Pentingnya Partisipasi Publik Untuk Cegah Pelanggaran Pemilu

Turi – Selasa (13/3), anggota KIM Bangunkerto Turi, Suharman, mewakili organisasi kepemudaan Kecamatan Turi diminta oleh Panwaslu Kabupaten Sleman untuk mengikuti sarasehan Sosialisasi Pengawasan Partisipatif Pemilu 2019 di Hotel Jambuluwuk, Purwokinanti Pakualaman. Acara dihadiri oleh 50 orang yang terdiri dari perguruan tinggi, UIN, UII, karang taruna, media massa, dan organisasi lainnya.

Sarasehan yang dimulai pukul WIB ini dibuka langsung oleh Ketua Bawaslu DIY, Bagus Sarwono yang sekaligus sebagai narasumber. Dalam uraiannya, Bagus mengajak semua elemen masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam mengawasi pemilu supaya bisa berjalan dengan baik mengingat jumlah anggota bawaslu dan juga panwaslu terbatas sehingga tidak mungkin bisa mengawasi semua pelanggaran yang dilakukan oleh peserta pemilu tanpa ada partisipasi publik.

Untuk itu, bawaslu berharap kepada publik untuk bisa bekerja sama dalam pengawasan pelanggaran pemilu khususnya untuk mencegah politik uang. Bagus meminta kepada semua elemen masyarakat untuk melaporkan ke bawaslu jika menemukan semua pelanggaran yang berkaitan dengan pemilu. Bagi masyarakat yang melapor akan dilindungi. Selain itu, Bagus juga menjelaskan tentang semua tugas dan wewenang bawaslu di antaranya akan mengadakan perekruktan untuk menjadi relawan bawaslu yang nantinya akan membantu bawaslu. Pun, akan ada program peningkatan kapasitas untuk menambah wawasan bagi relawan. (Harman)




Masyarakat Wonosari Belajar Membuat Keset dari Biji Salak

Turi – Senin (12/3), Warga Dusun Wonosari belajar membuat keset yang berbahan dasar biji salak. Kegiatan ini diadakan oleh Warga Wonosari bekerja sama dengan mahasiswa UPN Yogyakarta yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun Wonosari, Bangunkerto, Turi. Selama satu bulan dimulai dari tanggal 15 Februari sampai tanggal 15 Maret 2018, sebanyak sembilan mahasiswa UPN Yogyakarta menginap di rumah warga.

Selama berada di Dusun Wonosari banyak program dan kegiatan yang dilaksanakan, salah satunya adalah memberikan pelatihan cara membuat keset dari biji salak. Pelatihan diselenggarakan di rumah Suharman, warga Dusun Wonosari.  Pelatihan diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu di Dusun Wonosari yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT).

Biji salak dipilih sebagai bahan dasar karena melihat potensi biji salak sangat melimpah dan belum dimanfaatkan oleh masyarakat. Pelatihan ini merupakan kegiatan pelatihan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, selain bahannya melimpah, cara pembuatannya pun sangat mudah.

Pelatihan ini nantinya diharapkan dapat menambah keterampilan bagi masyarakat di Dusun Wonosari khususnya. Sebab, hasil kerajinan keset ini selain digunakan sendiri juga bisa dipasarkan sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat. (Harman)




Masyarakat Gamping Terapkan Pancasila melalui Berbagai Kegiatan

Gamping – Senin (12/3) pukul WIB berlangsung giat “Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan” bertempat di Pendopo Kantor Kecamatan Gamping. Acara ini diselenggarakan oleh Badan Kesbangpol DIY, menghadirkan narasumber Kasiter Korem 072/Pamungkas Letkol (Inf) Jaelani, Anggota DPRD DIY Komisi A Sadar Narimo, dan Kepala Bakesbangpol DIY Sugeng Supriyono.

Peserta sinau Pancasila dan wawasan kebangsaan dari unsur Bhabinkamtibmas Polsek, Babinsa Koramil, Satlinmas, KUA, Puskesmas, Komunitas Argoseto, Karbolo, Pelajar SMA, Perangkat Desa, FKUB, Pengurus Muhammadiyah, Anshor, dan FKDM Kecamatan Gamping.

Dalam sambutannya Camat Gamping, Abu Bakar, menyampaikan bahwa 36 butir-butir Pancasila sudah diimplementasikan oleh masyarakat Gamping yang heterogen melalui Kampung Pancasila, Kampung Toleransi, Mejing Bersatu, dan Balecatur Nyawiji.

Penerapan Sila 1 di Kecamatan Gamping dengan diadakannya safari subuhan berjemaah/Gerakan Subuhan Bersama (2 bulan sekali) yang dihadiri oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo. Kemudian untuk Sila 2 terjalinnya kerjasama antara komunitas Tagana, TRC, Argoseto, Karbolo, BSMI, serta FPI dengan Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa di bidang kemanusiaan.

Sila 3 dengan terwujudnya Gamping Bersatu yang diwujudkan dalam kegiatan tahunan upacara bekakak. Sementara untuk enerapan Sila 4 dapat dilihat dari tidak adanya konflik antar masyarakat maupun dengan pemerintah kecamatan atau pemerintah desa. Jika masyarakat ada ketidakpuasan dengan pemerintah disampaikan secara musyawarah. Kemudian, Sila 5 melakukan pelayanan kepada masyarakat dengan bertindak adil.

Selanjutnya Letkol (Inf) Jaelani menekankan tentang esensi nilai-nilai NKRI yaitu Nilai Kesatuan Wilayah, Nilai Persatuan Bangsa, dan Nilai Kemandirian. Nilai kesatuan wilayah yaitu wilayah NKRI merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan secara geografi, ekonomi, politik, sosial, budaya, maupun yuridis. Nilai persatuan bangsa yaitu sebagai suatu kenyataan bangsa yang majemuk dengan bermacam-macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat dan agama diikat oleh adanya tujuan bersama dan tata hubungan dalam masyarakat.

Terakhir adalah nilai kemandirian yaitu bangsa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dengan sumber daya yang dimiliki, mampu memecahkan persoalan, dan mengembangkan inovasi menuju daya saing. (Adnan Nurtjahjo)