Sleman Menuju Destinasi Wisata Kuliner

Sleman – Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang selain menawarkan pemandangan yang memukau, suasana hangat dan bersahabat, serta budaya adiluhung yang selalu menyertai kehidupan masyarakatnya. Selain itu, banyak pula terdapat destinasi belanja maupun kuliner yang tersebar dari sisi utara dan selatan, serta dari sisi timur dan barat Kabupaten Sleman. 

Tongseng opyok dan jadah tempe di Kaliurang, ingkung bebek di Ngino, ayam goreng Kalasan, dan belut goreng Godean merupakan beberapa contoh kuliner khas yang ada dan dapat ditemui di Kabupaten Sleman.

Pasar tradisional seperti Pasar Prambanan, Pasar Godean dan Pasar Srowolan merupakan beberapa pasar tradisional yang menjadi daya tarik wisata belanja di Kabupaten Sleman, selain keberadaan 4 dari total 8 mall yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Upaya untuk terus mengembangkan potensi wisata kuliner dan belanja yang ada di Kabupaten Sleman terus dilakukan.

Salah satu upaya nyata terkait hal tersebut adalah melalui penandatanganan Memorandum of Understanding antara Pemerintah Kabupaten Sleman dengan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia terkait percepatan pengembangan wisata kuliner dan belanja.

Penandatanganan MoU ini dilakukan  yang lalu di Gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Jum’at (15/12). Dalam penandatangan MoU ini, pemerintah Kabupaten Sleman diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Sumadi, SH, MH sementara Kementerian Pariwisata Republik Indonesia diwakili oleh Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya, Drs. Lokot Ahmad Enda, MM.

Dalam sambutannya, Lokot menyampaikan bahwa Kabupaten memiliki potensi wisata kuliner dan belanja yang belum dikembangkan secara optimal. Pengembangan ini perlu segera dilaksanakan, sehingga peningkatan jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman selama ini semakin membawa dampak langsung bagi masyarakat, utamanya yang bergerak di sektor kuliner dan belanja.

Pengembangan potensi wisata kuliner dan belanja ini akan dilakukan bersama dengan pembagian peran yang jelas, dimana peran pemerintah pusat, dalam hal ini kementerian pariwisata adalah memberikan dukungan promosi dan publikasi terkait potensi yang ada.

Lokot juga menggarisbawahi bahwa MoU yang ditandatangani merupakan pengikat komitmen daerah dalam pengembangan wisata, utamanya wisata kuliner dan belanja. Melalui MoU ini, daerah selanjutnya diharapkan menindaklanjutinya melalui kebijakan anggaran dan teknis lainnya sehingga ada kesamaan langkah dengan kebijakan anggaran pemerintah pusat, utamanya di sektor pariwisata.

Ditegaskan kembali bahwa sektor pariwisata menjadi prioritas ke-2 pembangunan nasional pada tahun 2018. Artinya, peran sektor pariwisata dalam pembangunan nasional menjadi semakin diperhitungkan.

Konsekuensi lanjutan dari penandatanganan MoU ini adalah bahwa pemerintah Kabupaten Sleman diharapkan mulai melakukan penataan dan pengembangan destinasi wisata kuliner dan belanja dengan lebih optimal di segala aspek pendukungnya, termasuk atraksi terkait, dan kualitas sumberdaya manusia pendukungnya.

Dalam sambutan balasannya, Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Sumadi, SH, MH menyampaikan bahwa sebagai respon kesiapan Sleman yang ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata kuliner dan belanja, dinas terkait, seperti Dinas Pariwisata bersama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, Dinas Kesehatan dan dinas terkait lainnya diharapkan segera menyusun langkah-langkah strategis dan teknis yang diperlukan.

Menindaklanjuti arahan Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra. Hj. Sudarningsih, menyampaikan bahwa upaya pengembangan destinasi wisata kuliner dan belanja di Kabupaten Sleman terus dilaksanakan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui kegiatan Festival Desa Wisata yang puncak acaranya telah dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2017 yang lalu bertempat di Tlogo Putri, Kaliurang. Kegiatan puncak Festival Desa Wisata di Tlogo Putri ini menampilkan beberapa kuliner khas dan barang kerajinan yang ditawarkan oleh desa wisata yang tersebar di Kabupaten Sleman.

Kekayaan kuliner yang ada di desa wisata inilah yang nantinya akan dikembangkan secara lebih terarah dan terpadu, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke desa wisata, yang pada akhirnya nanti akan mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya, Sudarningsih menyampaikan bahwa upaya percepatan pengembangan wisata kuliner dan belanja di Kabupaten Sleman akan terus diupayakan dengan koordinasi antar OPD terkait. Beberapa event terkait telah disiapkan guna mendukung tindak lanjut penandatangan MoU ini, seperti Festival Kuliner Kaliurang pada tahun 2018 dan beberapa festival/kegiatan lainnya.




Teknologi Informasi Permudah Pelayanan Publik Sleman

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman mengadakan Workshop dan FGD Implementasi Smartcity pada Kamis (21/12) di Prima SR Hotel and Convention. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mengawal visi RPJMD, terutama untuk mempercepat pembangunan smart city Kabupaten Sleman.

Sekretaris Dinas Kominfo Sleman, Eka Surya Prihantoro, selaku Penyelenggara Workshop dan FGD Implementasi Smartcity di Kabupaten Sleman mengatakan bahwa proses pengembangan smart city di Kabupaten Sleman telah dilakukan jauh sebelum adanya Gerakan Menuju 100 Smart City Indonesia yang baru dimulai tahun 2017 ini.

“Namun dengan keikutsertaan Kabupaten Sleman dalam program Gerakan Menuju 100 Smart City Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, maka pengembangan smart city Pemkab Sleman ini diakselerasi khususnya melalui penyusunan Masterplan Smart City Kabupaten Sleman,” terang Eka.

Tak hanya itu, akselerasi ditambahkan Eka juga dapat dilihat melalui pencapaian 5 program quickwin Kabupaten Sleman tahun 2017, yakni pembangunan database Satu Data UMKM, Integrasi Lapor Sleman multi kanal dengan laman , pembangunan Sleman Smart Room, pembangunan rumah kreatif Sleman dan pembangunan Sleman Creative Space. Lima quickwin ini dituturkan Eka juga merupakan bentuk perkembangan teknologi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terutama dalam hal pelayanan publik.

Bupati Sleman, Sri Purnomo pun menyampaikan bahwa perkembangan teknologi informasi dalam pelayanan publik jelas akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat.

“Teknologi memberikan kemudahan, otomatis implementasi di pelayanan apapun di Kabupaten Sleman menjadi lebih mudah,” tutur Sri Purnomo.

Sri Purnomo memberi contoh dengan adanya perkembangan teknologi informasi, masyarakat tak perlu datang ke kantor pelayanan publik hanya untuk mendaftar karena sudah bisa dilakukan di rumah.

“Kemudian memonitor kita tidak harus bolak-balik tanya ke kantor tapi cukup melihat perkembangan dari yang mereka ajukan itu sudah sampai mana dari rumah,” lanjut Sri.

Sri menggarisbawahi bahwa perkembangan teknologi informasi ini pasti akan membawa perubahan yang tentunya berguna bagi masyarakat. Senada dengan Sri Purnomo, M. Suyanto, selaku narasumber dalam Workshop dan FGD Implementasi Smartcity ini juga mengakui bahwa Sleman termasuk salah satu kota yang melek teknologi sehingga perlu dukungan dari banyak pihak untuk lebih memaksimalkan potensinya.

“Sleman ini kota yang paling melek teknologi sehingga kalau ini dikembangkan akan menjadi luar biasa dan saya yakin yang akan datang, ini akan jadi kota yang bisa dibanggakan bukan hanya Indonesia, tapi dunia,” ujar Suyanto.




Lereng Merapi Menyanyi Sambut Libur Natal dan Tahun Baru

Sleman – Jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman menunjukkan trend kenaikan yang membanggakan. Dra. Sudarningsih , Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa tercatat sampai dengan 30 November 2017, jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman telah mencapai kunjungan. 

Bila dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada periode yang sama pada tahun 2016 yang lalu, terdapat kenaikan sebesar 34,58 persen dengan kenaikan terbesar pada jumlah kunjungan wisatawan pada event yang diselenggarakan di Kabupaten Sleman (47,52 persen), diikuti kunjungan wisatawan di Desa Wisata (42,41 persen), kunjungan wisatawan di candi (35,44 persen), dan kunjungan wisatawan di destinasi wisata alam (33,06 persen).

Menurutnya, mengacu pada data tersebut, diyakini jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman sampai akhir tahun 2017 akan mencapai kisaran sampai dengan kunjungan wisatawan.

Keyakinan ini didukung dengan adanya beberapa event pendukung yang akan dilaksanakan baik oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman maupun oleh destinasi wisata yang ada di Kabupaten Sleman. Terkait hal tersebut, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman akan menggelar Festival Merapi 2017 dengan mengambil tema Lereng Merapi Menyanyi dan Menari.

Pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan sebagai ajang kreativitas tampilan keberagaman seni, budaya dan pariwisata yang dikemas dalam suatu atraksi pariwisata, yang diharapkan dapat mempromosikan destinasi pariwisata di Kabupaten Sleman, utamanya di Kaliurang. Selain itu kegiatan ini juga merupakan rangkaian acara pembuka dalam rangka menyambut liburan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018.

Kegiatan penampilan kreasi seni dan budaya ini akan diselenggarakan selama 2 hari, yaitu pada tanggal 23 dan 24 Desember 2017 bertempat di Tlogo Putri, Lapangan Panti Asih, Hargobinangun, Pakem, dan Balai Desa Kepuharjo, Cangkringan.

Penampilan kreasi seni dan budaya di Tlogo Putri akan menampilkan 14 grup jathilan se-Kabupaten Sleman, yang akan menampilkan atraksi jathilan selama 24 jam non stop, dimulai pada pukul pagi.

Selanjutnya, panggung di Lapangan Jati Asih akan menampilkan 17 grup kesenian warga desa Hargobinangun, Pakem yang meliputi angklung, band akustik, dan tari-tarian. Sedangkan atraksi yang akan ditampilkan di Balai Desa Kepuharjo adalah tari-tarian, musik dan band.

Untuk lebih menyemarakkan kegiatan ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman juga mengadakan lomba fotografi dengan tema “Lereng Merapi Menyanyi dan Menari”, yang akan dipusatkan di Tlogo Putri dengan total hadiah Rp 4,5 juta rupiah bagi 3 orang dengan hasil foto terbaik berdasarkan keputusan dewan juri.

Detil ketentuan lomba fotografi akan diumumkan pada Senin, 18 Desember 2017 di website Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman () dan IG Dinas Pariwisata (@wisatasleman).

Pada saat yang sama, mulai tanggal 23 Desember 2017 sampai dengan 7 Januari 2018, di sepanjang Jalan Kaliurang setelah masuk gerbang retribusi Kaliurang  akan dilaksanakan Festival Lampion dan Penjor. Festival Lampion dan Penjor ini diikuti oleh 22  pedukuhan yang ada di Desa Hargobinangun, Pakem.

Tema yang diangkat dalam festival lampion dan penjor tahun ini adalah flora dan fauna lereng Merapi. Kreatifitas warga di 22 pedukuhan di Desa Hargobinangun akan dipresentasikan dalam bentuk lampion dan penjor ini, akan dinilai oleh juri dari Dinas Pariwisata dan memperebutkan total hadial 26 juta rupiah dan tropi penghargaan bagi 6 pemenang festival lampion dan 6 pemenang festival penjor.




Masyarakat Perlu Jaga Kewaspadaan Dini

Gamping – Rabu (20/12) pukul WIB bertempat di Kantor Desa Trihanggo, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kecamatan Gamping mengadakan Sosialiasasi Wawasan Kebangsaan sekaligus pembentukan pengurus FKDM Desa Trihanggo.

Acara yang dipandu oleh Kasi Pelayanan, Budik Ariyantono ini, dihadiri oleh pengurus FKDM Kecamatan Gamping yaitu Ketua Djoko Purwono, Sekretaris Adnan Iman NA., sebagai narasumber, Bhabinkamtibmas Trihanggo Aiptu Rusmanto, Dukuh Kronggahan Anto Sudadi, Dukuh Bedog Sumarso, Perangkat Desa Trihanggo, dan tokoh masyarakat.

Dalam paparannya, narasumber menyampaikan bahwa FKDM adalah wadah bagi elemen masyarakat yang dibentuk dalam rangka menjaga dan memelihara kewaspadaan dini masyarakat. Keanggotaan FKDM Desa terdiri atas wakil-wakil organisasi masyarakat (ormas), pemuka masyarakat dan pemuda, anggota satlinmas dan anggota polmas, serta elemen masyarakat lainnya.

Selanjutnya berdasar Undang-Undang tahun 2006 tentang kewaspadaan dini masyarakat di daerah, khususnya SK Bupati Sleman tentang FKDM maka dibentuk kepengurusan FKDM Desa Trihanggo. Pengurus ini nantinya mengemban tugas yaitu menjaring, menampung, mengkoordinasikan, mengkomunikasikan data dan informasi dari masyarakat mengenai potensi ancaman keamanan, gejala dan peristiwa bencana dalam rangka upaya pencegahan dan penanggulangannya secara dini serta memberikan rekomendasi sebagai bahan pertimbangan bagi Kepala Desa mengenai kebijakan yang berkaitan dengan kewaspadaan dini masyarakat. (Adnan Nurtjahjo)