Rumah Data Kependudukan Sajikan Informasi Kondisi Masyarakat Level Mikro

Sleman – Rumah Data Kependudukan Kampung KB (Keluarga Berencana) Padukuhan Malangrejo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, telah diresmikan oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda DIY, Drs. Sulistyo, SH., CN., ., Senin (27/11). Rumah Data Kependudukan tersebut merupakan pusat data terkait dinamika penduduk baik secara kuantitas maupun kualitas yang berbasis di Kampung KB.

Sulistyo mengatakan bahwa Rumah Data Kependudukan ini akan menjadi sumber informasi mengenai kondisi masyarakat di level mikro. Sehingga menurutnya data tersebut nantinya dapat dijadikan referensi untuk perencanaan pembangunan di daerah tersebut.

“Pada intinya ending dari program KB ini adalah terwujudnya keluarga yang berkualitas,” jelasnya.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa pada tahun 2020 nanti Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu meningkatnya jumlah usia produktif di tengah-tengah masyarakat. Ia berharap masyarakat mulai mempersiapkan langkah-langkah untuk menghadapi kondisi tersebut.

“Bonus demografi ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik, jika tidak maka kita akan kehilangan momentum ini,” paparnya.

Sementara itu, Drs. Bambang Marsudi, MM, selaku Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY berharap keberadaan Rumah Data Kependudukan Kampung KB tersebut mampu berdampak pada kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

Menurutnya sudah ada sebanyak 78 Kampung KB yang tersebar di seluruh Kecamatan di DIY. Adapun Rumah Data Kependudukan tersebut, lanjutnya, berfungsi sebagai basis data dan informasi kondisi kependudukan suatu wilayah.

“Ketersediaan data melalui Rumah Data Kependudukan merupakan suatu indikator keberhasilan dalam melaksanakan perkiraan untuk membangun kampung KB. Sehingga peningkatan kualitas dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai,” ucap Bambang.

Purwatno Widodo, SH, CCN., Asisten Sekretaris Daerah Bidang Administrasi Umum Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa di Kabupaten Sleman telah memiliki 17 Kampung KB yang tersebar di masing-masing kecamatan. Ia juga menjelaskan bahwa kesadara masyarakat Sleman dalam melaksanakan program KB cukup tinggi. Hingga bulan Oktober lalu, lanjutnya, peserta KB baru mencapai peserta.

“Sedangkan KB aktif berjumlah peserta,” sambung Purwatno.

Ia berharap Rumah Data Kependudukan tersebut mampu meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dan mitra di Kampung KB. Diharapkan pula Rumah Data Kependudukan tersebut dapat meningkatkan keterlibatkan masyarakat atas program-program KB yang dicanangkan oleh Pemerintah.

“Semoga keberadaan Rumah Data Kependudukan di Padukuha Malangrejo ini dapat menjadi role model bagi keberadaan Rumah Data Kependudukan di Kampung KB lainnya di Kabupaten Sleman,” imbuhnya.

Kampung KB merupakan intruksi Presiden yang telah dicanangkan sejak tanggal 14 Januari 2016 lalu, di dusun Jenawi, Desa Mertasinga, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Dalam interuksinya, menjelaskan bahwa setidaknya setiap Kabupaten/Kota setidak-tidaknya harus memiliki satu Kampung KB. di DIY sendiri telah ada 78 Kampung KB yang berada di setiap Kecamatan yang tersebar di lima Kabupaten/Kota.




Perjalanan Sejarah Kabupaten Sleman Segera Diabadikan

Sleman – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Seminar Storyline Sejarah Kabupaten Sleman bertempat di Hall Merbabu Hotel Prima SR, Jumat (24/11). Dalam seminar tersebut dibahas terkait perjalanan sejarah Kabupaten Sleman dari masa ke masa.

Ir. A.A. Ayu Laksmi Dewi Tri Astika Putri, MM, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, mengaku pihaknya berencana untuk membuat gedung diorama di Kabupaten Sleman. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa diorama tersebut nantinya akan memuat perjalanan sejarah Kabupaten Sleman dari jaman prasejarah.

“Jadi penyusunan storyline ini merupakan langkah awal untuk membuat diorama. Dari storyline nanti akan terlihat rangkaian sejarah Sleman seperti apa. Dan itu kita bahas di seminar ini bersama beberapa narasumber yang hadir,” jelasnya.

Menurutnya keberadaan diorama di Kabupaten Sleman ini dianggap penting untuk menyelamatkan dokumen sejarah Kabupaten Sleman. Ia juga akan melakukan konsultasi dengan beberapa tokoh serta ahli sejarah untuk menyusun storyline tersebut. Ayu berharap pembangunan diorama ini dapat terealisasi secepat mungkin.

“Diorama ini secara fisik mungkin sama dengan museum. Bedanya kalau diorama itu dilengkapi dengan dokumen-dokumen asli yang sah. Harapan kami diorama ini bisa mulai dibangun tahun depan,” imbuh Ayu.

Budi Wibowo, ,selaku Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi (BPAD) DIY yang turut hadir sebagai narasumber, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Sleman.

“Bagus sekali ini. Sleman memulai membuat diorama ini yang pertama di DIY. Bahkan DIY saja baru mau mulai membuat diorama di tahun 2018 nanti,” ungkapnya.

Seminar tersebut turut dihadiri oleh BKAD (Badan Keuangan dan Aset Daerah) dan Bappeda (Badan Pembangunan Daerah) Kabupaten Sleman. Selain itu, hadir pula pada kesempatan tersebut Junno Mahesa dari CV. Java Advertising selaku coordinator tim penyusun story line sejarah Kabupaten Sleman, Prof Dr Timbul Haryono, MSc., dosen UGM Drs. dan Darto Harmoko, pelestari Cagar Budaya DIY.

Acara diakhiri dengan penandatanganan berita acara penyerahan arsip yang sudah selesai direstorasi antara Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman dengan Kepala Desa Girikerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman. Pada tahun 2017 ini telah ada sebanyak 1863 lembar arsip yang sudah direstorasi di kabupaten Sleman.




Gedung Dakwah Sebagai Sentral Kegiatan Umat

Gamping – Minggu (26/11) pukul WIB, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, meresmikan Gedung Dakwah Nogotirto di Dusun Jangkang Desa Nogotirto, Gamping. Peresmian gedung milik Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Nogotirto ini ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita.

Para undangan yang hadir, antara lain tokoh Muhammadiyah dan juga ulama yang menjunjung tinggi nilai toleransi, Ahmad Syafii Maarif, Camat Gamping, Abu Bakar, Kapolsek Gamping Kompol Herwinedi, Kepala Desa Nogotirto Faizin, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta para jemaah Muhammadiyah Ranting Nogotirto.

Menurut Ketua PRM Nogotirto, Heru Prasetya, dalam sambutannya, peresmian yang sekaligus menyemarakkan hari jadi ke-105 organisasi massa Islam yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan tahun 1912 ini mengambil tema “Untuk Masyarakat yang Berkemajuan”. Gedung dakwah ini dimanfaatkan untuk melanjutkan cita-cita K.H. Ahmad Dahlan dalam memajukan masyarakat sekitar dan menjadi sentral kegiatan umat baik dalam hal kehidupan beragama, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan hubungan sosial kemasyarakatan.

Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Muhammadiyah beserta organisasi otonomnya, yakni Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah adalah mengadakan kajian dengan tema aktual, layanan pemeriksaan kesehatan, pelatihan perawatan jenazah, pasar ramadhan yang diikuti pelaku ekonomi dari masyarakat setempat, dan pemberian tunjangan kepada siswa-siswi yatim.

Selanjutnya Ketua PRM Nogotirto memberitahukan bahwa Gedung dua lantai ini didirikan di atas tanah wakaf almarhum Trisno Pawiro seluas 123 m2. Pembangunan dimulai pada tanggal 3 Juni 2016 menelan biaya kurang lebih Rp 373 juta yang berasal dari swadaya jemaah. Sementara itu, bantuan masyarakat berupa uang tunai dan material bangunan, seperti genteng, pasir, semen, granit. Donasi juga diberikan oleh amal usaha Muhammadiyah, yaitu Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Aisyiyah, dan CV. Qumiirato.

Peresmian gedung diakhiri dengan peninjauan ke seluruh ruangan yang ada. (Adnan Nurtjahjo)




Mahasiswa Belajar Budidaya Salak di Turi

Turi – Sabtu (25/11), Mahasiswa D3 Program Studi Agrobisnis dan Perencanaan Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto mengadakan kunjungan ilmiah ke Candi Bangunkerto, Turi, Sleman, tepatnya di Griya Olah Salak Puri Sada, anggota KIM UMKM Kertomandiri.          

Kunjungan mahasiswa ini didampingi oleh 4 dosen pembimbing. Menurut penjelasan Koordinator Dosen Pembimbing, Indah Widyarini, jumlah mahasiswa yang ikut ada 70.

Dijelaskan lebih lanjut, dalam kunjungan ini, mahasiswa Jurusan Agrobisnis diharapkan dapat mempelajari pengelolaan hasil salak dari hulu sampai hilir sehingga mahasiswa tidak hanya menerima teori di kampus tetapi mereka betul-betul dapat belajar budidaya serta olahannya melalui studi lapangan.

Indah menyampaikan, alasan memilih lokasi di Turi karena Turi merupakan penghasil salak pondoh. Selain itu, salak pondoh di Turi tidak hanya dijual buahnya akan tetapi warga Turi juga sudah mengolah salak menjadi macam-macam olahan. “Inilah yang menjadikan mahasiswa kami bisa mendapatkan gambaran bagaimana cara berbisnis, dapat ilmu cara budidaya tanaman salak, mengetahui jenis salak, cara perawatannya, juga tentang pengembangan salak pondoh yang sudah menjadi ikon di Kabupaten Sleman,” kata Indah.

Agar mahasiswa dapat lebih mengetahui proses budidaya salak, mahasiswa diajak terjun langsung menuju ke kebun salak di Agrowisata.

Setelah dari kebun, mahasiswa menuju ke Griya Olah Salak Puri Sada, yang menerangkan secara detail tentang olahan salak juga tentang kerajinan. (Suharno)




Pengukuhan Pengurus Majelis Ulama Indonesia Gamping

Gamping – Jumat (24/11) pukul WIB bertempat di Balai Desa Ambarketawang berlangsung pengukuhan Pengurus Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Gamping periode tahun 2017-2022. Pengukuhan dilakukan oleh pimpinan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sleman, Busyro Al-Karim.

Dalam kesempatan ini hadir pula, Camat Gamping, Abu Bakar, Sekretaris Camat Gamping Rasyid Ratnadi, Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Gamping, Kartinah Eko Herawati, Kepala KUA Gamping, Zainudin, Babinsa Pelda, Sumarjo, dan aparat Polsek Gamping, beserta para undangan serta 22 orang pengurus terpilih.

Adapun Surat Keputusan pengangkatan berdasarkan hasil musyawarah cabang MUI Kecamatan Gamping tanggal 24 November 2017 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Kabupaten Sleman, Ma’mun Muhamad Mura’i dan Sekretaris Umum, Sukirman.

Kepengurusan yang baru ini mempunyai beberapa program kerja sesuai dengan bidangnya masing-masing antara lain Komisi Ukhuwah dan Kerukunan Bangsa yaitu mengadakan silaturahim antar ulama dan tokoh masyarakat, mensosialisasikan fatwa MUI di atasnya, pendataan ulama, dan temu ulama se-Kecamatan Gamping, dan sosialisasi penyembelihan secara syar’i.

Komisi Dakwah dan Pendidikan yaitu pendataan dai/daiyah, pondok pesantren, dan masjid/mushola se-Kecamatan Gamping. Komisi Fatwa dan Hukum yaitu mengadakan Bahtsul Matsail permasalahan agama yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, seperti konflik intern dan antar umat beragama serta pemerintah.

Di akhir acara, Ketua Dewan Pengurus Harian MUI Kecamatan Gamping menyampaikan misi terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan yang baik, memeroleh ridho dan ampunan Allah SWT menuju masyarakat berkualitas demi terwujudnya kejayaan Islam dan kaum muslimin dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai manifestasi dari rahmat bagi seluruh alam. (Adnan Nurtjahjo)