Puluhan Pemuda Bangunkerto Ikuti Pelatihan Sablon

Turi – Senin (3/9) bertempat di Ruang Pertemuan Desa Bangunkerto dimulai Bimbingan Teknis (Bimtek) Sablon. Pelatihan ini diprakarsai oleh Karangtaruna Desa Bangunkerto bekerja sama dengan Dinas Sosial Kabupaten Sleman.

Bimtek dibuka langsung oleh Kepala Desa Bangunkarta Anas Maruf. Dalam sambutannya, Anas berharap pelatihan sablon dapat bermanfaat bagi generasi muda di Bangunkerto.

“Sehingga setelah selesai nantinya para generasi muda bisa membuka usaha dan juga dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat lainnya bahkan bisa menjadi wirausaha muda yang mandiri,” ucap Anas.

Anas juga berpesan agar semua yang ikut dalam pelatihan dapat benar-benar memperhatikan dan bisa mengikuti sampai selesai.

Hadir dalam pembukaan pelatihan, Kepala Seksi Kelembagaan Sosial Dinas Sosial Sleman, Elviana Lasso, Staf Seksi Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Sleman, Reni Prasetyaningrum, dan perwakilan KIM Sleman.

Bimtek ini disampaikan Reni, diikuti oleh 21 orang yang terdiri dari perwakilan pemuda di semua dusun yang ada di Bangunkerto, baik putra maupun putri.

Reni menambahkan, bimtek ini sedianya akan dilangsungkan selama tiga hari mulai hari Senin (3/9) hingga Rabu (5/9) mulai pukul sampai WIB.

Reni merasa senang sebab semua peserta yang ikut bimtek adalah anak-anak muda. “Ini menunjukkan pemuda di Desa Bangunkerto sangat antusias bahkan kuota dari Dinas Sosial sebenarnya Cuma 20 orang namun karena banyak yang daftar sehingga jumlah peserta bertambah jadi 21 orang,” tuturnya.

Reni ke depan juga akan memperbanyak program pelatihan melihat antusiasme peserta. “Berarti ini adalah program yang diminati masyarakat,” ungkap Reni. (Harman)




Karangtaruna Bangunkerto Adakan Bakti Sosial ke Klumpit Gunungkidul

Turi – Minggu (2/9), Karangtaruna Desa Bangunkerto Turi mengadakan kegiatan bakti sosial dengan memberikan bantuan air bersih ke Gunungkidul.

Ketua Karangtaruna M Nurfajari mengatakan bahwa bakti sosial ini adalah agenda tahunan yang dilakukan oleh karangtaruna Desa Bangunkerto. Namun agenda rutin ini memiliki jenis kegiatan yang berbeda-beda tergantung hasil musyawarah anggota.

“Pada tahun ini adalah bantuan air bersih bagi warga masyarakat di dusun Klumpit, Panggang, Gunungkidul,” ungkap Fajar.

Fajar menuturkan, rombongan karangtaruna berangkat dari Balai Desa Bangunkerto pukul WIB dengan membawa 4 mobil tangki air dari BPBD Provinsi DIY dan tiba di Dusun Klumpit Panggang Gunungkidul pada pukul WIB.

Rombongan disambut langsung oleh Dukuh Dusun Klumpit, Sugiyanto. Sugiyanto mewakili masyarakat Klumpit mengucapkan terimakasih kepada Karangtaruna Desa Bangunkerto atas bantuan air bersih yang diberikan. Bantuan air tersebut kemudian langsung dibagikan kepada masyarakat yang dipandang membutuhkan.

“Sebetulnya Dusun Klumpit sudah ada pipa air bersih namun akhir-akhir ini debit air terus berkurang sehingga sering terlambat pasokan air ini menyebabkan masyarakat sering kehabisan stok air bersih akibatnya masyarakat harus beli dengan harga satu tangki sebesar 250 ribu rupiah,” kata Sugiyanto.

Adapun untuk penerima yang pertama adalah Rubiyem, seorang janda yang sudah lansia. “Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada Karangtaruna Desa Bangunkerto atas bantuan air bersihnya. Saya sangat senang sekali karena tampungan air bersih saya tinggal satu ember,” kata Rubiyem. (Harman)




Gamping Tingkatkan Komoditas Ikan Air Bernilai Ekonomi Tinggi

Gamping – Minggu (2/9/2018) pukul WIB, Kepala Desa Banyuraden, Sudarisman bersama Pemangku Adat Banyuraden, Murdianto melakukan pelepasan induk ikan gabus di perairan Embung Serut Banyuraden, Gamping, Sleman.

Kegiatan ini terlaksana hasil kerjasama Pemerintah Desa Banyuraden dengan lembaga Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) DIY yang bermarkas di Cokrowijayan, Banyuraden, Gamping.

BSMI adalah lembaga kemanusiaan nasional yang mempunyai misi memberikan pelayanan terbaik bagi kemanusiaan dan perdamaian.

Penebaran ikan yang memiliki nama latin Channa striata ini disaksikan oleh Ketua BSMI DIY, Bariesta Hamzah, Ketua Rescue Banyuraden, Sarjono serta segenap relawan.

“Ikan gabus dipilih untuk ditebar di Embung ini lantaran populasinya sudah berkurang di perairan alami sehingga perlu dilestarikan dan dikembangbiakkan secara alami,” kata Kasi Pemerintahan Desa Banyuraden, Suprihono dalam sambutannya.

“Di samping itu, ikan yang memijah sebanyak 3 kali dalam setahun ini merupakan komoditas ikan air tawar bernilai ekonomi tinggi,” tambah Suprihono.

Selain pelepasan induk ikan gabus, juga diadakan penggalangan dana yang diperuntukkan korban gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Hasil penjualan pakaian semuanya akan dikirimkan kepada para korban gempa,” ucap Murdianto sebagai Pemangku Adat Desa Banyuraden.

Di akhir acara, Murdianto menyampaikan pesannya kepada warga Banyuraden. “Karena tujuan giat ini agar ikan gabus dapat berkembangbiak secara alami di perairan embung serut ini maka dilarang memancing ikan gabus tersebut,” pesan Murdianto. (Adnan Nurtjahjo)




Wariskan Kegiatan Adat hingga ke Anak Cucu

Gamping – Minggu (2/9/2018) pukul WIB berlangsung Sarasehan Budaya dalam rangka “Suran Mbah Demang” di Pelataran Taman Budaya dan Edukasi Embung Serut Banyuraden.

Sarasehan budaya ini diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Banyuraden.  Dihadiri oleh Kepala Seksi Sejarah, Nilai Budaya, Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Sleman Anas Mubbakir, perwakilan trah Ki Demang Cokrodikromo Sunarto, Pemangku Adat Banyuraden Murdianto, serta masyarakat setempat.

Bertindak sebagai narasumber yakni Purwatmadi dari Dinas Kebudayaan DIY yang didampingi Retno Wulanten sebagai Pewara.

Sebelum dimulainya Sarasehan Budaya, hadirin dihibur oleh langgam klasik pimpinan Gembok Cs.  menyuguhkan tembang “Pasar Telogorejo” dan “Kaliwinongo” yang dibawakan oleh Sri Purwanti.

Dalam sambutannya, Anas menyampaikan bahwa kegiatan upacara adat agar bisa diteruskan oleh anak cucu. “Selagi DIY ada undang-undang keistimewaan, terkait biaya kegiatan seperti ini akan dianggarkan oleh pemerintah namun perlu adanya dana swadaya dari masyarakat dan diselenggarakan dalam kemasan budaya bukan kemasan agama,” ujar Anas.

Menurut rencana, Tradisi Suran Mbah Demang akan dihelat pada tanggal 7 malam di Bulan Sura oleh Pemerintah Desa Banyuraden. “Upacara Adat Suran Mbah Demang sudah ditetapkan oleh negara sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) di tingkat nasional untuk itu dari pemerintah kabupaten harus mengawal kegiatan-kegiatan WBTB,” lanjut Anas.

Purwatmadi menambahkan WBTB tidak berupa material tetapi dilihat dari sudut filosofi, ajaran, hikmah, makna, dan manfaatnya diakui sebagai upacara adat yang dimiliki dan didukung oleh masyarakatnya.

“Konsekuensinya mengikat pada pemerintah daerah (DIY dan Sleman) khususnya dinas kebudayaan, yaitu memerlukan aksi lanjut penanganan lebih dalam beberapa hal daripada WBTB yang belum ditetapkan,” ujar Purwatmadi.

“Selanjutnya ada 3 hal yang berkaitan dengan penentuan sebagai upacara adat yakni pasti dilakukan berulang-ulang karena percaya dianggap berguna dan ada manfaatnya (adat), punya makna nilai dan norma yang terus menerus dilakukan karena dianggap memenuhi standar kebaikan (adab), serta tahu tata krama, subasita, trapsila, yang ada hubungannya dengan etika (Boso),” ujar Purwatmadi mengakhiri paparannya. (Adnan Nurtjahjo)