Ketoprak Jadi Media Sosialisasi Pemilu

Gamping – Sabtu (21/4) pukul WIB, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman menggelar Sosialisasi Gerakan Sadar Pemilu di Gedung Serba Guna Pemda Sleman.

Kegiatan ini dilakukan melalui gelar budaya pentas seni secara serentak di seluruh Indonesia guna menyongsong 1 tahun pemilihan umum (pemilu) serentak pada 17 April 2019 mendatang.

KPU Kabupaten menampilkan pagelaran ketoprak humor PS Bayu Gito Gati dengan lakon ‘Labuh Tresno’ dengan menghadirkan bintang tamu Den Baguse Ngarso.

Pagelaran seni ini dihadiri oleh Ketua KPU Kabupaten Sleman, Ahmad Shidqi, beserta jajarannya, serta tamu undangan, antara lain Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun, Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) se-Kabupaten Sleman beserta jajaran, Ketua DPRD Sleman Haris Sugiharta, Asisten Sekda I Kabupaten Sleman Purwatno Widodo, Ketua Panwaslu Kabupaten Sleman, Ibnu Darpito, Forkompimda, Kesbangpol, Tapem, Dukcapil, Camat, Tokoh Agama, tokoh masyarakat, pemuda, aktivis, Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), serta pimpinan 16 partai peserta pemilu di Kabupaten Sleman.

Dalam sambutannya, Ahmad Shidqi mengajak seluruh elemen masyarakat dan stakeholder agar mewujudkan pemilu yang lancar meskipun tahapan pemilu sudah dimulai pada Oktober 2017 lalu. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk membangun kesadaran politik masyarakat bahwa tahun ini sudah memasuki tahun politik agar angka partisipasi masyarakat tinggi.

Dalam kesempatan ini, anggota KPU Kabupaten Sleman Divisi Sosialisasi, Indah Sri Wulandari memperkenalkan nama-nama 16 partai politik yang akan berlaga di pemilu 2019, serta maskot KPU yang bernama ‘Tungsura’ kepada para hadirin.

Di penghujung acara seremonial, Sri Muslimatun menyampaikan bahwa ketoprak bisa digunakan sebagai alat untuk melakukan sosialisasi (tuntunan) pemilu serentak 2019 agar angka partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya meningkat. Sri Muslimatun berharap warga Sleman menjadi pemilih yang cerdas, bertanggung jawab, serta menolak golput dan money politic. (Adnan Nurtjahjo)




Pordes Desa Wonokerto Kembangkan Bakat Lewat Kompetisi Sportif

Turi – Pemerintah Desa Wonokerto Turi bekerja sama dengan Karang Taruna Desa Wonokerto melaksanakan Pordes (Pekan Olahraga Desa), Jumat (20/4).

Kegiatan ini oleh pemerintah desa dipercayakan kepada Karang Taruna Desa Wonokerto sebagai panitia pelaksananya karena melihat karang taruna kepengurusan yang baru dengan ketua Dhono Setiawan sangat solid dan kompak sehingga dirasa mampu melaksanakan kegiatan kegiatan yang cukup besar.

Adapun cabang yang dipertandingkan meliputi bola voli, lari marathon, dan senam masal. Kegiatan ini dimulai sejak 14 April hingga 22 April 2018 dibuka dengan pertandingan bola voli putra yang diadakan di Lapangan Bola Voli Dusun Kopen.

Pordes bola voli diikuti oleh 13 dusun di Desa Wonokerto, yaitu Dusun Banjarsari, Dusun Pojok, Dusun Tunggularum, Dusun Ledoklempong, Dusun Imorejo, Dusun Dadapan, Dusun  Manggungsari, Dusun Nganggrung, Dusun Jambusari, Dusun Tlatar, Dusun Becici, Dusun Kembang dan Dusun Sangurejo yang mana semua dusun menampilkan pemain-pemainnya yang handal dan masih muda.

Sedangkan final pordes cabang bola voli dilaksanakan pada Jumat (20/4) pukul WIB mempertandingkan Dusun Kopen melawan Dusun Imorejo. Pertandingan berjalan sangat menarik dan berakhir dengan skor 3-2. Keluar sebagai juara pertama adalah Dusun Imorejo, juara kedua Dusun Kopen, dan Dusun Banjarsari serta Dusun Dadapan sebagai juara tiga dan empat.

Kepala Desa Wonokerto, Tomon, mengatakan dengan Pordes ini diharapkan dapat memberikan hiburan gratis pada masyarakat Wonokerto. “Juga untuk membangkitkan kembali olahraga bola voli yang hampir di semua kampung ada,” tutur Tomon.

Pun, untuk mencari bibit pemain muda di Desa Wonokerto yang nantinya akan menjadi wakil Desa Wonokerto untuk bermain di Porkec (Pekan Olahraga Kecamatan) setelah Pordes selesai.

Kepala Desa Wonokerto ini juga bangga dan mengucapkan terimakasih kepada Karang Taruna Desa Wonokerto yang telah menyelenggarakan kegiatan pordes dengan sukses dan lancar. Kegiatan Pordes Desa Wonokerto ditutup pada Minggu (22/4) dengan senam masal dan pembagian doorprize serta piala dari Pemerintah Desa Wonokerto. (Harman)




Kirab Gunungan Hasil Bumi Meriahkan Merti Dusun Ngabean Kulon

Ngaglik – Sore itu Jumat (20/4), Padukuhan Ngabean Kulon diguyur hujan cukup deras. Dalam suasana yang demikian itu tidak menyurutkan niat warga Ngabean Kulon untuk mengadakan kegiatan merti dusun.

Berbagai hasil bumi dibentuk Gunungan diarak keliling kampung. Berbagai tetabuhan dibunyikan mengiringi kirab tersebut.

Dengan gagahnya Tri Yoga Ekatani memimpin bregada berwarna merah mengawali kirab. Diiringi musik Lokananta membuat suasana kirab lebih semarak. ” Kita libatkan semua warga masyarakat Ngabean Kulon untuk mengikuti kegiatan merti dusun tahun ini, 10 rt, 4 rw, dan pemerintah desa ” ujar Suparno, Ketua Panitia Merti Dusun Ngabean kulon.

Agenda dalam rangka Merti Dusun Ngabean Kulon tahun ini diawali dengan kerja bakti masal kemudian kirab budaya, upacara tradisional, pentas seni antar rt, bakti sosial, ziarah mantan tokoh, dan ditutup pagelaran wayang orang dengan lakon romonitik.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 15,20, dan 21 April 2018 di Halaman SMP dan SMK Piri Ngaglik, Sleman.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Sinduharjo Sudarja memberikan mengapresiasi atas kegiatan merti dusun di Padukuhan Ngabean Kulon ini. “Agar kegiatan ini dapat dilestarikan dan menjadi contoh padukuhan lainnya,” pesan Sudarja. (Suripto)




Perlunya Berbagi Peran untuk Kesiapsiagaan Potensi Bencana

Gamping – Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Daerah istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan Pelatihan Basic Life Support (BLS) dan Evakuasi Bencana bagi relawan wilayah Kecamatan Gamping Sabtu (21/4) pukul WIB di Ruang Rapat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Banyuraden, Gamping, Sleman.

Pelatihan BLS ini dibuka oleh Ketua BSMI DIY dr. Bambang Edi Susyanto. Dilanjutkan laporan kegiatan dari Wakil Ketua Panitia Liza Uswatun Husna Lubis, dan Ketua Sentra Kerohanian Islam Poltekkes Diky Purwo.

Kegiatan yang digelar dalam rangka hari kesiapsiagaan bencana pada 26 April 2018 mendatang ini, menghadirkan narasumber Kasi Mitigasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Joko Lelana, Relawan BSMI DIY Bidang Sumberdaya Manusia (SDM) Anki Tias Yolanda, Wakil Ketua BSMI DIY dr. Siswanto, serta Tenaga medis RS. Hermina dr. Fikri Bariz. Peserta pelatihan berasal dari berbagai unsur, yakni mahasiswa Poltekkes 25 orang, warga Desa Banyuraden terpilih 6 orang, relawan 8 orang, Forum Komunikasi Komunitas Relawan Kabupaten Sleman (FKKRS) 2 orang, dan masyarakat umum 3 orang.

Materi pelatihan I dipaparkan oleh Djoko Lelana berkaitan dengan gempa bumi dan upaya mitigasinya. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Sedangkan gempa adalah getaran bumi yang terasa di permukaan, akibat terjadinya pelepasan energi yang cepat karena adanya pergeseran pada kerak bumi. Jenis gempa ada 3 yakni gempa tektonik yang terjadi karena adanya pergeseran/pergerakan bumi, gempa vulkanik terjadi karena adanya gerakan magma, seta gempa tanah runtuh yang terjadi pada gua di bawah permukaan tanah. Djoko menuturkan, dengan dasar kondisi geologi yang ada, sudah mungkin ditunjukkan daerah mana yang berpotensi untuk terjadi gempa.

“Namun demikian, gempa adalah gejala alam yang sampai saat ini masih belum dapat diduga secara tepat kapan akan terjadi, dan belum dapat diketahui tempat dimana akan terjadi,” ungkap Joko. Oleh karena itu, Joko menambahkan perlu adanya usaha kesiapsiagaan gempa antara lain pemetaan lingkungan, identifikasi dampak gempa, pelaku kesiapsiagaan, siapa saja yang terdampak, siapa pelaku penanggulangan, apa saja yang akan dilakukan, serta bagaimana SOP nya.

Dalam sesi II, Anki Tias, Relawan BSMI DIY Bidang Sumberdaya Manusia, menuturkan tentang teknik evakuasi saat bencana gempa bumi. “Dalam situasi gempa bumi yang terjadi tiba-tiba, seseorang biasanya sulit bergerak dan harus mengambil keputusan. Untuk selamat dari bencana gempa, yang terpenting adalah memahami pengetahuan dan keterampilan sebelum bencana terjadi, saat harus melaksanakan evakuasi mandiri dan setelah kejadian bencana,” terang Anki.

Anki menjelaskan bahwa semua orang mempunyai risiko terhadap potensi bencana. Karenanya, perlu dilakukan berbagi peran dan tanggung jawab dalam peningkatan kesiapsiagaan di semua tingkatan, baik anak, remaja dan dewasa. “Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran kesiapsiagaan bencana,” tambahnya.

Di sesi terakhir, dr. Siswanto memaparkan tentang jenis luka, perdarahan, balut dan bidai.  Serta dr Fikri Bariz mengajarkan praktik tentang pertolongan pertama pada orang pingsan menggunakan metode “Air Way Breathing Circulation” atau pijat jantung. Penanganan bencana merupakan urusan semua pihak, kita harus siap untuk selamat. (Adnan Nurtjahjo)