Manfaatkan Bahan Lokal Jadi Olahan Bergizi

Gamping – Minggu (15/4) pukul WIB, Pemerintah Kecamatan Gamping mengadakan lomba memasak berbahan dasar labu kuning di Pendopo Kecamatan Gamping. Lomba ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-102 tahun.

Lomba yang digelar secara serentak di lima desa se-Kecamatan Gamping ini mewajibkan masing-masing peserta memasak dua macam olahan yaitu olahan basah (sus, kue talam, puding) dan olahan kering (kukis, egg roll).

Juara pertama dari setiap desa mewakili desanya untuk maju ke tingkat kecamatan. Juara satu dan juara dua di tingkat kecamatan akan mewakili Kecamatan Gamping maju ke tingkat kabupaten.

Lomba memasak yang dipantau oleh tim dari kabupaten dan kecamatan ini mengundang juri, antara lain Ahli Gizi Puskesmas Gamping I, Slamet Haryanto, Guru SMKN 4 Yogyakarta, Ninik Harwiyani dan Praktisi Kuliner Yogyakarta, Umi. Penilaian berdasarkan pada cita rasa, kreativitas, kebersihan, komposisi dan harga. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi peserta adalah pemanfaatan bahan lokal (labu kuning) serta maksimal tambahan bahan berupa tepung terigu maksimal 50%.

Setelah dilakukan penilaian oleh dewan juri didapat juara 1 olahan basah yaitu Sri Widiarti dari Desa Ambarketawang dan Juara 1 olahan kering yakni Endah Pramesti dari Desa Nogotirto. Selanjutnya, kedua pemenang berhak mengikuti lomba memasak tingkat kabupaten. (Adnan Nurtjahjo)




BTNGM Imbau Pendaki Taati Regulasi

Cangkringan – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) mengadakan kegiatan Sarasehan Pendakian Gunung Merapi tahun 2018 dengan tema “Peran Media Sosial dalam Mengefektifkan Pengelolaan Pendakian Gunung Merapi” di Kalikuning Park, Umbulharjo Cangkringan, Sabtu (14/4/2018).

Sarasehan dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Ammy Nurwati, Juru Kunci Merapi Mas Bekel Anom Suraksosihono (Asih), Kepala Desa Umbulharjo Suyatmi, SAR sekitar Merapi (Sleman, Klaten, Magelang dan Boyolali), Komunitas Pendaki, Mapala, Pegiat Sosial Media dan lainnya.

Perwakilan BPPTKG Merapi, Dewi memaparkan tentang kondisi vulkanis gunung merapi pasca erupsi merapi abad 19 dan 20. Pada abad 19, frekuensi erupsi merapi jarang terjadi, namun ketika erupsi skalanya besar dan abad 20 erupsi merapi sering namun dalam skala kecil. Dinilai skala besar jika jangkauan kolom asap dan jangkauan awan panas lebih dari 8 KM dan skala kecil kurang dari 8 KM.

Dewi juga menyampaikan tentang ancaman bahaya merapi, seperti Bahaya Primer (awan panas, jatuhan piroklastik, abu vulkanik, dan laba), Sekunder (lahar hujan), dan Tersier (kerusakan lingkungan).

Sedangkan Susilo Ari Wibowo dari BTNGM, menyampaikan tentang seluk beluk Taman Nasional Gunung Merapi. Saat ini jalur resmi pendakian Merapi terbagi menjadi dua, melalui selo dan sapu angin. Setiap pendaki Merapi haruslah mengikuti regulasi yang ditetapkan BTNGM.

Seperti kewajiban registrasi atau lapor saat akan mendaki, membayar biaya retribusi, menjaga norma-norma, dan mengikuti persyaratan teknis/non-teknis. Pendaki juga diimbau untuk tidak membuka jalur sendiri diluar yang telah ditetapkan dan tidak boleh mendaki sampai puncak, tambahnya.

Selain itu, SAR DIY, Eko Susilo berpesan kepada siapa saja yang akan mendaki merapi haruslah mempunyai persiapan skill yang cukup, sesuai aturan BTNGM. Sehingga dapat meminimalkan kecelakaan pada pendakian Merapi.

Dalam kesempatan tersebut, Pegiat Sosial Media, Muhammad Hafidullah mengharapkan untuk BTNGM lebih inovatif dan kreatif dalam menyampaikan informasi tentang pendakian di Gunung Merapi agar mudah diterima oleh masyarakat.

Sehingga pendakian di Merapi dapat lebih baik, meminimalisir kecelakaan, dan antar instansi BTNGM, BPPTKG, dan SAR terjalin koordinasi, komunikasi yang efektif. (Cangkringan/HN)




Ajaran Khusyuk Saat Beribadah

Turi – Dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj, Masjid A Sholeh Garongan Wonokerto Turi mengadakan pengajian pada Minggu (15/4) pukul WIB.

Pengajian menghadirkan Ustaz Sukirman dan Ustazah Siti Aminah dari PAIF Kecamatan Turi sebagai narasumber. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 150 jemaah.

Dalam ceramahnya, Ustaz Sukirman mengangkat tema Hikmah Isra’ Mi’raj, yang mengulas terkait salat tepat waktu, memahami arti salat, memperbanyak salat sunah, dan salat berjemaah.

Selanjutnya pengajian dilanjutkan oleh Ustazah Siti Aminah. Ustazah Siti Aminah menjelaskan tentang khusuk dalam salat, berdoa, dan dzikir.

“Khusuk itu apa? Diterangkan secara bahasa artinya tenang, diam atau tenggelam dalam melakukan sesuatu dengan kerendahan hati,” tutur Ustazah Siti Aminah. Diungkapkan Ustazah, menurut Al Khozin khusyuk dalam salat adalah menyatukan konsentrasi dan berpaling dari selain Allah serta merenungkan semua yang diucapkan baik berupa bacaan Al-Quran maupun dzikir.

“Kenapa salat harus khusyuk? Salat itu sebagai tempat bermunajah menyampaikan maksud kepada Allah dan memanjatkan puji syukur kepadaNya dan juga sebagai tempat pembersih hati dari berbagai kotoran,” lanjutnya.

Di akhir ceramahnya, Ustazah Siti Aminah pun memberikan beberapa saran untuk memudahkan khusyuk. “Dari Aisyah RA. dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda tidak boleh salat di depan makanan, tidak boleh kebelet, jangan melakukan gerakan, jangan berpaling, dan jangan menghadap langit,” urainya. (Suharno)




Tambah Pengetahuan Memasak Upaya Peningkatan Ekonomi Keluarga

Ngaglik – Dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Jadi Kabupaten Sleman yang ke-102, Tim Penggerak (TP) PKK Desa Sinduharjo mengadakan lomba memasak bagi anggotanya, Minggu (15/4) di Kantor Desa Sinduharjo.

Kegiatan lomba dihadiri kurang lebih 100 hadirin yang terdiri dari TP PKK Kabupaten Sleman, TP PKK Kecamatan Ngaglik, perangkat desa, anggota PKK desa, dan karang taruna.

Lomba memasak dengan bahan dasar labu kuning ini tampak semarak dan meriah. “Dengan lomba ini kami harapkan bisa menambah pengetahuan anggota PKK Desa Sinduharjo dalam hal kuliner, serta bisa usaha UMKM baik kelompok maupun sendiri sehingga dapat menambah peningkatan ekonomi keluarga,” ungkap Sulistyowati, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sinduharjo.

Keluar sebagai pemenang lomba adalah Padukuhan Ngabean Kulon dan Gentan. Usai lomba ini, pemenang dibawa ke Pendopo Kecamatan Ngaglik untuk diseleksi tingkat kecamatan bersaing dengan desa-desa lainnya

Hasil yang didapat oleh wakil dari Desa Sinduharjo yakni berhasil meraih juara satu kategori masakan kering dari bahan labu kuning. (Suripto)




Angkat Kekayaan Budaya untuk Pengembangan Pariwisata

Kalasan – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melepas ribuan pelari peserta Mandiri Jogja Marathon 2018 di kawasan Candi Prambanan, Sleman, Minggu (15/4).

Mandiri Jogja Marathon sendiri adalah event lari maraton dengan beberapa kategori, seperti  full marathon dengan jarak tempuh 42,195 km serta half marathon dengan jarak 21 km, 10 km, dan 5 km. Ajang Mandiri Jogja Marathon 2018 ini diikuti 8 ribu pelari baik dari dalam maupun luar negeri.

Memilih lokasi start dan finish di kawasan Candi Prambanan, lomba bertaraf internasional ini menempuh rute-rute yang memperlihatkan keindahan alam dan kekayaan budaya lokal dengan melewati puluhan desa dan 3 tujuan wisata utama di Yogyakarta, yakni Candi Prambanan, Candi Plaosan dan Monumen Taruna Plataran.

Mandiri Jogja Marathon diharapkan dapat mengangkat dan mempromosikan kekayaan budaya dan produk lokal sehingga memacu pengembangan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. (Damar Aji Seto)