Ruang Pelaku Seni Budaya Tunjukkan Karyanya

Gamping – Rabu (4/4) pukul WIB, Pemerintah Kecamatan Gamping menggelar rapat panitia Gamping Gegayengan 2018 bertempat di Aula Lantai II Kantor Kecamatan Gamping.

Rapat dipimpin oleh Sekretaris Kecamatan Rasyid Ratnadi dan dihadiri oleh segenap panitia yang berasal dari unsur Forkompim dan ASN kecamatan gamping, UPK, HIMPAUDI, IGTK, Forum PAUD, Puskesmas Gamping I dan II, Polsek, Koramil serta Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kecamatan Gamping.

Event Gamping Gegayengan kali ini mengambil tema “Adeging Kapanewon Gamping” berlangsung dari tanggal 28 April sampai 3 Mei 2018. Kegiatan yang dipusatkan di seputaran Halaman Kantor Kecamatan Gamping ini, meliputi pameran potensi lokal, pentas seni sanggar Abinaya Basopati dan sanggar Puspitosari Guyangan, pentas kethoprak, pentas jathilan, pentas dolanan anak langen carita, pentas reog, festival hadroh, gebyar PAUD, kirab Bregodo, festival dolanan anak, lari lintas alam anak SD serta jalan sehat.

Puncak acara Gamping Gegayengan akan diisi dengan peresmian Kantor Kecamatan Gamping oleh Bupati Sleman Sri Purnomo disertai tari klasik, karawitan, pentas juara hadroh, penandatanganan prasasti serta pemberian trofi/hadiah bagi pemenang lomba kethoprak, kirab bregodo, hadroh dan wajah padukuhan.

Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antar warga Gamping dan memberikan ruang bagi pelaku seni budaya untuk menunjukkan karyanya kepada masyarakat. (Adnan Nurtjahjo)




Tingkatkan Partisipasi Pemilih dalam Pemilu

Gamping – Rabu (4/4) pukul WIB berlangsung pelantikan anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pergantian Antar Waktu (PAW) Kecamatan Minggir dan Seyegan di sela-sela Rapat Koordinasi (Rakor) Sosialisasi Pemutakhiran Data Pemilih (Mutarlih) di Ruang Rapat KPU Kabupaten Sleman.

Pelantikan ini dipimpin oleh Ketua KPU Sleman Ahmad Sidqi, didampingi empat Komisioner KPU Sleman, Sekretaris dan Rohaniawan agama Islam serta dihadiri oleh 17 Ketua PPK se-Kabupaten Sleman.

PAW dari Kecamatan Minggir yakni Netty pramudita Sari dan PAW dari Kecamatan Seyegan yaitu Bogi Supariyun. Seusai mengucapkan sumpah dan janji sebagai anggota PPK keduanya menandatangani berita acara pelantikan PAW dan diakhiri dengan pemberian ucapan selamat oleh para hadirin. dilanjutkan dengan rakor mengenai sosialisasi mutarlih yang dipimpin oleh Komisioner KPU Sleman Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Indah Sri Wulandari.

Dalam paparannya Indah mengatakan sosialisasi adalah proses penyampaian informasi tentang tahapan dan program penyelenggaraan pemilu. Sedangkan pendidikan pemilih adalah proses penyampaian informasi pemilih untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran pemilih tentang pemilu.

Adapun tujuan kegiatan ini untuk menyebarluaskan informasi mengenai tahapan, jadwal, dan program pemilu, meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat tentang hak dan kewajiban dalam pemilu, serta meningkatkan partisipasi pemilih dalam pemilu.

Metodenya bisa secara “door to door” yang dilakukan oleh Pantarlih saat melakukan pencocokan dan penelitian (coklit), serta KPPS saat membagikan form C6 ke warga masyarakat. Cara lain dengan kunjungan ke rumah tokoh masyarakat di tingkat RT, RW, desa, yang dilakukan oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS), serta di tingkat kecamatan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Pelaksanaan tahapan coklit ini dijadwalkan mulai tanggal 17 April sampai dengan 17 Mei 2018. (Adnan Nurtjahjo)




Gali Tata Nilai Sleman dari Rangkuman Sejarah

Dinas Kebudayaan Sleman menyelenggarakan sarasehan bersama Profesor Suwarno untuk menggali tata nilai Kabupaten Sleman, Kamis (5/4) bertempat di Ruang Rapat Rukun Kompleks Kantor Dinas Kebudayaan Sleman.

Acara ini diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman bersama para tokoh, pelaku, dan pemerhati budaya di Kabupaten Sleman di antaranya ketua desa budaya dan pengurus acara adat seperti merti dusun dan acara adat lainnya.

Adapun tujuan sarasehan ini adalah untuk menggali tata nilai Kabupaten Sleman dengan mengumpulkan cerita atau sejarah dari berbagai sumber yang nantinya akan dirangkum dan ditulis menjadi sebuah buku sejarah. Dengan adanya dokumen yang dibukukan ini cerita ataupun sejarah yang ada di Kabupaten Sleman ini tidak hilang.

Adapun tata nilai budaya Kabupaten Sleman meliputi berbagai aspek, yakni:

  1. Ketuhanan yang meliputi aspek narimo ing pandum dan ngunduh wohing pakarti sumarah
  2. Kepemimpinan yang meliputi aspek prasaja, sembada, welas asih, waskita, waspada, wicaksono, mumpuni, adil, ngayomi, lembah manah/andap asor, tinarbuka, dan nanjing ajur ajer
  3. Kemasyarakatan meliputi aspek tanpa pamrih, tembayatan, lilo legowo, guyup rukun, gotong royong, setia, dan tepa salira
  4. Kealaman, meliputi aspek merti dan keseimbangan

Semua tata nilai budaya ini akan dicari dan dipadukan dengan cerita atau sejarah serta upacara adat yang sudah ada selama ini. Nantinya, semua cerita dan acara adat, seperti merti desa bisa dikelompokan dalam berbagai aspek tersebut. Contohnya, aspek Ketuhanan yang mempunyai nilai narimo ing pandum, uraiannya adalah menerima takdir dan pemberian Tuhan dengan ikhlas serta senantiasa bersyukur atas rahmad dari Tuhan.

Selain itu, bersumber dari ajaran Ki Ageng Wonolelo pada Upacara Saparan, rejeki seseorang telah ditentukan oleh Allah namun manusia harus berusaha. Ini dilambangkan dengan berebut apem. (Harman)




Bangun Desa Demi Kesejahteraan Warga

Ngaglik – Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik masuk 5 peringkat teratas pada Lomba Perkembangan. Desa dan Kelurahan Tingkat Kabupaten Sleman menyisihkan desa-desa lain di Kabupaten Sleman. Demikian dikatakan Ketua Tim Penilai Lomba sekaligus Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Sleman Priyo Handoyo yang hadir di Balai Desa Sukoharjo, Rabu (4/4).

Kunjungan Tim Penilai Lomba ini merupakan kunjungan ketiga setelah dari Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan dan Desa Wonokerto Kecamatan Turi.

Adapun tujuan diadakan lomba menurut Priyo adalah untuk memberikan motivasi kepada pemerintah desa untuk membangun desanya demi kesejahteraan warga, menggali sumber potensi desa yang bisa dikembangkan, dan memberikan inovasi-inovasi baru dalam hal pelayanan masyarakat di desa.

Lomba ini melihat langsung tata cara administrasi, kondisi lapangan sebagai dusun sampel, dan dokumentasi yang telah dilaksanakan oleh Desa Sukoharjo.

Tahun ini di Desa Sukoharjo sendiri diungkapkan Priyo, sudah terbentuk 26 BUMDes atau Badan Usaha Milik Desa yang akan menopang upaya peningkatan Anggaran Desa dan bisa mendukung potensi yang ada di desa.

Sementara itu, Kepala Desa Sukoharjo Hadi Subronto dalam sambutannya memaparkan mengenai visi, misi, data penduduk, data wilayah, serta data-data potensi yang telah, sedang, dan akan dikembangkan di Desa Sukoharjo, contohnya 5 lokasi IPAL Komunal yang telah dimanfaatkan untuk pendidikan, rekreasi, serta pengembangan usaha lainnya. Pun, terdapat Bank Sampah yang telah menampung tenaga kerja wilayah setempat, BUMDes Usaha Cuci Mobil dan Motor, serta administrasi desa satu pintu dan pelayanan cepat dengan tenaga yang profesional.

Dalam kesempatan tersebut, Tim Lomba berkunjung secara langsung ke Ruang Administrasi seluruh bidang termasuk LPMD, BPD, serta bidang lain yang terkait lomba. Tim Lomba disuguhi Tari Tradisional Kobro Siswo dari Dusun Ngelo serta Tari Selamat Datang dari Dusun Tanjung Sari.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke usaha desa BUMDes Cuci Mobil Sukma dan dusun sampel Dusun Purworejo. Dusun Purworejo menampilkan produk unggulan kelompok UPPKS, hasil kerajinan dari sampah perca, usaha batik, makanan ringan, kegiatan bidang kesehatan posyandu balita dan lansia, kelompok BKB dan BKL, serta kelompok kesenian Hadroh Rudhatul Muttaqin Purworejo.

Camat Kecamatan Ngaglik, Subagya, dalam prakata penutup sekaligus pelepasan Tim Lomba mengatakan bahwa Desa Sukoharjo termasuk desa yang berpotensi besar. Terbukti dari keikutsertaannya dalam berbagai macam lomba, seperti Lomba Karang Taruna dan Lomba Gugus Paud VI. “Inilah Desa Sukoharjo yang sebenarnya tetapi semua itu, saya selaku Camat hanya menyerahkan sepenuhnya oleh tim jangan terpengaruh dengan yang lain, semoga apa yang saya sampaikan menjadi perhatian Tim Lomba,” tutur Subagya. (Suripto)




Jaga Nilai Warisan Budaya Tak Benda Bagi Para Penerus

Gamping – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melakukan pencatatan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Mbah Demang Cokrodiromo yang berlokasi di Dusun Modinan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman pada Rabu (4/4) pukul WIB.

Penyusunan data master referensi nilai budaya tak benda ini dipimpin oleh Kasubbid WBTB Ecep Indris dibantu stafnya Iis Iswanto. Turut mendampingi Kasi Sejarah dan Nilai Tradisi Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Anas Mubakir.

Adapun tujuan pencatatan WBTB ini adalah agar pemerintah mempunyai data karya budaya Indonesia yang diperbarui secara berkala, memudahkan penyusunan rencana dan pengambilan kebijakan perlindungan WBTB, memudahkan penyusunan laporan perkembangan karya budaya Indonesia secara berkala, menjadi sumber penelitian, serta sebagai bahan perkuliahan.

“Dan yang paling utama adalah agar nilai budayanya hidup diteruskan oleh keturunannya, pun dapat diwariskan serta tidak diakui oleh negara lain,” ungkap Ecep Idris, Kasubbid WBTB.

Tim pencatatan disambut oleh Pemangku Adat setempat Murdiyanto, Ketua Trah Titus Sunarto, anggota trah Aris, Jani, dan Susilo. Murdiyanto menjelaskan bahwa di Dusun Modinan terdapat sebuah upacara adat yang dikenal dengan “Suran Mbah Demang”. Upacara ini diadakan oleh masyarakat Modinan untuk mengenang perjuangan hidup Ki Demang Cokrodikromo, seorang demang pabrik gula Demak Ijo yang besar laku prihatinnya, memiliki kharisma tinggi, disegani dan dihormati oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Bentuk lakunya antara lain tidak makan garam, setiap sore tapa bisu mengelilingi rumahnya, dan mandi hanya setiap satu tahun sekali pada setiap tanggal 7 Sura tepatnya malam menjelang tanggal 8 Sura di sumur belakang rumahnya. Sisa air mandi Ki Demang tersebut diambil oleh anak cucu dan sanak saudara untuk ngalap berkah sampai sekarang.

Tradisi ini masih tetap dilestarikan dan banyak masyarakat yang ikut ngalap berkah dengan mengambil air dari sumber air yang sama dengan yang dahulu dipakai mandi oleh Ki Demang Cokrodikromo ini. (Adnan Nurtjahjo)