Yogyakarta, Gunung Gamping dari Kesultanan Menuju Konservasi

Gamping – Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Yogyakarta mengadakan kegiatan Bedah Buku Monolit Yogyakarta Sabtu (4/11) pukul WIB di Petilasan Gunung Gamping Tlogo Ambarketawang.

Sebagai narasumber yaitu Didit dan Miranda Harlan dari BKSDA. Acara ini dihadiri Kepala BKSDA Yogyakarta Ir. Junita Parjanti, para pegiat sejarah, serta masyarakat umum termasuk KIM Kecamatan Gamping.

Potensi sejarah dimiliki Cagar Alam (CA)/Taman Wisata Alam (TWA) Batu Gamping karena lokasinya berdekatan dengan situs Petilasan Kraton Ambarketawang sebagai tempat “mesanggrah” Sultan Hamengku Buwono I selama pembangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Begitu juga sumbangsih kapur dari Gunung Gamping dalam pembangunan Keraton Yogyakarta dan berbagai bangunan sejarah lainnya. Selain itu, tidak dapat dimungkiri bahwa peranan kapur dari Gunung Gamping sebagai pemurni dalam proses produksi gula pada masa itu turut berpengaruh terhadap kejayaan perekonomian di Yogyakarta.

Peranan CA/TWA Batu Gamping sangat melekat dan mengejawantah dalam budaya masyarakat melalui tradisi bekakak yang diselenggarakan setiap bulan sapar, di mana puncak acara yakni penyembelihan boneka pengantin (bekakak) dilaksanakan di Altar Cagar Alam Batu Gamping. Upacara adat ini, serta berbagai ritual dan mitos yang mengiringinya menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjungi CA/TWA Batu Gamping.

Sebagai warisan geologi, bongkahan batu kapur setinggi kurang lebih 10 meter tersebut merupakan monumen geologi yang menggambarkan jejak biota awal pulau Jawa. Sehingga CA Batu Gamping merupakan rekaman sejarah lingkungan sebagian awal 40 juta tahun lalu, yang patut dilestarikan.

Buku Monolit Yogyakarta ini juga berisi gambaran sejarah dan budaya Gunung Gamping, yang diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat untuk berkunjung dan belajar lebih banyak dari warisan alam yang sangat berharga ini dapat meningkat. (Adnan Nurtjahjo)