Sleman – Harga bahan kebutuhan pokok belakangan terus naik. Salah satu komoditi yang harganya melonjak drastis adalah cabai bahkan untuk jenis rawit, nilai jualnya di sejumlah pasar tradisional telah menembus kisaran Rp per kilogram.Sedangkan cabai merah, harga rata-rata Rp , dan jenis hijau Rp
Menurut Kabag Perekonomian Setda Sleman, Ir CC Ambarwati, langkah strategis telah diambil untuk menjaga stabilitas harga. Hanya saja, untuk beberapa jenis kebutuhan pokok seperti bawang merah dan cabai, produksinya sangat minim sehingga harus dipasok dari daerah lain.
“Untuk komoditi cabai merah, selama Desember 2016 lalu angka ketersediaannya diestimasi minus 657 ton. Kondisi ini dikarenakan faktor cuaca hujan yang turun terus-menerus, dan adanya organisme pengganggu tanaman,” kata Ambarwati, Minggu (8/1).
Adapun kegiatan strategis yang telah dilaksanakan dalam rangka menjaga stabilitas harga, salah satunya program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan-Kawasan Rumah Pangan Lestari (P2KP-KRPL). Kegiatannya antara lain pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman buah dan sayur, yang sampai saat ini telah dilaksanakan oleh 17 kelompok di 17 kecamatan.
Masing-masing kelompok mendapat bantuan stimulan senilai Rp 4,5 juta bersumber dari APBD yang diwujudkan dalam bentuk bibit, dan media tanam. Kegiatan lainnya berupa budidaya perikanan, dan peternakan jenis unggas dan hewan ternak sedang seperti kelinci. Bantuan diberikan dalam bentuk bansos sebesar Rp 15 juta per kelompok dengan dana dari APBN.
“Kami juga melakukan pengembangan tanaman cabai seluas 115 hektare. Hasil panenannya diharapkan menambah stok sehingga harga komoditi dapat terjaga,” terang Ambarwati.
Terkait upaya menjaga stabilitas harga komoditi beras, di Kabupaten Sleman saat ini terdapat 6 Toko Tani Indonesia. Data terakhir per pertengahan tahun lalu tercatat telah disalurkan beras oleh tiga gapoktan sebanyak 22 ton dengan harga jual Rp
Strategi lainnya melalui program inisiasi beras bagi pegawai sebagaimana diterapkan di Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan. Ke depan akan menyasar seluruh PNS di Kabupaten Sleman.
Lebih lanjut Ambarwati menjelaskan, inisiasi beras bagi pegawai ini merupakan bagian dari program penggunaan produk lokal. Sebelumnya, Pemkab bersama para pengusaha dan UKM juga telah menandatangani MoU untuk mengutamakan pemanfaatan produk lokal, dan menyediakan produk yang berkualitas.
Sementara kelangkaan cabai di pasaran yang mengakibatkan harga melambung tinggi salah satunya akibat minimnya pasokan. Banyak petani cabai gagal panen akibat serangan hama patek atau antraknosa. Serangan hama ini menyerang semua varietas cabai, termasuk cabai rawit dan cabai keriting.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Ir Widi SutiknoMSi menjelaskan penyebab penyakit ini adalah anomali cuaca. Yakni, di tengah musim kemarau ternyata masih ada hujan dengan intensitas rendah hingga tinggi. Akibatnya, kelembaban yang terlalu tinggi.
“Patek ini sudah menjadi musuh utama para petani cabai. Bahkan bisa menyebabkan gagal panen,’’ kata Widi.
Karena itu, Widi mendorong petani melakukan pemantauan secara berkala. Untuk mendukung ini, petani harus mengetahui musim tanam yang tepat. Upaya ini bisa dilakukan dengan berkonsultasi kepada petugas penyuluh kecamatan.
“Ke depan akan dilakukan gerakan pengendaliaan bersama. Untuk tahun lalu memang tidak optimal, karena hujan berlangsung sepanjang tahun. Akibatnya jadi lembab dan hama patek berkembang dengan subur,” tuturnya.