Kampung Literasi Bantu Tumbuhkan Budaya Baca

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Wijaya Kusuma, Dusun Karanganyar, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, berhasil ditunjuk sebagai Pelaksana Program Kampung Literasi tahun 2018 oleh Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. TBM Wijaya Kusuma menjadi satu-satunya di DI Yogyakarta yang telah resmi dicanangkan sebagai Kampung Literasi. Demikian disampaikan Kastum selaku Kasubdit Keaksaraan dan Budaya Baca Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  

“Sementara ini di DIY baru satu ini Kampung Literasi”, ungkap Kastum di sela-sela proses peresmian Kampung Literasi TBM Wijaya Kusuma, Sabtu (21/7) di Sanggar Seni ASRI, Ceper, Wedomartani, Sleman.

Kastum menyampaikan bahwa hingga tahun 2018 ini, baru ada 85 Kampung Literasi yang tersebar di seluruh Indonesia. “Padahal di Indonesia ada lebih dari 13 ribu desa, 400an kabupaten,” beber Kastum.

Oleh karena itu, Kastum berharap melalui Kampung Literasi ini dapat menjadi teladan bagi kampung-kampung yang lain. “Harapan kami pencanangan ini akan jadi embrio merambat ke desa-desa lainnya, bagaimana semua desa di Kecamatan Ngemplak bisa ada taman literasinya taman bacaannya,” kata Kastum.

Kastum juga mengimbau seluruh perangkat pemerintahan di Kabupaten Sleman untuk menggaungkan semangat membaca kepada masyarakatnya sehingga nantinya akan muncul Kampung Literasi lainnya.

Sementara itu, Sumadi, Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, yang hadir dalam peresmian tersebut mengaku bahwa program ini juga sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Kabupaten Sleman, yakni terwujudnya Smart Regency pada tahun 2021.

“Smart Regency salah satunya dapat terwujud dengan budaya baca yang baik di kalangan masyarakat”, jelasnya.

Lebih lanjut Sumadi berharap masyarakat mampu memanfaatkan program ini dengan baik. Sehingga Kampung Literasi yang telah diresmikan tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

“Kami harap ini bukan acara seremonial saja. Kami sangat berharap program ini dapat berkelanjutan”, ucapnya.




PPK Gamping Catat Daftar Pemilih di 5 Desa

Gamping – Sabtu (21/07/2018) pukul WIB, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Gamping menggelar rapat pleno Daftar Pemilih Hasil Perbaikan DPS Pemilu 2019 di Ruang Rapat lantai II Kantor Kecamatan Gamping.

Rapat Pleno dihadiri oleh Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) di wilayah Kecamatan Gamping, Ketua dan anggota Panwascam, serta perwakilan peserta pemilu (partai politik) tingkat kecamatan.

Rapat pleno dipimpin oleh Ketua PPK Gamping Adnan Iman Nurtjahjo, didampingi anggota PPK Lena Lailasari Girsang dan M. Mualif.

“PPK Gamping malam ini melakukan rekapitulasi daftar pemilih hasil perbaikan DPS yang merupakan masukan-masukan dari Panwascam maupun masyarakat yang telah mencermati daftar pemilih sementara (DPS) di lima desa se-Kecamatan Gamping,” kata Adnan.

Adapun rinciannya yaitu pemilih di Kecamatan Gamping sebanyak orang pemilih, terdiri dari orang pemilih laki-laki dan orang pemilih perempuan yang tersebar di lima desa, yakni Trihanggo, Nogotirto, Banyuraden, Ambarketawang, dan Balecatur.

Selain itu, disampaikan juga bahwa jumlah pemilih potensial non KTP-el masih dalam pencermatan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sleman.

Setelah didengar dan dicermati oleh para hadirin, kemudian rekapitulasi daftar pemilih hasil perbaikan DPS disahkan dan ditandatangani oleh tiga Komisioner PPK Gamping.

Setelah membubuhkan tanda tangan, Adnan mengingatkan kepada Panwascam beserta perwakilan partai politik peserta pemilu 2019 tingkat kecamatan bahwa sesuai Peraturan Komisi Pemilihan Umum No. 5/2018 rekapitulasi daftar pemilih hasil perbaikan DPS akan diumumkan pada tanggal 26 – 31 Juli di masing-masing desa.

Rapat pleno diakhiri dengan penyampaian salinan Berita Acara dan lampirannya kepada Ketua Panwascam Gamping Nining Martensi dan perwakilan partai politik peserta pemilu 2019. (Adnan Nurtjahjo)




Sleman Gelar Senam Massal Sebagai Bentuk Kampanye Anti Narkoba

Dalam rangka menggelorakan semangat untuk menolak narkoba sekaligus memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) tahun 2018, BNN Sleman akan menyelenggarakan kegiatan “Senam Sehat Anti Narkoba” yang ditujukan untuk masyarakat di wilayah Kabupaten Sleman khususnya Kecamatan Gamping.

Kegiatan ini merupakan Program Diseminasi Informasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang akan disemarakkan melalui hiburan musik serta dimeriahkan juga dengan pembagian doorprize.

Kegiatan yang mengusung tema Kampanye Stop Narkoba ini akan diadakan pada hari Minggu (22/7/2018) bertempat di Lapangan Banyuraden, Gamping, Sleman.

BNN Sleman diungkapkan Kuntadi, Kepala BNN Sleman ingin menunjukkan bahwa penyebarluasan informasi mengenai bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba tidak hanya melalui sosialisasi tatap muka saja. “Bisa juga dikemas melalui kegiatan yang dapat dinikmati masyarakat luas, seperti olahraga senam ini,” tutur Kuntadi kepada para awak media, Jumat (20/7/2018) di Kantor Humas Setda Sleman

Kuntadi berharap, masyarakat bisa lebih mengetahui, memahami, dan menolak penyalahgunaan Narkoba sehingga masyarakat menjadi kuat, sehat, produktif, yang akhirnya dapat menurunkan angka penyalahgunaan Narkoba.

“Mereka juga dapat menyebarluaskan informasi yang diperoleh karena masyarakat juga memiliki kewajiban dan kesempatan seluas-Iuasnya untuk berperan aktif dalam upaya P4GN, sehingga dapat membuat lebih banyak orang untuk sadar akan hidup sehat tanpa Narkoba,” tuturnya.




Ayo Ikuti Dharma Yoga Festival 2018

Bertempat di Pelataran sisi selatan Komplek Candi Prambanan, pada Minggu, 29 Juli 2018 akan dilaksanakan kegiatan Dharma Yoga Festival tahun 2018. Pelaksanaan kegiatan Dharma Yoga Festival pada tahun 2018 ini merupakan penyelenggaraan untuk yang ketiga kalinya dengan tema “Yoga Mewujudkan Revolusi Kesadaran dan Revolusi Mental”. 

Acara Dharma Yoga Destival akan dimulai pada pukul WIB sampai dengan pukul WIB dengan target peserta sebanyak orang. Event Dharma Yoga Festival 2018 ini diselenggarakan bagi umat Hindu dan terbuka untuk masyarakat umum yang mencintai Yoga yang dalam pelaksanaanya bagi peserta tidak dipungut biaya alias gratis.

Kegiatan  Dharma Yoga Festival 2018 diselenggarakan oleh umat Hindu DIY dan Jateng. Maka dari itu umat  Hindu DIY dan Jateng bersama-sama dalam wadah panitia Yoga bersama melaksanakan Dharma Yoga Festival Tahun 2018. Kegiatan Dharma Yoga Festival Tahun 2018 juga dimeriahkan oleh Acarya Yoginam, Praktisi Yoga Ketawa

Ayu Kinasih Anggarini selaku humas penyelenggara menyatakan bahwa Yoga adalah salah satu bentuk seni olah tubuh yang pada era modern ini mulai banyak digemari oleh semua kalangan. Hal ini dikarenakan masyarakat telah memahami bahwa Yoga memiliki manfaat yang sangat besar bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. “Bahkan Yoga juga memiliki manfaat bagi terbentuknya mental positif bagi para pelaku Yoga,” beber Ayu.

Bagi kalangan umat Hindu, disampaikan Ayu, Yoga tidak hanya sekadar seni olah tubuh yang berguna untuk memperoleh kesehatan dan kebugaran tubuh serta mental yang baik. “Bagi umat Hindu Yoga adalah salah satu bentuk praktik spiritual demi mencapai tujuan rohani yaitu mencapai kesadaran akan sang jiwa dan proses mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa,” lanjut Ayu.

Lebih lanjut Ayu Kinasih Anggarini menjelaskan bahwa dalam ajaran Agama Hindu terdapat ajaran Catur Marga yang merupakan empat jalan menuju Tuhan yang bisa ditempuh oleh umat Hindu. Salah satu jalan (Marga)  adalah Raja Marga Yoga, yang ditempuh oleh umat Hindu, yang mengkhususkan dirinya dalam menekuni jalan Yoga sebagai jalan untuk mencapai penyatuan dengan Tuhan Sang Pencipta.

Pada konteks ini maka terdapat ajaran Astanga Yoga Patanjali yang menjelaskan tentang tahapan-tahapan pelaksanaan praktik Marga Yoga menurut ajaran agama Hindu. “Pada perkembangannya hanya beberapa bagian dari ajaran Astanga Yoga Patanjali yang diambil oleh masyarakat umum pada saat ini. Walaupun hanya sebagian  saja ajaran yang diadopsi, namun terbukti Yoga tetap memberikan manfaat yang optimal,” urai Ayu.




Sederhanakan Gagasan Agar Mudah Dimengerti

Menulis menjadi upayanya memahami sebuah persoalan. Menulis juga merupakan jalan yang ia tempuh untuk memberi pilihan masyarakat agar bisa mengambil keputusan. Shinta Maharani, koresponden Tempo berbagai pengalamannya menulis feature pada komunitas, Kamis (19/7) di Sleman Creative Space.

“Sampaikan gagasan sesimpel mungkin agar publik mudah memahami,” ucap Shinta pada para peserta acara Menulis bareng Tempo ini.

Shinta mengaku, dibandingkan menulis berita jenis hardnews, feature lebih bersifat deskriptif. “Feature kita menulis secara imaginatif tapi tetap merujuk pada fakta tidak boleh lebai dan bohong,” beber Shinta.

Shinta pun menyarankan untuk menggunakan narasumber lebih dari satu dan disertai dengan data yang kuat.

Wanita yang mengcover berbagai isu di wilayah Yogyakarta untuk surat kabar Tempo ini juga menceritakan bahwa beberapa penulis sering terjebak memberi opini pribadi pada tulisan featurenya. “Kalau produk jurnalistik tidak boleh beropini, kita punya garis tegas antara produk jurnalistik atau menulis blog,” tuturnya.

Oleh karena itu, buat Shinta menulis sesuai kode etik sudah menjadi keharusan sebab menyangkut kepentingan publik. “Profesi jurnalis itu diikat oleh kode etik yang jadi rambu-rambu kita untuk bertanggungjawab kepada publik,” urai wanita lulusan jurusan Hubungan Internasional ini.