Gamping Tingkatkan Komoditas Ikan Air Bernilai Ekonomi Tinggi

Gamping – Minggu (2/9/2018) pukul WIB, Kepala Desa Banyuraden, Sudarisman bersama Pemangku Adat Banyuraden, Murdianto melakukan pelepasan induk ikan gabus di perairan Embung Serut Banyuraden, Gamping, Sleman.

Kegiatan ini terlaksana hasil kerjasama Pemerintah Desa Banyuraden dengan lembaga Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) DIY yang bermarkas di Cokrowijayan, Banyuraden, Gamping.

BSMI adalah lembaga kemanusiaan nasional yang mempunyai misi memberikan pelayanan terbaik bagi kemanusiaan dan perdamaian.

Penebaran ikan yang memiliki nama latin Channa striata ini disaksikan oleh Ketua BSMI DIY, Bariesta Hamzah, Ketua Rescue Banyuraden, Sarjono serta segenap relawan.

“Ikan gabus dipilih untuk ditebar di Embung ini lantaran populasinya sudah berkurang di perairan alami sehingga perlu dilestarikan dan dikembangbiakkan secara alami,” kata Kasi Pemerintahan Desa Banyuraden, Suprihono dalam sambutannya.

“Di samping itu, ikan yang memijah sebanyak 3 kali dalam setahun ini merupakan komoditas ikan air tawar bernilai ekonomi tinggi,” tambah Suprihono.

Selain pelepasan induk ikan gabus, juga diadakan penggalangan dana yang diperuntukkan korban gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Hasil penjualan pakaian semuanya akan dikirimkan kepada para korban gempa,” ucap Murdianto sebagai Pemangku Adat Desa Banyuraden.

Di akhir acara, Murdianto menyampaikan pesannya kepada warga Banyuraden. “Karena tujuan giat ini agar ikan gabus dapat berkembangbiak secara alami di perairan embung serut ini maka dilarang memancing ikan gabus tersebut,” pesan Murdianto. (Adnan Nurtjahjo)




Wariskan Kegiatan Adat hingga ke Anak Cucu

Gamping – Minggu (2/9/2018) pukul WIB berlangsung Sarasehan Budaya dalam rangka “Suran Mbah Demang” di Pelataran Taman Budaya dan Edukasi Embung Serut Banyuraden.

Sarasehan budaya ini diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Banyuraden.  Dihadiri oleh Kepala Seksi Sejarah, Nilai Budaya, Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Sleman Anas Mubbakir, perwakilan trah Ki Demang Cokrodikromo Sunarto, Pemangku Adat Banyuraden Murdianto, serta masyarakat setempat.

Bertindak sebagai narasumber yakni Purwatmadi dari Dinas Kebudayaan DIY yang didampingi Retno Wulanten sebagai Pewara.

Sebelum dimulainya Sarasehan Budaya, hadirin dihibur oleh langgam klasik pimpinan Gembok Cs.  menyuguhkan tembang “Pasar Telogorejo” dan “Kaliwinongo” yang dibawakan oleh Sri Purwanti.

Dalam sambutannya, Anas menyampaikan bahwa kegiatan upacara adat agar bisa diteruskan oleh anak cucu. “Selagi DIY ada undang-undang keistimewaan, terkait biaya kegiatan seperti ini akan dianggarkan oleh pemerintah namun perlu adanya dana swadaya dari masyarakat dan diselenggarakan dalam kemasan budaya bukan kemasan agama,” ujar Anas.

Menurut rencana, Tradisi Suran Mbah Demang akan dihelat pada tanggal 7 malam di Bulan Sura oleh Pemerintah Desa Banyuraden. “Upacara Adat Suran Mbah Demang sudah ditetapkan oleh negara sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) di tingkat nasional untuk itu dari pemerintah kabupaten harus mengawal kegiatan-kegiatan WBTB,” lanjut Anas.

Purwatmadi menambahkan WBTB tidak berupa material tetapi dilihat dari sudut filosofi, ajaran, hikmah, makna, dan manfaatnya diakui sebagai upacara adat yang dimiliki dan didukung oleh masyarakatnya.

“Konsekuensinya mengikat pada pemerintah daerah (DIY dan Sleman) khususnya dinas kebudayaan, yaitu memerlukan aksi lanjut penanganan lebih dalam beberapa hal daripada WBTB yang belum ditetapkan,” ujar Purwatmadi.

“Selanjutnya ada 3 hal yang berkaitan dengan penentuan sebagai upacara adat yakni pasti dilakukan berulang-ulang karena percaya dianggap berguna dan ada manfaatnya (adat), punya makna nilai dan norma yang terus menerus dilakukan karena dianggap memenuhi standar kebaikan (adab), serta tahu tata krama, subasita, trapsila, yang ada hubungannya dengan etika (Boso),” ujar Purwatmadi mengakhiri paparannya. (Adnan Nurtjahjo)




Pentas Budaya Desa Margorejo Tempel Tarik Animo Masyarakat

Turi – Sabtu (1/9), Pemerintah Desa Margorejo Tempel mengadakan kegiatan Pentas Budaya. Acara dilaksanakan di Kantor Desa Margorejo selama 2 hari mulai Jumat (31/8) malam pukul WIB dengan pementasan 10 kelompok kesenian Hadroh Desa Margorejo dan dilanjutkan hari Sabtu (1/9) malam dengan mementaskan 2 kesenian yaitu kesenian Badui dari Miri dan kesenian Topeng Ireng dari Kadiluwih Margorejo Tempel.

Kegiatan ini bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman dikarenakan Desa Margorejo merupakan rintisan desa budaya di Kabupaten Sleman.

“Kegiatan ini baru pertama kali diadakan dan ke depannya akan menjadi kegiatan rutin setiap tahun sehingga Desa Margorejo benar-benar bisa menjadi desa budaya yang diakui oleh Dinas Kebudayaan Sleman maupun Dinas Kebudayaan Provinsi,” tutur Eko selaku Ketua Pelaksana Pentas Budaya.

Eko menambahkan, kegiatan ini bertujuan untuk memupuk dan melestarikan seni dan budaya yang ada di Desa Margorejo tempel.

“Sehingga nantinya kesenian yang ada tidak punah tergerus oleh zaman karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan juga kurangnya kesempatan untuk pementasan. Untuk itu pemerintah juga harus ikut serta melestarikannya bersama dengan masyarakat sehingga terjalin keseimbangan,” tambah Eko.

Acara berlangsung meriah. Animo masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan kesenian sangat tinggi terlihat dari banyaknya anak-anak yang ikut menari dalam kesenian tersebut.

Ini menunjukkan bahwa kesenian telah melakukan regenerasi sehingga ke depannya kesenian tradisional diharapkan akan terus diminati oleh masyarakat. (Harman)




Sekolah Lanjut Usia Baiturrahman Klidon Resmi Dibuka

Ngaglik – Sabtu (1/9), Ketua Posdaya Berbasis Masjid Masjid Besar Baiturrahman Klidon Suripto menyampaikan latar belakang dirikannya Sekolah Lanjut Usia (Lansia) di Baiturrahman Klidon adalah untuk melengkapi program Posdaya, yang sebelumnya terdiri dari PAUD/KB, TKA, TPA, dan Remaja Masjid.

“Lansia di DIY tertinggi di Indonesia termasuk Umur Harapan Hidup juga tinggi, untuk itu agar para lansia dapat stimulasi maka perlu dibuka sekolah lansia ini,” ucap Suripto.

Sejak bulan Agustus 2018 diumumkan bahwa di Baiturrahman akan membuka Sekolah Lanjut Usia atau SLU Baiturrahman sejak itu pula banyak yang ingin bergabung sekolah lansia ini. “Sampai pada waktu peresmian telah terdaftar dan mengikuti pembukaan sejumlah 56 orang peserta dari target sasaran 60 orang,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Sleman, Eko Suharyono, menyampaikan bahwa Dinas Pendidikan akan berusaha mendukung dan kebetulan kegiatan sekolah ini meliputi pendidikan nonformal antara lain tentang keagamaan, keaksaraan, kecakapan hidup, dan pemberdayaan.

“Untuk itu segera diusulkan dengan melengkapi syarat pendirian sekolah yaitu izin pendirian sekolah, bentuk struktur organisasi lembaga Sekolah Lansia Baiturrahman supaya menjadi sekolah resmi,” tutur Eko.

Kepala Desa Sukoharjo Hadi Subronto pun berharap melalui sekolah ini, para lansia bisa mendapatkan ilmu terkait lansia sehingga para lansia bisa tetap sehat dan sejahtera.

Launching Sekolah Lansia Baiturrahman Klidon ditandai dengan tanda tangan papan yang telah disediakan. Dilanjutkan dengan diskusi singkat yang menghasilkan rencana pembelajaran yakni sebulan sekali tiap minggu keempat hari Sabtu pukul WIB.

Tataran tingkatan Sekolah Lansia untuk tahun pertama sebagai S1 Dasar, dilanjutkan tahun kedua sebagai lanjutan S2 sebagai intermediate/menengah, dan S3 sebagai advance/lanjut. Setiap akhir pembelajaran ada ujian dan ada wisuda sekolah lansia. (Suripto)