Pemkab Kaji Payung Hukum Pemberian Bantuan Bencana

Sleman – Diawal tahun 2017 ini wilayah Kabupaten Sleman telah dilanda bencana angin kencang dan setidaknya tiga kali bencana angin kencang yang terjadi Minggu ini mengakibatkan puluhan pohon tumbang, rumah rusak dan ada korban meninggal dan luka-luka.

Untuk memberikan bantuan kepada korban bencana alam tersebut Pemerintah Kabupaten ( Pemkab) Sleman sedang mengkaji payung hukumnya. Hal itu untuk menghindari masalah dikemudian hari setelah pengucuran bantuan kepada korban bencana alam.

‪Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan, pihaknya telah meminta kepada Sekda Sleman dan Assek untuk mengkaji payung hukum untuk memberikan bantuan kepada korban bencana alam. Payung hukum itu bisa berwujud status darurat atau kebijakan bersifat diskresi.‬

‪”Masih terus dikaji apakah nanti berupa status darurat atau apa. Jika memang status darurat, kami bisa mengucurkan dana tak terduga yang jumlahnya mencapai Rp 5,8 miliar,” kata Sri Purnomo, Rabu (11/1).

Menurut Sri Purnomo dari Kajari Sleman juga sudah mendapat masukan, Pemkab bisa mengeluarkan kebijakan bersifat diskresi. ‪Payung hukum lanjut Sri Purnomo,  memang sangat penting untuk mengambil kebijakan Pemkab Sleman.

Mengingat belakangan ini sering terjadi bencana alam angin kencang yang melanda Sleman. Namun Pemkab belum bisa memberikan bantuan kepada korban maupun rumah yang rusak terkena angin kencang. ‬

Dan payung hukum itu dibutuhkan untuk menghindari permasalahan hukum dikemudian hari.

‪Disisi lain Sri Purnomo juga menghimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati pada musim hujan. Terutama pada saat perubahan ekstrim dari panas dan tiba-tiba hujan deras akan berpotensi terjadi angin kencang. Selain itu, masyarakat diminta tidak berjualan atau beraktivitas di bawah pohon. ‬

“Masyarakat harus meningkatkan kewaspasdaannya perbedaan cuaca yang ekstrim dapat menimbulkan angin kencang,” tutur Sri Purnomo.




Ribuan Anak Bergandengan Tangan Sepanjang 7 Kilometer

Gandeng TanganSleman – Sebanyak 7500 orang siswa dari tingkat pendidikan TK hingga SMA diwilayah Kecamatan Berbah bergandengan tangan sepanjang 7 kilometer di mulai dari Lapangan Bercak hingga Balai Desa Tegaltirto Berbah Sleman, Rabu (11/1).

Acara tersebut merupakan rangkaian acara Deklarasi Kecamatan Ramah Anak dan Anti Kekerasan yang diselenggarakan oleh Kecamatan Berbah yang dihadari oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI bersama Dandim 0732 Sleman, Letkol Arm Djoko Sudjarwo dan Kapolres Sleman, AKBP Burkan Rudy Satria yang turun langsung ke lapangan menyapa para siswa menggunakan kendaraan jeep.

Camat Berbah, Dra Tina Hastani menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya acara tersebut adalah untuk menumbuh kembangkan segala kegiatan yang menjamin dan melindungi anak dari kekerasan serta hak-haknya untuk dapat hidup, tumbuh berkembang secara optimal baik fisik, intelegensi, dan spiritual.

“Kegiatan ini merupakan komitmen kami mewujudkan Kecamatan Berbah menjadi kecamatan ramah anak dan anti kekerasan untuk mendukung Kabupaten Sleman menjadi Kabupaten Layak Anak,” kata Tina.

Kegiatan tersebut akan diajukan untuk masuk MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) sebagai kegiatan terpanjang dan terbanyak.‬ Ini karena kegiatan tersebut dilaksanakan dengan bergandengan tangan yang dilakukan oleh para peserta.‬Mereka sambung menyambung sambil mendeklarasikan keinginan masyarakat untuk menjadikan Kecamatan Berbah sebagai Kecamatan yang Ramah Anak, dan Anti Kekerasan.‬

Dimulai sejak pukul WIB, terlihat siswa dari 37 sekolah berbaris rapi sambil bergandengan tangan dari lapangan Bercak, Jogotirto hingga Balai Desa Tegalrejo. Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI disela-sela acara tersebut  menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan bergandengan tangan tersebut.

Menurut Sri Purnomo bergandeng tangan sebagai simbol menjaga silaturahmi dan kesatuan, serta wujud tolong menolong.

“Berbagai upaya yang dicanangkan selama ini telah mengantarkan Sleman menjadi Kabupaten Layak Anak pada tingkat Madya. Capaian ini selain menjadi wujud apresiasi atas berbagai upaya yang kita lakukan tentunya juga menjadi tanggung jawab bagi kita bersama untuk dapat meningkatkan capaian ini pada tingkat-tingkat selanjutnya. Saya mengajak seluruh jajaran, baik Pemerintah, pihak sekolah, masyarakat, keluarga serta pemangku kebijakan lain untuk dapat meningkatkan sinergisitas dalam upaya mewujudkan Kabupaten Layak Anak,” kata Sri Purnomo.

Diungkapkan Sri Purnomo, berbagai kasus kekerasan terhadap anak saat ini semakin marak bermunculan. Pada tahun 2015 sebanyak 157 kasus kekerasan terhadap anak ditemukan di Kabupaten Sleman. Hal ini tentu menuntut perhatian lebih dari seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat untuk dapat menekan bahkan menghentikan kasus kekerasan terhadap anak di masa yang akan datang.

Berkaca dari kasus yang terjadi, Sri Purnomo menambahkan bahwa terciptanya kondisi lingkungan yang ideal bagi tumbuh kembang anak harus dilakukan secara holistik, terpadu dan terintegrasi.

“Saya berharap berbagai upaya pemerintah yang selama ini telah dilakukan dapat memperoleh respon positif dari seluruh komponen masyarakat melalui upaya serupa disesuaikan dengan peran dan fungsi masing-masing. Melalui komitmen kuat dan langkah bersama ini saya yakin lingkungan ramah anak dan anti kekerasan dapat terwujud,” tutur Sri Purnomo.

Sementara Muji Harjana selaku panitia pelaksana kegiatan tersebut mengatakan bahwa kegiatan deklarasi yang diawali bergandeng tangan tersebut rencananya akan diajukan ke Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI).

“Acara ini memenuhi kriteria paling, pertama, langka, pendidikan, persatuan dan kesatuan sehingga akan kami ajukan ke MURI,” kata Muji.




Keselamatan Wisatawan Jip Wisata Merapi Diutamakan

Sleman – ‪Pelaku jip wisata lereng Gunung Merapi di Kabupaten Sleman tetap mengutamakan keselamatan wisatawan saat melintasi aliran Sungai Kuning yang berhulu Gunung Merapi pada musim hujan seperti sekarang ini.‬

‪”Keamanan wisatawan tetap menjadi prioritas kami, selain di dukung peralatan keselamatan memadai, kami juga terus memantau perkembangan cuaca pada musim hujan ini,” kata Bambang Sugeng, Ketua II Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) di Sleman, Selasa (10/1).‬

‪Dikatakan Bambang, salah satu jalur jip wisata adalah melintasi aliran Sungai Kuning yang memicu andrenalin para wisatawan, namun sungai ini juga cukup berbahaya pada musim hujan karena merupakan jalur aliran banjir lahar Merapi.‬

‪”Namun sebagian besar pelaku jip wisata ini merupakan anggota SAR atau relawan bencana, sehingga mereka juga saling berkomunikasi dalam memantau perkembangan di puncak Merapi, termasuk jika ada potensi bajir lahar dingin,” katanya.‬

‪Bambang menambahkan para pelaku wisata ini sudah satu komando dan setiap perkembangan yang dinilai membahayakan wisatawan akan langsung diinformasikan ke seluruh anggota.

‪”Jadi baik yang sedang ada di trek maupun yang sedang `standby` selalu saling mendukung,” kata Bambang.‬

‪Bambang mengatakan, pada akhir pekan ini diperkirakan jumlah wisatawan yang menggunakan jasa jip wisata masih akan tinggi setelah liburan tahun baru pekan lalu.‬

‪Menurut Bambang  pada libur Natal dan tahun baru lalu, jip wisata lereng Merapi cukup banyak peminatnya dan seluruh anggota semua mendapat tamu atau wisatawan.‬

‪”Rata-rata satu anggota bisa sampai empat kali membawa tamu menyusuri rute `Lava Tour` Merapi,” katanya.‬

‪Paket dalam “lava tour” Merapi tersebut ada tiga paket, yaitu paket “short” dengan mengungjungi empat titik antara lain bekas Padukuhan Petung korban erupsi Gunung Merapi, padukuhan Jambu yang terdapat batu Allien.‬

‪”Paket short dengan jarak tempuh pergi-pulang (PP) sekitar 30 Km dan lama tempuh sekitar tiga jam,” katanya.‬

Kemudian paket medium jarak tempuh PP saekitar 34 Km dan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 3,5 jam dengan mengunjungi lima titik wisata.‬

‪”Sementara untuk paket “long” obyek yang dikunjungi lebih lengkap termasuk makam Mbah Marijan yang lokasinya di Glagaharjo Cangkringan, jarak tempuhnya PP sekitar 40 Km dengan durasi waktu saekitar empat jam,” katanya.‬

‪Ia mengatakan wisatawan akan disuguhi dan menikmati indahnya susuran Sungai Kuning dan bekas erupsi merapi yang tersebar di wilayah Kecamatan Cangkringan.‬

‪”Wisatawan juga bisa belanja dan menikmati kuliner khas Pakem dan Cangkringan, pendeknya wisatawan akan dibuat puas dengan keramahan khas pedesaan,” tuturnya.‬




Satu Korban Bencana di Sleman Masih Dirawat di RS‬

PJUSleman–  Angin kencang yang melanda sebagian wilayah Sleman pada hari Senin (9/1) siang menyebabkan puluhan pohon tumbang dan menimbulkan banyak kerusakan. Selain itu beberapa warga terluka akibat bencana angin kencang tersebut.‬

‪Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan menjelaskan korban luka-luka akibat kejadian angin kencang hari Senin (9/1) total berjumlah tujuh orang.‬

“Satu orang masih diopname karena mengalami patah tulang tukai kiri atas dan enam lainnya rawat jalan,” kata Makwan, Selasa (10/1).‬

‪Sampai hari Selasa kemarin, proses evakuasi pepohonan yang tumbang masih dilanjutkan oleh masyarakat, relawan dan TRC BPBD Sleman.

“Selain warga, korban luka juga dari relawan bencana saat proses evakuasi. Atas nama Tri Haryanto, Relawan Rescue Taman, Tamanmartani, Kalasan,” kata Makwan.

Sementara di Jalan KRT Pringgodiningrat Tridadi Sleman, belasan petugas dan relawan tampak terlihat sibuk mengevakusi pohon berukuran besar yang tumbang dipinggir embung Taman Tirta Arta.‬

Penutupan jalan untuk kelangsungan evakuasi dilakukan petugas. Pasalnya, batang pohon sempat menutupi sebagian badan jalan.‬ Pohon yang ada tepat dipinggiran embung itu tumbang pada peristiwa hujan deras disertai angin kecang, Senin (9/1).

Adapun identitas korban kejadian angin kencang hari Senin (9/1) antara lain ‪Lokasi ringin kronggahan, Digdo (20) warga Jambon Trihanggo Gamping, kondisi : sadar, patah tulang tukai kiri atas dirujuk di RSA UGM‬.

Sumijo (39), warga Sekar Pethak Bangunjiwo Kasihan Bantul, kondisi :  luka sobek horizontal datas kuping kiri 10 cm, memar kepala kanan depan, dirujuk di RSA UGM‬. Kemudian lokasi Denggung, korban Caesario, (19). Warga Wadas, Tridadi, Sleman, diagnosa Vulnus Excoriasi, tindakan rawat luka‬.

‪Lokasi belum diketahui, korban Aditya Hermawan (24) warga Nambongan, Caturharjo, Sleman, Diagnosa Contusio, tindakan Rontgen‬. Aan Priyanto (21) warga Ngemplak Caban, Tridadi, Sleman, Diagnosa Vulnus Laseratum, tindakan rawat luka‬. Ari Niko Pratama (25) warga Sariguna, Belitang Mulya, Sumatra Selatan, Diagnosa Kontusio, Tindakan Oksigenasi‬

‪Lokasi depan dinas perhubungan korban Tri Haryanto (29) warga  Jethak, Selomartani, Kalasan, Diagnosa vulnus Excoriasi tangan kanan, Tindakan Jahit luka 10 jahitan dan rontgen.




Bupati Tinjau Lokasi Pohon Tumbang

Bupati Sleman Tinjau Pohon TumbangSleman – Angin puting beliung kembali melanda wilayah Sleman tepatnya di Kecamatan Gamping bagian Utara, Mlati dan Sleman, membuat pohon bertumbangan dan menimpa sebagian rumah warga, Senin (9/1).

Setelah hujan reda Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI bersama Dandim 0732 Sleman, Letkol Arm Djoko Sudjarwo dan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Drs Joko Supriyanto langsung meninjau lokasi kejadian pohon tumbang di komplek Pemda dan  di Kronggahan Gamping.

Di pertigaan Kronggahan, Sri Purnomo meninjau pohon beringin besar yang tumbang menimpa warung di sebelah selatan bahkan motor pembeli sempat tertimpa pohon. Sementara seorang penjual dan seorang pembeli yang luka-luka langsung dilarikan ke RSA UGM.

Pusat perkantoran Sleman di Beran tak luput dari terjangan angin puting beliung yang menumbangkan pohon-pohon yakni pohon beringin Denggung di depan Perpustakaan, pohon depan Rumah Dinas Bupati, Pohon depan Kantor Perhubungan dan pohon di samping Bappeda tumbang sempat menimpa mobil yang diparkir, pohon jalan Gito-Gati juga tumbang sempat memacetkan lalu lintas.

Pepohonan jalan Kabupaten tumbang serta genting-genting rumah penduduk berhamburan diterjang angin. Bahkan ditengah suasana resepsi pernikahan salah satu staf Bagian Kesra Tutik Erniyati yang dilaksanakan di Dusun Berkisan Pandowoharjo Sleman juga sempat diterjang puting beliung yang menerbangkan tenda-tenda seng dan tempat pelaminan pengantin tak luput dari terjangan angin. Namun pengantin dan tamu undangan segera berlindung ditempat yang aman sehingga tidak terjadi korban.

Joko Supriyanto mengatakan untuk menangani wilayah terdampak  puting beliung, BPBD telah menggerakkan relawan dan Tim Reaksi Cepat (TRC) dengan membersihkan pohon-pohon yang menutupi jalan, diteruskan dengan membersihkan pohon yang menimpa rumah. Sementara data yang masuk ada 5 rumah yang tertimpa pohon dan lainnya genting berterbangan serta 4 orang luka-luka.

Sri Purnomo yang langsung mendatangi tempat evakuasi pohon beringin di Kronggahan menghimbau kepada masyarakat agar selalu waspada sekaligus siaga, bila terjadi hujan hendaknya berlindung ditempat yang aman jangan dibawah pohon.

Masyarakat juga diminta secepatnya memotong ranting-ranting pohon besar yang dekat dengan rumah. Kepada tim BPPD dan PMI agar selalu siap karena hujan masih akan terus berlangsung untuk menangani akibat buruk yang ditimbulkan. Pemkab Sleman juga dibantu oleh Tim dari TNI dan POLRI dalam melakukan evakuasi. Dengan kerjasama yang harmonis ini diharapkan cepat dalam mengatasi situasi.

“Saat cuaca ekstrim hindari pohon besar. Kalau hujan jangan berteduh ditempat terbuka,” kata Sri Purnomo.