Vandalisme Kenakalan Remaja yang Merusak Lingkungan

Gamping – Senin (26/3) pukul WIB, Pemerintah Kecamatan Gamping mengadakan kegiatan pembersihan corat-coret (vandalisme) yang dipusatkan di Ringroad Barat sepanjang Jembatan Layang Kaliabu Desa Banyuraden dan sepanjang Jembatan Sungai Bedog Desa Trihanggo.

Aksi pembersihan corat coret ini dilakukan oleh Seksi Trantib, Bhabinkamtibmas, Babinsa, TRC, dan siswa siswa SMK Pelayaran Putra Samodera Gamping.

Menurut Pemerintah Kecamatan Gamping, vandalisme merupakan salah satu kenakalan remaja yang sangat merugikan karena merusak lingkungan maupun keindahan lingkungan akibat coretan-coretan ilegal yang dilakukan orang tak bertanggung jawab.

Maraknya aksi vandalisme menjadikan keprihatinan bagi Pemerintah Kecamatan Gamping. Dengan menggunakan peralatan kuas rol, ember, dan cat tembok, coretan demi coretan yang ada di sepanjang dinding jembatan dibersihkan dengan sangat antusias walaupun di bawah sengatan sinar matahari. Dalam waktu singkat dinding yang penuh coretan berubah menjadi bersih. Aksi ini diharapkan mampu menggugah kesadaran warga Gamping dalam menjaga lingkungan sekitarnya. (Adnan Nurtjahjo)




Sekolah Desa Bedah Seluk Beluk Desa Wisata

Komunitas Ketjil Bergerak dalam program Sekolah Pemuda Sekolah Desa bekerjasama dengan Karang Taruna Purwobhakti dan Pemerintah Desa Purwomartani menggelar acara Sekolah Desa Bagian III yang bertajuk “Seluk Beluk Desa Wisata”, Minggu (25/3) di Pendopo Soto Bathok Sambisari, Kalasan.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Dusun Sambisari dan Kepala Desa Purwomartani sebagai tuan rumah acara tersebut. Dalam sambutannya, Kepala Desa Purwomartani, H. Semiono menyampaikan terimakasih dengan diadakannya acara ini, karena dapat memberikan manfaat yang besar bagi peserta maupun Desa Purwomartani sendiri sebagai tempat diadakannya Sekolah Desa.

Dalam acara ini dihadirkan narasumber yang berperan dalam bidang pengembangan Desa Wisata. Narasumber merupakan pengelola tempat wisata yang cukup ternama di seputar DIY, antara lain Desa Wisata Pancoh dan Nganggring dari Desa Girikerto, Turi, Sleman yang merupakan Desa Wisata berbasis edukasi dan ekologi.

Selain itu, dihadirkan pula pengelola Obyek Wisata Umbul Ponggok, Klaten, Jawa Tengah, yang berupaya mengelola potensinya dengan memberdayakan seluruh SDM yang ada, serta pengelola Kawasan Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul, yang telah berhasil menjadi obyek wisata unggulan di kawasan Yogyakarta dengan memberdayakan seluruh komponen yang ada disana.

Acara dilaksanakan dalam dua sesi yaitu sesi materi dilanjutkan tanya jawab lalu mengelompokan peserta menjadi tiga bagian minat yang dipilih, yaitu kelompok Wisata Budaya, Agrowisata, dan Ekonomi Produktif. Peserta diajak untuk mengidentifikasi potensi yang dimiliki masing-masing daerah, menyusun rencana pendirian suatu desa wisata dengan memperhatikan stakeholder yang terlibat serta sistem pendanaan yang akan digunakan.

Selain itu, juga diberikan pengetahuan mengenai skema pendanaan desa wisata yang disampaikan oleh Pranasik Faihaan dari KT Dipo Ratna Muda Pajangan, Bantul yang berpengalaman dalam pengelolaan Dana Keistimewaan (Danais).

Secara keseluruhan acara Sekolah Desa yang diselenggarakan di Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Yogyakarta ini berjalan lancar dan memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi peserta dalam upaya pengembangan potensi masing- masing daerah menjadi desa wisata yang unggul. (Cangkringan/Uut)




Belum Penuhi Kuota, Pendaftaran Panwaslu Desa Diperpanjang

Panitia Pengawas Pemilihan Kabupaten (Panwaskab) Sleman memperpanjang masa pendaftaran dan penerimaan berkas Panwaslu Desa dimulai 27 Maret hingga tanggal 30 Maret 2018. Perpanjangan pendaftaran ini untuk memberi kesempatan masyarakat berpartisipasi menjadi pengawas pemilu di tingkat desa.

Koordinator Divisi SDM dan Organisasi Panwaskab Sleman, Vici Herawati, ditemui dikantornya, Jl. Rajimin Sleman mengatakan sesuai juknis Bawaslu DY perihal pembentukan Panwaslu Desa, setiap desa minimal ada dua pendaftar. Kuota ini dimaksudkan agar ada kompetisi sehat dalam seleksi Panwaslu Desa. Namun hingga pendaftaran ditutup pada Kamis malam, masih ada sejumlah desa yang belum bisa memenuhi kuota minimal dua. “Kami memperpanjang masa pendaftaran Panwaslu Desa hanya untuk desa yang belum memenuhi kuota saja,” kata Vici.

Perpanjangan pendaftaran Panwaslu Desa di Kabupaten Sleman hampir merata di seluruh kecamatan. Ini didasarkan pada rekapitulasi pendaftar (24/3) yang diterima dari laporan Panwascam di kabupaten Sleman. Dari 86 desa di Kabupaten Sleman, tercatat mereka yang sudah mengembalikan berkas pendaftaran  ada 169 orang tersebar di 82 desa, jadi masih ada 4 desa yang belum ada pelamarnya. Sementara jumlah desa yang sudah menenuhi kuota pendaftar, dua orang per desa ada lima puluh sembilan desa.

Sehubungan dengan minimnya pendaftar Panwaslu di tingkat desa di beberapa desa di Kabupaten Sleman, maka Pawaskab Sleman menginstruksikan Panwascam untuk memperpanjang masa pendaftaran. Desa yang belum memenuhi kuota dan diperpanjang pendaftarannya ada 27 desa tersebar di 11 kecamatan di antaranya Desa Balecatur dan Nogotirto (Gamping), Desa Sumberagung (Moyudan), Desa Margoluwih dan Margoagung (Seyegan), Desa Tirtoadi (Mlati), Desa Jogotirto (Berbah), Desa Selomartani (Kalasan), Desa Sukoharjo dan Sariharjo (Ngaglik), Desa Banyurejo, Margorejo, dan Mororejo (Tempel), Desa Candibinangun (Pakem) dan Desa Glagahharjo (Cangkringan).

Vici menjelaskan alasan yang melatarbelakangi mengapa panwaslu desa untuk Pemilu 2019 ini sepi peminat bahwa ada persyaratan pendaftaran yang menjadi kendala masyarakat Sleman untuk jadi Panwaslu Desa, “Informasi yang kami himpun dari Panwascam, banyak dari masyarakat yang ingin mendaftar, namun karena ada syarat usia minimal 25 tahun di saat pendaftaran sehingga membuat calon pendaftar kurang dari 25 tahun mengundurkan diri”.

Terlepas dari persyaratan usia 25 tahun untuk mendaftar jadi Panwaslu Desa, ada beberapa desa yang malah kebanjiran peminat empat sampai dengan tujuh pendaftar seperti Desa Sendangsari (Minggir), Maguwoharjo (Depok), Purwomartani dan Tirtomartani (Kalasan) Triharjo (Sleman) dan Sidoarum (Godean). “Dengan adanya tambahan waktu pendaftaran ini diharapkan kepada masyarakat Sleman untuk memanfaatkannya dengan mendaftar di kantor Panwascam setempat dengan membawa berkas persyaratan sampai dengan 30 Maret 2018 Pukul ,” imbuh Vici. (reem)




Makrab Serah Terima Kepengurusan Pemuda Dusun Wonosari

Turi – Sabtu (24/3) bertempat di Wisata Kaliurang, Pemuda Dusun Wonosari Desa Bangunkerto Turi mengadakan acara Makrab (Malam Keakraban) dalam rangka serah terima kepengurusan pemuda.

Pengurus sebelumnya telah menduduki masa jabatannya selama tiga tahun dan berakhir pada bulan Januari 2018. Ketua pemuda yang lama dijabat oleh Fajar Indriarto sedangkan ketua yang baru terpilih adalah Arif Wibowo dengan masa bakti 2018-2021.

Acara ini diikuti oleh 60 pemuda pemudi Dusun Wonosari. Hadir juga dalam kesempatan tersebut Ketua RT serta Dukuh Wonosari Tarminanto.

Dalam sambutannya Tarminanto berpesan kepada semua pemuda di Dusun Wonosari untuk selalu menjaga kebersamaan, persahabatan, dan persatuan pun saling menghormati dan menghargai. Selain itu, Tarminanto juga berharap kepada semua pemuda untuk selalu menjaga nama baik dusun karena pemuda merupakan calon penerus pembangunan.

“Untuk itu sebagai pemuda harus lebih giat dan semangat dalam menatap masa depan,” tutur Tarminanto.

Adapun tujuan diadakannya acara Makrab ini selain untuk serah terima kepengurusan juga sebagai alat untuk lebih menjalin keakraban bagi pemuda-pemudi Dusun Wonosari. “Dengan acara ini banyak hikmah yang bisa kita ambil, selain kebersamaan menjalin persatuan dan kesatuan juga sebagai ajang refreshing,” lanjut Tarminanto.

Acara dimulai dengan makan bersama pada pukul WIB dilanjutkan outbound dan diakhiri api unggun. (Harman)




Wariskan Budaya Jawa ke Anak Cucu

Kalasan – Sanggar Pembinaan Budi Pekerti dan Pelestari Budaya Jawa menggelar Pawiyatan Jawa Memetri Wiji, sejak Minggu (25/3) di Padukuhan Tamanan, Tamanmartani, Kalasan. Kegiatan ini rutin berjalan setiap hari Rabu dan Minggu dari pukul WIB sampai pukul WIB sejak Kamis (1/3).

Peserta pawiyatan tidak hanya anak usia TK-SLTA, saat ini sanggar juga merekrut peserta dari kalangan orang tua yang usianya berkisar antara 30 hingga 60 tahun.

Hingga tujuh bulan ke depan peserta khusus ini diberi pelajaran meliputi membaca dan menulis huruf Jawa, tatacara berbusana Jawa gaya Jogja, sesorah (pidato-red) bahasa Jawa, upacara adat Jawa, karawitan, dan kaligrafi huruf Jawa.

Kegiatan ini bertujuan untuk pelestarian Budaya Jawa. Usai mengikuti pawiyatan, peserta diharapkan bisa meneruskan kepada yang lain, contoh paling sederhana bila anak cucu diberi pekerjaan rumah Aksara Jawa, orang tua sudah bisa membimbingnya. (Tri Jack)