Launching Pengembangan Produk Kelompok Wanita Tani Sleman

Turi – Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikananan Kabupaten Sleman mengadakan kegiatan launching pengembangan produk Kelompok Wanita Tani (KWT), Senin (5/3) pukul WIB di Wisata Gardu Pandang Kaliurang.

Adapun tujuan diadakan acara launching produk KWT adalah untuk membantu Kelompok Wanita Tani di Kabupaten Sleman dalam memasarkan produknya sehingga diharapkan dengan disediakanya tempat oleh Pemkab Sleman di Wisata Gardu Pandang Kaliurang akan semakin laris dalam penjualan produk yang dihasilkan dari KWT.
Selain produk, juga dilaunching lagu wajib atau mars KWT Kabupaten Sleman untuk pertama kalinya.

Acara ini dihadiri oleh pengurus KWT se-Kabupaten Sleman, Ketua Pokdarwis Kaliurang, Kepala Dukuh Kaliurang, Kepala Desa Hargobinagun, Camat Pakem, Camat Turi, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman Heru Saptono.

Dalam sambutannya, Heru berharap dengan disediakanya tempat berjualan yang permanen di Wisata Gardu Pandang oleh pemerintah nantinya KWT di Kabupaten Sleman bisa lebih maju dan lebih semangat lagi untuk membuat produk. Sebab, sudah ada tempat untuk memasarkannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota KWT. Selain itu, dengan diresmikannya mars KWT diharapkan akan membuat semangat dan bangga menjadi pengurus dan anggota KWT. “Ini semua adalah wujud kepedulian pemerintah terhadap kelompok wanita tani yang semakin berkembang di Kabupaten Sleman,” tutur Heru. (Harman)

 




Sarasehan Pelajari Asal-Usul Kecamatan Turi

Turi – Paguyuban Macapat Sekar Turi menggelar macapat dan sarasehan, Senin (5/3) malam pukul WIB di Aula Kecamatan Turi. Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Camat Turi Suwadi dan 21 peserta lainnya.

Dalam sambutannya, Suwadi merasa bangga karena Paguyuban Macapat Sekar Turi masih rutin berlatih macapat dan mengadakan sarasehan.

“Sayangnya pesertanya sudah usia lanjut maka kami minta yang muda untuk diajak,” ungkap Suwandi.

Acara ini dibuka oleh Ketua Paguyuban, Marjuki, dengan mengumandangkan Pambuka Lelangen Macapat Sekar Turi dengan Bawa Sekar Ageng Langen Kusuma pelog Pathet 6 secara bersama. Kemudian, dilanjutkan mempelajari Dhandhang Gula Palaran Laran Slendro patet 9. Mula-mula mendengarkan lalu satu per satu peserta diajak untuk bersama-sama nembang.

Acara selanjutnya adalah sarasehan yang membahas tentang asal usul nama Kecamatan Turi yang disampaikan oleh H. Panggih. Menurut isi Buku Serat Mulabuka oleh E. Suharjendra, nama Turi diambil dari banyaknya tanaman pohon turi di wilayah Kecamatan Turi.

“Dulu di lereng Gunung Merapi banyak tumbuh pohon turi maka wilayah itu diberi nama Tlatah (wilayah-red) Kecamatan Turi,” ujar Panggih.

Ada 4 desa di Wilayah Kecamatan Turi, di mana nama-nama desa memakai kata kerta yang mempunyai makna serba tertata tidak rusuh. Ini mengandung harapan agar desa-desa di Wilayah Kecamatan Turi menjadi desa yang tata, titi, tentrem kerta raharjo. Adapun desa-desa tersebut adalah:

Wanakerta dari kata wana yang berarti tata raharja

Bangunkerta dari kata mangun

Girikerta dari kata redi atau gunung

dari kata tansah membantu kepada keutamaan agar menjadi tata titi tentrem raharja.

Sarasehan dilanjutkan oleh narasumber kedua, yaitu M. W. Dwija Sukardi yang mengulas tentang Pengagem Abdi Dalem Kaprajan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Adapun yang diulas antara lain Pengagem Abdi Dalem Kakung (Pakaian Abdi Dalem Putra-red) dan Pengagem Abdi Dalem Putri (Pakaian Abdi Dalem Putri-red) termasuk mengenai sanggul gelung tekuk, rasukan/klambi tangkeban rupi cemeng, sinjang/jarit gagrak/corak Ngayogyakarta, dan wedhung yang dipakai abdi dalem. (Suharno)